Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 13.1


__ADS_3

Dea terbaring lemas di tempat tidur, memandang langit dengan tatapan kosong, dan beberapa kali nafasnya mengeluh. Pembicaraan dengan wali kelasnya beberapa jam lalu membuat keningnya berkerut. Sungguh tak di sangka apalagi terpikir dalam benaknya kalau dia akan di panggil untuk membahas nilai-nilai sekolahnya.


“Nilai kamu sangat menurun, bila terus seperti ini, ada kemungkinan akan ada nilai merah di lapormu,” kata Pak Anggara memperjelaskan. “Apalagi kamu harus sibuk dengan osis dan juga band kamu,”


Dea terkejut. Band? Pak Anggara tahu? Dea memandang lekat mata guru muda itu. Kemudian dia berkata. “Band, maksud bapak apa?”


“Bapak mempunyai keponakan, namanya Andika. Kamu pasti kenal dia,” jelas Pak Anggara. “Dia mencerita tentang Scorpio dan juga kamu!”


Oh, dari Andika toh! Sedikit Dea menghela nafas, lega. Dea kira kalau secret-nya sudah terbongkar.  Untung saja deh! Walaupun bertambah lagi orang yang mengetahui rahasianya. Perlahan, dia berpikir sejenak. Terus, apakah yang harus di lakukannya agar tidak mendapatkan nilai merah? Dia mengangkat kepala, memadang dengan wajah memelas kepada pria dewasa itu.


“Kalau memang kamu tidak mau mendapatkan nilai merah, kamu harus memilih,” kata Pak Anggara menjelaskan sebelum Dea sempat berkata-kata. “Kamu harus memilih antara tetap menjadi ketua osis atau tetap menjadi drumer Scorpio?” kata Pak Anggara.


Seketika itupula wajah Dea memerah. Keringatnya bercucuran, dia sangat ketakutan. Bagaimana mungkin dia harus melakukan pilihan di antara dua pilihan itu. Profesi itu sama-sama penting bagi kehidupannya. “Apakah saya memang harus melalukan itu, Pak?”tanya Dea shock.


Pak Anggara menganggukkan kepala. Dea hanya bisa terpaku dengan wajah pucat. Tidak mungkin… sangat tidak mungkin dia harus memilih di antara dua profesi kesukaannya. Hampir setahun dia menjadi ketua osis, dia sudah berjuang keras untuk organisasi itu.  Namun, dia tidak bisa melepaskan profesinya sebagai drumer. Scorpio seolah telah mendarah daging di tubuhnya.

__ADS_1


Malam semakin larut. Dia tidak bisa tertidur, apalagi untuk memejamkan matanya. Hingga suara azan subuh menjelang, matanya masih terbuka dengan sangat lebar. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Kebinggungan benar-benar menjajah di dalam otak kiri dan kanannya.



“Kamu sakit?” tanya Andre.


Dea menggelengkan kepala. Di pandangnya cowok itu, Andre terlihat gelisah. Perlahan, Andre meletakkan telapak tangan di kening Dea, mencoba memeriksa suhu tubuh kekasihnya itu. Tidak panas. Dia belum menyerah. Dia memandang tajam ke arahnya, berharap gadis itu mau menceritakan masalah yang di hadapinya.


“Aku tidak apa-apa kok, Ndre,” kata Dea mencoba menenangkan Andre.


“Kalau kayak gitu, senyum dong!”


“Kita ke UKS aja ya!” ajak Andre khawatir.


“Nggak per…,” belum sempat Dea menyelesaikan kalimatnya, Andre sudah mengajakpergi dengan paksa. Sepertinya Andre benar-benar sangat khwatir.

__ADS_1


Di ruangan itu, Andre memaksa Dea untuk berbaring di tempat tidur. Dia juga mengelus-elus kepala Dea dengan lembut, mungkin mencoba untuk menidurkan gadis itu. Tidak beberapa lama, rasa ngantuk akibat tidak tidur semalaman merambah kedua bola matanya. Dea tertidur dengan nyenyak.


Satu jam berlalu,


“Huam… ,” Dea menguap. Dia terbangun dari tidur siang yang menyenangkan.


“Kamu udah bangun?” tanya Andre di tempat duduk di samping Dea. “Nyenyak tidurnya?” lanjutnya lagi.


Dea menganggukkan kepala. Perlahan, dia merenggangkan otot-otot tangannya. Krek… krek… krek…, bunyinya bergema di ruang UKS. Andre tertawa, kemudian mengelus lembut lagi rambut Dea. Dan Dea hanya bisa tersenyum, senang dengan perhatian Andre yang romantis.


**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. **



JANGAN LUPA MASUK GROUP ALSAEIDA YA, SUPAYA KAMU BISA NEROR-NEROR AKU UNTUK POST, SOALNYA AKU HARUS ADA MOTIVASI DULU UNTUK MENULIS...

__ADS_1




__ADS_2