Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
KETERLALUAN


__ADS_3

Barun pergi ke kasir meninggalkan Sabhira yang masih di depan kamar ganti. Gadis itu merasa kesal karena ulahnya.


"Tadi dia yang memberiku pilihan, sekarang dia sendiri yang memutuskannya begitu saja tanpa bertanya padaku suka atau tidak. Dasar Tuan egois! Awas saja kau, tunggu pembalasanku!" Napas Sabhira naik turun. Perasaannya sudah sangat kesal sekali.


Gadis itu masuk kembali ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya kembali.


"Hei Tuan Barun! apa kau tahu? aku sangat kesal sekali padamu. Tidak bisakah kau menghargai pilihanku!" ucap Sabhira yang berdiri di depan cermin besar, ia bicara seolah berhadapan dengan Barun. Raut kekesalan ia tunjukkan di depan pantulan dirinya sendiri pada cermin tersebut.


"Sudah selesai mengumpat dariku?"


Shabira tersentak kaget, lalu menghempaskan napas kasar dan memutar malas bola matanya. Bahkan ia tidak perduli kalaupun Barun mendengar ucapannya tadi.


"Jangan mengintip! aku belum selesai ganti baju," kata Sabhira terdengar ketus.


"Kenapa lama sekali? kau sengaja supaya aku mau menunggumu lebih lama di butik ini? atau kau sengaja supaya aku bisa menemanimu di dalam kamar ganti ini untuk melihatmu berganti pakaian?" cecar Barun. Pria itu langsung masuk begitu saja ke dalam kamar ganti.


Sabhira langsung berbalik badan dan melangkah mundur. "Tuan Barun!"


"Maaf menggangu Tuan dan Nyonya, saya ingin memberitahukan kalau pakaian serta heelsnya sudah selesai di kemas,"ucap pelayan yang berada di luar kamar ganti, membuat Barun keluar dari sana.


Sabhira bisa bernapas lega dan segera berganti pakaian. Tak sampai sepuluh menit, ia sudah keluar dari kamar ganti dan menghampiri Barun yang masih berada di kasir. Kemudian beberapa pelayan butik membantu mereka membawa serta memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil.


"Belanjaannya sudah semua kami masukkan ke dalam bagasi, kalau begitu kami permisi," ucap salah satu pelayan butik berpamitan dengan sepasang pengantin baru tersebut.


"Masuk! kita akan pulang ke rumah," perintah Barun yang kemudian masuk ke dalam mobil, begitupun dengan Sabhira.


...----------------...

__ADS_1


Mobil yang Barun kendarai telah terparkir di halaman mansion. Sabhira segera turun dari mobil dan berjalan begitu saja tanpa memperdulikan Barun yang masih berada di dalam mobil.


"Hei Sabhira!" panggil Barun berteriak. Sabhira pura-pura tidak mendengarnya. "Damn! gadis itu benar-benar," umpat pria itu dan juga turun dari mobil.


Sabhira membuka pintu lalu melihat ke sekeliling mansion yang masih tampak sepi. Ia men des ah pelan lalu berjalan menuju kamar Barun.


Sementara itu di halaman mansion, beberapa pelayan rumah membantu Barun untuk menurunkan barang belanjaan serta membawakannya ke dalam kamar. Setelah para pelayan itu pada pergi, Barun menutup bagasi mobilnya.


Disaat yang bersamaan, ponselnya berdering. Tertera nama asistennya di layar ponsel tersebut.


"Halo, ada apa?"


"Tuan, bisakah ke kantor sekarang? ada meeting yang harus kau hadiri saat ini juga.


"Meeting perihal apa? bukannya tadi pagi kamu bilang meeting penting setelah makan siang?"


"Baiklah, aku akan ke kantor sekarang."


Barun memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan nya meninggalkan halaman mansion.


Di dalam mansion, Sabhira berniat untuk berkeliling di sekitar mansion yang sangat megah itu. Pertama, ia mengunjungi yaitu sebuah taman kecil yang bisa masuk dari pintu samping kolam renang.


Gadis itu begitu takjub dengan keindahan pemandangan di sana. Tidak ada sedikit pun celah yang bisa merusak sepanjang mata memandang. Kupu-kupu berwarna-warni terbang dan hinggap saling bergantian diantara bunga yang bermekaran.


Sabhira terus berjalan, hingga tiba di sebuah gazebo yang berukuran cukup besar, berada di tengah kolam yang berukuran empat kali dari besar gazebo tersebut. Akan tetapi, ia melihat seorang wanita yang tengah duduk di sana. Sabhira menghampiri wanita itu.


Semakin mendekat, Sabhira mengetahui siapa yang sedang duduk di sana. Tiada lain adalah nenek Barun.

__ADS_1


"Hai, Nek. Sedang apa di sini?" sapa Sabhira membuat nenek tersentak kaget.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Sedang apa kamu ada disini?" tanya nenek terdengar ketus.


"Maaf Nek, aku hanya bosan kalau harus berdiam diri di kamar. Aku kira pintu yang ada di samping kolam renang itu tidak ada jalan kemana pun. Eh tidak tahunya ada taman yang seindah ini," jelas Sabhira yang melihat keindahan taman dari atas gazebo itu. Nenek hanya mendelik ke arah gadis yang sedang menghirup udara segar.


"Usiamu berapa? kenapa sikapmu masih seperti usia belasan tahun?" Pertanyaan nenek membuat Sabhira berbalik badan.


"Delapan belas tahun, Nek," jawab Sabhira seraya tersenyum.


"Pantas saja. Tapi bagaimana mungkin Barun cucuku bisa menikahi seorang gadis yang masih kecil sepertimu?" tanya nenek merasa heran. Sabhira mengangkat kedua bahunya sambil menarik napas dalam.


"Beberapa hari yang lalu, awalnya aku berniat untuk pergi ke festival jajanan dipusat kota mengendarai motor vespa milik ayahku. Tapi di persimpangan jalan, aku malah menabrak mobil Tuan Barun. Aku sudah berusaha meminta maaf padanya, Nek. Dia malah tidak terima dan menuntutku sebanyak satu milyar untuk biaya perbaikan. Terus ada pilihan lain supaya aku tidak membayar uang sebanyak itu, yaitu menikah dengannya," jelas Sabhira panjang lebar. Napas sang nenek seketika merasa sesak dan perasaannya tidak percaya kalau Barun melakukan hal itu pada Sabhira.


"Lalu kedua orang tuamu?" tanya nenek lagi.


"Mereka mengusirku dari rumah. Aku pernah kembali dan meminta maaf, tapi tetap saja kedua orang tuaku tidak terima. Dan yang lebih aneh, motor vespa yang tadinya hancur jadi kembali utuh bahkan sepertinya masih baru, di dalam garasi." Wajah Sabhira tiba-tiba murung mengingat kedua orang tuanya yang sangat ia sayangi.


"Apa kamu tahu alasan Barun melakukan hal ini padamu?" Tatapan nenek semakin tajam. Namun itu tidak membuat Sabhira merasa takut, sebab menurutnya dalam hal ini bukanlah salahnya.


"Waktu di depan hotel, aku mendengar berita dari para wartawan kalau Tuan Barun selama ini dianggap penyuka sesama jenis. Di pasar saham, perusahaannya mengalami penurunan secara drastis. Aku malah tidak habis pikir, kenapa harus aku yang jadi korbannya nek." Mata Sabhira berkaca-kaca. Sedih sekali merasakan nasibnya yang jadi seperti ini.


"Keterlaluan. Barun benar-benar keterlaluan! Biar aku yang akan bicara padanya nanti." Nenek mendengkus kesal. "Aku mau kembali ke kamar, rasanya kepalaku terasa ingin pecah setelah mendengar penjelasanmu itu. Kalau kamu masih ingin disini silahkan saja." Nenek kemudian pergi dari sana meninggalkan Sabhira sendiri.


"Terima kasih banyak Nek," ucap Sabhira pelan.


Setelah ini Barun yang akan menjadi sasaran empuk sang nenek.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2