Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
AKU SUAMIMU!


__ADS_3

Namun, tiba-tiba Barun menarik tangan Sabhira yang membuat gadis itu sempoyongan sehingga terjatuh ke atas pangkuannya. Reflek Sabhira mengalungkan tangannya pada leher Barun. Dengan santai, pria itu memeluk pinggang sang istri cukup erat, ditambah lagi senyuman menggoda yang semakin membuat Sabhira mengerutkan alisnya, merasa heran.


"Kau cantik," ucap Barun seraya mengelus lembut pipi Sabhira. Pria itu jelas tahu, gadis yang ada di pangkuannya ini sedang deg deg kan setengah mati.


Akan tetapi rasanya pujian yang dilontarkan oleh Barun tidak membuat Sabhira tersanjung. Gadis itu hanya takut jika tiba-tiba Barun akan menyerangnya seperti malam itu.


"Hei, lepaskan aku!" teriak Sabhira berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Barun.


"Aku suamimu! jadi aku berhak melakukan apapun padamu, Sabhira," timpal Barun, terdengar ketus. Namun, pria itu menatap istrinya dengan sorot mata sayu.


Sementara wanita yang tadi sempat mencium Barun, memberi tatapan kesal pada sepasang suami istri yang sedang bermesraan di hadapannya.


"Kau yakin masih tetap disini menyaksikan kemesraan kami berdua?" tanya Barun pada wanita itu. Pria itu mendelik sinis sekaligus bahagia saat melihat aura kemarahan darinya.


"Akan ku batalkan kontrak kerja perusahaan ku denganmu, Barun!" tegas wanita itu kemudian segera pergi dari ruang kerja Barun.


"Silahkan saja," sahut Barun dengan santainya, ketika wanita itu membuka pintu lalu menutupnya cukup kencang.


Prat!


Sabhira memberi tamparan keras pada pipi Barun. Sontak pria itu melepaskan tangannya yang sejak tadi melingkar di pinggang Sabhira dan mengelus pipinya yang terasa panas. Tidak ingin ketinggalan kesempatan, gadis itu segera beranjak dari pangkuan Barun.


"Kenapa kau mengusirnya? bukankah kau ini senang jika wanita itu mencium mu?" sindir Sabhira seraya berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana.


"Jangan sok tahu. Aku bukan pria semacam itu," kilah Barun sambil membenarkan jasnya lalu bersandar di kursi.


"Ck!" Sabhira berdecak, merasa tidak percaya. "Memangnya siapa wanita itu?" tanyanya kemudian.


"Teman lama. Dia hanya mau mengajak kerja sama dengan perusahaan ku," jawab Barun, terdengar santai namun bagi Sabhira entah kenapa merasa tidak puas.


"Oh, kalau Tissa?" tanya Sabhira lagi yang kembali ke niat awalnya menghampiri Barun kembali.


"Kenapa kau mempertanyakan tentang wanita itu lagi?" Barun bertanya balik, suaranya tiba-tiba meninggi.


"Tissa, bukan wanita itu. Aku hanya ingin tahu. Kalau kau bilang kau itu suamiku dan berhak melakukan apapun padaku. Jelas sekarang aku istrimu, dan berhak tahu juga apa rahasia mu itu," seloroh Sabhira yang tetap tidak mau kalah. Gadis itu tidak terima kalau Barun selalu menganggapnya sebagai tempat singgah saja.

__ADS_1


"Sabhira, please ... " Barun beranjak dari kursinya lalu berjalan ke arah Sabhira. "Jangan ucapkan nama wanita itu lagi. Aku sudah lama melupakannya." Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana sambil berdiri tegak di hadapan sang istri. "Jangan buat aku membuka memori yang sudah lama aku kubur rapat-rapat itu."


"Kalau kau sudah melupakannya, kenapa masih menyimpan pakaian miliknya? bukankah lebih baik kau buang atau diberikan pada orang yang membutuhkan? Atau jangan-jangan, ini alasanmu selalu bersikap pasif pada wanita?" cecar Sabhira yang berusaha membuat Barun untuk cerita padanya.


Tiba-tiba Barun merasakan sakit pada kepalanya. "Cukup, Sabhira!" bentaknya dengan mata yang mulai memerah.


Sabhira berdiri. Wajahnya terangkat, seakan tidak ada ketakutan dalam hatinya. "Baik, kalau kau memang tidak ingin menceritakannya padaku. Lebih baik hubungan kita cukup sampai disini. Percuma memiliki status sebagai istrimu, tapi pada kenyataannya kau tidak pernah mau membuka hati untukku."


Terlanjur sakit dan kecewa, Sabhira berjalan gontai keluar dari ruang kerja Barun. Gadis itu membulatkan tekadnya untuk berpisah dengan pria yang memaksanya menikah sampai melupakan sebuah perasaan yang tumbuh dengan sendirinya tanpa sadar.


Barun tidak bisa mencegahnya. Pria itu hanya terdiam seraya kembali ke kursi kebesarannya.


"Apa Sabhira telah jatuh hati padaku? Kenapa dia tampaknya sangat kecewa sekali? Kalau sampai dia mengadu pada nenek, bisa tamat riwayatku," ucap Barun dalam hatinya.


*Tok, tok, tok*


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Masuk!"


Seseorang pun muncul dari balik pintu.


"Iya," sahut Barun yang kemudian berdiri. "Kita ke sana sekarang," lanjutnya sambil mengancingkan jasnya.


...----------------...


Sabhira berjalan kaki ketika keluar dari perusahaan Barun itu. Ia sedang marah sekaligus kecewa.


"Apa aku tidak dipercaya untuk menjadi tempatnya bercerita? Lantas kenapa harus memilihku menjadi istrinya? kenapa bukan orang lain?" keluh Sabhira dalam hatinya.


Tin.. Tin..


Suara klakson mobil menghentikan langkah Sabhira lalu menoleh.


"Kenapa jalan sendirian? ayok masuk ke dalam!"

__ADS_1


Sabhira menarik napas dalam saat melihat orang yang sedang mengemudikan mobil yang kini berhenti di depannya.


"Kak Erzal," sapa Sabhira dengan senyum terpaksa. "Kenapa Kakak bisa tahu aku disini?" tanyanya kemudian.


"Masuk saja dulu, kau tidak takut kalau nanti ada yang menculik mu?" Erzal membuka kunci pintu mobilnya.


"Tidak usah Kak, aku bisa pulang sendiri," tolak Sabhira yang sedang malas dengan siapa pun.


"Benar tidak apa-apa?" tanya Erzal lagi, memastikan.


"Iya," jawab Sabhira yang terdengar semakin malas.


"Baiklah, kalau begitu aku duluan," pamit Erzal kemudian menyalakan klakson dan pergi dari hadapan Sabhira.


Setelah menutup kaca mobil dan menguncinya kembali, Erzal menghubungi seseorang lewat sambungan teleponnya. "Lakukan sekarang!" perintahnya kemudian memutuskan sambungan telepon tersebut.


Sementara itu, Sabhira berjalan kembali entah sampai kemana tujuannya. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti dibelakangnya. Lalu membekap hidung Sabhira sampai pingsan dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.


Gadis itu tidak sadarkan diri. Di dalam mobil yang membawanya itu berjumlah enam orang termasuk Sabhira sendiri. Salah satu dari orang itu pun menghubungi bosnya.


...----------------...


Hari mulai beranjak sore, setelah kepergian Sabhira dari kantornya. Jadwal Barun sangat padat dengan berbagai meeting yang sampai melupakan keberadaan Sabhira saat ini.


"Permisi, Tuan." Asisten itu masuk setelah mengetuk pintu dan melihat Barun sedang santai di kursinya.


"Ada apa ?" Barun menegakkan tubuhnya. Keningnya mengkerut ketika melihat raut wajah asistennya tampak serius.


"Saya mendapat laporan dari bagian CCTV tentang ini, Tuan lihat saja terlebih dahulu," jawab asistennya seraya memberikan layar tablet pada Barun.


Di layar tersebut terdapat sebuah video yang diserahkan dari bagian yang bertugas mengontrol dan mengamati CCTV di perusahaan ini. Awalnya Barun biasa saja melihat sang istri berjalan kaki ke arah pulang, ia mengira kalau Sabhira pasti akan menyetop bajaj seperti dua kejadian sebelumnya.


Namun ternyata saat video akan berakhir, Barun begitu terkejut dengan sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti lalu menyeret Sabhira untuk masuk ke dalamnya.


"Cepat cari informasi pemilik plat nomor mobil itu ke pihak kepolisian. Jangan sampai istriku kenapa-kenapa!" perintah Barun pada asistennya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


To be continue ...


__ADS_2