Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
MISI


__ADS_3

Barun baru saja tiba di mansion. Ia segera pergi ke kamarnya. Tujuan utamanya yaitu mengeluarkan semua pakaian milik Tissa dari dalam lemari.


Nenek menatap heran dengan raut wajah Barun yang tampak kesal bercampur marah. Bahkan Barun tidak menoleh ataupun menyapa sang nenek dan juga Erzal yang sedang berada di ruang keluarga, menunggu waktunya makan malam.


"Zal, ada apa dengan adikmu? kenapa raut wajahnya seperti itu?" tanya nenek pada Erzal yang duduk tak jauh darinya.


"Aku juga tidak tahu, Nek. Aku juga kesal dengannya. Sabhira mau membantuku pekerjaanku di kantor, tapi dia malah membawa pergi," keluh Erzal. Pria itu duduk santai sambil bersandar ke sofa dan bersilang kaki.


"Oh jadi kamu yang mengajak adik iparmu bekerja di sana? kenapa tidak bertanya langsung pada suaminya? kamu ini mencari masalah saja!" kata nenek dengan bijak. Wanita itu tidak berpihak pada siapapun. Hanya saja sifat dan kepribadian kedua cucunya sangat berbanding terbalik.


"Ya maaf Nek. Lagipula Sabhira sendiri yang meminta pekerjaan padaku, ya kebetulan aku ada lowongan, aku terima," jawab Erzal yang mulai tidak terima disalahkan.


"Ya seharusnya kamu itu konfirmasi terlebih dahulu pada Barun. Bagaimana pun Barun adalah suami sah Sabhira. Kamu sebagai kakak harusnya bisa menasehati Sabhira dan juga Barun jikalau memang salah satu atau keduanya bersalah," tutur sang nenek. Namun sayangnya, apa yang di ucapkan nenek barusan hanya sebuah angin lalu bagi Erzal.


"Iya sudah, iya Nek aku salah. Kalau gitu, aku mau ke kamar terlebih dahulu ya," kata Erzal yang kemudian berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu pergi dari hadapan nenek. Sedangkan nenek melihat kelakuan Erzal yang tidak nyaman akan nasehatnya hanya menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.


...----------------...


Di dalam kamar Barun. Sang penghuni kamar masih menunggu kabar keberadaan istrinya dari para orang-orang kepercayaannya. Keadaan ini membuat nalurinya sebagai seorang suami menjadi resah.


Ada setitik rasa takut kehilangan di hati Barun yang belum sepenuhnya ia sadari. Terlebih sebuah rasa rindu akan adanya Sabhira saat ini.


"Kamu dimana sih Sabhira? kalau saja nanti aku tahu siapa dalang dibalik semua ini, aku tidak akan memberi ampun lagi," kata Barun bermonolog.


Semua pakaian milik Tissa pun telah ia masukkan ke dalam kardus yang sebelumnya ia minta dari pelayan mansion, dan telah ia kemas rapih serta menyuruh pelayan mansion menaruhnya di gudang.

__ADS_1


Tiba-tiba perutnya berbunyi, untuk minta diisi. Namun Barun masih ingin tetap di kamarnya untuk menunggu kabar sang istri. Berhubung akal sehatnya masih berjalan dan ia tidak ingin sakit, akhirnya Barun keluar kamar untuk makan malam.


Setibanya di ruang makan, Barun hanya melihat keberadaan sang nenek sedang asik menyantap makan malam sendirian. Pria itu mengerutkan keningnya, merasa heran. Langkahnya pun sengaja di percepat supaya bisa lebih cepat menghampiri sang nenek.


"Malam Nek, kok sendirian saja? Kak Erzal mana?" sapa Barun, berbasa-basi mempertanyakan keberadaan Erzal. Meski sebenarnya pria itu sama sekali enggan bertanya tentang kakak sepupunya itu.


"Malam Barun. Iya, sepi sekali rasanya. Sabhira juga kemana lagi, dia kok belum pulang juga ya? apa dia pergi ke rumah kedua orang tuanya ya?" tanya nenek dengan raut sedihnya.


"Mungkin, Nek." Barun pura-pura bersikap acuh tatkala sang nenek mempertanyakan istrinya. Pria itu menarik kursi kemudian duduk, ia pun membalik piringnya lalu mengambil makanan sesuai porsinya sendiri. "Tadi sih dia bilang kalau mau pulang. Entah, aku malas membicarakannya," lanjutnya kemudian menyantap makan malamnya dengan lahap.


"Jangan naif di depanku Barun. Jujur saja sekarang. Aku tahu betul kamu sejak kecil, di mulut mu boleh berkata seperti itu. Tapi aku yakin hatimu tidak demikian. Katakan padaku, dimana Sabhira?" Ucapan nenek membuat Barun menghentikan makannya sejenak.


"Nek, aku ingin makan terlebih dahulu boleh? baru setelah itu akan aku jelaskan semuanya," pinta Barun yang memang sudah sangat lapar.


"Baiklah, silahkan." Nenek pun bisa mengerti.


"Sekarang jelaskan padaku, apa yang telah terjadi sebenarnya?" tanya nenek yang penasaran.


"Sabhira diculik Nek," jawab Barun membuat nenek terkejut lalu mengerutkan alisnya.


"Bagaimana bisa? apa yang terjadi?" tanya nenek yang merasa tidak habis pikir.


"Aku juga belum tahu siapa penculiknya. Saat Sabhira mau pulang, aku ingin mengejarnya. Tapi meeting hari ini penting semua. Beruntung penculikannya itu masih dalam pengawasan CCTV perusahaan. Jadi asistenku memberitahukan video dari bagian CCTV," jelas Barun, raut wajahnya mendadak serius.


"Ya sudah aku doakan semoga Sabhira tetap dalam keadaan baik-baik saja. Pantas saja sejak tadi perasaanku tidak enak, ternyata ini masalahnya," gumam nenek sambil mengelus-elus dadanya sendiri.

__ADS_1


"Iya Nek. Kalau gitu, aku pergi ke kamar dulu ya," pamit Barun kemudian berdiri dan pergi dari hadapan nenek.


Barun berjalan melewati sebuah pintu yang mengarah ke kolam renang dan juga taman belakang mansion. Akan tetapi, tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang yang pergi ke taman itu. Namun, Barun tidak menghiraukannya. Ia tetap berjalan menuju kamar.


...----------------...


Malam sudah semakin larut, tapi mata Barun enggan untuk terpejam. Pria itu semakin kepikiran dengan istrinya, dan ia juga merasa bersalah.


Karena bosan berada di dalam kamar, Barun ingin keluar untuk mencari udara segar. Tak lupa ia pun mengantongi ponsel dan juga dompet, serta meraih kunci mobil yang tergantung di samping pintu kamarnya.


Ketika Barun baru saja membuka pintu, matanya tidak sengaja melihat Erzal keluar dari kamarnya. Barun mengerutkan alis, merasa heran karena sudah hampir tengah malam, kakak sepupunya itu berpakaian rapih keluar dari kamar.


"Lebih baik aku ikuti saja dia. Siapa tahu ada petunjuk mengenai keberadaan Sabhira," ucapnya dalam hati.


Barun menutup pintu kamarnya sangat pelan, lalu berjalan hati-hati mengekor di belakang Erzal. Saat berada di halaman mansion, Barun mengamati terlebih dahulu dari kejauhan. Ia pun membuka layar ponsel dan aplikasi chatting, kemudian mencari kontak Erzal.


Dengan kecanggihan teknologi, Barun berusaha melacak Erzal lewat aplikasi chatting tersebut.


"Ah! sepertinya dia tidak ingat untuk mematikan GPS-nya," gumam Barun kemudian berjalan santai menuju mobil yang belum sempat ia masukkan ke dalam garasi.


Di saat Barun baru saja masuk ke dalam mobil, di saat itu pula Erzal telah keluar dari gerbang mansion. Barun pun menaruh ponselnya pada holder yang ada di dashboard mobil, kemudian melajukan mobil tersebut.


Jalanan yang cukup sepi di tengah malam seperti ini, membuat Erzal melesatkan mobilnya diatas rata-rata. Namun Barun tidak mengejarnya. Pria itu mengamatinya dari pelacakan lokasi di ponselnya tersebut.


Barun mengejapkan matanya berkali-kali untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya tidak salah.

__ADS_1


"Kenapa dia bisa berhenti di tempat seperti itu? apa mungkin Sabhira juga ada di sana?" gumam Barun yang tanpa berpikir panjang langsung menghampiri tempat tersebut.


To be continue ...


__ADS_2