
"Ada apa Nek?" tanya Sabhira seraya duduk bersebelahan dengan nenek.
"Apa kau mencintai cucuku?" Nenek justru bertanya balik pada Sabhira.
Gadis itu menatap bingung, kedua alisnya dikerutkan. "Tidak Nek."
"Lantas kenapa kau tidak ingin berpisah darinya?" tanya nenek lagi. Wanita berusia senja itu menatap heran pada Sabhira.
"Begini Nek. Pertama, aku tahu sebagian besar seorang wanita ingin sekali memiliki sebuah pernikahan yang hanya dilakukan satu kali seumur hidup. Kedua, aku sudah berkali-kali bilang dan berusaha kabur darinya. Tapi dia tetap mencariku dan menginginkan aku tetap ada disampingnya. Ketiga, kedua orang tuaku pasti tidak ingin melihatku lagi. Dari tatapan yang terakhir kulihat, mereka sangat membenciku." Sabhira menghentikan ucapannya. Nenek menghela napas panjang setelah mendengar pengakuan dari cucu menantunya itu.
"Sekarang, apa yang kau inginkan?" tanya nenek lagi. Namun Sabhira tertegun sejenak.
"Aku ingin kembali kepada kedua orang tuaku, Nek. Tapi, aku masih terikat pernikahan dengan cucu nenek," ucap Sabhira terdengar putus asa.
"Kalau aku bisa membantumu, apa kau yakin dengan keputusan yang telah kau ambil? jangan sampai, setelah semuanya berakhir ... kau justru jadi jatuh cinta padanya," sanggah nenek. Lagi-lagi membuat Sabhira bimbang.
Gadis itu belum benar-benar memahami perasaannya. Rasa bimbang itu membuatnya tak sadar kalau sebenarnya ia punya hati pada suaminya. Namun karena sikap kasar yang sering Sabhira terima, membuatnya sulit untuk mengungkapkan rasa.
"Tak apa Nek. Meskipun nanti terlambat jatuh cinta, biarkan aku mencintainya dengan caraku," jawab Sabhira dengan yakin.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kau istirahat. Tenangkan pikiranmu. Besok pagi, aku akan mengantarmu ke rumah kedua orang tuamu. Selebihnya biar aku saja yang mengurus semua pembatalan pernikahan kalian," kata nenek. Sebuah angin segar pun telah Sabhira dapatkan. Tinggal nanti hasilnya, gadis itu belum tahu.
"Oh iya Nek ... " Sabhira tampak ragu menatap nenek. "Tentang Tissa itu, apa aku boleh mengetahuinya?" tanyanya kemudian.
"Kalau nanti Barun tidak cerita padamu, biar besok aku yang memberitahukanmu semuanya," jawab nenek kemudian berdiri lalu pergi dari hadapan Sabhira.
Gadis itu mendes ah pelan. Ada setitik kekecewaan dalam hatinya. Karena tidak mendapat sebuah jawaban tentang wanita yang bernama Tissa itu.
__ADS_1
Sabhira pun akhirnya beranjak dari sofa lalu pergi ke kamar Barun. "Kenapa rasanya aneh, semua orang menyembunyikan rahasia tetang wanita itu dariku. Apalagi Tuan Barun. Aku tidak bisa beristirahat kalau rasa penasaranku ini tidak segera tertuntaskan!" keluhnya dalam hati.
Setibanya di dalam kamar, Sabhira langsung membuka lemari. Berharap ada sebuah petunjuk tentang wanita itu. Ia mencari-cari di tumpukan pakaian yang tadi pagi ia temukan.
"Ah! tidak ada apa-apa sama sekali. Kenapa Tuan Barun bisa serapih ini. menyembunyikannya?" Sabhira merasa kesal. Ia pun akhirnya berganti pakaian dan berniat untuk menemui Barun lagi dikantornya.
...----------------...
Terlepas dari pengawasan sang nenek, Sabhira bisa keluar kembali dari mansion itu diantar oleh sopir yang tadi membawanya serta nenek dari kantor Barun.
Padahal tanpa sepengetahuan Sabhira, sang nenek melihatnya pergi dari jendela kamar yang menghadap ke halaman mansion.
"Teryata gadis itu nekad juga. Dia begitu tidak sabar dengan rencana ku. Semoga apa yang dia lakukan nanti tidak semakin memberatkan hidupnya," kata nenek seraya menatap kepergian Sabhira yang telah pergi dari halaman mansion.
Saat di kantor Barun, Sabhira turun dan menyuruh sopir untuk kembali ke mansion kembali. Walau nyawanya hanya satu, demi sebuah penjelasan dari sang suami, Sabhira rela maju pantang mundur.
Sabhira dengan percaya dirinya masuk ke dalam lobby. Kedua resepsionis yang tadi pagi sempat berbicara padanya, langsung menunduk hormat ketika saat pulang, mereka melihat Sabhira bersama nyonya besar. Tidak ada pencegahan dari mereka saat gadis itu langsung masuk ke dalam lift.
"Sedang ada acara apa sih?" gumam Sabhira yang sudah masuk ke dalam lift. Tak butuh waktu lama, ia pun tiba di lantau khusus tempat ruang kerja Barun berada.
*Ting*
Sabhira keluar dari lift. Namun melihat kedatangannya kembali, asisten Barun terperanjat kaget. Pria itu langsung berdiri dan menunduk hormat.
"Maaf Nyonya, Tuan sedang ada tamu di dalam," kata pria itu dengan pandangan yang masih melihat ke bawah.
Sabhira mengernyit. "Tamu?" Gadis itu ingin sekali mengintip, namun sayangnya tidak ada kaca yang bisa melihat ke dalam ruangannya. "Sejak kapan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Baru saja Nyonya ... Um, Tuan Barun bilang kalau ada yang mencarinya, dia sedang sibuk saat ini," jawab asisten Barun. Gadis itu memicingkan matanya, merasa ada yang disembunyikan oleh asisten suaminya tersebut.
"Termasuk aku?" tanyanya lagi. Kali ini wajah asisten itu terangkat lalu menganggukkan kepalanya.
"Benar Nyonya."
Sayangnya, Sabhira tidak percaya dengan pria itu. Ia pun menerobos masuk kedalam. Namun seketika matanya terbelalak bersamaan dengan mulutnya yang membulat melihat Barun yang diam saja diberi ciuman oleh seorang wanita. Sabhira sama sekali tidak mengenal wanita itu. Jelas yang tertoreh dalam hatinya saat ini, kecewa.
Asisten Barun pun terkejut dan tampak ketakutan akan amukan bosnya setelah ini. Pria itu sampai tidak berani melihat ke dalam ruangan yang sengaja pintunya dibuka lebar oleh Sabhira.
Gadis itu menutup pintunya kembali. Senyum pun mengembang dari kedua sudut bibirnya. Meski itu sulit, tapi ia merasa harus dilakukan.
Sedangkan Barun dan wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Sabhira yang kini telah mengenakan pakaian yang berbeda.
"Ups, maaf kalau aku mengganggu kalian," kata Sabhira yang berjalan santai dengan kedua tangan yang disilangkan kebelakang, menghampiri suaminya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk Sabhira?" tanya Barun dengan suara yang datar dan tampak salah tingkah.
"Tidak ada. Aku hanya ingin saja masuk ke sini. Dan ternyata ... kau sedang asik bercumbu mesra dengan wanita yang kelihatannya lebih cantik aku dibanding dia," jawab Sabhira yang sengaja terlalu percaya diri dengan kesombongan yang tiada tandingannya. Sementara wanita itu menatap sinis ke arahnya.
Barun kembali ke kursi kebesarannya. Ia hanya terdiam dan bingung harus bicara dari mana.
"Melihat kelakuanmu seperti ini ... aku jadi ragu kalau kamu seorang homo, Tuan." Sabhira berdiri tepat di samping suaminya. Tubuhnya sengaja membungkuk sehingga terlihat jelas belahan dadanya di balik dress yang ia kenakan.
Sontak perilaku Sabhira membuat Barun gugup. Gadis itu seakan menggodanya, karena disanalah bagian tubuh yang menjadi candunya sejak malam itu.
"Tadinya, aku kesini ingin menuntut sebuah penjelasan darimu. Tapi melihat kau sedang sibuk ... " Mata Sabhira melirik sinis ke arah wanita yang masih mematung di tempat semula. "Aku tunggu kau di rumah!" lanjut Sabhira kemudian berdiri.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ...
To be continue ...