
Langit yang tadinya berwarna jingga, kini telah meredup berubah menjadi hitam kebiruan. Nenek dan juga Mosev baru saja tiba di mansion. Raut wajah mereka tampak lelah sekali.
Mungkin karena saat di pertengahan jalan tadi, tiba-tiba nenek meminta Mosev untuk pergi ke pemakaman mendiang kedua orang tua Barun. Selama di sana, nenek mengirimkan doa serta bercerita melalui hatinya. Terutama tentang Sabhira.
"Mosev, aku mau ke kamar dulu. Kalau kau melihat Barun, suruh dia menemuiku di kamar!" perintah nenek, dengan nada bicara yang datar serta sikap dinginnya. Suasana hati wanita berusia senja itu sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.
"Siap, Nek. Aku juga mau istirahat di kamar," jawab Mosev sambil menggerakkan lehernya hingga berbunyi 'kretek'. Nenek pun mengangguk lalu pergi ke kamar, begitupun dengan Mosev.
Selang beberapa menit, Barun serta Sabhira dan ibunya tiba di halaman mansion. Wanita paruh baya itu menatap kagum atas kemewahan serta keindahan pada halaman depan mansion itu.
"Sabhira, nanti kau duluan antar ibu ke kamar tamu ya. Aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan semua barang-barang milik ibu ke sana," ucap Barun sambil melepas sabuk pengamannya.
"Iya," jawab Sabhira seraya menganggukkan kepala.
Pria itu turun dari kursi kemudi, di susul oleh Sabhira dan juga ibunya. Seperti yang telah disetujui bersama, ibu dan anak itu lebih dulu masuk ke dalam mansion. Sedangkan Barun mengikuti dibelakang mereka sambil mencari pelayan yang lewat di depannya.
Saat Sabhira membuka pintunya, suasana di dalam mansion tersebut sangat sepi.
"Sabhira, mansion ini sangat luas sekali. Tetapi apa memang sesepi ini?" tanya wanita paruh baya itu, karena tidak ada yang orang yang berlalu lalang di depan mereka.
"Biasanya kalau jam segini, para pelayan rata-rata sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Terus, sebagian lagi sudah kembali ke rumah mereka. Karena pelayan di sini ada yang menginap dan ada juga yang pulang. Tentunya rumah mereka tidak jauh dari sini," jawab Sabhira. Setelah beberapa minggu ada di sini, gadis itu sudah tahu banyak tentang kondisi mansion. Apalagi sifatnya yang mudah berbaur, membuatnya juga mudah mengenal dan dikenal orang banyak. Itu salah satu kelebihan yang dimiliki Sabhira dibalik sifat petakilannya.
"Oh seperti itu, Nak." Wanita paruh baya itu paham dan tidak bertanya lagi. Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar yang akan di tempati oleh wanita tersebut.
"Ibu, ini kamar Ibu. Yuk kita masuk ke dalam!" seru Sabhira lalu membuka pintunya.
Berhubung kamarnya baru selesai dibersihkan oleh pelayan, jadi kunci kamar tersebut hanya di sangkutkan ditempat kunci bagian dalam. Maka dari itu Sabhira tidak repot untuk meminta kepada pelayan mansion yang bertanggung jawab perihal kunci kamar tamu tersebut.
"Ya ampun, Nak. Kamar tamu saja sebagus ini! bagaimana dengan kamarmu dan Barun?" seru wanita itu yang takjub akan design interior di dalamnya.
"Tidak jauh berbeda Ibu, aku juga baru masuk ke dalam kamar tamu ini. Ternyata designnya hampir sama," jawab Sabhira yang kemudian duduk di kursi depan meja rias. "Lebih baik sekarang Ibu mandi, terus ganti pakaian. Sebentar lagi masuk makan malam. Nanti aku akan menemui Ibu lagi untuk makan malam bersama," ujar Sabhira. Sang ibu pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Sabhira berdiri dan tak lama salah satu pelayan mengetuk pintu. Gadis itu segera menghampiri, dan ternyata beberapa orang pelayan yang mengantarkan barang milik ibunya.
"Nyonya, barang-barang ini taruh dimana?" tanya salah satu pelayan tersebut.
Wanita paruh baya itu pun menghampiri, lalu muncul dari belakang Sabhira. "Taruh di dalam saja ya," jawabnya.
Sabhira mengangguk lalu mundur kebelakang kembali supaya mereka bisa menaruh barang-barang tersebut. Setelah selesai, mereka menunduk hormat lalu pergi.
"Aku tinggal ke kamar dulu ya, Bu!" pamit Sabhira lalu keluar dari kamar, tak lupa menutup pintunya.
...****************...
Ketika selesai mandi dan berganti pakaian, Sabhira melihat Barun sedang duduk termenung di kursi yang ada di pinggir kolam.
Raut wajah pria itu datar memandangi air kolam yang terdapat pantulan cahaya di permukaannya. Sesekali dia berkedip lalu memejamkan mata.
"Ayah ... Ibu ... jangan tinggalin aku! aku sayang sama kalian. Ku mohon jangan tinggalin aku!"
Bayangan dirinya sewaktu melihat ayah dan ibunya terbaring kaku di rumah sakit terus berputar dibenaknya. Seketika tubuhnya bergetar dan kedua telapak tangannya menggenggam kuat.
"Cari tahu siapa pelakunya. Aku ingin orang yang telah membunuh anak dan menantuku itu mengalami hal yang sama, yaitu dihukum mati!"
"Dengan ini saya nyatakan para pelaku pembunuhan berencana mendapat hukuman mati!"
Plak! Sebuah tangan tiba-tiba menepuk kencang bahu Barun. Sontak membuat kedua matanya terbuka lalu menoleh ke samping.
"Sabhira, sedang apa kau disini?" tanya Barun. Pertanyaan itu reflek ia lontarkan.
Gadis itu tidak langsung menjawabnya. Dia ikut duduk di samping sambil menghadap suaminya. Sebelah telapak tangannya sengaja ditempelkan di kening Barun.
"Tidak panas ... " ucap Sabhira lalu bersilang dada dan menatap heran pada Barun. "Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau malam-malam disini? aku lihat tadi tubuhmu bergetar, aku kira kau sakit," sambungnya lalu menghadap ke depan kembali.
__ADS_1
Barun menghembuskan napas panjang. "Aku hanya tiba-tiba teringat saat ayah dan ibu pergi untuk selama-lamanya ... " Pria itu kemudian menunduk sambil mengusap kasar wajahnya. "Sudah, jangan terlalu banyak bertanya lagi. Lebih baik kita makan malam bersama. Nenek dan Mosev pasti sudah menunggu kita, dan ibu juga pasti sudah merasa lapar," lanjutnya, tidak ingin memperpanjang ceritanya lagi.
"Kau yakin tidak ingin menceritakannya lagi padaku?" tanya Sabhira yang sebenarnya sangat penasaran.
"Suasana hatiku sedang tidak bagus untuk bercerita padamu. Daripada nanti kau terkena imbas kemarahanku, lebih baik diam saja," jawab Barun dengan sikap dinginnya.
"Baiklah kalau begitu." Sabhira mengalah lalu berdiri. "Yuk, kita makan malam!" ajaknya.
Barun pun mengangguk lalu ikut berdiri. Mereka pun akhirnya keluar dari kamar.
...----------------...
"Kau seharusnya bisa memberitahu suamimu tentang perbuatannya itu yang merugikan keluarga korban, termasuk Barun!"
Sabhira maupun Barun merasa terkejut ketika melihat wanita paruh baya itu sedang dibentak oleh nenek di ruang keluarga. Mereka pun langsung bergegas menghampiri kedua wanita berbeda usia tersebut.
"Nek, Ibunya Sabhira tidak tahu apa-apa. Selama ini ayahnya lah yang bungkam mengenai masalah pembunuhan berencana itu!" sanggah Barun ketika sudah berada di antara kedua wanita itu.
Nenek menoleh dengan raut kemarahannya. "Dari mana kau tahu? bagaimana kalau dia berbohong?" cecar nenek, hatinya tengah diselimuti kabut kekecewaan. Sehingga sukar sekali percaya pada siapapun.
"Sumpah, saya tidak bohong. Saya sudah katakan semuanya di depan Barun maupun Sabhira," kata ibunya Sabhira dengan wajah yang memerah serta air mata yang terus berlinang.
"Nek, tolong ... maafkan kami atas kesalahan yang telah ayah perbuat. Seandainya aku tahu sejak awal, aku pasti akan menolak nasih yang menimpaku saat ini. Sumpah, kami tidak merencanakan apapun pada keluarga ini. Kami hanya keluarga sederhana yang derajatnya jauh di bawah kalian .. dan tolong ... jangan libatkan kami dalam kesalahan yang telah ayah perbuat," kata Sabhira yang juga tidak kuasa menahan tangisnya sambil memeluk sang ibu.
"Nek ... nenek tahu betul bukan kalau bukan karena Erzal, keluarga kita baik-baik saja. Biang semua kekacauan ini adalah cucu Nenek itu. Nenek bahkan kadang tidak mempercayaiku, hanya karena aku masih selalu dianggap anak kecil di mata Nenek. Sekarang aku sudah membuktikannya Nek," timpal Barun lalu menghela napas.
Sang nenek masih terdiam sambil memandangi tiga orang yang ada di hadapannya saling bergantian. Amarah yang tadi sempat berkobar, kini semakin mereda. Nenek mengalah dengan egonya.
"Barun ... "
...****************...
__ADS_1
Fyuuuh, tegang lagi gaes. Santai dulu yuk, kita mampir ke karya satu ini. Dijamin bisa bikin senyam senyum sendiri, asli bikin baper! 🤗