Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
DI USIR DARI RUMAH


__ADS_3

Sabhira yang duduk bersandar pada tangkai pohon yang besar di atas pohon mangga itu tanpa sadar malah tertidur pulas. Hingga tak terasa langit pun mulai gelap, dan perlahan gadis itu terbangun dari tidurnya.


"Hoaaa! nyaman juga tidur di atas ini." Gadis itu bergumam sambil mengangkat kedua tangan lalu menggeliatkan tubuhnya.


Sedangkan Barun yang lelah menunggu Sabhira karena tak kunjung muncul batang hidungnya, akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.


"Benar-benar keterlaluan kamu gadis licik! awas saja kalau besok sampai bertemu denganku, akan aku seret kau sampai meminta ampun padaku!" Barun sudah sangat geram sekali.


Setelah mengintip tidak ada mobil Barun di depan rumahnya, Sabhira pun turun dari pohon mangga itu.


"Huh untuk saja pria itu sudah pergi. Aku bisa langsung pulang ke rumah," kata Sabhira bermonolog seraya berjalan menuju rumahnya.


Gadis itu membuka perlahan gerbang rumah, setelah berhasil ia pun menutupnya lagi. Dengan penuh percaya diri, langkahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat vespa milik ayahnya yang kemarin sempat hancur pada bagian depan, telah utuh dan kembali seperti baru lagi. Tapi, vespa itu bukan hasil perbaikan. Melainkan masih baru karena bagian jok motor serta kaca spionnya masih terbungkus dengan plastik.


Lebih anehnya lagi, pintu garasi itu terbuka lebar. Sabhira berjalan ke sana.


"Apa ayah beli vespa baru? lalu kenapa pintu garasinya gak di tutup? kalau ada yang mengambilnya bagaimana? ayah ini selalu saja tidak mementingkan itu," gerutu Sabhira sambil berkacak pinggang, memperhatikan vespa baru itu dari depan ke belakang. "Tunggu ... kok disini tertulis E, P. Singkatan apa itu? apa bagian dari merk motor vespa ini?" lanjutnya yang masih berpikir keras.


"Sedang apa kamu di sini, Sabhira?" Suara seorang pria berhasil mengagetkan gadis itu.


"A-ayah, membuatku kaget saja," pekik Sabhira lalu mencebik.


"Masih berani kamu menampakkan wajah di rumah ini?" tanya ayahnya yang kecewa dengan kelakuannya. "Sudah Ayah bilang jangan pernah mengendarai motor vespa tua milik Ayah itu. Sekarang, kamu malah terjebak akibat ulah kamu sendiri. Ayah harap kamu bisa bersikap dewasa dan pria itu tidak menjebloskan putri Ayah satu-satunya ini ke dalam jurang kegelapan." Kali ini mata ayahnya mulai berkaca-kaca. Sejujurnya hati pria itu sangat sedih. Tapi apalah dayanya yang tidak mampu menahan Sabhira untuk tinggal di rumahnya karena hal yang tidak bisa dijelaskan.


"Ayah, aku rindu. Bolehkah aku memelukmu?" tanya Sabhira, jelas terlihat guratan kesedihan dikedua ekor matanya.


"Tentu, boleh." Setelah mendapat persetujuan, Sabhira langsung memeluk sang ayah.


"Masih berani kau ada disini!" sergah suara seorang wanita yang terdengar tidak jauh dari tempat gadis itu dan ayahnya berada. Sabhira segera melepaskan pelukannya dari sang ayah.

__ADS_1


"Ibu, maafkan aku ... " ucap Sabhira yang teramat pilu. Sang ibu hanya terdiam dengan raut kemarahannya serta enggan untuk menatap anak semata wayangnya itu.


"Pergi dari sini Sabhira! kau harus kembali ke tempat yang seharusnya kau berada!" bentak sang ibu dengan mata yang memerah.


"Tapi Ibu ... ini rumahku juga bukan? tempatku disini," kata Sabhira memohon.


"Cukup Sabhira! setelah rasa kecewa yang kamu buat. Aku bahkan tidak sudi untuk melihatmu disini lagi! anggap saja anak kami sudah tiada!" teriak ibunya lalu menangis.


Bukan hanya sang ibu yang menangis, tapi ayahnya pun sama. Terlebih Sabhira. Hatinya seakan mati karena kasih sayang kedua orang tuanya perlahan pudar.


"Pergi!" bentak ibunya lagi. Sabhira semakin tak kuasa menahan tangis dan membiarkan ibu dan ayahnya menangis seperti itu.


Demi membuat hati sang ibu mungkin lebih baik, Sabhira pergi dari rumah kedua orang tuanya. "Maafin aku Ibu, Ayah."


Sabhira mengeluarkan sisa uang yang sempat ia ambil dari dompet Barun dari kantong celananya.


Hingga langit sudah semakin gelap dan pekat. Sabhira duduk dikursi yang ada di depan pertokoan tepat di pinggir jalan raya. Rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Tidak ada satupun yang bisa ia andalkan untuk meminta tolong.


Karena sudah terlalu lelah dan mengantuk, Sabhira tidur dengan posisi duduk dengan punggung yang disandarkan ke rolling door dan kedua kakinya dibiarkan menjuntai ke bawah. Tiba-tiba, semburat cahaya menyorot langsung ke wajahnya. Sabhira yang baru saja terpejam, kini terbangun.


"Siapa sih yang menyalakan lampu di depan wajahku ini?" tanya Sabhira dengan sebelah telapak tangannya menyanggah pandangannya supaya tidak terlalu menyilaukan.


Sesaat kemudian, lampu itu mati. Sabhira mendadak kegelapan. Lalu bayangan hitam muncul membelah cahaya itu. Siluet seorang pria dengan postur tubuh sempurna semakin mendekat, semakin terlihat jelas.


"Siapa kamu!" bentak Sabhira berusaha menjauh dari wajah pria yang mendekat ke wajahnya. Namun sungguh malang, kurs yang gadis itu duduki terjungkal ke belakang. Dengan cepat, tangan pria itu menariknya dan membawanya ke dalam pelukan.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya pria itu. Sabhira yang masih setengah sadar berulang kali mengerjapkan kedua matanya. Selamat, kali ini gadis itu diselamatkan tepatnya. Kalau tidak, mungkin tulang punggungnya bisa patah karena tertekuk. Ow! mengerikan.


"Iya ... " Sabhira men des ah pelan. "Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Sesaat kemudian gadis itu benar-benar tersadar setelah mendengar suara yang begitu sangat dikenalinya. Ia melepaskan pelukan pria itu dan menjauh.


"Ken-kenapa bisa kamu menemui ku di sini, wahai Tuan Barun?" Sabhira menyodorkan jari telunjuknya tepat di depan hidung mancung milik pria itu.


"Tidak usah merasa terkejut. Sekarang yang terpenting aku harus membawa maling pulang ke mansion," tegas Barun lalu meraih tangan Sabhira dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.


Sial, harusnya aku lebih cerdik dari dia. Bisa-bisanya sih aku sampai tertidur di kursi itu. Gimana ya biar aku bisa melarikan diri lagi?


Tanpa ia sadari, Barun telah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.


"Hei!" Barun memetikkan jarinya membuat Sabhira terkesiap kaget. "Jangan pernah berpikir lagi untuk pergi dariku, atau kamu akan tahu akibatnya," ucapnya dengan nada yang penuh penekanan.


Sabhira tercekat dan napasnya pun tertahan.


Bagaimana bisa dia tahu apa yang sedang aku pikirkan? Ah ya sudahlah Sabhira, kita pikirkan rencana lain ketika sudah tidak ada dia di dekatku. Macam paranormal saja pria aneh ini.


Barun melajukan mobilnya menuju mansion. Usahanya dalam pencarian Sabhira seharian ini, akhirnya membuahkan hasil. Bahkan ia sampai meninggalkan pekerjaannya di kantor demi istri kecilnya itu.


Wah, wah, wah. Apa Barun memang sudah memiliki setitik rasa untuk Sabhira? atau mungkin pria itu hanya tidak ingin kehilangan profit pada saham perusahaannya itu?


Sepanjang perjalanan, Sabhira hanya terdiam. Kedua tangannya bersilang dada dan pandangannya hanya menatap lurus ke depan.


"Aku ingin memberitahumu satu hal." Barun memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Apa itu?" tanya Sabhira yang mendadak penasaran. Berharap kabar yang akan Barun sampaikan akan menarik baginya.


"Jangan pernah menghiraukan perkataan mereka yang menyakitkan bagimu. Sebab kau sudah menjadi istriku sekarang!"


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2