
"Sabhira ... " panggil Barun sambil meraih tangan istrinya. Hal itu membuat Sabhira terkesiap lalu menoleh ke arahnya. "Sudah, jangan terus dipikirkan ya ... Setelah ini kita harus ke cara kompetisi, bukannya kau ingin tahu siapa pelaku yang kemarin merusak gaunmu?" tanya pria itu kemudian.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Sabhira. Sorot matanya penuh harap.
"Tidak, aku sama sekali tidak marah padamu," jawab Barun lalu membawa istrinya ke dalam pelukan.
"Terima kasih," lirih Sabhira. Barun pun mengecup puncak kepala gadis itu cukup lama.
"You're very welcome. But, I swear I love you, Hunny," kata Barun setelah melepas kecupannya. Senyum pun mengembang dari kedua sudut bibir Sabhira.
"Tapi ... apa hukuman buat ayah tidak bisa diberi kompensasi?" tanya gadis itu.
"Keputusan sudah hakim yang buat, sekeras apapun kau maupun aku yang membela tetap saja hukum harus ditegakkan ... Um, bagaimana setelah dari acara, aku akan mengantarkan mu ke ibumu?" usul Barun berusaha menghibur istrinya supaya tidak terus larut dalam kesedihan.
"Baiklah," ucap Sabhira seraya tersenyum. Setelah merasa lebih tenang, gadis itu akhirnya mau pergi dari ruang sidang tersebut.
...----------------...
Mobil yang Barun kendarai telah sampai di halaman parkir perusahaan modelling. Mereka pun turun bersamaan dari kursi masing-masing.
"Aku duluan ya!" seru Sabhira. Barun pun mengangguk dan membiarkan gadis itu berjalan mendahuluinya.
Setibanya di ruang ganti, Sabhira bertemu dengan wanita itu lagi.
"Kenapa kau baru datang Sabhira?"
"Kemarin aku sudah izin dengan Jim dan Von untuk datang telat hari ini." Disaat Sabhira hendak berkata lagi, Von datang membawa gaun untuknya. Tentunya gaun yang berbeda dari kemarin.
"Sabhira kau datang juga rupanya. Ini gaun untukmu, segera di pakai ya!" kata Von sembari memberikan gaun tersebut pada Sabhira.
"Terima kasih Von." Sabhira tersenyum sambil menerima gaun tersebut.
Setelah Von pergi, Sabhira memulai aktingnya.
"Aku pergi ganti pakaian dulu ya!" seru Sabhira lalu hendak berbalik badan.
"Tunggu, Sabhira!" cegah wanita itu sambil mencekal tangan Sabhira.
__ADS_1
"Ada apa?" Sabhira melirik ke tangannya yang di cekal cukup kencang. Sedangkan wanita itu tetap terus mencekalnya meski semakin lama Sabhira sampai meringis kesakitan. "Aw, ish!"
Tanpa mereka tahu, Von merekam dari sela pintu yang sedikit terbuka.
Sabhira yang awalnya ingin tahu sejauh mana wanita itu bertingkah, lama-lama ia merasa kesal sampai tersulut emosi. Dalam satu hempasan, cekalan tangan wanita itu terlepas. Tangan Sabhira pun terluka dan mengeluarkan darah segar yang mengalir begitu saja.
"Kukumu itu terbuat dari apa sih!" teriak Sabhira yang sudah sangat emosi dan juga menahan sakit.
Entah kebetulan atau tidak, di ruang ganti tersebut hanya ada mereka berdua.
Wanita itu tersenyum menyeringai. "Itu hukuman buatmu karena telah menikah dengan pria idamanku!" Perkataannya sontak membuat Sabhira membulatkan mata lalu mengerutkan kening. "Sejak aku tahu dia menikahi mu, ingin rasanya aku menyingkirkan mu saat itu juga!" lanjutnya sambil membentak.
Sabhira seketika tertawa. "Hal apa lagi yang telah kau lakukan padaku? sepertinya kau ini belum puas," sindirnya memancing wanita itu untuk jujur.
"Jelas, aku belum puas! karena aku belum menjadi bagian keluarga Praya yang kaya raya itu. Dan juga ... seharusnya kemarin kau sudah malu karena gaunmu terlepas!" jawab wanita itu. Matanya memerah serta rahangnya mengeras.
Kali ini Sabhira tersenyum simpul pada wanita itu. "Ternyata kau pelakunya," gumamnya. "Kau tidak takut kalau perbuatanmu ini bisa menjadi masalah untuk dirimu sendiri?" tanyanya kemudian.
"Takut?" Wanita itu terkekeh lalu menggelengkan kepala. "Tentu tidak, di ruangan ini tidak ada CCTV. Jadi, tidak ada bukti tentang apa yang telah ku perbuat saat ini," ucap wanita itu dengan sangat percaya diri.
Von tiba-tiba membuka pintu. Sabhira dan wanita itu menoleh bersamaan. "Semua bukti sudah aku rekam dan nanti akan ku kirim kepada pihak yang berwenang atas kompetisi ini. Dan kamu! ... " Von menunjuk tepat di depan wajah wanita itu yang sedang tampak terkejut. "Bersiaplah untuk kami tendang dari kompetisi ini!"
"Terima kasih banyak, Von," ucap Sabhira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama. Bagaimanapun Tuan Barun adalah klien kami dan juga orang yang berwenang atas kompetisi ini," sahut Von lalu menepuk bahu Sabhira.
"Von, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak---"
"Its okay. Setiap wanita yang mengalami kejadian kemarin, aku yakin pasti akan melakukan hal yang sama."
Barun masuk ke dalam ruang ganti. Pria itu sangat terkejut ketika melihat ada darah di tangan Sabhira. "Tanganmu kenapa?" tanyanya lalu mempercepat langkahnya menghampiri sang istri.
"Tanganku habis dicekal olehnya," jawab Sabhira sambil menatap wanita yang kini hanya menunduk malu dan mematung dihadapannya. Barun pun mengikuti arah tatapannya.
"Jadi, dia pelakunya?" tanya Barun lalu menghampiri wanita itu.
Seketika tubuh wanita itupun bergetar saat Barun semakin mendekatinya. Telapak tangannya mulai berkeringat.
__ADS_1
"Angkat wajahmu!" perintah Barun dengan tegas.
Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya dan melihat jelas raut kemarahan pada pria yang kini ada di depannya.
"Odet?" tukas Barun mengenali wajah wanita itu.
"Maaf Barun, aku telah melukainya," cicit wanita yang bernama Odet itu. Sorot matanya menjadi sendu. Bak rice paper yang disiram oleh air panas ketika berada di depan Barun. Sangat berbeda sekali dari sikapnya tadi terhadap Sabhira.
"Kau mengenalnya?" tanya Sabhira yang mulai penasaran.
"Dia teman satu universitas ku dulu. Aku kira bukan dia orangnya. Ternyata obsesinya ingin menjadi model terkenal masih kuat," jawab Barun tanpa memindahkan pandangannya dari wajah Odet.
Cantik, memang. Di usia yang tidak lagi muda, Odet masih tampak awet muda.
"Apa kau memiliki hubungan di masa lalu dengannya? kenapa dia sangat ingin bersamamu?" tanya Sabhira lagi. Rasa cemburu pun mulai merasukinya.
"Tidak." Barun membalikkan tubuhnya yang kini menghadap gadis itu. "Aku dan dia hanya sebatas teman, tidak lebih. Tapi memang kami dekat karena dulu satu komunitas yang sama. Jadi, sering nongkrong bareng," jelas pria itu sambil menatap lekat ke manik mata istrinya.
Sabhira langsung terdiam ketika Barun telah menjelaskan semuanya. Gadis itu tidak sadar dengan darah yang terus mengalir dari luka akibat cekalan tangan Odet.
Barun langsung meraih tangan Sabhira yang terdapat luka. "Von tolong ambilkan kotak P-tiga-K!" perintah pria itu.
"Baik, Tuan."
"Aw! pelan-pelan ini perih sekali rasanya," keluh Sabhira.
Odet yang mendengar suara manja gadis itu merasa ingin muntah. Dia bahkan sebenarnya tidak menyesali atas perbuatannya itu. Hanya saja kata maaf yang dilontarkan tadi semata-mata ingin mengambil hati Barun supaya bisa memaafkannya.
Ketika semua sibuk mengobati luka pada tangan Sabhira. Perlahan Odet melangkah mundur.
"Sekali lagi kau melangkah, jangan harap hidupmu akan baik-baik saja!" ancam Barun dengan penuh penekanan. Pria itu menyadari kalau Odet akan melarikan diri dari ruangan tersebut.
"Ada apa ini?"
To be continue ...
...**************...
__ADS_1
Tegang euy, yuk santai dulu. Ada rekomendasi karya yang gak kalah serunya juga loh. Yuk mampir 🙂