Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
KERAS KEPALA


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuat Sabhira seperti mendapat angin segar, karena sejak tadi tangannya sulit sekali membuka kunci pada pintu tersebut.


"Minggir!" titah Barun yang kemudian Sabhira turuti dengan senang hati.


Gadis itu merasa penasaran. Setelah Barun membuka pintunya, wajah Sabhira pun ikut muncul di depan orang yang mengetuk pintu.


"Nenek," ucap Sabhira dan Barun bersamaan.


"Ada apa dengan kalian? aneh melihatku ada di sini?" tanya Nenek. Kedua orang didepannya memberi jalan supaya nenek bisa masuk ke dalam.


"Oh tidak Nek. Aku pikir siapa. Omong-omong Nenek dari mana? tumben pakaian Nenek rapih sekali," jawab Barun sambil mempersilahkan neneknya duduk di sofa bersama dirinya dan juga Sabhira.


"Nenek habis dari makam kakek dan kedua orang tuamu ... " jawab nenek lalu pandangannya terhenti pada Sabhira yang tampak berbeda dari yang biasa dilihat olehnya. "Sabhira, kau tampak cantik mengenakan pakaian itu," pujinya membuat Sabhira tersipu malu.


"Terima kasih Nek. Tapi sayangnya suamiku sendiri bahkan tidak memujiku sama sekali," sahut Sabhira dengan raut wajahnya yang pura-pura sedih. Padahal gadis itu tidak perduli mau dipuji atau tidak oleh suaminya.


"Benarkah?" Nenek bertanya dengan mata yang menoleh ke arah Barun dengan sorot tajamnya.


"Iya Nek. Aku heran sama suamiku ini. Kenapa coba dia sangat marah padaku dan menyuruhku membuka pakaian ini? aku kan bingung Nek, nanti aku pulang pakai apa. Eh dia tidak memberikanku solusi sama sekali," kata Sabhira yang sengaja mengadu pada nenek. Hal itu membuat Barun seketika memicingkan matanya.


"Astaga, kenapa kau begitu tega sekali pada istrimu Barun? Ada apa dengan dirimu? kenapa kau tidak membiarkan saja istrimu itu di kantor ini? Lagipula bukannya kau menyimpan banyak pakaian kantor milik Tissa?" cecar nenek dengan berbagai pertanyaan. Sedangkan yang ditanya hanya terdiam tanpa kata.


"Tissa?" tanya Sabhira menoleh ke arah suaminya. "Siapa itu Nek?" tanyanya lagi namun matanya enggan berpaling dari pria yang kini hanya terdiam.


Nenek menghela napas panjang. "Kau ingin aku yang menjelaskan atau kau sendiri?" tanyanya lagi pada Barun.

__ADS_1


Namun sayangnya pria itu langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju kursi kebesarannya lalu duduk disana.


"Tidak usah dijelaskan Nek, itu tidak penting," jawab Barun. Pria itu membuka laptopnya dan tidak menghiraukan kedua orang yang masih ada di ruangannya.


Raut wajah nenek tampak sangat marah. Perlakuan Barun kali ini sangat diluar batas sepatutnya seorang suami untuk Sabhira. Wanita berusia senja itu berdiri lalu berjalan menghampiri cucunya.


Brak. Sebuah gebrakan meja yang cukup kencang membuat Barun reflek menoleh. Begitu pun dengan Sabhira yang langsung berdiri dan menghadap ke dua orang yang ada didepannya.


"Sejak awal sudah ku katakan. Kalau memang kau tidak berniat menikahi Sabhira, lepaskan dia! kembalikan kepada kedua orang tuanya. Bagaimanapun dia perempuan. Kau merendahkan harga dirinya, itu artinya kau merendahkanku dan juga ibumu!" Nenek sudah naik pitam. Memang sejak awal pernikahan Barun dan Sabhira sangat meresahkan dirinya. Terlebih Barun yang kini mulai terungkap tentang masa lalunya.


"Kalau kau masih membangkang juga, besok akan aku tukar posisimu dengan Erzal. Biar dia yang memimpin perusahaan ini. Dan kau akan aku turunkan sebagai staf kantor. Bagaimanapun selama aku masih hidup, pemegang keputusan tentang siapa yang memimpin perusahaan ini masih ada di tanganku," lanjut nenek yang masih bisa berpikir dengan akal sehatnya. Namun sayangnya nenek belum tahu siapa Erzal yang sebenarnya.


"Cukup Nek. Jangan biarkan pria itu memimpin perusahaan kita. Apa jadinya jika dipimpin dia?" Barun menghentikan ucapannya sejenak. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengontrol emosinya.


"Nek, sudah. Kalau semakin emosi, nanti bisa mengganggu kesehatan Nenek juga," bujuk Sabhira dengan lembut. "Sekarang kita duduk lagi ya Nek. Biar urusanku dan Barun, kami yang menyelesaikannya berdua," lanjut gadis itu sambil memapah sang nenek duduk di sofa kembali.


"Tuan, apa ada air minum di ruangan ini?" tanya Sabhira seraya menoleh kepada Barun. Gadis itu berusaha menurunkan egonya. Walau sebenarnya hatinya begitu sakit diperlakukan tidak baik oleh suaminya sendiri.


Namun pria itu hanya melirik lalu berkata, "Kau ambil saja di ruang OB di lantai dasar. Biarkan nenek tetap di sini," jawab Barun bersikap acuh.


"Sudah tidak usah Sabhira!" cegah nenek sambil memicingkan matanya. "Biar aku pulang saja ke mansion. Lebih baik kau ikut denganku, daripada kau disini seperti sampah karena suamimu yang sangat keras kepala ini," lanjut nenek.


"Tapi Nek--" Sabhira ingin menjelaskan kepada neneknya Barun.


"Tidak udah tapi-tapian. Ayok ikut denganku!" ajak nenek terdengar tegas. "Dan kau Barun, jangan harap besok kau akan tetap ada diruangan ini!" ancam nenek lalu beranjak dari sofa.

__ADS_1


Semakin lama Barun merasa kalau ancaman nenek tidak main-main. Pria itu beranjak dari kursi kebesarannya.


"Nek tunggu, oke ... tenang ... " Barun menghampiri nenek yang berdiri memunggunginya. "Aku minta maaf. Aku salah sama nenek dan ..." Barun melihat istrinya yang berdiri tepat di samping neneknya. "Sabhira." Pria itu menghentikan ucapannya beberapa saat, lalu melanjutkannya kembali. "Aku janji akan lakuin semua yang nenek minta. Asalkan, jangan jadikan dia sebagai pimpinan perusahaan," pungkasnya dengan penuh harap sang nenek akan menyetujuinya.


"Aku butuh bukti, Barun. Bukan hanya sekadar janjimu saja," ucap nenek kemudian menarik tangan Sabhira keluar dari ruangan itu. Sementara Barun menghela napas panjang.


"Oke Nek. Aku akan buktikan padamu. Kalau misiku selama ini akan membuahkan hasil. Dan suatu saat Nenek akan tahu tentang kebenarannya yang kucari selama ini," kata Barun bermonolog.


Setelah kepergian sang nenek dan juga Sabhira dari ruang kerjanya, Barun duduk kembali ke kursi kebesarannya. Pria itu merasa, misinya harus segera di akhiri. Meski sebenarnya ia pun sudah mengantongi banyak fakta, kendati demikian tetap saja sekarang tambah satu yang jadi memperpanjang fakta itu sendiri.


...----------------...


Sabhira yang kini telah berada di dalam mobil bersama nenek, ia hanya tertegun sepanjang jalan pulang menuju mansion. Tidak ada lagi kata yang akan ia ucapkan pada nenek. Keresahan pun mulai mengurungnya dalam nestapa yang mungkin menjadi awal perjalanan tanpa berhenti bersama Barun.


Hingga beberapa menit berlalu, mobil yang ia tumpangi bersama nenek tiba di halaman mansion.


"Ayok Sabhira!" ajak nenek seraya turun dari mobil.


Sabhira terkesiap, "Iya Nek," dan ia pun ikut turun dari mobil.


Keduanya masuk ke dalam. Tepat berada di ruang keluarga, nenek duduk di sofa sambil menepuk sebelahnya yang masih kosong.


"Sini Sabhira! ada yang ingin aku tanyakan lebih lanjut padamu."


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2