Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
AKHIRNYA BARUN CERITA


__ADS_3

"Dia masa laluku," jawab Barun. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seolah-olah menatap masa lalu yang tergambar jelas di depannya.


"Bisakah kau ceritakan padaku?" tanya Sabhira dengan antusias. Ia memiringkan wajahnya berusaha memotong tatapan Barun yang tampak kosong.


"Hari itu ... aku dan dia akan menikah. Semua acara telah dipersiapkan sedemikian matang dan sangat sempurna. Aku sangat berharap pernikahan kami adalah yang pertama dan terakhir. Aku juga sudah bermimpi akan memiliki sebuah keluarga yang bahagia dan sempurna. Punya anak-anak yang lucu ... " Barun terkekeh mengingat hal itu. Bahunya bergetar.


Sementara Sabhira masih terdiam, berusaha menjadi pendengar yang baik. Gadis itu pun tetap memandang lekat wajah suaminya.


"Tapi disaat yang bersamaan sebuah peristiwa terjadi. Dimana hal yang paling menyakitkan sangat tidak disangka olehku ... " Kali ini tampak raut wajah kemarahan pada pria itu. Sebuah masa lalu yang tidak hanya ada kebahagiaan, tapi juga ada amarah yang sangat menguras emosi jiwa. Kedua tangannya pun seketika mengepal.


"Aku melihat Erzal sedang menggaulinya di atas ranjang kamar pengantin kami." Baru terkekeh kembali. "Sungguh konyol bukan? pria yang telah ku anggap sebagai saudaraku sendiri, tega menjadi duri dalam rumah tanggaku dan Tissa."


"Lalu?" Sabhira reflek bertanya demikian.


"Setelah hari itu, sikapku berubah seratus delapan puluh derajat terhadapnya juga Erzal. Terlebih saat aku tahu kalau dia bilang hamil ... Dan satu hal yang paling aku benci, anak yang ada di kandungannya itu adalah anaknya Erzal." Tiba-tiba Barun menatap wajah Sabhira yang saat ini sedang terkejut akan penuturan suaminya barusan. Manik mata kecoklatan milik Barun berkaca-kaca.


Gadis itu menatap iba, namun bibirnya kelu dan sulit berucap. Gerakan pada kedua alis matanya seolah menuntut penjelasan lagi.


"Tahukah kau? sejak saat itu aku tidak percaya lagi akan yang namanya pernikahan. Aku tidak percaya lagi dengan Erzal dan juga para wanita yang mencoba mendekatiku," ujar Barun yang mendadak meninggikan suaranya. Sesaat kemudian air matanya jatuh. Sedalam itukah luka yang dirasakan pria itu hingga mampu menangis tanpa sadar?


Sabhira menarik napasnya dalam-dalam. "Sekarang, apa kau percaya padaku?" tanyanya, guna mematahkan stigma yang selama ini mengguncang pendirian Barun tentang arti sebuah rasa percaya itu sendiri.


Namun sayangnya Barun hanya terdiam. Lidah pria itu pun mendadak kelu. Sulit sekali untuk berucap. Hatinya bilang iya, tapi bibirnya di katupkan sangat rapat.


"Diam mu, ku artikan iya ... meskipun awal pernikahan kita tidak didasari oleh rasa cinta dan saling mengenal dekat. Tapi ku yakin seiring berjalannya waktu, pernikahan kita ini bukan hanya sekadar status." Sabhira tersenyum lalu mendekat kepada Barun.


"Syukurlah akhirnya dia mau bercerita tentang Tissa. Aku jadi tidak penasaran lagi," ucap Sabhira dalam hatinya dengan penuh syukur.


Jemarinya mengusap lembut air mata yang membekas di pipi pria itu. Sabhira sengaja mengunci pandanganya yang terus menatap manik kecoklatan milik Barun.


Kedua tangan pria itupun melingkar di pinggang istrinya. "Sabhira ... thank you so much. Hadirnya kau dalam hidupku saat ini membuat semuanya perlahan berubah ke arah yang lebih baik. Aku janji, setelah ini aku akan menemui kedua orang tuamu untuk meminta restu."


Sabhira tersenyum meremehkan dengan kedua mata yang ditutup buka bergantian. "Aku yakin itu sangat sulit. Apa kau mau berjuang?"

__ADS_1


"Um ... mau tidak ya?" Barun sengaja memberi teka teki pada istrinya itu.


Tiba-tiba sebuah cubitan mendarat di pinggang Barun. "Kau ini meledek saja!" timpal Sabhira yang pura-pura merasa kesal.


"Hahaha okey ... iya, iya ampun." Barun terbahak sembari mengeratkan lagi pelukannya.


"Oh iya Tuan, soal kontes model itu ... apa kau benar-benar tidak keberatan?" tanya Sabhira lagi.


"Kalau aku sih tidak keberatan, itu semua kan kembali lagi kepada dirimu. Kau sanggup tidak? Kalaupun tidak sanggup, biar nanti aku yang akan sampaikan pada mereka," jawab Barun serius.


"Oh gitu ya." Sabhira berpikir sejenak sambil melihat ke arah lain, lalu dalan sesaat menatap Barun kembali. "Baiklah, aku sanggup," lanjutnya terdengar sangat yakin.


Lalu seketika berhenti ketika mengingat Mosev. "Kalau kau disini terlalu lama, bagaimana dengan Mosev? apa dia pulang?" tanya pria itu kemudian.


Reflek Sabhira menepuk keningnya. "Astaga, aku baru ingat. Aku sudah bilang padanya untuk menunggu," pekiknya lalu keluar dari ruangan tersebut.


...----------------...


Sementara itu di halaman parkir, Mosev sedang mondar mandir seperti orang kebingungan.


Lalu dari kejauhan dirinya melihat gadis yang sejak tadi ia tunggu di bawah panasnya terik matahari.


"Mosev! hah, hah, hah." Napas Sabhira tersengal-sengal karena berlari dari lobby untuk menghampiri Mosev. "Maaf tadi aku bicara terlebih dahulu dengan Tuan Barun."


"Astaga Sabhira, entah kenapa telingaku ini merasa risih saat kamu menyebut suamimu sendiri dengan sebutan 'Tuan'. Apa tidak ada panggilan lain selain itu?" protes Mosev sambil berkacak pinggang.


"Suka-suka aku dong. Selama bukan dari suamiku sendiri yang protes, panggilan itu tetap saja akan ku sebut," sahut Sabhira yang tidak ingin kalah.


"Tapi sekarang aku protes!"


Suara itu membuat Sabhira dan Mosev menoleh bersamaan.


"Kenapa kalian terkejut?" tanya Barun yang membuat keduanya terperangah.

__ADS_1


"Sejak kapan kau disini?" Sabhira bertanya balik pada suaminya.


"Sejak kau pergi begitu saja untuk menghampiri Mosev dan meninggalkanku di ruangan," jawab Barun dengan santainya. Terlebih kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana.


"Siapa suruh lama sekali bicara dengan Sabhira. Kau tahu Barun kalau kulitku hampir saja terbakar sinar matahari," protes Mosev yang kali ini tertuju pada Barun.


"Hei, hei. Sabhira itu istriku!" Suara Barun tiba-tiba meninggi. "Kau ingat itu," lanjutnya.


"Oh iya, maaf Barun aku sampai lupa," kata Mosev sambil mengusap lehernya, salah tingkah.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kalian pulang," ujar Barun mempersilahkan kedua orang yang ada di hadapannya untuk segera kembali ke mansion.


"Iya." Sabhira berjalan menuju mobil Mosev. Namun ketika baru saja membuka pintu dan hendak masuk, tangan Sabhira ditahan oleh Barun. Sang empunya pun menoleh. "Ada apa?"


Barun tidak menjawabnya, melainkan langsung melayangkan kecupan ke kening Sabhira. Sedangkan Mosev yang melihat itu merasa terenyuh.


"So sweet nya," gumam pria itu sambil bertopang dagu di atas stir mobil. Dan tiba-tiba saja tidak sengaja ia menekan klakson mobilnya.


*Tiiiiiiiiiiiiin*


Mosev kalang kabut dan salah tingkah. Terlebih ketika Sabhira dan Barun menatapnya bersamaan.


"Maaf, aku tidak sengaja. Sungguh!" Mosev mengangkat dua buah jarinya, seakan bersumpah kalau dia memang benar-benar tidak sengaja.


"Ya sudahlah, sana masuk! Jangan lupa setibanya di mansion istirhatlah di kamar. Ingat tubuhmu masih butuh banyak istirahat. Jadi, jangan keluyuran terus," titah Barun pada istrinya.


"Bye, Tuan Barun," pamit Sabhira lalu melambaikan tangan. Barun pun mengangkat sebelah tangannya. Kemudian setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Mosev membunyikan klakson lalu pergi dari sana.


To be continue ...


...****************...


Hallo ... yang mungkin lagi cari rekomendasi novel yang menarik dan bagus untuk dibaca, aku ada nih dari Ria Aisyah judulnya Terpaut 20 Tahun. cuss mampir 💃🏼

__ADS_1



__ADS_2