
Barun pergi ke laboratorium yang ada di rumah sakit itu untuk pengambilan laporan hasil visum Sabhira. Pandangannya sambil meneliti ke sekitar, memastikan kalau tidak ada siapapun yang melihatnya.
Barun hanya waspada karena musuhnya bisa saja ada di sana. Pria itu masuk ke dalam ruangan dengan hati-hati.
"Sus saya mau ambil hasil visum milik Sabhira Irani, istri saya," ucap Barun pada salah satu perawat yang ada di ruangan tersebut.
"Oh iya, mohon ditunggu sebentar ya." Perawat itu kemudian pergi ke lemari yang menyimpan hasil pemeriksaan lalu mencari berkas atas nama Sabhira di sana.
Beberapa saat kemudian, perawat itu kembali dengan membawa sebuah map besar berwarna putih di tangannya. "Ini laporan yang Tuan minta," katanya seraya memberikan map tersebut.
Barun mengambilnya. "Terima kasih." Kemudian keluar dari ruangan itu menuju parkiran mobil.
"Aku harus segera mendapatkan semua bukti supaya aku tahu siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini," gumam Barun saat dirinya telah berada di dalam mobil dan kemudian menyalakan starter nya.
Tujuannya setelah ini menuju kantor berwajib. Sebab, bukti visum harus segera di serahkan bersamaan dengan pembuatan laporan.
...----------------...
Di tempat lain, Erzal sedang menikmati kepulan asap rokok dengan perasaan yang sangat gusar. Bahkan tak terasa satu puntung rokok pun habis hanya dalam lima menit.
Lalu Erzal pun kemudian beranjak dari tempatnya sambil melangkahi para mayat yang baru saja ia habisi. Sorot matanya tajam mengarah ke depan beriringan dengan langkah kaki keluar dari gedung.
"Lihat saja Barun, kau akan tahu siapa diriku yang sebenarnya!" ancam Erzal dalam hatinya seraya melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Sabhira di rawat.
Sebelum sampai di rumah sakit, Erzal mampir terlebih dahulu ke sebuah toko kue dan buah yang ada di sepanjang jalan yang searah dengan rumah sakit. Pria itu membeli buah tangan untuk adik iparnya.
"Terima kasih, selamat datang kembali," ucap penjaga kasir setelah memberikan struk dan uang kembalian pada Erzal yang hanya tersenyum menyahuti ucapan penjaga kasir tersebut lalu keluar dari toko, tak lupa membawa buah tangan yang baru saja dibelinya. Pria itu pun melanjutkan perjalanannya kembali.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Erzal pun tiba di rumah sakit. Menurut info yang pria itu dapat, kalau Sabhira berada di ruang VVIP. Ia pun bergegas menuju ruang rawat adik iparnya itu.
Erzal mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk ke dalam. Di ruangan hanya ada Sabhira sendirian yang terbangun karena menyadari ada orang yang masuk ke ruangannya.
Sabhira pikir suaminya yang masuk, tapi ternyata dugaannya salah. Sedangkan Erzal tersenyum menatapnya. Sabhira masih tampak cantik walau diwajahnya masih tampak luka lebam.
"Kak Erzal," sapa Sabhira seraya tersenyum tipis.
"Iya ini aku. Kau sendirian saja? dimana Barun?" tanya Erzal yang menghampiri Sabhira lalu menaruh buah tangan yang dibawanya ke atas meja di samping tempat tidur. "Ini aku bawakan buah dan kue untukmu," lanjutnya.
"Terima kasih Kak," ucap Sabhira dengan rasa takut yang mulai menghampirinya. Telapak tangannya pun sudah keringat dingin. Terlebih melihat sorot mata Erzal yang memberinya tatapan yang tak biasa.
"Barun kenapa Sabhira? apa dia tidak menemanimu disini?" tanya Erzal lagi, namun Sabhira hanya terdiam dan masih menatapnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya pria itu lagi. Ia mulai kesal karena sejak tadi apa yang ditanyakan nya tidak dijawab satu pun oleh Sabhira. "Apa kau sekarang mendadak bisu?"
Tiba-tiba ingatannya pada malam kemarin terlintas di benaknya. Sabhira semakin ketakutan yang kemudian teriak sekencang mungkin.
"Aaaaaaa! pergi! aaaa!" Sabhira memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Menyadari pintu terbuka, Erzal berusaha menenangkan Sabhira.
"Sabhira kau kenapa? ada apa dengan dirimu?" tanya Erzal, raut wajahnya tampak sedih.
"Maaf Tuan, bisa keluar sebentar? biar saya periksa pasien terlebih dahulu," kata perawat yang tadi masuk.
"Baiklah ... " Erzal menurut, kemudian melihat Sabhira. "Kau baik-baik ya di sini. Nanti aku akan datang lagi," pesan pria itu kemudian keluar dari kamar rawat tersebut.
"Nyonya, nyonya tenang ya." Perawat itu memeriksa selang infus, suhu tubuh serta detak jantung. Berhubung ia tidak membawa lembar pemeriksaan, hasil cek yg dilakukannya dicatat pada ponsel miliknya.
__ADS_1
Tak lama berselang, Sabhira kembali tenang dan terpejam. Pintu pun terbuka, tampak nenek yang baru saja masuk dan membawa kantong plastik yang berisi makanan.
"Ada apa Sus? bukannya sebelum saya keluar dari kamar sudah diperiksa? kok cucu saya diperiksa lagi?" cecar nenek mengerutkan alisnya karena merasa heran. Kantong plastik yang dibawanya pun, ia taruh di atas meja yang ada di depan sofa lalu menghampiri tempat tidur Sabhira.
"Begini Nyonya, tadi ada seorang pria datang ke kamar ini. Saya juga tidak tahu siapa dan bagaimana kejadian sebenarnya. Kebetulan tadi pas saya lewat, Nyonya ini sedang berteriak kencang," jelas perawat itu yang memang bertugas memeriksa pasien khusus VVIP di lantai tersebut.
"Seorang pria? suaminya bukan Sus?" tanya nenek lagi yang semakin bingung.
"Bukan, Nyonya. Kalau dari wajahnya sekilas tampak mirip," jawab perawat itu lagi.
Apa mungkin Erzal? saya belum memberitahukannya sama sekali. Apa jangan-jangan Barun yang memberitahukan padanya? tapi, entah kenapa perasaan saya bilang tidka mungkin cucuku. Batin nenek mulai menerka-nerka.
"Oh ya sudah kalau begitu, terima kasih ya Sus sudah menolong cucu saya," ucap nenek yang kemudian tersenyum.
"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi Nyonya," pamit perawat itu.
Setelah pintu tertutup, nenek segera mengambil ponsel yang sebelumnya ia taruh di dalam tas. Lalu mulai memanggil Barun melalui sambungan telepon.
"Halo, Barun. Kau dimana?" tanya nenek ketika Barun telah menjawab panggilan teleponnya.
"Aku baru saja selesai membuat laporan di kantor pihak berwajib Nek. Ada apa? kedengarannya nenek gelisah sekali?"
"Tadi ... " Nenek mulai menceritakan kronologi yang membuat Sabhira berteriak sesuai apa yang diceritakan oleh perawat tadi.
"Oh ya sudah. Aku akan segera ke rumah sakit sekarang."
"Iya, kau hati-hati di jalan," kata nenek sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon tersebut. Wanita itupun menaruh kembali ponselnya ke dalam tas lalu menghampiri Sabhira yang sedang terpejam.
__ADS_1
"Cucuku, kau harus kuat. Sekarang hanya kau yang menemaniku di mansion. Kedua cucu laki-lakiku sangat sibuk di kantor. Aku akan merasa bahagia kalau kau segera pulih seperti sebelumnya. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan untukmu, aku yakin mukjizatnya itu nyata," ucap nenek lalu mencium kening Sabhira sebagai tanda sayang.
To be continue ...