
"Kau yakin akan menolak jika aku sudah bertindak?" tanya Barun menyipitkan matanya sambil memajukan wajah, tepatnya meledek sang istri.
Sabhira bungkam, seketika wajahnya merah merona akibat menahan malu. Reflek iapun memundurkan wajahnya.
Gadis itu tidak bisa serta tidak ingin menanggapi pertanyaan yang menurutnya sangat konyol. Sebab ia tahu kemana arah yang Barun maksud.
"Ish ... " Sabhira mendengus kesal. "Sudahlah aku mau mandi saja," ucapnya lalu meninggalkan Barun sambil memutar malas bola matanya.
Tiba-tiba, Barun mencekal tangannya. Sontak membuat Sabhira mengurungkan niatnya sejenak, lalu menoleh.
"Kenapa ? kau mau ikut mandi juga?" tanya gadis itu terdengar kesal. Namun pria yang ada di hadapannya malah mengangkat sebelah alisnya sambil memberi mimik nakal.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? jangan coba macam-macam ya!" ujar Sabhira memberi ultimatum pada suaminya sembari mendelik tajam.
Barun terkekeh pelan, "Kau yakin mau mandi bersama denganku? kalau sampai kau pingsan beneran, bagaimana?" Pria itu bertanya balik lalu menggelengkan kepalanya.
Sabhira menarik napas dalam sambil berusaha melepaskan cekalan yang ada di lengannya. Setelah terlepas, kemudian segera pergi ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa, sebelum Barun melakukan sesuatu hal yang tak dapat diduga olehnya.
"Terserah, yang penting sekarang aku mau mandi!" jawab Sabhira ketika sudah masuk ke dalam kamar mandi, lalu menjulurkan dari balik pintu sebelum akhirnya pintu itu ditutup olehnya.
Barun tertawa renyah sambil menggelengkan kepala. "Bisa-bisa aku ikutan seperti Sabhira kalau terus meledeknya. Tapi, kalau sehari tidak berdebat dengannya seperti sayur asem kurang penyedap, hambar," gumamnya lalu pergi ke luar dari kamar.
Pria itu tersentak kaget ketika melihat banyak sekali pelayan yang tengah sibuk di dalam mansion.
"Pelayan," panggil Barun pada seorang pelayan pria yang tidak sengaja melewati kamarnya sambil membawa beberapa nampan berwarna perak.
"Iya, ada apa Tuan?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Ada apa ini? kenapa semua orang di mansion ini sangat sibuk?" Barun bertanya balik.
"Begini Tuan, beberapa saat yang lalu nyonya besar memberi perintah kepada kami semua untuk segera membersihkan mansion termasuk beberapa kamar tamu yang ada di lantai bawah. Karena sore ini akan kedatangan keluarga besar dari desa," jawab pelayan itu.
"Oh jadi seperti itu, baiklah. Terima kasih infonya," kata Barun lalu bergegas turun ke lantai dasar. Begitu pun dengan pelayan tersebut yang melanjutkan pekerjaannya.
Setibanya di lantai dasar, Barun tidak melihat keberadaan nenek maupun Mosev. Akhirnya ia pun pergi keluar dari mansion untuk menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
...----------------...
Hampir setengah jam perjalanan, mobil yang Barun kendarai berhenti di depan sebuah rumah. Ia mematikan mesin mobilnya lalu turun dan menutup pintunya kembali.
Keadaan rumah itu sangatlah sepi. Bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Barun merasa penasaran, lalu membuka pintu gerbangnya dan masuk ke dalam.
"Apa mereka sedang tidak ada di rumah?" tanya Barun bermonolog sambil melangkahkan kaki ke arah pintu.
*Tok, tok, tok*
"Permisi," ucap Barun lalu mengetuk pintunya lagi. "Apa ada orang di dalam?" tanya pria itu, kali ini suaranya lebih dikeraskan lagi.
Ketika hendak mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya, terdengar suara orang yang ada di dalam membuka kuncinya. Barun menurunkan tangannya dan mundur satu langkah ke belakang.
Setelah pintu terbuka, tampak seorang pria paruh baya berdiri tegak di hadapannya. Sorot mata pria itu tersirat raut kebencian yang teramat dalam.
"Permisi, Tuan," sapa Barun tersenyum tipis sambil menunduk hormat pada pria itu.
"Ada apa kau kesini?" tanya pria itu terdengar ketus.
"Kenapa kau baru datang sekarang? Apa sebenarnya niatmu ke sini? Untuk merendahkan kami? Atau menginginkan sesuatu yang lain dari kami setelah kau mengambil paksa Sabhira?" cecar pria itu tanpa ada celah untuk Barun menjawabnya. Sorot kemarahan begitu sangat tergambar jelas dari matanya. Suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Tersirat ada sebuah kerinduan pada anak semata wayangnya.
Barun terdiam, membiarkan ayahnya Sabhira meluapkan emosinya. Sebab, ia memang salah dari awal.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Jangan pernah datang ke rumah ini lagi," kata pria paruh baya itu, kemudian menutup pintunya rapat-rapat tanpa mengizinkan Barun masuk ke dalam.
Tidak menyesal ataupun kecewa. Barun masih bisa menerimanya. Memang saat ini dia masih menjadi menantu yang tidak diinginkan oleh kedua orang tua Sabhira.
Barun berbalik badan dan memilih pergi dari rumah itu. Tak lupa ia menghembuskan napas panjang, demi membuat hatinya kuat dari guncangan emosi yang di lontarkan oleh pria paruh baya tadi.
Setelah masuk ke dalam mobil, Barun terdiam sejenak. Tiba-tiba dirinya teringat sidang keputusan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Barun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.
"Ya, hallo? Bagaimana? Apa semua bukti sudah siap? Atau kau menemukan bukti baru?" tanya Barun yang tidak sabar ingin tahu perkembangan kasus Erzal.
"Tidak ada masalah Tuan, semua berita pasa situs yang menyebarkan tentang rumor itu sudah berhasil saya retas dan juga hapus. Penjualan saham perusahaan pun sangat meningkat drastis. Sejauh ini, bisa diperkirakan kalau tersangka akan mendapat hukuman yang sangat berat."
__ADS_1
"Bagus, syukurlah. Terima kasih banyak." Pria itu menghela napas panjang.
"Sama-sama, Tuan."
Sambungan telepon pun berakhir. Barun menaruh ponsel di dalam dashboard lalu menyalakan mobil dan melajukan nya.
Saat mobil yang dikendarai Barun telah pergi, ayah Sabhira membuka pintu rumah untuk memastikan kalau pria itu sudah benar-benar pergi dari rumahnya.
"Tadi siapa Yah yang datang? kok kelihatannya Ayah kesal sekali," tanya sang istri yang baru saja selesai menyiapkan hidangan untuk makan siang.
"Barun, Bu. Suaminya Sabhira," jawab suaminya datar.
"Mau apa dia kesini? Apa dia datang bersama Sabhira?" tanya sang istri kembali.
"Tidak. Dia datang sendiri dan meminta maaf pada kita." Ayahnya Sabhira berjalan ke ara sofa lalu duduk di sana.
"Minta maaf? Kenapa baru sekarang? Atau jangan-jangan dia punya maksud lain?" Apa yang wanita itu pikirkan sama seperti suaminya.
Tidak salah memang mereka berpikir demikian. Mengingat hari itu, mereka benar-benar seperti diinjak harga dirinya oleh Barun.
"Entahlah, aku malas membicarakannya. Kalau memang dia serius untuk meminta maaf pada kita, aku yakin dia tidak akan datang hanya sekali," jawab ayahnya Sabhira kemudian beranjak dari sofa dan pergi ke ruang makan. "Sebentar lagi waktu makan siang, tapi perutku sudah lapar," sambungnya sepanjang jalan menuju ruangan tersebut.
"Iya, ayok. Kita makan siang sekarang!" ajak ibunya Sabhira, sambil mengikuti.
Saat keduanya telah duduk di dalam meja yang sama, keduanya saling diam beberapa saat.
"Yah, apa Ayah mau memaafkan Sabhira juga? terlebih tak lama lagi dia akan melahirkan."
To be continue ....
...****************...
Sambil nunggu jawaban ayah ya Sabhira, yuk mampir dulu ke karya keren dan menarik yang satu ini. Jangan lupa ya 😊
__ADS_1