
Setelah mengantarkan Sabhira ke kamar, Barun pergi ke kamar nenek yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Dan kini dirinya telah berdiri di depan pintu kamar neneknya. Pria itu merasa deg deg kan, karena jika mengingat tatapan sang nenek beberapa saat yang lalu, ia merasa seperti ada sesuatu yang membuat wanita berusia senja itu tampak marah padanya.
Barun mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu pun dibuka oleh nenek.
"Masuklah," titah nenek yang berjalan lebih dulu dan disusul dengan dirinya.
Barun menutup pintunya lagi, lalu berbalik badan. "Ada apa nenek ingin bicara padaku?" tanyanya sambil maju beberapa langkah ke depan.
"Apa perusahaanmu baik-baik saja?" Nenek bertanya balik.
"Tentu Nek," jawab Barun dengan sangat yakin.
"Bagaimana dengan pernikahanmu? kau mendapat restu dari mertuamu?" tanya nenek lagi sambil mendelik tajam ke arah Barun.
"Pernikahanku ... " Barun menghentikan ucapannya. "Yang jelas saat ini aku dan Sabhira baik-baik saja Nek," pungkasnya.
Nenek memposisikan dirinya menjadi berhadapan dengan cucu kandungnya itu. "Kau tahu Barun, ayahmu sangat menghormati kedua orang tua dari ibumu semasa hidupnya. Apa kau mau jadi anak durhaka karena menginginkan gadis yang sama sekali tidak sengaja membuat kesalahan padamu, lalu kau mengambil kesempatan lain darinya? dimana hati nuranimu Barun?" cecar nenek yang sudah naik pitam.
"Nek, dengar penjelasanku dulu ... " Barun memohon supaya sang nenek tidak mudah mengambil kesimpulan.
"Penjelasan apa? mengenai rumor yang beredar tentang dirimu? benar begitu?" Mata nenek memerah, saat ini ia benar-benar sangar marah pada Barun.
"Nek ... " Barun menjadi kebingungan harus mulai menjelaskan darimana. Karena feeling nya bilang kalau nenek sudah tahu semuanya.
Siapa yang berani memberitahu pada nenek? apa kak Erzal? batin Barun bertanya-tanya.
"Apa kau sudah menyentuh Sabhira?"
Pertanyaan nenek membuat Barun menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau diam, berarti aku anggap iya," kata nenek, menatap sinis. "Kalau nanti dia hamil, bagaimana perasaannya? perasaan kedua orang tuanya. Kau memikirkan itu Barun? pernikahan macam apa yang kau ingin bangun?" cecarnya kemudian. Barun masih diam tanpa kata.
__ADS_1
"Kau bilang tidak percaya dengan pernikahan, tapi kau mengorbankan Sabhira. Jelaskan coba padaku, bagaimana perasaanmu saat ini padanya? sudahkah ada cinta di hatimu?" sambung nenek lalu menarik napas dalam.
Memang selama Barun tinggal bersama neneknya, tidak pernah sekalipun ia membangkang ataupun sampai nenek memarahinya. Terlebih ketika ditinggal kedua orang tuanya selama-lamanya. Ia lebih banyak diam, bahkan jarang sekali bicara.
"Aku tidak tahu Nek."
PRAT!!!!
Sebuah tamparan berhasil mendarat dengan mulus di pipi Barun. Walau usianya sudah menginjak senja, namun nenek tidak masih terlihat cantik.
"Tidak tahu kau bilang? Kembalikan dia kepada kedua orang tuanya! Kalau kau memang ingin bersamanya, mintalah baik-baik dari orang tuanya," ujar nenek membuat Barun menghela napasnya.
"Akan aku usahakan Nek," jawab Barun kemudian keluar dari kamar neneknya sambil membuka pintu cukup keras.
"Anak itu, kenapa bisa dia merampas yang tidak seharusnya dia ambil? duh kepalaku kumat lagi pusingnya deh karena anak itu," ucap nenek menggerutu sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur.
...----------------...
"Kira-kira apa ya yang dibicarakan nenek dan tuan Barun itu? apa benar nenek akan memarahinya? lalu nasibku nanti akan bagaimana kalau sampai tuan Barun malah jadi marah-marah tidak jelas, apalagi kalau ini karena aku yang bercerita kepada nenek kemarin."
Brak.
Barun membuka pintu kamarnya sangat kencang. Sabhira terlonjak kaget lalu menoleh ke arah Barun yang baru masuk kedalam kamar setelah menutup pintunya kembali.
"Jadi benar apa yang kau katakan barusan Sabhira? kau bercerita pada nenek kalau aku yang memaksamu untuk menikahimu tanpa restu dari orang tuamu itu, iya!" tanya Barun yang suaranya tiba-tiba meninggi, matanya pun memerah. Pria itu sangat menakutkan jika sedang marah seperti ini.
Sabhira hanya menunduk, mendengarkan teriakan Barun yang tepat di telinganya. Sebab seumur hidupnya, baru kali ini ia dibentak orang lain sebegitunya. Sabhira mengatur napasnya, ia juga ikut kesal.
"Jawab Sabhira!" bentak Barun, membuat hati Sabhira semakin tergores.
Sabhira masih terdiam dan tidak bicara. Ia sedang mengumpulkan nyali supaya bisa melawan Barun saat ini juga. Menjadi lemah di depan Barun adalah pantangan baginya.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Sabhira yang sejak tadi menunduk kini terangkat. "Kalau iya memangnya kenapa? kau pikir aku ada di dunia ini seperti timun mas yang lahir dari dalam buah timun yang besar? atau kau pikir ibuku melahirkanku tanpa mempertaruhkan nyawa? Hei Tuan Barun, kau tidak ingat kejadian semalam bukan aku yang mau, tapi kau!" tandasnya dengan suara yang ikut meninggi di depan wajah Barun serta jari telunjuknya yang menusuk-nusuk dadanya.
"Tapi kenapa kau memberitahu nenek soal itu? tidak bisakah kau menyimpannya sendiri?" tanya Barun yang masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Apa kau bilang? menyimpannya sendiri? sampai kapan? sampai kedua orang tuaku tidak ada terus aku tidak sedikitpun mendapat maaf dari mereka, itukah yang kamu mau?" Sabhira bertanya balik, kali ini suaranya lebih rendah.
"Sudahlah, lebih baik aku berangkat ke kantor saja. Jangan pernah minta apapun dariku. Camkan itu!" kata Barun dengan penuh penekanan. Pria itu berjalan melewati Sabhira lalu membuka lemari pakaiannya.
"Baik, kalau itu memang mau mu." Sabhira merima tantangan Barun, tapi lebih tepatnya ancaman.
Sabhira akhirnya keluar dari kamar, ia merasa sangat kesal sekali. Baik Barun maupun dirinya sama-sama keras kepala. Tidak ada yang mengalah ataupun meminta maaf lebih dulu.
Di depan mansion, Sabhira bertemu dengan Erzal yang baru saja keluar dari mobil.
"Sabhira? sedang apa kau di sini?" tanya Erzal yang menghampiri Sabhira.
"Oh tidak. Aku hanya ingin cari angin segar saja. Di dalam rasanya pengap sekali. Butuh udara yang lebih banyak," jawab Sabhira sekenanya. "Kakak sendiri kok tidak pergi ke kantor?" tanyanya kemudian.
"Iya, ada dokumen yang tertinggal di ruang kerjaku," jawab Erzal. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Sabhira.
"Kak, apa di perusahaan mu sedang butuh pegawai?" tanya Sabhira dengan penuh harap. Ia harus punya uang untuk mencukupi hidupnya sendiri, pikirnya demikian.
"Hmm ... " Erzal bergumam seraya berpikir. "Apa kau yakin mau bekerja? memangnya adikku itu tidak memberimu uang?" tanyanya kemudian.
"Oh tidak tidak, dia memberiku uang," jawab Sabhira berbohong. Entah kenapa hatinya menyuruh ia melakukan itu. "Aku hanya ingin suasana baru saja, soalnya aku paling tidak bisa tinggal di rumah berdiam diri tanpa melakukan apapun," sambungnya, berusaha meyakinkan Erzal.
"Oh gitu, hmm ... besok pagi kau datang saja ke kantorku." Erzal kemudian mengeluarkan kartu nama dari dalam saku jas yang dipakainya lalu memberikannya pada Sabhira. "Ini kartu namaku, kau datang saja dan bilang pada resepsionis kalau ingin bertemu denganku."
Sabhira pun menerimanya, "Terima kasih Kak," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya sama-sama, kalau gitu aku pergi ke dalam dulu ya," pamit Erzal lalu Sabhira pun mengangguk.
__ADS_1
To be continue ...