Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
IMPIAN TERCAPAI (TAMAT)


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Setelah hari itu kedua anak yang dibawa lari oleh Tissa dari panti asuhan, akhirnya resmi diadopsi oleh Sabhira dan juga Barun yang sah dimata hukum. Meski awalnya sempat menjadi perdebatan antara keluarga, tapi sepasang suami istri itu mencoba yakin untuk mengadopsi mereka.


Telah banyak suka dan duka yang mereka lewati saat kehadiran anak-anak tersebut di mansion. Bukan hanya status mereka yang berubah menjadi orang tua, pun dengan suasana mansion yang menjadi lebih ramai dengan tawa, tangis dan juga teriakan anak-anak.


Barry Andreas Praya dan Shania Aurora Praya, namanya. Selisih usia diantara keduanya hanya dua tahun.


Menurut ibu panti, mereka itu saudara sekandung. Kedua orang tua mereka meninggal ketika melakukan perjalanan dinas karena pekerjaan.


Paman dan bibi kedua anak itu, tidak sanggup membiayai hidup mereka. Maka dari itulah sebabnya Barry dan Shania ditaruh di panti asuhan.


Nasib yang sama pula, seperti Barun. Hanya saja, kondisi Barun jauh lebih beruntung ketimbang mereka.


...----------------...


Di pagi ini, Sabhira enggan bangun dari atas kasur. Gadis itu lebih suka merebahkan tubuhnya.


Barun yang telah selesai bersiap, memilih duduk di tempat tidur untum mengecek kondisi kesehatan istrinya tersebut.


"Sayang, sepertinya aku harus mengantarmu ke dokter. Wajahmu sangat pucat sekali," ucap Barun yang kini sedang diselimuti kekhawatiran. Punggung tangannya sengaja ia tempelkan ke kening Sabbira, kemudian berdecak.


"Tidak usah, Sayang. Aku hanya butuh istirahat saja yang cukup. Nanti juga enakan kok," kata Sabhira yang sebenarnya enggan untuk bangun dari tempat tidur. Barun berdecak dan masih dapat di dengar oleh Sabhira.


"Tapi tubuhmu demam." Barun langsung menyingkap selimut yang sejak tadi menutupi tubuh Sabhira hingga batas leher. "Pokoknya kamu harus ke dokter, aku khawatir banget," lanjut pria itu.


"Tapi ... " Sabhira sebenarnya ingin menolak. Namun melihat tatapan wajah suaminya yang penuh kekhawatiran. Akhirhya ia bangun perlahan. "Ya sudah, kita ke dokter," ucapnya.


"Gitu dong ... " Barun tersenyum. "Sebentar, aku akan mengambil pakaian untukmu," ucapnya lalu beranjak dari duduknya dan pergi untuk membuka lemari pakaian mereka.


Setelah di dapat pakaian yang pas, Barun memberikannya pada Sabhira. "Ini pakailah."


Sabhira mengangguk lalu turun dari kasur. Rasa mual yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga. Tiba-tiba langsung menyeruak ke tenggorokan. Gadis itu langsung berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya yang masih kosong ke dalam wastafel.


Barun pun semakin was-was. Pria itu segera menghampiri istrinya, lalu mengusap tengkuk leher Sabhira hingga merasa lebih baik.


"Apa kau sudah coba untuk test pack?" tanya Barun yang tiba-tiba teringat akan jadwal menstruasi Sabhira yang beberapa bulan terakhir tidak di dengar kabar olehnya.


"Hah? Test pack? Bukankah itu alat pendeteksi dini kehamilan? Aku belum pernah memakainya," jawab Sabhira dengan pandangan yang mulai 'kunang-kunang'.


"Lebih baik sekarang kau test. Alatnya ada di ..." Barun berjongkok lalu membuka laci yang ada dibawah wastafel. Setelah di dapat Barun pun berdiri. "Ini, baca petunjuk terlebih dahulu sebelum memakainya," lanjut pria itu seraya memberikan satu kotak test pack pada Sabhira.


"Ini isinya ada berapa? Kenapa kemasannya besar sekali?" tanya Sabhira ketika tangannya sudah memegang test pack tersebut.


"Hanya satu. Ada cup khusus tempat urine nya juga. Sudah sana, aku tunggu di luar," jawab Barun lalu keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya kembali.

__ADS_1


Dengan perasaan yang tidak keruan, Barun mondar mandir di depan kasur sambil menunggu hasil dari test yang dilakukan oleh Sabhira. Di tengah kegalauan hati, tiba-tiba ...


*BRAK!


Pintu kamar terbuka lebar. Kedua orang balita pun muncul sambil berlari lalu berhamburan ke dalam pelukan Barun yang sedang terkejut.


"Papa!" seru Barry dan Shania.


Anak-anak berusia empat dan dua tahun itu seolah mengerti kalau papa mereka sedang gelisah. Namun sebuah pelukan yang mereka berikan, mampu meredakan rasa gelisah itu sendiri.


Sebelum Barry dan Shania berhasil diadopsi, banyak pertimbangan yang harus Barun pikirkan matang-matang. Akan tetapi semua itu bukan tentang materi, karena harta keluarga Praya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Melainkan tentang kesiapan Barun sendiri yang akan menjadi orang tua.


"Apa kalian sudah pada mandi?" tanya Barun lalu membawa mereka duduk di sofa.


"Sudah Papa. Tadi kak Barry bilang kalau mama sedang sakit, jadi aku juga ikut mandi pagi," jawab Shania. Lalu Barun pun tersenyum.


"Oh ya? Darimana Barry tahu kalau mama sedang sakit?" Kali ini Barun bertanya pada anak laki-lakinya yang lebih banyak diam dan tetap 'stay cool'.


"Semalam pas selesai makan malam, aku yang antar mama ke toilet. Di sana dia memuntahkan lagi makanannya. Oh iya Papa ... Mama dimana?" jawab Barry yang kemudian bertanya pada Barun.


"Oh jadi gitu ceritanya. Kok Papa tidak tahu ya?Um ... Mama ada di kamar mandi ... " Belum juga Barun selesai berbicara, Sabhira pun keluar dari kamar mandi.


Barun menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan penuh harap. Sementara raut wajah Sabhira sendiri, sulit sekali di artikan.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Barun yang masih duduk di antara kedua anaknya.


Dengan segera Barun pun mengambilnya lalu melihatnya. "Sayang, kau hamil!" serunya dengan mata yang seketika berkaca-kaca.


Sabhira mengangguk cepat sambil tersenyum simpul.


"Kalau Mama hamil, berarti aku jadi kakak dong! Iya kan Ma, Pa, Kak?" seru Shania yang tak kalah hebohnya.


"Iya dong, Sayang," jawab Sabhira sambil membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Shania lalu mengelus pipi gadis kecil itu.


"Hore!" teriak Shania kegirangan.


...----------------...


Beberapa bulan berlalu begitu cepat. Sejak satu keluarga tahu kehamilan Sabhira, semuanya sangat bahagia. Terutama nenek dan sang ibu.


Banyak hal dan perlakuan yang berubah dari mereka pada Sabhira. Barun pun menjadi lebih 'protect' tentang asupan dan juga nutrisi yang harus dimakan dan minum oleh istrinya tersebut.


Kini, waktu kelahiran pun tiba. Sabhira tengah merasakan sakit pada bagian perut bawahnya di ruang bersalin bersama Barun.


Meski Barun termasuk pria yang cepat panik. Namun karena sering ikut senam hamil dan juga hypnobirthing ia mampu berubah, begitu pula dengan Sabhira.

__ADS_1


"Sayang, sakit!" keluh Sabhira. Tangannya tiba-tiba menjambak rambut Barun cukup kuat. Tentunya hal itu membuat Barun terkejut bukan main.


"I-iya Sayang, tapi rambutku sakit juga loh ini," sahut Barun yang sulit menahan sakit pada bagian kepalanya.


"Aaaaah, aku sudah ingin sekali mengejan!" kata Sabhira yang mulai sulit berjalan lagi.


"Aku akan panggilkan dokter!" kata Barun lalu menekan tombol merah yang ada di samping kasur bersalin.


Tak lama dokter bersama beberapa perawat dan juga bidan pun datang. Mereka langsung membantu Sabhira naik ke atas kasur sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.


"Sudah bukaan lengkap, Dok!" kata salah satu bidan setelah mengecek bukaannya.


Dokter pun mulai mengarahkan Sabhira untuk mengejan dengan baik. Sementara Barun berada di samping kepala Sabhira, terus memberikan semangat.


"Tari napas dalam, tahan sejenak, ayok Nyonya sambil mengejan," kata dokter.


"Aaaaaaaaaaaa!"


Setelah sekuat tenaga meneran, akhirnya bayi pun berhasil dikeluarkan. Sabhira bernapas lega, begitu pun dengan Barun yang langsung mengecup kening istrinya, merasa bangga dan juga bahagia.


"Bayinya laki-laki, Tuan, Nyonya!" seru dokter sambil menunjukkan wajah bayi tersebut pada mereka.


...----------------...


Di ruang rawat inap. Semua keluarga sudah berkumpul menyambut kedatangan Sabhira dengan bayinya.


Tak lama berselang , pintu pun terbuka. Sabhira masuk menggunakan kursi roda sambil menggendong bayi yang didorong oleh Barun. Semuanya tersenyum.


"Selamat atas kelahiran anak laki-laki kalian!" seru semuanya bersamaan.


Ibunya Sabhira membantu menggendong bayi saat anaknya akan naik ke atas kasur.


"Tampan sekali, wajahnya perpaduan antara Sabhira dan juga Barun," ucap sang ibu.


"Iya, kau benar," sahut nenek.


"Kau berhasil membuat Barun junior!" seru Mosev. "Siapa nama bayi tampan ini?" tanyanya kemudian.


"Brio Praya," jawab Barun dengan percaya diri.


Akhir kisah mereka, segala masalah telah mampu dilewati dengan suka maupun duka. Kelahiran Brio menjadi kebahagian dan pelengkap bagi keluarga Praya.


Semoga segala kebahagiaan yang kini merekah dalam hidup mereka akan terus ada selamanya.


...--- Selesai ----...

__ADS_1


Assalamualaikum para readers tercinta, terima kasih atas dukungan yang telah kalian berikan pada Author. Kurang lebihnya Author mohon maaf. Sampai ketemu di novel selanjutnya. Wassalam.


Salam dari StrawCakes.


__ADS_2