
Saat keduanya tengah berusaha mengatur napas dan juga detak jantung, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu pada kamar mereka. Barun maupun Sabhira langsung terlonjak duduk di atas kasur lalu keduanya saling bertukar pandang dengan posisi tubuh mereka yang masing sama-sama 'polos'.
"Tuan, aku hampir saja tidak ingat. Di depan ada Tissa yang mencari mu dan dia membawa kedua anaknya," kata Sabhira yang tampak panik. Bukan karena takut Barun bertemu dengan Tissa, melainkan gadis itu merasa tidak enak hati telah membuat mereka menunggu lama karena ulah Barun tadi.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya Barun yang sebenarnya salah pertanyaan. Sebab sejak tadi Sabhira ingin mengatakan padanya, justru dia lah yang segera ingin menuntaskan hasrat yang seolah tidak ada hari esok.
"Hah? apa kau tidak ingat?" Sabhira mulai protes.
"Aish! sudahlah. Sekarang bukan waktunya untuk berdebat. Apa kau tau siapa kira-kira yang mengetuk pintu kamar kita?" tanya Barun.
"Mungkin antara nenek atau Mosev?" jawab Sabhira tampak ragu.
"Sabhira, cepat bersihkan tubuhmu ke kamar mandi. Biar aku yang membuka pintu," pinta Barun. Dengan sigap Sabhira pun mengangguk patuh.
Setelah Sabhira pergi ke kamar mandi, Barun lekas memakai pakaian yang sebelumnya ia kenakan. Pria itu pun sambil memunguti satu per satu pakaian Sabhira yang masih berceceran di lantai.
Saat dirasa sudah cukup rapih, Barun bergegas ke arah pintu lalu membukanya.
"Barun! kenapa kau lama sekali membuka pintunya?" protes Mosev sambil berkacak pinggang. Raut wajahnya tampak kesal.
"Ada apa kau ke kamarku?" Barun bertanya balik dengan sikap dinginnya untuk menutupi rasa canggung yang kini masih ia rasakan.
"Apa kau melihat Sabhira? Aku disuruh nenek menyusul kalian. Di depan ada tamu yang mencari mu dan tadi Sabhira bilang dia ingin bertanya padamu, tapi sampir hampir setengah jam tidak balik-balik." Mosev mendesah pelan, lalu matanya meneliti ke dalam kamar sepupunya itu.
"Lalu dimana tamunya sekarang?" tanya Barun lagi.
Namun, seketika Mosev mencurigai sesuatu lalu menatap Barun dengan tatapan penuh arti. Ia pun kemudian tersenyum menyeringai. Tetapi Barun tetap bersikap tenang.
"Barun, kenapa masih siang seperti ini kau menutup semua gorden kamar? bukankah matahari sangat bagus kalau masuk ke dalam kamar?" cecar Mosev mulai mengeluarkan jurusnya. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan oleh Barun barusan.
__ADS_1
Justru Mosev malah mendelik tajam sambil menaik turunkan alis matanya. Hal itu tentunya berhasil membuat Barun seketika salah tingkah dengan mengusap tengkuk lehernya.
"Iya, tadi ... aku ... ah! lagipula apa urusannya denganmu!" protes Barun, hampir saja dia jujur dengan apa yang akan dilakukannya bersama Sabhira di siang hari seperti ini.
Mosev terkekeh geli. Tiba-tiba saja Sabhira keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kimono ditubuhnya dan juga lilitan handuk di kepalanya.
Mosev melihat hal itu terkejut dan langsung menyipitkan matanya pada Barun.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Barun ketus. Namun Mosev menunjukkan padanya lewat tatapan mata. Barun pun mengikuti arah yang di maksud oleh sepupunya itu.
"Sabhira? kau mandi lagi? bukankah tadi pagi kau sudah mandi?" tanya Mosev ketika Sabhira berjalan menghampirinya. Sementara Barun bersusah payah menelan saliva nya.
"Astaga, Sabhira kenapa kau keluar dari kamar mandi dengan penampilan seperti ini?" gumam Barun merasa kesal. Ingin rasanya ia menutup pintu kamar saat ini juga.
"Tadi aku merasa gerah, jadi aku mandi lagi," jawab gadis itu seakan Mosev seorang pria polos yang tidak mengerti apa-apa.
"Barun, apa yang akan kau lakukan bersama Sabhira dengan gorden tertutup seperti ini, hah? Apalagi Sabhira sampai mandi dua kali." Kevin tergelak dengan tawanya. Terlebih saat wajah Barun yang semakin memerah. "Ah! aku tahu ... pasti kalian mau membuat Barun junior, iya kan?" Ia memicingkan matanya dan menatap Barun dalam-dalam.
"Sabhira, lebih baik kau kenakan pakaianmu dengan benar!" perintah Barun pada istrinya. Pria itu tidak rela kalau Mosev terlalu lama memandangi Sabhira dengan kondisi seperti ini.
"Iya baiklah ... " Sabhira berbalik badan. Ia mencari keberadaan pakaian yang seingatnya masih ada di atas lantai. "Tapi dimana semua pakaianku, Tuan?" tanyanya sambil berbalik badan kembali.
"Nah loh ... " sahut Mosev lagi.
"Mosev, lebih baik kau duluan saja. Bilang pada nenek dan tamunya kalau kami akan menyusul," pinta Barun yang semakin merasa risih serta tidak enak hati dengan keberadaan Mosev di depan kamarnya.
"Baiklah ... " Mosev kemudian tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya. "Barun, kalau mau lanjut nanti malam saja. Kami menunggu kehadiran kalian segera!" lanjutnya Mosev lalu segera pergi dari hadapan Barun.
Setelah Mosev pergi, pintu ditutup kembali oleh Barun.
__ADS_1
"Sabhira kau ini apa-apaan sih? kenapa keluar dari kamar mandi hanya dengan penampilan seperti ini? aku tidak rela kalau tubuhmu menjadi tontonan orang lain selain aku!" tegas Barun lalu membuka lemari dan mengambil satu stel pakaian untuk Sabhira. "Ini pakailah. Kita harus segera menemui mereka," ucap pria itu seraya memberikan pakaian tersebut. Setelah dirasa sudah berpakaian cukup baik, keduanya pun keluar dari kamar.
Saat tiba di ruang tamu, sepasang suami istri itu menjadi pusat perhatian mereka. Kedua anak balita yang awalnya diam, kini berlarian ke sana kemari.
"Mau apa kau ke sini? pakai segala bawa anak-anakmu pula," tanya Barun. Pria itu memberi raut wajah sinis serta sikap dingin pada Tissa, wanita yang pernah menjadi masa lalunya.
"Aku ingin menitipkan mereka pada kalian. Karena aku aka mengejar karir, mungkin sampai ke luar negeri," jawab Tissa yang kini juga bersikap acuh pada Barun.
"Ck! persetan dengan karir. Sampai kau menitipkan anak sendiri pada orang lain. Kau kira mereka itu barang!" Suara Barun tiba-tiba meninggi.
"Aku butuh uang dan mengurus mereka tidak seperti yang aku duga sebelumnya. Setelah karirku sukses, aku akan menjemput mereka kembali," jawab Tissa, terdengar angkuh dan sombong.
Barun tersenyum menyeringai. Pria itu tidak langsung menyahuti jawaban Tissa barusan.
Tentunya jawaban Tissa pula membuat semua orang yang ada di ruang tamu tersebut terkejut bukan main. Pasalnya sedari tadi pertanyaan yang nenek cecar padanya tidak ada satu pun jawaban yang nyambung.
Nenek mereka seperti bicara pada tong kosong yang nyaring bunyinya. Bahkan bukan hanya nenek, Mosev serta ibunya Sabhira yang ada di sana pun semakin lama menaruh rasa curiga pada Tissa.
"Dibayar berapa kau dengan Erzal? sampai bikin anak saja kalian berhasil, tapi mendidiknya nol besar! ... " Barun menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya. "Harusnya kau sadar dan paham, kalau kau memang sayang pada mereka. Ajak mereka kemanapun kau akan pergi, bukan malah menitipkan kepada kami!" lanjut pria itu yang sudah semakin naik pitam.
Sementara itu tatapan Tissa semakin berani, terlebih melihat Sabhira yang terus berada di samping Barun. Ada rasa cemburu yang amat menyiksa dirinya dan membuatnya nekad melakukan semua ini.
"Kenapa? kalian ini orang kaya! tidak bisakah membantuku dalam urusan seperti ini. Asal kalian tahu, aku sudah muak!" Tissa tiba-tiba berteriak membuat kedua anak itu berhenti bermain lalu melihatnya.
"Tissa!" bentak nenek.
Namun tiba-tiba ponsel dari dalam saku celana Barun berdering. Sang empunya pun langsung mengeluarkannya. Barun mengernyit karena tertera nomor asing yang memanggilnya.
"Hallo ... "
__ADS_1
To be continued ....