
"Sabhira, aku haus," kata Barun yang mencoba membangunkan Sabhira yang ketiduran di sampingnya. Namun gadis itu masih saja terpejam, bahkan sampai mendengkur cukup kencang.
"Apa dia selelah itu menjagaku seharian kemarin?" tanya Barun dalam hatinya, rasa iba pun hadir ketika melihat Sabhira tertidur pulas.
Tiba-tiba saja, gadis itu menggeliat dengan kedua tangan yang dinaikkan ke atas lalu bangun dan duduk di atas kasur. Barun memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak ingin Sabhira memergokinya.
"Eh, kau sudah bangun Tuan?" Pertanyaan yang jelas Sabhira sudah melihat kalau mata Barun terbuka pun, itu yang terkadang membuat Barun memutar malas bola matanya. "Kau butuh apa?" tanyanya lagi.
"Aku haus, ambilkan aku minum," jawab Barun yang kedengaran ketus di telinga Sabhira.
Gadis itu langsung melihat gelas yang semalam ia taruh di atas meja kecil di samping Barun. Namun ternyata gelas tersebut sudah kosong. Sabhira segera turun dari kasur dan mengambil gelas itu.
"Aku mau ambil airnya terlebih dahulu," pamit Sabhira lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Setelah Sabhira pergi, Barun turun dari kasur kemudian pergi ke kamar mandi. Pria itu merasa kalau tubuhnya sudah sehat kembali.
Sementara itu di dapur, Sabhira berpapasan dengan Erzal yang berjalan ke meja makan.
"Sabhira, kau sedang apa?" tanya Erzal, melihat Sabhira duduk di lantai sambil mengisi air di gelas yang dibawanya tadi.
"Suamiku haus, dia mau minum," jawab Sabhira sambil menguap.
"Manja sekali dia, ck!" gumam Erzal lalu berdecak. Sabhira masih dapat mendengarnya, tapi gadis itu tidak terlalu menanggapi. "Oh iya, apa kau jadi melamar pekerjaan di perusahaanku?" tanya Erzal dengan kedua tangan yang ia taruh di atas mini bar.
"Jadi, kalau seandainya suamiku hari ini pergi kerja. Aku juga akan berangkat kerja. Apa sudah ada bagian yang kosong untukku?" jawab Sabhira yang kemudian bertanya balik.
"Sepertinya sudah, maka dari itu datanglah ke perusahaan. Aku akan memberimu jabatan yang bagus." Jawaban Erzal yang begitu meyakinkan. Sabhira yang notabene anak rumahan, percaya saja apa yang dikatakan pria itu.
__ADS_1
"Baiklah." Sabhira berdiri dan membawa gelas berisi air itu di tangannya.
"Oke, aku mau sarapan dulu. Kau jaga kesehatan, jangan sampai ikutan sakit gara-gara adikku yang manja itu," kata Erzal yang memberi perhatian pada istri adik sepupunya. Namun perhatian itu hanya di jawab melalui sebelah tangan di angkat dengan ibu jari dan telunjuk di satukan membentuk huruf O dan tiga jari lainnya sengaja terbuka. Gadis itu pergi ke kamarnya kembali.
Setibanya di kamar, napas Sabhira tertahan beberapa saat ketika melihat Barun baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menutup pintunya kembali beriringan dengan napas berat yang ia hembuskan.
"Apa kau sudah pulih? kok sudah mandi?" tanya Sabhira sambil menaruh gelas di atas meja kecil.
"Sudah, badanku terasa gatal dan lengket setelah seharian kemarin tidak mandi. Dan hari ini juga aku harus ke kantor karena ada beberapa meeting yang kemarin sempat tertunda," jawab Barun seraya mengambil setelan pakaian kantor dari dalam lemarinya.
Reflek Sabhira mengulum bibirnya menahan senyum, dalam hatinya ia bahagia. Karena itu berarti ia bisa pergi ke kantor Erzal untuk bekerja juga.
"Oh ya sudah kalau begitu," sahut Sabhira kemudian pergi ke kamar mandi.
Setelah menutup pintu, Sabhira kegirangan bukan main. Ia menari-nari mengangkat kedua tangannya ke kanan dan kiri serta meliuk-liukkan pinggulnya.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Ia melihat ke sekeliling kamar, namun tidak menemukan Barun di sana. Sabhira pun keluar hanya dengan menggunakan lilitan handuk yang menutupi bagian dada hingga pangkal paha.
Pendingin ruangan di kamar, membuat Sabhira sedikit mengigil kedinginan. Ia pun segera membuka lemari pakaian dan mencari pakaian yang cocok untuknya.
"Pakaian ku dress semua. Apa aku lihat lemari Tuan Barun saja ya? siapa tahu dia punya pakaian yang bisa aku pakai," kata Sabhira yang berkacak pinggang di depan lemari yang semua pintunya sudah terbuka. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah setumpuk pakaian yang berada di pojok bawah barisan pakaian khusus Barun.
Sabhira berjongkok lalu mengambil salah satunya. Matanya terbuka lebar lalu mengerjapkannya berkali-kali saat melihat model asli pakaian itu.
"Ini bukannya pakaian kantor wanita? dilihat dari atasannya saja modelnya ciri khas wanita. Mana mungkin kan Tuan Barun memakai ini?" gumam Sabhira lalu berdiri.
Tanpa berpikir lebih lama lagi --karena takut kesiangan-- akhirnya Sabhira memakai pakaian tersebut.
__ADS_1
"Ah! ternyata aku cocok juga pakai setelan kantor seperti ini. Aku cantik, sekali," kata Sabhira memuji dirinya sendiri di depan cermin besar yang ada di kamar.
Gadis itu pun kemudian mengambil salah satu heels yang dibelikan oleh Barun dengan hak datar dan tidak terlalu tinggi.
"I'm perfect!" pujinya yang masih melihat pantulan dirinya di depan cermin, setelah itu ia pun keluar dari kamar.
Saat tiba di ruang keluarga, kondisi mansion sudah sepi.
"Kemana perginya para penghuni mansion ini? lebih baik aku sarapan dulu deh," gumam Sabhira yang kemudian pergi ke ruang makan.
"Hah? kenapa tidak ada makanan sama sekali?" Sabhira terkejut ketika melihat meja makan telah kosong. Ia melihat ke sekeliling dapur, kebetulan ada seorang pelayan yang baru saja keluar dari tempat pencucian piring.
"Pelayan, dimana semua sarapannya? tumben sekali sudah tidak apapun di meja," tanya Sabhira. Raut wajah pelayan itu juga terkejut melihat keberadaannya di sana.
"Maaf Nyonya barusan sudah saya cuci. Terakhir yang sarapan itu Tuan Barun. Saat saya tanya padanya, dia bilang Nyonya tidak sarapan pagi ini," jawab pelayan itu. Namun raut wajahnya tampak gelisah.
"Kau sedang tidak bohong kan padaku?" tanya Sabhira memicingkan matanya pada pelayan itu.
"Ti-tidak Nyonya." Jawabannya terdengar gugup.
"Ah ya sudahlah, waktuku tidak banyak. Apapun alasanmu itu, aku tidak perduli." Sabhira menahan rasa laparnya kemudian keluar dari rumah untuk pergi ke kantor Erzal.
Ketika sudah berada di depan mansion, Sabhira baru ingat kalau ia tidak memiliki uang sama sekali. Gadis itu mondar mandir kebingungan sendiri sambil melihat kartu nama yang kemarin sempat diberikan oleh Erzal padanya.
Tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman mansion. Sabhira tahu betul siapa yang mengendarai mobil itu tak lain adalah Barun, suaminya. Ia segera bersembunyi untuk melihat kemana perginya pria itu.
Kondisi mobil Barun sengaja dinyalakan karena ia memang terburu-buru untuk mengambil berkas yang tertinggal. Sabhira tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Ia segera masuk ke dalam mobil yang niatnya untuk pergi bersama Barun.
__ADS_1
To be continue ...