Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
TEGA


__ADS_3

"Ada yang bisa aku bantu Tuan? Perkenalkan, aku Sabhira. Sekertaris Tuan Erzal yang baru. Boleh aku tahu siapa namamu Tuan?" tutur Sabhira memperkenalkan diri di depan suaminya sendiri dengan senyum sumringah dan penuh kebanggaan. Sedangkan pria itu sedang memberinya sorot mata yang begitu tajam seperti ingin membunuh serta kedua telapak tangan yang mengepal. Terlebih ketika melihat pakaian yang Sabhira kenakan saat ini.


Gadis itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Barun. Karena sejak tadi pria yang ada di hadapannya itu hanya terdiam, membisu.


Barun yang sudah naik pitam, tidak tahan. Pria itu langsung menarik tangan Sabhira dan membawa pergi gadis itumenuju ruang kerjanya. Disaat yang bersamaan, asisten Barun baru saja tiba di lantai tersebut dan hendak keluar dari lift harus melihat pemandangan sepasang suami istri yang sedang sangat tidak baik.


Brak.


Pintu ruangan ditutup sangat kencang oleh Barun. Tak lupa pria itu pun menguncinya.


Asisten Barun sampai memejamkan mata, kemudian segera menuju ke meja kerjanya dan tidak ingin ikut campur dengan masalah pribadi atasannya itu.


"Kenapa Nyonya ada di sini? pakaian itu bukannya ... " gumam asisten Barun tiba-tiba teringat akan sesuatu tapi samar-samar dalam benaknya. Pria itu segera menepisnya dan kembali fokus bekerja.


Sedangkan di dalam ruang kerja Barun. Baru kali ini Sabhira melihat tatapan sang suami yang sungguh bukan seperti biasanya. Dirinya merasa sangat deg deg kan. Nyalinya tiba-tiba menciut.


"Lepaskan pakaian itu dari tubuhmu!" bentak Barun, suaranya tiba-tiba meninggi. Pria itu berdiri dengan jarak dua langkah di depan Sabhira.


"Jangan ngadi-ngadi Tuan! Kalau aku lepas pakaian ini, nanti aku pakai apa? taplak meja?" sahut Sabhira yang tidak terima. Karena Barun memberi perintah yang tidak masuk diakal menurutnya.


"Aku bilang lepaskan pakaianmu!" bentak pria itu lagi. Emosinya sudah tidak dapat terbendung. Namun Sabhira tetap kekeuh tidak ingin melakukannya, gadis itu malah mundur ke belakang.


Barun tidak tinggal diam, ia berjalan maju menyamai langkah kaki Sabhira yang semakin mundur. Hingga ...

__ADS_1


Brak.


Sabhira tidak bisa mundur lagi karena tertahan oleh meja kerja suaminya. Ia kebingungan dan menoleh ke kanan dan kiri. Tidak sengaja, tatapannya terhenti pada sebuah figura kecil yang didalamnya terdapat gambar seorang pria dan wanita bersua foto, tampak akrab.


Entah kenapa hati Sabhira merasa sakit setelah melihat foto tersebut. Gadis itu sampai tidak sadar kalau Barun sudah menempelkan tubuhnya pada tubuh dirinya.


Tangan kekar pria itu merangkul pinggang Sabhira secara tiba-tiba. Lalu mata keduanya saling terkunci. Barun melihat ada setitik kesedihan yang tampak dari sorot mata istrinya itu.


"Siapa yang menyuruh kau mengenakan pakaian ini?" tanya Barun yang penuh penekanan.


"A-aku sendiri." Sabhira sangat gugup menjawabnya.


Seketika Barun melepaskan rangkulannya dan menghempaskan tubuhnya ke lantai. Sabhira pun terjatuh. Gadis itu menjadi lemah hanya karena sebuah ... rasa?


"Kenapa kau sangat lancang sekali Sabhira? Kau kenakan pakaian itu tanpa seizinku dan kau malah melamar pekerjaan di perusahaan ku sendiri!" Barun benar-benar naik pitam. Ia berbicara dengan bentakan yang tepat di depan wajah Sabhira.


"Apa kak Erzal berbohong padaku tentang statusnya di perusahaan ini yang ternyata bukan miliknya? Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" kata Sabhira dalam hatinya yang tertoreh luka.


Barun berbalik badan sambil berkacak pinggang. Pria itu menundukkan kepala dan berusaha mengontrol emosi. Kalau sampai ia tidak bisa mengontrolnya, bisa jadi Sabhira bisa habis di tangannya saat ini juga.


Sabhira berdiri. "Aku harus kuat, aku bisa melawannya, aku memang salah mengenakan pakaian ini tanpa izin darinya," katanya dalam hati, lalu menghapus air matanya.


"Maaf Tuan ... aku benar-benar minta maaf karena tidak izin padamu lebih dulu. Lagipula bukankah ini memang kemauanmu yang tidak memperbolehkanku untuk meminta apapun darimu. Bahkan untuk sarapan pagi saja, kamu sampai tidak boleh memperkenankan aku makan. Salah kalah aku sekarang bekerja di perusahaanmu? aku tuh kerja loh, bukan mengemis padamu." Sabhira meluapkan segenap perasaan yang selama ini di rasa.

__ADS_1


"Kalau kau tidak mau melepaskan pakaian itu. Lebih baik sekarang kau pulang. Jangan pernah muncul kembali di kantorku. Terlebih mengenakan pakaian seperti itu," titah Barun. Sekarang suaranya sudah sedikit di rendahkan. Walau terdengar datar dan acuh, tapi lebih baik di banding sebelumnya.


"Tidak! aku tidak akan mau pulang." Sabhira memberanikan diri merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Barun. Perlahan wajah pria itupun terangkat dengan kedua tangan yang bersilang dada. "Aku akan mencari pekerjaan lain, permisi!" lanjut gadis itu kemudian hendak pergi dari ruangan tersebut.


Tangan Barun pun tidak diam saja. Pria itu menahan langkah Sabhira. "Kau boleh keluar kalau sudah melepas pakaian yang kau kenakan saat ini." Nada yang penuh penekanan pun kembali lagi.


Sabhira menarik napas dalam sambil memejamkan kedua matanya beberapa saat, lalu menoleh menatap Barun yang sedang memicingkan mata padanya. Dengan satu kali hempasan, tangan Barun terlepas dari lengannya.


"Sekarang aku tanya, ada apa dengan pakaian ini? jelaskan padaku Tuan! agar aku paham, aku mengerti. Jangan jadikan aku seperti boneka yang tidak butuh apa-apa di dunia ini. Ku kira kau sudah berubah setelah malam itu, tapi ternyata aku salah prasangka padamu. Bahkan kau leb---"


Tiba-tiba saja, Barun membungkam mulut istrinya dengan bibinya. Sabhira membulatkan matanya dan terhenyak. Tidak lama setelahnya, gadis itu memukul dada bidang milik Barun dengan kedua telapak tangannya yang dikepalkan.


"Hah hah hah hah." Napas Sabhira tersengal-sengal. "Brengsek!"


Barun hanya tersenyum menyeringai. Kakinya berjalan mendekati Sabhira lagi. "Kenapa kau sulit sekali ku atur? Semakin kau berontak, semakin berat tekanan yang akan aku berikan padamu."


Sabhira melirik ke arah pintu keluar. Gadis itu sedang berancang-ancang untuk kabur dari hadapan suaminya itu. Wajah Barun yang menyeramkan, muncul kembali.


"Terserah. Dari awal aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Kau sudah gila! mengambil kesempatan ditengah diriku yang sama sekali tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan sepertimu. Kau rampas aku dengan fitnah yang kau lontarkan tentangku pada kedua orang tuaku. Kau paksa aku untuk melakukan hal yang tidak pernah ingin aku berikan padamu. Lalu sekarang kau ingin berniat untuk mempermalukan aku di depan orang banyak karena aku tidak mengenakan pakaian? Pria macam apa kau ini Tuan Barun! Oh ... " Kedua tangan Sabhira bersilang dada setelah ia berhasil berdiri di depan pintu keluar. Sementara sebelah tangan Barun terangkat. Tapi sorot mata Sabhira semakin menantang, tidak ada ketakutan sama sekali.


Brak.


Tangan itu menggebrak pintu. Sabhira sedikit terkejut. Ia sedikit bernapas lega kalau Barun tidak sampai memberi tamparan padanya.

__ADS_1


*Tok, tok, tok*


To be continue ...


__ADS_2