
Barun baru saja tiba di rumah sakit. Langkah kakinya sengaja di percepat supaya bisa segera sampai di kamar rawat sang istri.
Namun tak sengaja, Barun melihat keberadaan Erzal di rumah sakit. Mereka saling berpapasan. Erzal yang baru saja keluar dari lift saat Barun hendak naik ke atar menggunakan lift tersebut.
"Kau sedang apa di rumah sakit ini?" tanya Barun yang kemudian melihat petunjuk waktu yang melingkar di tangannya. "Bukankah ini masih jam kantor?" tanyanya lagi.
"Aku habis menjenguk teman di sini. Kau sendiri sedang apa? siapa yang memimpin perusahaan kalau kau disini?" Erzal malah bertanya balik pada Barun.
"Sabhira sakit. Ada asistenku yang menghandle," jawab Barun terdengar ketus.
"Oh ya? sakit apa adik iparku itu? pantas saja semalaman aku tidak melihatnya." Ucapan Erzal sangat membuat Barun seketika naik pitam. Kedua tangannya pun mengepal. Kalau saja bukan di rumah sakit, mungkin dalam sekejap mata Erzal telah dipukul hingga membabi buta olehnya.
Barun hanya tersenyum menyeringai, ia tidak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Erzal. "Permisi, aku harus segera menemui istriku." Pria itu malah pamit dari hadapan kakak sepupunya itu.
Mungkin itu lebih baik, daripada Barun semakin merasa muak dan malah kebablasan memukul Erzal di depan lift. Namun ia tidak seceroboh itu.
Barun harus tetap bersikap tenang. Ia yakin dengan bukti visum, semua yang menjadi teka-tekinya pada penculikan Sabhira atau mungkin lima tahun belakangan ini akan terungkap.
Sementara Erzal menyunggingkan senyum bahagia ketika Barun telah masuk ke dalam lift. "Ini baru awal Barun. Belum apa-apa," gumam pria itu dalam hati lalu pergi dari sana.
Saat sampai di lantai khusus pasien VVIP, Barun pun keluar dari lift untuk menuju kawar rawat sang istri. Pria itu menarik napasnya dalam-dalam beriringan dengan langkah kakinya yang semakin dekat dengan pintu yang di tuju.
"Barun," panggil nenek ketika Barun muncul dari balik pintu.
Sabhira pun yang tadinya terpejam, kini membuka matanya. Alisnya sengaja di kerutkan untuk memastikan kalau yang datang itu benar suaminya.
Sedangkan mata Barun tertuju pada sebuah parsel buah dan sekotak kue yang ada di atas meja samping tempat tidur istrinya.
"Nenek tahu ini dari siapa?" tanya Barun pada nenek seraya menghampiri buah tangan itu.
"Loh, Nenek baru sadar kalau ada parsel buah dan kue di sana," ucapnya merasa tersentak. "Kira-kira dari siapa ya?" tanyanya kemudian.
Barun masih terdiam karena mencari nama toko ataupun pengirim di antara buah tangan itu. "Tidak tahu Nek, disini tidak ada nama toko maupun pengirimnya," jawabnya yang sama sekali tidak menemukan informasi apapun.
Mata Barun mencari ke sekeliling sudut ruangan. "Apa Nenek menyadari ada CCTV di ruangan ini?" tanya pria itu.
Nenek pun ikut mencari ke sudut ruangan dan ternyata memang tidak ada. Namun pandangannya terhenti saat melihat ke kaca kecil yang terpasang di pintu.
__ADS_1
"Sepertinya CCTV itu hanya dipasang di luar. Coba lihat ke arah sana," jawab nenek seraya menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Iya Nenek benar," sahut Barun membenarkan jawaban sang nenek. "Nek, tolong jaga Sabhira ya, aku mau meminta bantuan pihak rumah sakit terlebih dahulu."
Nenek pun mengangguk sebagai jawaban. Lalu Barun keluar dari kamar rawat.
Pria itu menuju meja perawat yang berada dekat dengan pintu masuk. "Sus, kalau bagian CCTV disebelah mana ya?" tanya Barun pada salah satu perawat yang sedang berjaga di sana.
"Maaf Tuan, untuk apa? Sebab data tersebut sangat bersifat sensitif. Tidak sembarangan orang yang bisa melihatnya," ujar perawat itu.
"Saya sangat butuh data dari CCTV untuk memperkuat laporan saya kepada pihak berwajib. Ini demi keselamatan istri saja juga," jelas Barun dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.
Para perawat yang ada di sana pun saling bertukar pandang. "Baiklah, kami akan menghubungi bagian CCTV terlebih dahulu ya Tuan. Mohon di tunggu," kata salah satu perawat.
"Oke, mohon bantuannya ya!" pinta Barun dengan penuh harap. Pria itu pun bersedia menunggu.
Dan tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia segera mengeluarkannya dari dalam saku celana. Tertera nama asistennya pada panggilan tersebut.
"Ya Halo?" sapa Barun dengan sebelah tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana.
"Maaf mengganggu waktunya Tuan. Barusan saya kirim email mengenai dokumen yang kemarin sempat tertunda untuk dilakukan pemeriksaan. Nanti kalau Tuan senggang, minta tolong di periksa kembali ya. Waktu penyerahannya masih minggu depan kok."
"Sehabis makan siang tadi, saya sudah berkordinasi dengan bagian IT kantor. Mungkin setelah ini, kami akan berusaha mencari tahu sampai ke akarnya."
"Baiklah, saya tunggu kabar baik darimu."
"Siap, Tuan."
Kemudian sambungan telepon pun terputus. Barun memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
"Bagaimana Sus?" tanya Barun saat melihat perawat yang tadi dilihatnya sedang melakukan telepon pun sudah selesai.
"Tuan bisa segera pergi ke lantai sembilan yang ada di rumah sakit ini. Lalu langsung masuk saja ke ruang CCTV. Di depan pintu ruangan itu, ada tulisannya kok," jelas perawat mengarahkan Barun. Yang diarahkan pun seketika paham.
"Baik, terima kasih banyak," ucap Barun yang kemudian pergi dari meja perawat tersebut.
...----------------...
__ADS_1
Lift yang Barun naiki telah berhenti di lantai sembilan, yang dimana menurut informasi perawat tadi terdapat ruang CCTV. Barun pun segera mencari ruangan yang dituju.
Dilantai tersebut memang terlihat rapih. Dan sebagian besar yang bekerja di lantai ini adalah para management rumah sakit.
Tidak sulit mencari, Barun pun menemukan ruangan tersebut. Ia mengetuk pintu lalu dibukakan oleh penghuni ruangan dan masuk ke dalam.
"Dengan Tuan Barun?" tanya seorang pria yang tampak sendirian berjaga di ruangan tersebut.
"Iya benar, Anda yang berjaga di sini?" tanya Barin kembali memastikan.
"Iya Tuan, perkenalkan saya Ucok." Pria itu memberitahukan kalau namanya sesuai pada nametag yang terpasang di baju seragam rumah sakit. Lalu mengulurkan tangannya mengajak berjabat. Dengan senang hati Barun pun menyambut uluran tangan pria yang bernama Ucok itu. "Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian.
"Saya ingin melihat rekaman CCTV yang terjadi satu jam terakhir di hari ini. Letaknya di lantai khusus pasien CCTV kamar 19B," jawab Barun dengan jelas.
Ucok mulai duduk di kursinya dan di depannya itu terdapat banyak sekali layar berukuran dua puluh empat inchi yang hampir memenuhi dinding. Serta ada satu yang berukuran lima puluh inchi berada di tengahnya.
Ucok pun mulai mencari data yang dimaksud lalu memusatkan gambar pada layar besar di tengahnya. Barun mencermati setiap detik yang ada di video itu.
Hingga di menit empat puluhan, Barun menangkap sosok yang di kenalinya.
"Boleh minta tolong di perbesar pria itu? lalu di potret dan mulai dari menit empat puluh ini saya minta potongan videonya ya," pinta Barun dan disetujui oleh Ucok lewat anggukkan kepalanya.
Rekaman berikut suara yang ditampilkan pun suda berhasil Barun dapatkan untuk di kirimkan kembali ke pihak yang berwajib. Tak lupa dengan rekaman dirinya yang bertemu dengan Erzal di depan pintu lift lobby.
"Setelah ini saya boleh minta tolong lagi?" tanya Barun dengan penuh harap.
"Bisa selama saya mampu. Minta tolong apa memangnya?" tanya Ucok dengan raut wajahnya yang ramah.
"Kemungkinan selama tiga hari ke depan istri saya masih dirawat. Saya serta nenek saya pun tidak selalu bisa menjaganya. Maka dari itu saya butuh bantuan Anda, untuk memantau siapa saja yang keluar masuk ke dalam kamar rawat istri saya. Terutama untuk orang ini," jelas Barun yang kemudian menunjuk gambar Erzal di layar besar itu. "Kalau Anda mendapati dia kembali, tolong segera kirim rekaman itu melalui email saya. Bisa kan?" lanjutnya lalu menanyakan kesanggupan Ucok yang tampak serius mendengarkan Barun.
"Baik Tuan. Saya usahakan semaksimal mungkin. Saya berharap semoga keluarga Tuan bisa selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa," ucap Ucok yang akhirnya menyanggupi.
Barun sedikit bernapas lega, akhirnya ada orang yang mau diajaknya bekerja sama. "Terima kasih banyak Tuan Ucok telah mau membantu saya. Kalau begitu, saya permisi."
"Iya Tuan, sama-sama."
Barun pun keluar dari ruangan tersebut dengan membawa satu bukti lagi.
__ADS_1
"Aku ikuti permainanmu Erzal! sebentar lagi kau akan masuk bui seumur hidupmu!" tegas Barun dalam hatinya seraya masuk ke dalam lift.
To be continue...