Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
PERANGAI ERZAL


__ADS_3

Erzal di bawa ke sebuah ruangan yang berisi beberapa anggota khusus yang akan mengintrogasi lebih dalam sampai ke akarnya. Sedangkan Barun dan Sabhira ada di ruangan lain dengan beberapa anggota khusus juga.


Sebab, perkara yang telah melibatkan banyak orang ini harus segera di tuntaskan. Mereka diajukan berbagai macam pertanyaan.


Setelah tujuh jam lamanya di periksa, Barun dan Sabhira keluar dari ruangan tersebut. Berbeda dengan Erzal yang masih ada di dalam.


Wajah serta tubuh Erzal telah habis babak belur dipukuli oleh salah satu dari anggota tersebut. Bukan tanpa sebab. Mereka melakukan itu karena jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Erzal itu terus berputar-putar dan tak kunjung ada jawaban yang pasti.


Akhirnya Barun pun dipanggil untuk bergabung dengan mereka. Sementara Sabhira menunggu di sebuah ruangan yang ada di kantor tersebut.


Suasana di dalam ruang interogasi pun semakin mencekam. Pasalnya Barun sudah tidak sabar ingin menghajar kakak sepupunya itu habis-habisan.


Darah yang keluar dari mulut serta hidung Erzal, rupanya tidak membuat pria itu mau berkata jujur. Barun maju lalu berhenti tepat di depannya.


"Katakan padaku dimana keberadaan Tissa sekarang?" tanya Barun lalu berjalan kembali mengelilingi Erzal yang duduk dengan tangan dan kaki terikat di kursi.


"Cih!" Erzal berdecih. "Kenapa kau masih mempertanyakannya? sedangkan sekarang sudah ada Sabhira. Apa kau masih mengharapkannya?" tanya pria itu mendelik tajam pada Barun.


"Kau katakan saja dengan jujur. Apa Tissa masih hidup atau tidak!" bentak Barun di depan wajah pria itu.


Namun Erzal tertawa. "Hahahaha ... Kau ini sangat lucu."


Tiba-tiba salah seorang anggota menyuntikkan obat melalui lengannya, supaya Erzal bisa berbicara sesuai dengan alam bawah sadarnya. Sebab, kalau tidak dengan cara seperti itu. Semuanya akan sulit menerima kejelasan langsung darinya.


Erzal meringis sebentar lalu mengerjapkan matanya berulang kali. Hingga ia merasa kalau tubuhnya benar-benar sehat. Obat yang sudah menjalar ke dalam nadinya seketika langsung bereaksi.


Barun di beri kode oleh salah satu anggota yang menyuntikkannya tadi, kalau Erzal sudah oke untuk beri pertanyaan kembali. Cara itu sudah bersifat final, namun keberhasilannya memang patut diacungkan jempol.

__ADS_1


"Sekarang jelaskan padaku dimana Tissa berada?" Barun menarik napas dalam berusaha untuk menahan emosinya.


Erzal tampak melawan reaksi tubuhnya atas obat tersebut. Sementara Barun masih menunggunya untuk menjawab.


"Aku tidak tahu dimana dia sekarang ... " Kali ini tatapan mata Erzal tampak sayu. Pria itu mulai terbawa arus efek obat. "Terakhir, dia memutuskan untuk pergi. Karena sedang hamil, aku pun melarangnya. Tapi tetap saja dia nekad, dan akhirnya sampai saat ini aku hanya tahu dimana tempat yang selalu dia sambangi."


Barun mendelik tajam, "Dimana itu?"


"Di tepi danau Atleanta. Di ujung kota ini. Sebelum aku benar-benar tidak pernah bertemu dengannya lagi, dia sering mengunjungi tempat itu untuk menenangkan pikiran. Kau tahu kalau dia memiliki penyakit mental yang sulit untuk di sembuhkan? Sampai saat ini aku masih terus mencari keberadaannya."


Barun masih terdiam, mendengarkan dan membiarkan Erzal bercerita dengan sendirinya. Alat perekam yang ada di ruangan itupun telah menyala sejak Erzal mulai angkat bicara beberapa saat yang lalu.


"Apa kau mencintainya?" tanya Barun di sela diamnya Erzal.


"Ya, aku benar-benar mencintainya. Tapi aku benci kalau dia selalu bilang mencintaimu." Erzal memberi tatapan benci pada Barun.


Erzal tertawa menyeringai, kemudian melirik pada Barun. "Kau sudah tahu rupanya."


Barun reflek menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Ia tidak boleh terpancing emosi, dan harus tetap tenang.


"Untuk apa kau melakukan itu? apa kau tidak menghargai kasih sayang nenek selama ini? Bahkan dia selalu membelamu!" ujar Barun. Tiba-tiba ingatannya pada sang nenek, membuatnya merasa iba. Dia lah wanita yang tulus merawat dan membesarkannya sejak kecil.


"Ya jelas, aku ingin menguasai semuanya. Dan hadirnya Sabhira membuatku sulit mendapat perhatian dari nenek lagi."


"Apa karena itu kau melakukan semua ini, termasuk penculikan Sabhira kemarin dan membuat dia merasa jadi wanita murahan, lalu kau juga yang membuat berita di situs web itu tentang dirinya?" cecar Barun yang mulai tidak tahan dan tidak keruan perasaannya.


Lagi-lagi Erzal tertawa. "Kau sungguh cerdas!" Lalu terbahak. "Pantas saja nenek menjadikanmu sebagai pimpinan perusahaan. Ternyata memang kau sulit sekali aku kalahkan." Tiba-tiba Erzal menunduk, raut wajahnya tampak sedih. "Andai saja aku tahu keberadaan orang tuaku, tentunya aku tidak akan diadopsi oleh nenek. Tapi sayangnya wanita tua itu selalu saja menggagalkan rencanaku untuk membuatnya mati. Terlebih Sabhira, istrimu itu bagai petaka bagiku!" ucapnya yang semakin lama suaranya semakin meninggi.

__ADS_1


"Kurang ajar!" gumam Barun dengan kedua tangan yang mengepal, serta rahangnya mengeras. "Benar-benar keparat! tidak tahu diri!" lanjutnya lalu menarik napas dalam.


Barun pun mencecar Erzal kembali dengan berbagai pertanyaan. Dari mulai siapa saja yang membantunya, di rumah, kantor dan juga rumah sakit. Perangai Erzal ternyata begitu licik.


Salah satu anggota pun ikut bertanya melalui kasus lain yang tengah terjadi pada Erzal saat ini. Yaitu tentang penggelapan dana yang di lakukan bersama salah satu anggota yang bekerja di instansi pemerintahan dalam proyek pembangunan lintasan kereta api tercepat.


Memang, proyek itu diketuai oleh anggota tersebut. Makanya lebih mudah bergerak sangat licin, meski pada akhirnya tertangkap tangan. Namun bukan berarti hukuman yang Erzal terima hanya salah sat, melainkan keduanya sekaligus.


...----------------...


Sabhira akhirnya memutuskan pulang ke mansion karena ia sudah menunggu sekitar tiga jam lamanya, namun belum ada tanda-tanda Barun keluar dari ruangan tersebut.


Setibanya di mansion, nenek menyambut kedatangannya.


"Sabhira, kau sudah pulang? naik apa? Barun mana?" cecar nenek. Wanita berusia senja itu begitu khawatir serta cemas.


"Iya Nek. Aku lelah sekali, kepalaku juga pusing. Tadi aku meminta bantuan pihak berwajib untuk mengantarkan ku ke sini. Sedangkan Tuan Barun masih ada di ruangan interogasi bersama kak Erzal," jelas Sabhira. Wajah gadis itu terlihat pucat pasi. Tubuhnya masih lemah.


"Ya sudah. Mari aku antarkan kau ke kamar. Kau harus segera beristirahat, lihat dirimu sudah seperti mayat hidup," kelakar nenek lalu memapah Sabhira yang sudah ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Nek, kalau nanti Tuan Barun menanyakan ku lewat telepon, bilang saja kalau aku sudah ada di mansion ya," ucap Sabhira. Kesadarannya mulai berkurang, bahkan pandangannya pun perlahan kabur. Nenek bergegas mempercepat langkahnya karena tubuh Sabhira sudah mulai sulit untuk menopangnya sendiri.


"Iya nanti akan ku jawab seperti itu."


Tepat ketika nenek tiba di samping kasur yang ada di dalam kamar cucunya, Sabhira pun terkulai lemas di atas kasur. Nenek kemudian membenarkan posisi tubuhnya lalu keluar dari kamar itu kembali.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2