Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
KELUH SABHIRA


__ADS_3

Sabhira terhenyak ketika menyadari sikap acuh suaminya. Gadis itu terus menatap punggung pria sampai menghilang dari pandangannya.


"Apa dia cemburu pada Mosev? bukankah mereka ini sepupu? sama seperti kak Erzal," tanya Sabhira dalam hati.


Gadis itu kemudian bergegas membereskan meja makan. Namun salah seorang pelayan langsung mengambil alih.


"Sudah Nyonya, biar aku saja. Lebih baik Nyonya menonton televisi atau berjalan-jalan di taman. Sebab, udara pagi ini dangat menyegarkan, bukan?"


Sabhira pun mengiyakan. Kemudian membiarkan pelayan itu membereskannya.


"Nenek mau kemana?" tanya Mosev ketika melihat nenek berdiri.


"Aku mau ke kamar, mau ambil sesuatu," jawab nenek menoleh sekilas ke arah Mosev yang tersenyum lebar sambil mengangguk. Nenek pun kemudian pergi dari ruang makan tersebut.


"Hei Sabhira, lebih baik kita berjalan-jalan saja ke taman belakang," ajak Mosev yang sangat bersemangat dan tidak sabar.


"Oh iya, ayok!"


Keduanya pun berjalan beriringan menuju taman melewati pinggir kolam renang. Namun sepanjang mereka berjalan, Sabhira tampak murung dan tidak banyak bicara seperti sewaktu pergi ke festival jajanan kemarin.


"Kau kenapa Sabhira? kok diam terus? coba ceritakan padaku, mungkin saja aku bisa bantu," tanya Mosev, membuka suara untuk meramaikan suasana yang sepi diantara keduanya.


"Ah tidak. Aku hanya ... entahlah," jawab Sabhira yang bingung harus menjelaskannya seperti apa. Sebab perasaan yang kini dirasanya itu sulit sekali ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Apa kau yakin?" tanya Mosev lagi, memastikan.


"Um ... apa kau pernah melihat sepupumu itu jatuh cinta pada wanita sebelumnya?" tanya Sabhira yang sebenarnya ragu. Akan tetapi baginya mungkin tidak salah, terlebih Mosev masih bagian dari keluarga besar nenek.


Mosev terdiam sambil berpikir sejenak. "Setahu aku sih belum pernah ya. Kenapa memangnya?" tanya pria itu kemudian.


"Ah, tidak. Aku kira kau tahu masa lalunya." Sabhira hanya menoleh sebentar lalu menatap ke depan kembali.


"Apa kau sedang meragukan Barun?" tanya Mosev menyelidik.


"Bukan, bukan begitu. Aku hanya belum tahu bagaimana sebenarnya perasaan Tuan Barun itu padaku," keluh Sabhira sambil menautkan kedua tangannya sendiri. Gelagatnya sangat gelisah. Terlebih ketika nama Tissa menghantui benaknya.

__ADS_1


"Tunggu ... " Mosev menghentikan langkahnya lalu memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Sabhira yang juga ikut berhenti. "Kau menikah dengan Barun, tapi kau sendiri tidak tahu perasaannya sepertu apa? ... " Mosev terdiam lagi sambil melipat sebelah tangannya di dada serta yang satunya lagi mengusap dagunya, tampak berpikir. "Apa sebelumnya kalian tidak saling mengenal?" tanyanya lagi.


Namun Sabhira hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Alhasil Mosev pun langsung bisa mengambil kesimpulan.


"Oh my God, Sabhira. Pernikahan macam apa itu? pantas saja sejak pertama kali aku melihat kalian, ada bau-bau aneh yang dapat kucium dari radius yang cukup jauh," ujar Mosev lalu berjalan lagi. Kali ini dirinya berdampingan dengan Sabhira.


"Apa kau punya ide supaya aku bisa tahu, dia mencintaiku atau tidak?" tanya Sabhira semakin resah.


"Hmm ... " Mosev memicingkan kedua matanya. "Apa kau sudah mencintai Barun lebih dulu?" Pria itu malah bertanya balik pada Sabhira.


"Ah, ya sudah lah. Itu tidak penting. Kau ditanya malah bertanya balik." Sabhira merasa kesal.


"Sorry, sorry. Okey ... aku punya usul. Tapi kau harus mendengarkannya lebih dulu." Mosev berpindah posisi dengan berjalan mundur di depan Sabhira.


"Usul apa itu?" tanya Sabhira terdengar ketus.


Lalu Mosev membeberkan usul dari sebuah ide yang menurutnya brilliant.


"Apa kau yakin usulmu itu akan berhasil?" tanya Sabhira, meragu.


"Baiklah. Doakan aku!" sahut Sabhira yang mulai bersemangat kembali.


"Ayok akan ku antar!" ajak Mosev, dan gadis itu pun mengangguk yakin.


...----------------...


Di perusahaan, Barun sedang kedatangan tamu dua orang pria yaitu satu dari pemilik perusahaan modelling terkenal seantero jagad hiburan dan yang satunya lagi designer papan atas.


Rencananya mereka akan memesan kain berkualitas terbaik yang terbuat dari sutra.


"Ini dia contoh bahan sutra yang pernah kami buat ... " Barun memberikan satu kotak yang berisi potongan bahan yang selalu ia gunakan sebagai contoh. "Sutra yang kami miliki terdapat lima tingkatan level, dan ... " Barun mengambil salah satu dari kelima bahan contoh tersebut. "Ini sutra dengan kualitas terbaik yang kami miliki."


Kedua orang itu memegang dan merasakan kelembutan dari bahan tersebut saling bergantian.


"Bisa tidak kalau bahan ini dibuat selembut dan sejatuh mungkin? Karena selain untuk dipasarkan, pakaian yang akan saya buat ini juga dipakai untuk film layar lebar tingkat dunia," tanya designer tersebut yang memang jauh lebih tahu mengenai bahan-bahan pakaian.

__ADS_1


"Bisa, untuk lebih jelasnya ... mari kita langsung saja ke ruang meeting," ajak Barun, lalu mereka pun mengangguk setuju.


Di saat ketiga orang itu sedang berjalan ke ruang meeting, mobil yang dikendarai oleh Mosev baru saja tiba di halaman parkir perusahaan milik Barun.


"Ayok turun!" ajak Mosev sambil melepaskan seat belt dari tubuhnya, begitupun dengan Sabhira. Keduanya turun dan langsung menuju ruang kerja Barun.


"Apa Barun ada di dalam?" tanya Mosev pasa asisten Barun.


"Mohon maaf, Tuan Barun sedang ada di ruang meeting bersama klient," jawab asisten Barun. Pria itu masih mengenal Mosev, sebab wajah sepupu Barun tersebut tidak berubah dari saat terakhir masih tinggal di negara ini.


"Oh kalau begitu, bisakah kau beri tahu kami dimanakah ruang meetingnya?" tanya Mosev lagi.


Namun asisten Barun terdiam sejenak untuk menimbang-nimbang, dan akhirnya berbicara, "Di lantai dua, tapi sekarang sedang ada meeting dengan klien penting," ucapnya.


Mosev yang sudah mendapat jawaban, langsung menarik tangan Sabhira untuk segera pergi ke ruang meeting tanpa memperdulikan jawaban dari asisten Barun setelahnya.


...----------------...


Mosev membuka perlahan pintu ruang meeting. Gelap dan hanya ada lampu proyektor yang menyorot ke sebuah papan putih di depannya.


"Sana masuk. Jangan lupa usul yang telah aku berikan!" Mosev kemudian mendorong Sabhira masuk ke dalam lalu menutup pintunya kembali.


Dalam remang-remang cahaya yang di dapat dari sorotan lampu proyektor, Sabhira melihat ada beberapa pakaian yang menggantung di hanger. Gadis itu mengambil salah satu gaun yang ada di sana lalu memakainya.


Dalam hitungan detik, gaun pun sudah terpakai di tubuh moleknya itu. Rambutnya dibiarkan tergerai. Ia pun merasa deg deg kan sambil berpikir kata-kata apa yang pantas untuk dinyatakan pada Barun. Lalu berdiri tepat di depan sorotan lampu proyektor tersebut.


Suasana dalam ruang meeting itu sangat sepi. Tiba-tiba Barun muncul dari area yang gelap.


"Sabhira? sedang apa kau disini?"


To be continue ...


...****************...


Hai, hai, hai ... sambil nunggu aku up lagi. Nih aku ada rekomendasi karya dari Goresan Pena yang berjudul Dikejar Duda. Cuss yang suka cerita tentang duda bisa mampir ke cerita yang sangat seru dan menarik ini loh. Jangan lupa ya! 💃🏼

__ADS_1



__ADS_2