
Sore hari di mansion keluarga Praya, para pelayan tengah sibuk mendekorasi ruang tamu hingga ruang keluarga untuk acara ulang tahun nenek. Sebab tamu yang akan hadir malam ini kebanyakan dari kalangan penting yang merupakan pemilik saham perusahaan induk yang dimiliki oleh keluarga Praya. Begitu pun di dapur yang telah tersedia berbagai macam hidangan dari luar maupun dalam negeri.
Sabhira yang baru saja keluar dari kamar, tiba-tiba mencium bau harum masakan yang berasal dari dapur.
"Hmm ... kenapa wanginya harum sekali? membuat perutku lapar saja."
Dengan rasa penasarannya, Sabhira pun pergi ke dapur untuk melihat ada hidangan apa saja yang akan disuguhkan untuk tamu.
"Pelayan, bolehkah aku mencicipi semua hidangan ini?" tanya Sabhira pada salah satu pelayan yang sedang membereskan makanan yang sudah siap.
"Tentu Nyonya. Tunggu sebentar ya, biar saya ambilkan piring dan mangkuk serta sendok untuk Nyonya," jawab pelayan itu dengan ramah. Begitu pun dengan Sabhira yang mengangguk bahagia.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu membawakan sebuah nampan yang berisi piring, mangkuk dan juga sendok untuk Sabhira.
"Maukah kamu membantuku untuk memegang nampan ini?" tanya Sabhira lagi.
"Tentu Nyonya, silahkan dicicipi hidangannya," jawab pelayan yang sambil tersenyum lalu menata barang-barang yang ada di dalam nampan itu supaya Sabhira bisa dengan mudah menaruh makanannya.
Ketika sedang asik mencicipi, Barun menghampirinya. "Apa kau tidak ada kerjaan lain, selain mencicipi hidangan untuk tamu ini?" tanyanya, terdengar ketus.
"Memangnya kenapa? apa tidak boleh kalau hanya sekadar mencicipi? aku bahkan tidak membuat hidangan ini berantakan," jawab Sabhira lalu melanjutkannya lagi. Kalau dilihat dari ekspresinya, semua hidangan yang telah ia cicipi begitu sangat lezat.
"Lebih baik sekarang cepat ganti pakaianmu itu. Satu jam lagi para tamu akan datang. Bantu nenek untuk menyambut para tamu pentingnya," titah Barun. Pria itu mengekori Sabhira yang masih enggan pergi dari sana.
"Iya nanti aku akan ganti pakaian. Hanya tinggal beberapa hidangan lagi yang ingin aku cicipi. Kau duluan saja ke kamar Tuan," kata Sabhira yang tanpa sadar telah membuat Barun mulai naik pitam.
"Pelayan tolong bawa nampan ini ke tempat pencucian piring," perintah Barun. Melihat raut wajahnya, pelayan itu langsung menunduk hormat lalu pergi dari hadapan mereka.
Tanpa ingin menunggu Sabhira lebih lama lagi, Barun pun akhirnya menarik tangan istrinya itu untuk kembali ke kamar. Karena jika Barun tidak bertindak demikian, Sabhira akan semakin lama berada di dapur.
__ADS_1
"Aw!" pekik Sabhira yang merasa kesakitan karena cekalan tangan Barun yang cukup kencang. "Bisa tidak sih kau pelan-pelan menarikku, Tuan!" lanjutnya yang dengan sekuat tenaga menghempaskan tangannya dari tangan suaminya itu.
Barun hanya terdiam. Pria itu terus melangkah hingga mereka tiba di dalam kamar, barulah cekalan tangannya terlepas.
Sabhira memutar-mutar pergelangan tangannya yang terasa sakit sambil meringis.
"Kau sudah mandi?" tanya Barun, terdengar datar.
"Sudah." Sabhira menjawabnya singkat.
"Ya sudah, lebih baik kau ganti pakaian. Jangan lupa pakai gaun yang aku belikan kemarin. Aku akan mandi terlebih dahulu," kata Barun yang kemudian pergi ke kamar mandi.
"Iya," jawab Sabhira yang kemudian membuka lemari pakaian dan mengambil salah satu gaun yang menurutnya cocok dipakai untuk malam ini.
Setelah di dapat, Sabhira pun memakainya. Tak lupa ia juga merias wajahnya sebisanya. Karena memang Sabhira tidak pandai memoles wajah seperti para wanita kebanyakan.
Tidak butuh waktu lama, Sabhira telah selesai. Namun Barun belum juga keluar dari kamar mandi. Akhirnya Sabhira memilih keluar dari kamar menuju tempat acara.
"Kemana perginya Sabhira?" Barun mencari ke sekeliling kamar dan istrinya tidak ada di sana. Ia hanya melihat pakaian yang tadi sempat dipakai istrinya itu di dalam keranjang pakaian kotor. "Apa mungkin dia sudah keluar?"
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Barun segera memakai pakaiannya, merapihkan rambutnya serta memakai sepatu pantofelnya. Tampan, itulah yang tampak jelas terlihat ketika melihat penampilan Barun kali ini.
...----------------...
Sabhira berkeliling tempat acara untuk memastikan kalau tampilan acara untuk ulang tahun nenek sudah perfect. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Barun keluar dari kamar. Sabhira segera bersembunyi.
Para tamu undangan satu per satu sudah memasuki tempat acara. Barun pun menyambut kedatangan mereka. Akan tetapi matanya tetap melihat ke sekeliling, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Sabhira di sana.
Hingga tak terasa satu jam berlalu, acara dimulai. Barun tak kunjung melihat Sabhira.
__ADS_1
Ternyata gadis yang di cari oleh Barun itu, sedang berada di sudut ruangan. Gadis itu berniat untuk membuat kejutan untuk Barun.
Di tengah keramaian, Sabhira berusaha untuk pergi ke ruangan khusus para penari yang akan tampil untuk pembuka acara, dan sebisa mungkin tidak bisa ditemukan oleh Barun.
Sepuluh menit kemudian, acara pun di mulai para tamu telah duduk di kursi masing-masing. Lampu utama di matikan sementara, karena akan diganti dengan lampu yang hanya menyorot ke panggung. Barisan para penari pun telah siap untuk menunjukkan gerakan-gerakan indah yang dapat membuat penonton akan terpukau.
🎶Musik dimulai.
Barun yang duduk di barisan paling depan bersama nenek dan juga Erzal, terperangah melihat keberadaan Sabhira di antara enam orang yang ada di atas panggung.
"Sial! kenapa dia bisa ikutan jadi penari? sejak kapan juga dia berlatih tarian itu? atau jangan-jangan dia latihan saat tadi aku berangkat ke kantor?" Barun bertanya-tanya dalam hatinya. Pandangannya kini tak lepas dari Sabhira yang sedang asik berlenggak-lenggok dengan lincahnya.
Berbeda dengan nenek dan juga Erzal. Keduanya begitu terhibur dengan tarian yang dibawakan oleh Sabhira beserta kelima orang lainnya. Mereka yang hadir pun bertepuk tangan dengan meriahnya saat tarian itu telah selesai.
Barun langsung berdiri dan pergi dari acara itu untuk menghampiri Sabhira. Langkahnya sengaja dipercepat, sebelum keenam penari itu masuk ke dalam ruangan. Kebetulan Sabhira berada di barisan paling belakang.
"Hah!" Sabhira terpekik ketika Barun memotong jalannya. Lengannya pun mendadak di tarik oleh suaminya itu dan kemudian dibawa ke dalam kamar. "Tuan, lepaskan aku!" pintanya berusaha keras melepaskan cengkraman tangan Barun di lengannya.
"Tidak akan aku lepaskan mu, sebelum kau ada di tempat acara bersamaku, Sabhira," kata Barun. Pria itu sebisa mungkin menahan perasaannya yang penuh dengan luapan emosi.
"Oke, baiklah. Aku janji akan bersamamu di tempat acara. Tapi biarkan aku berganti pakaian terlebih dahulu," sahut Sabhira yang akhirnya memilih mengalahkan egonya. Padahal ia sangat malas sekali harus berakting di depan orang banyak. Kalau saja akting itu benar nyata, mungkin sejak tadi Sabhira tidak akan petakilan menari-nari dengan pakaian yang super ketat di tubuhnya.
Barun melepaskan cengkraman nya, "Silahkan, aku tunggu."
To be continue ...
...****************...
...Visual Tokoh...
__ADS_1