Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
ACARA MERIAH


__ADS_3

Nenek sedang asik berbincang dengan para anggota yang turut hadir dalam sebuah pesta yang direncanakan olehnya. Begitupun dengan Mosev yang juga berkumpul bersama para anak muda yang sebaya dengannya dan juga Barun.


Ditengah keramaian melepas rindu satu sama lain, tiba-tiba saja lampu mati dan hanya menyisakan satu titik yang menyorot di atas sepasang suami istri, di ujung anak tangga. Semua pasang mata seketika berfokus pada mereka.


Lalu alunan musik pun mulai berbunyi mengiringi langkah kaki keduanya saat menuruni anak tangga tersebut. Pakaian yang mereka kenakan berlapis permata biru itu tak kalah menariknya. Terlebih dengan senyum yang mereka perlihatkan, tampak sangat serasi.


Hingga tiba di ujung tangga, mereka berhenti. Sorot lampu yang tadi mati, kini telah terang benderang.


Sabhira merasa terkejut sekaligus bahagia ketika melihat hamparan kelopak bunga mawar merah terpasang bak karpet merah sepanjang jalan menuju podium.


"Tuan, pestanya meriah dan mewah sekali!" seru Sabhira sembari mengeratkan tangannya di lengan Barun.


"Beginilah kalau nenek sudah turun tangan, selalu totalitas tanpa batas," jawab Barun dengan santainya. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh pria itu. Tidak pernah ada yang merasa kecewa jika neneknya sudah turun tangan.


Kemudian keduanya berjalan di atas karpet merah yang terbuat dari kelopak bunga mawar tersebut hingga naik ke atas podium.


"Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk sepasang pengantin baru yang sudah ada di depan kita ini. Lihat, wajah mereka sangat berseri bukan?" ucap pembawa acara yang tiba-tiba muncul dari belakang podium lalu menghampiri mereka. "Apa kabar nih? sepertinya pasti sangat baik-baik saja ya?" tanya nya kemudian.


"Iya, kami sangat baik-baik saja dan juga ... " ucap Sabhira lalu menoleh ke Barun yang membuat keduanya saling bertukar pandang. "Bahagia," sambungnya seraya tersenyum.


"Bagaimana rasanya setelah menikah Tuan Barun dan Nyonya Sabhira? Lantas sudah merasa lega dong ya, atas rumor yang pernah beredar saat itu?" tanya pembawa acara.


Semua orang yang hadir saling bertukar pandang dan tampak dari gesture mulut mereka bertanya 'ada apa sebenarnya?'. Termasuk Sabhira yang seketika menoleh ke arah sang suami.


Barun seketika terdiam setelah mendengar pertanyaan pembawa acara tersebut.


"Kenapa dia harus membicarakan hal itu di depan keluarga besar ku yang sebagian besar tidak mengetahui nya?" gumam Barun sambil menelisik satu per satu semua orang yang ada di depannya.


Setelah sekian lama terdiam, Barun mengangkat wajahnya dengan penuh percaya diri. Tak lupa senyum pun mengembang dari kedua sudut bibirnya. Lalu mengambil mic yang sedari tadi menyatu dengan stand nya.


Sabhira yang paham akan sikap Barun, melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar erat di lengan pria itu.


"Selamat malam semuanya," sapa Barun mencoba untuk mengatur atmosfer ketenangan kepada mereka.


"Malam," jawab semuanya serempak.


"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada keluarga besar sekalian di acara yang tentunya telah di persiapkan oleh nenek kami tercinta. Tetapi, dia tidak sendiri dong pastinya. Kasihan juga nanti bisa jatuh sakit, hehehe ... becanda ya Nek." Barun melambaikan tangannya ke ara nenek. "Dia dibantu oleh para event organizer. Nah kalau mau komplain tentang makanan ataupun pelayanan dari pesta ini, tolong untuk sampaikan pada cree event organizer tersebut, jangan sama nenek ya. Aku takut cantiknya nanti berubah jadi bertanduk." Semuanya tertawa mendengar lelucon yang Barun lontarkan.


"Selanjutnya tentang rumor itu. Pasti di sini semuanya bertanya-tanya, bukan?" Pria itu bertanya pada semua, dan seketika semuanya pun tampak mengangguk. "Tentu saja semua itu tidak benar adanya. Ada seseorang yang memang sengaja membuat berita omong kosong sepertu itu, tapi tidak masalah ... sekarang semuanya telah teratasi. Karena berkat istri saya juga," papar Barun. Tidak berharap semuanya akan percaya, karena memang seperti itulah kenyataannya.


Kalau saat itu dia tidak bertemu dengan wanita seperti Sabhira, mungkin nasibnya saat ini tidak akan beruntung seperti sekarang. Berbeda halnya dengan Sabhira sendiri, gadis itu merasa sial karena bertemu Barun sehingga tidak terima oleh kedua orang tuanya lagi.

__ADS_1


...****************...


Pesta berlangsung dengan meriah dan penuh suka cita. Raut wajah bahagia, dari mulai canda dan tawa seolah menjadi musik yang bersenandung dengan indahnya. Hingga hampir dua jam acara berlangsung, pembawa acara pun menutupnya.


Kini semua anggota keluarga besar yang turut hadir, memasuki kamar yang telah di sediakan di mansion tersebut. Begitupun dengan tuan rumahnya sendiri.


Sabhira dan Barun telah berada di dalam kamar. Keduanya saling membantu melepaskan pakaian yang cukup berat saat mereka kenakan tadi.


"Tuan, aku ke kamar mandi dulu ya. Ingin buang air kecil dan juga ... " Sabhira kemudian menguap sangat kencang. "Aku juga sudah sangat mengantuk," lanjut gadis itu setelah selesai menguap.


"Ya sudah sana. Aku juga mau ke ruang kerja. Soalnya ada beberapa file yang harus ditanda tangani," kata Barun, lalu Sabhira pun mengangguk lalu berbalik badan dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah Sabhira menutup pintu, Barun pun pergi keluar kamar menuju ruang kerjanya. Namun baru saja Barun melangkahkan kaki saat sudah di depan pintu, Tissa mempercepat langkahnya menghampiri Barun.


"Ba--, Tuan!" seru wanita itu dari kejauhan.


Barun menoleh ke sumber suara. Setelah tahu orang yang memanggilnya, suara hempasan udara kasar pun lolos begitu saja.


"Ada apa?" tanya Barun, dingin.


"Jangan salah sangka dulu. Aku ... maksudnya saya ingin mengambil pakaian yang tadi kalian kenakan. Karena saya dan teman-teman lainnya akan meninggalkan mansion ini," jelas Tissa sedikit gugup.


"Masuk saja. Pakaiannya sudah ada di atas kasur," jawab Barun, bersikap acuh.


Tissa menatap nanar punggung pria itu, hingga menghilang karena masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di lantai yang sama. Wanita itu mengetuk pintu terlebih dahulu lalu membukanya.


"Tidak ada siapa-siapa," gumam wanita itu, lalu langsung mencari barang yang ia maksud. Saat telah di dapat, ia segera membawanya keluar.


Namun baru saja membalikkan badan, pintu kamar mandi pun terbuka.


"Siapa kau?" tanya Sabhira yang belum sadar kalau itu adalah Tissa.


Entah kenapa mendengar suara Sabhira, ada sedikit rasa iri dan sakit di hati Tissa. Wanita itu menarik napas dalam, sebelum akhirnya berbalik badan.


Senyuman pun ditunjukkan pada Sabhira, "Maaf Nyonya, saya hanya ingin mengambil pakaian ini," jawab Tissa sambil menunduk hormat.


Sementara itu, Sabhira tercekat setelah ia tahu wanita yang kini berdiri di depannya.


"Oh iya ... " Awalnya hanya dua kata itu yang mampu Sabhira ucapkan, namun ... "Tissa, benarkan namamu Tissa?" tanya gadis itu kemudian.


"Benar Nyonya," jawab Tissa dengan pandangan yang masih menunduk ke bawah. Sabhira tersenyum lalu menghampirinya.

__ADS_1


"Tidak usah menunduk seperti itu. Lihatlah aku ... " Sabhira mengangkat dagu Tissa seolah memaksa supaya menatap wajahnya. "Bisakah kita berteman? walaupun aku tahu, kau adalah wanita yang juga pernah mencintai pria yang sama sepertiku. Tetapi, aku ingin tidak ada permusuhan di antara kita ... sebab meskipun cerita kita dengan dia hampir sama, namun awal pertemuan kita dengannya sangat berbeda. Jadi ku mohon, bertemanlah denganku!" seru gadis itu lalu mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.


Tissa menatap uluran tangan Sabhira, seakan tidak percaya. Wanita itu kira, Sabhira akan memaki ataupun mencacinya, tapi ternyata dia. Sepasang matanya kemudian menatap Sabhira dengan sendu.


Perlahan tangan kanannya pun terulur juga. Lalu mereka saling berjabat tangan.


"Terima kasih sudah mau menganggap saya sebagai teman," kata Tissa sambil tersenyum.


"Sama-sama, mulai sekarang panggil saja aku Sabhira!" seru gadis itu yang merasa bahagia.


"Baik, Sabhira. Kalau gitu saya permisi, karena teman-teman saya yang lain pasti sudah menunggu." Tissa pun berpamitan dengan istri dari pria di masa lalunya.


"Oke, sampai berjumpa lagi!" kata Sabhira mengangkat sebelah tangannya.


Tissa menunduk hormat lalu pergi dari kamar tersebut dengan membawa pakaian yang dicarinya tadi. Setelah kepergian Tissa dari sana, Sabhira naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya.


"Aaah, rasanya sangat nyaman sekali. Lebih baik aku segera tidur, supaya besok pagi tidak kesiangan," ucap Sabhira bermonolog.


Beberapa menit kemudian, Barun masuk ke dalam kamar. Pria itu melihat sang istri sudah tertidur pulas. Kedua sudut bibirnya terangkat.


Namun, Barun tidak menghampiri Sabhira. Melainkan membuka pintu kaca kamarnya lalu duduk di kursi yang berada di samping kolam renang. Pria itupun mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.


"Hallo?" sapa Barun ketika orang yang diseberang telah menjawab panggilannya.


"Iya Tuan, ada apa?"


"Tolong carikan informasi tentang Tissa."


"Tissa? mantan kekasih Tuan?"


"Iya kau benar. Tadi dia ada di mansion ku. Dia bilang hanya bekerja sebagai perias busana, tapi aku tidak langsung mempercayai itu. Jadi minta tolong segera cari informasi tentangnya. Siapa tahu kita dapat bukti lain untuk persidangan nanti," jelas Barun terdengar sangat serius.


"Baik, Tuan. Saya akan segera melaksanakan sesuai yang Tuan perintahkan."


"Oke, thank you."


Setelah itu sambungan telepon pun berakhir.


...****************...


Selamat pagi, aku punya rekomendasi novel nih. Tentunya seru dan menarik loh. Yuk baca! jangan sampai dilewatkan ya.

__ADS_1



__ADS_2