
Para penghuni mansion telah pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena memang waktu pun sudah masuk tengah malam.
Di saat semua sedang tertidur pulas dengan mimpi indahnya, Sabhira sedang merasa keringat dingin dan tampak sedang gelisah dengan mata terpejam.
Dalam mimpinya, gadis itu tengah berada di sebuah ruangan dan melihat Barun dikelilingi banyak wanita cantik. Lalu tiba-tiba Tissa muncul dan membelah kerumunan itu. Tissa pun menggoda Barun hingga keduanya bercumbu mesra di depan matanya. Sontak mimpi itu membuat Sabhira terbangun hingga terperanjat duduk.
Napasnya tersengal-sengal dengan keringat yang membasahi kening hingga leher jenjangnya. Terlebih detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.
Gadis itu habis mengalami mimpi buruk. Dia pun menoleh ke arah Barun yang masih terpejam sambil berdengkur halus. Dia mencoba menetralkan napas serta detak jantungnya kembali.
"Astaga, kenapa mimpinya menyebalkan sekali? kenapa juga harus ada Tissa di sana?" gumam Sabhira lalu turun dari kasur dan pergi membuka pintu kaca yang mengarah ke kolam renang. Ia duduk di depan pintu.
"Ahah!" Sabhira terkesiap seolah melihat sekelebat cahaya di depannya. "Sepertinya aku menyimpan kacang deh di atas lemari. Coba ah aku lihat dulu, siapa tahu masih ada," ucapnya kemudian bangkit dari duduknya.
Sabhira mengangkat kursi yang biasa dia gunakan untuk duduk di depan meja rias, lalu menaruhnya di depan lemari. Gadis itu naik ke atasnya. Karena lemarinya cukup tinggi dan hanya terjamah dengan tangannya saja, dia mulai meraba-raba.
"Ah, ini dia!" seru Sabhira ketika sudah menemukan sebuah kotak makan berbentuk bulat. Dia menariknya perlahan dan sangat hati-hati supaya Barun tidak sampai terbangun karenanya.
"Huffh." Sabhira menghembuskan napas lega ketika kotak makan itu sudah berada di tangannya. Dia segera turun lalu membuka tutupnya. Karena model kotak makan itu beranak, gadis itu membukanya hingga tutup ke lima, baru dia dapat kacang miliknya. Setelah di dapat, dia kembali duduk di depan pintu.
"Aku tidak rela kalau sampai suamiku diambil lagi sama dia!" gerutu Sabhira sambil menyuap kacang ke mulutnya. "Apa wanita itu belum rela kalau sekarang pria yang dulu mencintainya, sudah menjadi milikku bahkan mencintaiku!" Gadis itu terus mengeluarkan unek-uneknya. Dia masih terbawa mimpi buruknya tadi.
Tanpa dia sadari, suaranya semakin lama semakin keras dan Barun pun sampai terbangun karenanya.
Pria itu membuka matanya perlahan lalu setengah duduk memperhatikan gadis yang terus berbicara sendiri memunggunginya. Lalu karena penasaran, Barun pun ikut turun dari kasur dan menghampiri Sabhira.
"Kau bicara dengan siapa?" tanya Barun, ikut duduk di samping Sabhira.
Gadis itu tersentak kaget, "Kau terbangun?" Dia malah bertanya balik.
__ADS_1
"Jelas aku terbangun. Suaramu itu lebih keras dari alarm yang biasa membangunkan ku," jawab Barun, datar.
Sabhira tersenyum dengan alis yang sengaja di kerutkan. "Maaf," cicitnya sambil menyuap kacangnya lagi.
"Ini sudah tengah malam loh, kau masih bisa makan malam? lagipula sejak kapan kacang itu ada di kamar ini?" sindir Barun kemudian terkekeh.
"Aku tidak mau diet-diet lagi, itu sangat menyiksaku. Lagipula aku kan sudah tidak ikut kompetisi model itu lagi ..." Sabhira mendesah pelan. Sedangkan Barun masih terdiam, menjadi pendengar yang baik. "Aku juga tidak ingat kapan menaruh kacang dikamar ini, tapi yang jelas aku memang ingat pernah menaruhnya," jawabnya sambil terus memakan kacang hingga tak terasa satu kotak makan berukuran kecil itu habis tak tersisa.
"Jadi kau terbangun tengah malam karena lapar?" tanya Barun lagi.
"Bukan," jawab Sabhira singkat lalu bersendawa cukup keras. Barun memundurkan kepalanya.
"Lantas kenapa?" Barun meraih tangan Sabhira lalu diletakkan di atas pangkal pahanya.
"Aku mimpi buruk," jawab Sabhira yang tiba-tiba raut wajahnya menjadi sedih dan menoleh ke arah Barun.
"Memangnya ada yang sedang kau khawatirkan?" Kali ini suara Barun menjadi lebih lembut. Sabhira pun terdiam beberapa saat.
"Tidak mungkin, biasanya mimpi buruk itu datang ketika pikiran kita sedang tidak baik-baik saja. Itupun kadang tidak kita sadari," tutur Barun. Pria itu merangkul pinggang istrinya. Reflek kepala Sabhira pun bersandar di bahunya.
"Aku hanya rindu kedua orangtuaku. Tak terasa sudah hampir sebulan aku menjadi istrimu tapi sama sekali belum bertemu dengan mereka lagi," keluh Sabhira. Gadis itu sampai menitikkan air mata karena terlalu rindu pada kedua orang tuanya.
"Sssuut, sssuut ... " Barun mencoba menenangkan Sabhira sambil mengelus kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Aku minta maaf. Karena keegoisan yang pernah ku perbuat, sampai-sampai memisahkan mu dengan mereka," ucap pria itu, menyesalinya.
"Kapan aku bisa bertemu dengan mereka?" tanya Sabhira, lirih.
"Aku belum tahu, mengingat besok persidangan keputusan Erzal akan berlangsung." Sabhira langsung bangkit sambil menatap Barun. "Mungkin setelah persidangan selesai," pungkas pria itu, terdengar meyakinkan.
Sabhira mendesah pelan, "Jadi aku tidak ikut ke persidangan itu? bukannya besok aku masih harus ikut kompetisi?" tanyanya merasa sedih.
__ADS_1
"Sidangnya akan berlangsung besok pagi. Jadi setelah makan siang, kau bisa langsung kembali ke acara itu ... bersamaku," jawab Barun lalu tersenyum hingga terlihat guratan di ekor matanya.
"Benarkan?" tanya Sabhira, matanya melebar dan tersirat sangat antusias. Barun menjawab dengan anggukkan kepala.
"Berhubung ini sudah larut malam, lebih baik sekarang kita tidur dan besok bangun pagi. Yuk!" seru Barun lalu mengajak Sabhira berdiri. Gadis itupun mengangguk patuh. Keduanya pun masuk ke dalam kamar, tak lupa menutup kembali pintu kacanya.
"Tuan Barun ... " panggil Sabhira. Barun yang baru saja selesai menutup pintu, berbalik badan.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Sebenarnya perasaan kau kepada Tissa saat ini seperti apa?" Sabhira memberanikan diri bertanya tentang hal yang menyangkut mimpi buruknya tadi.
"Ck!" Barun berdecak. Rupanya pria itu sudah mampu menebak apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Sabhira saat ini. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Barun bertanya balik.
"Aku hanya ingin tahu saja," jawab Sabhira sambil duduk di pinggir kasur lalu menyelimuti kakinya.
Memang tidak mungkin bagi seorang wanita saat melihat pasangannya bertemu kembali dengan wanita yang pernah ada dimasa lalunya itu perasaannya akan baik-baik saja. Pasti ada masa dimana hati bertanya-tanya. Terlebih wanita itu sedang dalam keadaan sendiri. Pasti kekhawatiran di lubuk hati tidak terelakkan.
"Biasa saja," jawab Barun, singkat. Pria itu merebahkan tubuhnya sambil mengangkat sebelah tangan lalu digunakan sebagai bantalan kepalanya.
"Biasa saja, maksudnya?" tanya Sabhira yang belum puas akan jawaban Barun.
"Sudah tidak ada yang perlu dibahas antara aku dan dia. Kami punya kehidupan masing-masing sekarang. Bukannya kau sudah dengar sendiri kemarin, dia datang kemari hanya sebatas pekerjaan saja. Lalu apa yang kau khawatirkan lagi?" jawab Barun yang mencoba membuat Sabhira yakin dan tidak goyah akan perasaannya.
"Apa anak-anak yang dia maksud itu adalah anaknya kak Erzal?" tanya Sabhira. Sorot matanya semakin menatap lekat pada Barun. Pria itu terduduk kembali di atas kasur.
"Mungkin ... aku juga tidak tertarik untuk membahas itu. Sudah, lebih baik kita tidur ya. Jangan terlalu merisaukannya. Aku akan tetap menjadi suamimu," jawab Barun lalu merebahkan tubuhnya lagi. Begitupun dengan Sabhira. "Sini mendekat padaku, biar aku peluk. Siapa tahu mimpimu tidak buruk lagi," titah pria itu lagi. Sabhira pun patuh, lalu keduanya terpejam dan mengarungi mimpi indah bersama.
...****************...
__ADS_1
Ikutan ngantuk gak sih? Segerin lagi yuk matanya! kita baca karya keren yang satu ini.