
Barun berhasil berkoordinasi dengan pihak berwajib tentang rencananya yang sudah disepakati oleh para orang-orang kepercayaannya. Bukan hanya itu, Sabhira pun mendadak ingin ikut bersamanya karena tidak sabar untuk memaki orang yang tega membuatnya merasa menjadi sosok wanita murahan.
"Sabhira, apa kamu yakin akan ikut bersama Barun?" tanya nenek. Tersirat kegelisahan pada wanita berusia senja itu. Ia begitu takut kalau nanti Sabhira akan menjadi korban kembali.
"Iya Nek. Aku sangat yakin, dan sekarang aku sudah sehat, Nek," jawab Sabhira dengan tekad nya yang sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Walau sebenarnya keadaan mentalnya belum sepenuhnya pulih, namun Sabhira tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
Barun yang baru saja tiba di ruang keluarga, langsung di hampiri nenek.
"Barun, aku mohon jaga istrimu nanti baik-baik ya. Jangan sampai dia lepas dari genggamanmu. Terlebih sejak kemarin sore Erzal tidak terlihat batang hidungnya di mansion ini." Nenek semakin khawatir.
"Nenek tenang saja, aku kan menjaga istriku dengan baik. Walau sebenarnya dia memang sangat keras kepala sekali, tapi demi meluapkan emosinya itu akan aku lakukan. Asalkan bukan aku yang jadi sasaran empuknya," ujar Barun sambil melirik ke arah Sabhira yang seketika membulatkan mata karena ujarannya itu.
"Ah, iya kamu benar. Ya sudah. Segera berangkat. Doaku menyertai kalian," ucap nenek yang kemudian mengecup kening Barun dan Sabhira saling bergantian.
"Terima kasih banyak, Nek," ucap Sabhira yang merasa terharu akan kasih sayang nenek padanya. Terlebih saat ini hubungannya dengan sang ibu sedang tidak baik.
"Sama-sama." Nenek mengelus lengan Sabhira.
"Kalau begitu, kami pergi dulu Nek." Barun berpamitan pada nenek, begitu pun dengan Sabhira. Nenek menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sepasang suami istri itu kemudian keluar dari mansion.
...----------------...
Mobil yang di kendarai oleh Barun berhenti di sebuah tempat yang digunakan sebagai post berkumpul untuk breafing supaya tidak terjadi salah komunikasi.
Ketika masuk ke dalam tempat tersebut, ternyata semuanya telah berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran di tengah ruangan. Barun dan Sabhira ikut bergabung dengan mereka.
Kepala tim penyidik kemudian mulai menjelaskan. Ternyata mereka pun telah mendapat data yang valid mengenai target yang sama di gedung tempat terjadinya penculikan Sabhira kemarin.
"Sudah mengerti semuanya?" tanya kepala penyidik tersebut dan semuanya pun mengangguk paham. "Baik, kalau begitu kita mulai berpencar sekarang!" tegasnya.
Sabhira menggenggam tangan Barun cukup erat, ia dijadikan sebagai pancingan supaya target bisa keluar dari persembunyiannya. Meski awalnya ragu, tapi Sabhira merasa kuat dengan tekadnya.
__ADS_1
Keduanya masuk melalui pintu utama. Sedangkan yang lainnya menyebar ke sekeliling gedung dengan membawa masing-masing senjata di tangan mereka.
"Sabhira, sekarang kau jalan ke sana. Aku akan memperhatikanmu dari ini," titah Barun menunjuk ke arah lorong dengan sebuah lampu yang menyala di tengahnya. Sabhira merasa mengerti kemudian mengangguk.
Gadis itu mulai berjalan di sepanjang lorong dan di belakang Barun ada dua orang anak buahnya yang sedang mengamati situasi. Tanpa sepengetahuan Sabhira, Barun telah menyematkan alat perekam di sela pakaiannya.
Tiba-tiba terdengar orang tertawa dan sangat ramai. Barun benar-benar mengamati suara tersebut, mengerutkan alisnya lalu ... tersenyum menyeringai setelah menyadari ada suara seseorang yang dikenalinya di antara mereka.
Perlahan Barun mendekat ke Sabhira lalu berhenti di belakang dinding penyekat. Kini Sabhira sudah masuk ke ruangan yang ada di ujung lorong tersebut.
"Eh ada gadis yang waktu itu Bos! dia berani sekali ke sini," ucap salah satu dari mereka.
"Iya, aku hanya ingin bertemu dengan bos kalian. Setelah kemarin kalian membuatku lemas hingga bertekuk lutut. Sekarang aku ingin tahu seberapa hebatnya bos kalian itu!" kata Sabhira dengan sangat lantang. Wanita itu bahkan berani menantang sambil berjalan mengitari para pria yang sedang berada di sekitar meja bilyard.
Lalu langkahnya terhenti pada salah satu diantara mereka. Namun orang yang dihampirinya tidak hanya diam, dia berusaha membe lai pipi Sabhira yang segera di tepis oleh sang empunya.
"Jangan berani padaku! kalau nyawamu masih ingin selamat!" ancam Sabhira memberi tatapan tajam.
Pria itu tersenyum menyeringai sambil menelisik pakaian yang Sabhira kenakan saat ini. "Aku sungguh tidak takut padamu," ucapnya membuat wanita yang ada di depannya berdecih.
Tak disangka pria yang sedang duduk di sisi gelap ruangan itupun muncul.
"Kenapa kau mencariku, Sabhira?" tanya pria itu membuat napas Sabhira tertahan sejenak.
"Kak Erzal," ucapnya dalam hati.
"Aku ... " Sabhira mengangkat wajahnya, terlihat angkuh dan berani. "Aku ingin tahu seberapa hebat dirimu," lanjutnya semakin menantang.
"Sungguh? kau ingin itu?" Erzal terbahak. Jelas pria itu tidak percaya sepenuhnya.
"Iya, tentu!" jawab Sabhira dengan yakin.
__ADS_1
Erzal berjalan menghampirinya, lalu berhenti dengan jarak yang cukup dekat diantara keduanya.
"Katakan padaku, siapa yang membawamu datang ke mari?" Kali ini tatapan Erzal sangat serius.
"Tidak ada!" sergah Sabhira dengan cepat. "Ayok tunjukkan padaku seberapa hebat dirimu!" lanjutnya terlihat sangat bersemangat.
"Kau tidak bisa membohongiku, Sabhira. Cepat keluar siapapun orang yang bersama Sabhira sekarang!" Erzal menantang Barun dan kawan-kawannya keluar dari persembunyian. "Kalau tidak ... " tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya, lalu mengarahkan langsung ke arah letak jantung gadis itu. "Sabhira akan mati saat ini juga." Jari telunjuknya mulai menggerakkan tuas pistol dengan perlahan.
Jikq satu tekanan lagi dilakukan olehnya, melayang sudah nyawa Sabhira. Melihat sang istri berada di dalam situasi yang genting, begitupun jantung Sabhira yang berdetak cukup cepat sampai bisa didengar sendiri olehnya, Barun dengan cepat muncul di gawang pintu ruangan tersebut.
"Ah, akhirnya adik sepupuku muncul juga. Apa kau hanya sendiri di sini?" Erzal tersenyum pongah setelah melihat keberadaan Barun di ruangan yang sama. "Kalau iya, apa kau berani melawan kami bersepuluh dengan sendirian seperti ini?" lanjutnya meremehkan Barun.
"Kau kira aku takut, hah! menjauh lah dari istriku!" Dengan cepat Barun memberi hantaman keras pada perut Erzal.
Anak buah Erzal langsung mendekat. Namun dengan cepat ia pun melarang dengan memberi kode lewat tangannya.
"Jadi kau yang melakukan hal keji itu pada istriku!"
BUG. satu hantaman lagi mendarat di pipi Erzal.
Melihat sang suami mulai membabi buta, Sabhira segera meraih alat komunikasi jarak dekat itu dari tangan Barun.
"Center, cek. Center."
Para anggota beserta anak buah Barun langsung mendekat ke tempat mereka berada. Orang-orang yang ada di ruangan itu pun berdiri dan berkumpul di sudut ruangan. Mereka semua telah dikepung sehingga tidak bisa keluar untuk membebaskan diri.
"Kami dari pihak berwajib membawa surat penangkapan atas nama Erzal Praya. Untuk itu saudara bisa ikut kami ke kantor dan memberi keterangan lebih lanjut," kata kepala penyidik.
Dua orang anggota menghampiri Erzal lalu memborgol tangan pria itu ke belakang. Kemudian, membawa tersangka keluar dari sana. Tentunya bukan hanya Erzal sendiri, melainkan bersama ke sembilan anak buahnya.
Di sisi lain, Sabhira menarik tangan Barun lalu memeluk suaminya erat-erat. Hal itu dilakukan dengan spontan. Sebab baginya, dengan memeluk sang suami segala keresahan dalam hati bisa perlahan pudar.
__ADS_1
Barun pun tak sungkan membalas pelukan Sabhira. Hingga beberapa saat kemudian, keduanya pun keluar dari gedung itu. Mereka ikut pergi ke kantor untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
To be continue ...