Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
HUKUMAN MATI


__ADS_3

Setelah berhasil tidur nyenyak dan berkualitas. Sabhira maupun Barun bangun di pagi hari dengan kondisi tubuh yang lebih segar. Mereka pun sudah selesai bersiap untuk acara yang lumayan padat di hari ini.


Ketika tiba di meja makan, nenek dan Mosev menyambut kedatangan keduanya.


"Selamat pagi, Pangeran dan Tuan Putri," sapa Mosev lalu bergaya ala pelayan di istana kerajaan.


Sabhira tertawa bahagia, sedangkan Barun hanya tersenyum simpul merespon tingkah Mosev yang memang sedikit lebih geser dibanding sepupunya.


"Pagi," jawab Sabhira dan Barun bersamaan.


"Kalian terlihat bahagia sekali pagi ini," puji nenek yang ikut terkena racun kebahagiaan dari sepasang suami istri itu.


"Iya, mungkin karena semalaman tidur kami sangat nyenyak Nek," jawab Barun seraya duduk di kursi yang masih kosong, dan Sabhira langsung bergegas menyiapkan sarapan di atas piringnya.


Setelah selesai, barulah gadis itu duduk di kursi kosong bersebelahan dengan suaminya.


...----------------...


Beberapa menit berlalu, mereka telah selesai sarapan. Para pelayan pun mulai merapihkan piring kotor yang ada di hadapan keempat orang itu.


"Nek, apa kau akan datang ke sidang keputusan Erzal hari ini?" tanya Barun.


"Tentu, aku ingin lihat seberapa beratnya hukuman untuk anak itu," jawab nenek dengan penuh penekanan.


"Kau ingin pergi bersama kami?" tanya Barun lagi pada neneknya.


"Tentu, tapi aku akan naik mobil bersama Mosev. Bukannya setelah sidang kau akan kembali ke kantor?" jawab nenek lalu bertanya balik pada cucunya.


"Oh tidak, Nek. Aku akan mengantar Sabhira ke acara kompetisi itu."


"Loh kenapa? bukankah semalam kau bilang kalau Sabhira sudah mundur dari kompetisinya? kenapa sekarang mau ke sana lagi?" cecar nenek. Wanita berusia senja itu tidak paham rencana yang telah disusun oleh Barun. Sebab semalam, Barun hanya mengatakan garis besarnya saja, tanpa menceritakan detailnya.


Sabhira menghela napas, lalu berbicara. "Jadi gini Nek ... " gadis itu mulai menceritakan detail rencana yang diusulkan oleh Barun kemarin.

__ADS_1


"Oh seperti itu rupanya," ucap nenek yang akhirnya paham.


"Iya, Nek. Hanya hari ini saja sih, sepertinya. Benar begitu Tuan Barun?"


"Mungkin," jawab Barun singkat.


"Ya sudah, semoga saja pelakunya bisa segera jujur ya," ucap nenek mendoakan.


"Aamiin, Nek."


Barun melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah mau pukul tujuh, mari kita berangkat sekarang!" ajak pria itu kemudian beranjak dari duduknya.


...----------------...


Di ruang persidangan, semua telah duduk di tempat masing-masing. Hakim ketua pun sudah membuka jalannya sidang.


Nenek bersilang dada sambil menatap serius terhadap perkara-perkara yang disebutkan oleh hakim ketua tersebut. Begitu pula dengan Mosev.


Selama proses persidangan berlangsung, Erzal dan Barun hampir saja bertengkar karena tersulut emosi. Hal itu dikarenakan antara pertanyaan yang dilontarkan oleh hakim ketua dan juga jawaban dari Erzal kurang sinkron. Padahal di dalam berkas sudah tertulis jelas serta ada juga rekaman hasil interogasi.


Akan tetapi, ketika orang terakhir muncul dan berdiri paling depan karena mendapat hukuman paling berat diantara lainnya, Barun maupun Sabhira sangat benar-benar terkejut.


"Ayah," lirih Sabhira yang dapat di dengar oleh nenek.


Sontak nenek yang tadinya tersenyum bahagia dan merasa lega pun, langsung sirna dan menoleh cepat ke arah Sabhira yang duduk di sebelahnya.


"Pria itu ayahmu?" tanya nenek. Wanita itu berharap itu hanya omong kosong dari Sabhira. Namun anggukkan kepala yang ditunjukkan gadis itu, membuat hati sang nenek runtuh.


"Bagaimana bisa Barun menikahi anak dari orang yang telah membunuh orang tuanya?" tanya nenek yang tiba-tiba meninggikan suaranya sambil berdiri.


Sabhira lagi-lagi terkejut dan sangat terkejut. Denyut jantungnya dua kali lebih cepat, bahkan terasa hampir lepas. Napasnya sesak seakan tidak ada oksigen yang mampu dihirup olehnya.


Semua orang yang ada di depan langsung menoleh ke arah nenek yang berdiri. Barun pun beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang nenek.

__ADS_1


"Nek, sudah. Kita dengarkan saja dulu hasil putusan sidang. Setidaknya sekarang aku tahu siapa pria yang sudah membunuh kedua orang tuaku. Aku yakin ... Sabhira juga disini hanyalah korban, dia tidak tahu menahu soal ayahnya," ucap Barun mencoba meredamkan emosi neneknya dibantu oleh Mosev dan juga menenangkan hati Sabhira.


Mata gadis itu berkaca-kaca. Dia sangat terharu mendengar Barun membelanya. Tetapi memang begitulah adanya, Sabhira tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh sang ayah di masa lalu.


"Tuan Barun, aku siap jadi saksi jika memang diperlukan. Terlepas dari ayah yang jikalau terbukti dia salah, aku tidak akan membelanya."


Barun hanya menatap Sabhira tanpa berkata sepatah katapun. Raut wajahnya datar, karena perasaan dan pikirannya sedang tidak berjalan dengan baik, namun masih bisa dikontrol olehnya.


"Sekarang kalian duduklah, aku yakin hakim ketua memiliki keputusan yang bijak akan hal itu," ucap Barun sambil memapah sang nenek duduk kembali diantara Sabhira dan juga Mosev.


Mereka pun duduk dan kondisi sudah aman terkendali. Hakim ketua melanjutkan persidangan.


Erzal sangat benar-benar marah, semua orang yang terlibat dengannya mampu dikuras habis oleh tim dari pihak berwajib. Kini akar masalah pun telah dicabut dari keluarga praya.


Satu jam sudah persidangan itu berlangsung, dan akhirnya hakim ketua memberikan keputusan.


"Dengan ini kami memutuskan hukuman untuk tersangka bernama Erzal Praya. Sesuai undang-undang yang berlaku, tersangka akan diberi hukuman mati karena kesalahan pasal berlapis. Terlebih, tersangka terbukti telah melakukan pembunuhan berencana atas kedua orang tua Barun Praya. Setelah ini, tersangka akan langsung masuk ke dalam antrian eksekusi." Hakim ketua langsung mengetuk palu sebanyak tiga kali. Lalu mengakhiri sidang dan mengetuk palu sebanyak dua kali.


Barun bisa bernapas lega sekarang. Sedangkan sang nenek yang masih marah langsung berdiri. Barun pun memberi kode kepada Mosev dengan lirikan matanya supaya mengikuti nenek dan mengantarkan wanita berusia senja itu pulang ke mansion.


Ketika melihat Sabhira, rasa sesal yang tadi sempat menyapa hatinya berangsur hilang. Seharusnya memang tidak ada yang disesali. Sejak awal, Barun yang memaksa gadis itu menikah dengannya. Mengambil paksa dari kedua orang tuanya, tanpa mencari tahu siapa orang tua Sabhira sebenarnya.


Mungkin untuk ayah Sabhira, sebuah kata maaf pun tidak cukup untuk membuat orang tua Barun kembali. Bahkan luka dihatinya. Akan tetapi gadis itu, Barun tak mampu berkata apa-apa.


Pria itu juga tahu, Sabhira sama sakitnya. Kecewa dan yang pasti rasa itu dalam porsi yang berbeda. Ayah Sabhira juga mendapat hukuman yang sama seperti Erzal. Kebayang juga dalam waktu sekejap, gadis itu tidak akan memiliki sosok ayah lagi.


Namun, sisi kedewasaan gadis itu mengatakan hal tersebut lebih baik. Ketimbang hidup dihantui rasa bersalah di setiap hembusan napasnya.


Barun pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri Sabhira yang masih tertegun dengan pikiran kosongnya.


"Sabhira ... "


...****************...

__ADS_1


Sambil nunggu kelanjutannya, yuk mampir dulu ke karya keren yang satu ini.



__ADS_2