
Selepas acara, Barun memilih langsung pergi ke kamar. Sedangkan Sabhira masih asik menikmati makan malam bersama nenek. Sesaat setelah Barun pergi, Erzal pun datang menghampiri mereka.
"Barun kemana? apa dia sudah pergi ke kamar Sabhira?" tanya Erzal yang basa basi pada adik iparnya itu. Padahal jelas sekali kalau sebelumnya ia melihat Barun pergi ke kamar.
"Iya baru saja. Apa kakak tidak melihatnya?" jawab Sabhira yang kemudian bertanya balik. Kedua matanya tidak menatap Erzal karena sedang asik menyantap makanan di piring miliknya.
"Oh, mungkin aku tidak sadar karena memainkan ponsel ketika akan menghampiri kalian," jawab Erzal sekenanya. Ia pun ikut bergabung di meja makan. "Oh iya Nek. Kado untuk Nenek tadi sudah aku minta pelayan supaya dimasukkan ke kamar Nenek. Aku berharap semoga Nenek suka dengan pemberianku," lanjutnya seraya tersenyum.
"Terima kasih banyak, tapi seharusnya kamu tidak usah repot-repot untuk memberiku hadiah," ucap nenek yang merasa sungkan.
"Tidak apa-apa Nek, lagipula aku masih mengharapkan doa Nenek supaya aku segera mendapat jodoh," sahut Erzal dengan sorot mata teduhnya.
Sementara Sabhira baru saja menyelesaikan makannya. Tak lupa ia membersihkan mulutnya dengan tisu. "Nek, Kak. Aku permisi ke kamar lebih dulu ya." Gadis itu pamit kemudian pergi dari hadapan mereka.
Sampai di depan kamar, Sabhira menarik napas dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam. Seketika ia tersenyum melihat Barun yang telah tertelap, lalu menutup pintunya dengan hati-hati.
...----------------...
Suara deringan notifikasi telepon masuk dari ponsel Barun terdengar nyaring menggema di seluruh kamar. Sang empunya pun terbangun lalu duduk di pinggir kasur untuk melihat nama pemanggil dilayar ponselnya tersebut. Ternyata asistennya yang memanggil, Barun segera menjawabnya.
"Hallo, ada apa?"
"Tuan ke kantor pukul berapa? mengingat ada meeting penting yang barus Tuan hadiri."
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan asistennya itu, Barun melihat kembali ke layar ponsel.
"Pukul tujuh pagi," gumam Barun dalam hati.
"Iya, iya sebentar lagi aku akan ke kantor." Sambungan telepon pun akhirnya diputuskan oleh Barun.
__ADS_1
Pria itu segera pergi ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Jletak!!
Sabhira terperanjat duduk di atas kasur karena mendengar bunyi benturan pada lantai yang cukup keras. Gadis itu mencari ke sumber suara.
"Tuan Barun!" pekik Sabhira ketika melihat suaminya tergeletak di lantai sambil meringis dan memegangi kepalanya.
"Tolong, bantu aku," pinta Barun, suaranya menjadi parau. Matanya pun berkali-kali dirapatkan.
Sabhira segera mengangkat Barun dan memapahnya menuju sofa panjang yang terdapat sandaran.
"Pelan-pelan duduknya," kata Sabhira membantu suaminya duduk di sofa. Kedua kaki Barun sengaja diangkat ke atas supaya ototnya tidak ada yang terjepit. "Kamu tunggu di sini, biar aku panggilkan dokter untuk memeriksamu," lanjutnya kemudian menghampiri telepon rumah yang ada di atas meja kecil samping kasur. "Tuan, nomor telepon dokter berapa? aku sungguh tidak tahu," tanyanya kemudian.
"Iiisshhh ... " Barun mencoba mengingatnya. "Delapan tujuh sembilan enam tujuh lima empat nol."
Sabhira panik, ia pun sampai tak sadar sejak tadi menggigiti kuku jarinya.
Sambungan telepon itu pun di putus oleh pihak rumah sakit. Sabhira menghampiri Barun kembali.
"Apa ada yang terasa sakit?" tanya Sabhira. Gadis itu bingung harus bertanya apa. Barun hanya melirik, jelas sekali di raut wajahnya kalau dia malas sekali berbicara karena yang terasa sakit bagian kepalanya. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban. "Bagian mana yang sakit?" tanyanya lagi. Tangan Barun menunjukkan ke bagian belakang kepalanya.
"Tunggu sebentar ya, aku akan mengambilkan kompres untukmu," ucap Sabhira yang hendak berdiri namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Barun.
"Tidak usah. Tunggu dokter saja," pinta pria itu yang kini terlihat lemah.
"Baiklah." Sabhira duduk kembali di lantai.
Sepuluh menit berlalu, terdengar suara ketukan pintu kamar. Sabhira bangun untuk membukakan pintu. Pupil matanya terbuka lebar tatkala melihat nenek bersama seorang pria mengenakan jas putih yang membawa tas dan juga stetoskop ditangannya. Pria itu tidak sendiri, melainkan bersama dua orang perawat yang menemaninya ke mansion keluarga Praya.
__ADS_1
"Dimana Barun, Sabhira?" tanya nenek.
Sabhira bergeser ke samping untuk memberi jalan pada mereka. "Di dalam nek, mari silahkan masuk," jawabnya mempersilahkan semua orang itu masuk ke dalam.
...----------------...
Setelah diperiksa oleh dokter, beruntung Barun tidak ada luka serius di kepala maupun bagian tubuh lainnya. Sabhira dan juga nenek bisa bernapas lega.
"Sabhira tolong jaga Barun ya sampai dia benar-benar pulih. Nenek cuma takut dia nekat pergi bekerja," ucap nenek yang merasa khawatir pada cucunya itu.
Meskipun wanita berusia senja itu tadi sempat marah besar pada Barun. Tetap saja rasa sayangnya tidak dapat hilang begitu saja.
"Iya, Nenek tenang saja ya. Biar aku yang akan merawat Barun sampai sembuh," jawab Sabhira yang sangat meyakinkan hati sang nenek. Bagi gadis itu, sekarang hanya nenek yang bisa menjadi orang tua untuknya.
Nenek pun akhirnya keluar dari kamar. Sabhira segera menutup pintu lalu membuka gorden kamar lebar-lebar. Barun yang sudah pindah ke atas kasur pun bisa tidur nyenyak.
"Yah gagal deh melamar pekerjaan hari ini. Padahal aku ingin sekali mulai bekerja, tapi insiden yang menimpanya sangat mendadak sekali," gumam Sabhira sambil berdiri di samping kasur dan memperhatikan wajah Barun yang terpejam.
Sabhira pergi ke kamar mandi, sebab memang sejak tadi ia belum mandi sama sekali. Bahkan nyawanya saat bangun tidur saja di paksa untuk kumpul.
Seusai mandi entah kenapa bukannya segar malah menjadi tambah mengantuk. Namun rasa kantuk yang mulai menguasai dirinya, masih bisa dikalahkan dengan rasa lapar yang mendera. Sabhira memutuskan untuk keluar kamar dan sarapan di ruang makan.
Ketika ia berjalan, kondisi mansion begitu sepi. Dekorasi yang semalam sempat terpasang pun, sudah dibuka dan berubah seperti awal lagi.
"Apa ini yang di sebut dengan orang kaya? mereka punya uang banyak dan sesuka hati bisa mengadakan pesta dan besoknya kembali bersantai. Beda sekali dengan golongan seperti keluargaku dulu. Bahkan pukul segini saja, tenda dekorasi di depan rumah masih ada. Terus masih banyak orang yang datang ke rumah," gumam Sabhira dalam hatinya sepanjang perjalanan menuju ruang makan.
Setibanya di meja makan pun tidak ada siapapun. Sabhira mengira kalau nenek dan Erzal sudah sarapan terlebih dahulu. Terlebih ketika lauk pauk masih tersusun rapih di atas meja makan.
Sabhira duduk di salah satu kursi dan mulai menyantap hidangan yang telah dimasak oleh pelayan di dapur. Berbagai macam makanan itu membuat nafsu makan Sabhira terus bertambah. Gadis itu bahkan tidak sadar kalau ia mengambil banyak di atas piring.
__ADS_1
"Kau yakin akan makan sebanyak itu?"
To be continue ...