
Sabhira membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Yang niat awalnya ingin menumpang tapi setelah melihat dompet Barun tergeletak di atas dashboard. Sabhira pun akhirnya memilih mengambil beberapa lembar uang dari dompet suaminya itu.
Karena terburu-buru, gadis itu sampai tidak sadar kalau dompetnya terjatuh ke dekat pedal gas. Ini adalah kali kedua Sabhira mengambil uang dari dompet sang suami tanpa izin.
Saat hendak keluar, Sabhira melihat Barun yang tengah berjalan ke arah mobil. Raut wajahnya tampak kesal sekali. Pria itu bahkan mempercepat langkahnya.
Tiba-tiba ponsel Barun berdering, ia segera menjawabnya.
"Hallo?" Barun mulai berbicara lewat sambungan telepon dari asistennya itu. Ia melihat sekilas map yang ada di tangannya. Akan tetapi setelah mendapat informasi terbaru dari asistennya, Barun berbalik badan dan kembali masuk ke dalam mansion.
Sabhira bernapas lega setelah melihat Barun masuk lagi ke dalam. Ia segera keluar dari mobil dan menutup kembali pintunya dengan hati-hati. Sabhira berlari menuju pinggir jalan raya yang cukup ramai.
Gadis itu menghentikan bajaj dengan memberi kode lewat lambaian tangannya. Kemudian bajaj pun berhenti, Sabhira menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Barun tidak melihatnya, setelah itu masuk ke dalam.
"Jalan Bang!" perintah Sabhira dan sopir bajaj pun mengangguk patuh.
Seketika sopir bajaj menghentikan bajajnya tidak jauh dari mansion keluarga Praya. Pria itu menoleh ke belakang.
"Nona yang waktu itu naik bajaj saya sampai ujung kota bukan?" tanya sopir itu sambil berbalik badan dan menunjuk ke arah Sabhira.
Gadis itu terdiam sejenak mencoba mengingat kembali, dan ternyata benar. Sopir yang sama untuk kedua kalinya. Sabhira hanya cengegesan sambil mengangguk.
"Sekarang Nona mau diantar kemana?" tanya sopir bajaj lagi. Sabhira pun memberitahu kartu nama yang diberikan Erzal pada sopir bajaj itu.
"Oh iya iya, alamatnya tidak jauh dari sini." Sopir itu berbalik badan kembali lalu mengandarai bajaj nya.
Sementara itu, Barun yang baru masuk ke dalam mobil merasa aneh ketika hendak menginjak pedal gas mobilnya. Seperti ada yang mengganjal. Barun membungkuk dan menemukan dompetnya di sana.
"Siapa yang menjatuhkan dompetku? apa jangan-jangan ... Sabhira?" Barun mulai menerka lalu mengambil dompetnya dan membukanya. Benar saja, isi lembaran uang yang ada di dalam dompet itu jumlahnya berkurang. "Awas kau ya Sabhira!" ancam Barun dengan penuh penekanan.
Pria itu langsung melajukan mobilnya ke kantor, karena dirinya sudah di tunggu klien untuk meeting.
...----------------...
Sabhira memberikan dua lembar uang kepada sopir bajaj saat sudah sampai dan turun dari bajaj tersebut.
__ADS_1
"Maaf Nona saya tidak punya kembalian," kata sopir itu. Wajahnya memelas dan Sabhira pun tidak tega.
"Ambil saja kembaliannya." Sabhira tidak ingin berlama-lama. Ia pun pergi dari hadapan sopir bajaj itu.
Saat masuk ke dalam lobby, Sabhira langsung menemui resepsionis.
"Permisi, boleh saya bertemu dengan Tuan Erzal Praya, pemilik perusahaan ini?" tanya Sabhira dengan sopan.
Kedua resepsionis yang ada di depannya saling bertukar pandang. Mereka tidak percaya, ada seorang gadis yang mencari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Boleh saya tahu nama Anda, Nona?" tanya salah satu dari resepsionis itu.
"Sabhira Irani."
"Mohon ditunggu sebentar," ucap resepsionis itu lalu tersenyum. Sabhira pun dengan sabar menunggu.
Beberapa saat kemudian, gagang telepon pun di taruh kembali. "Nona Sabhira, Anda bisa langsung naik ke atas. Tepatnya di lantai lima. Nanti, Anda langsung saja masuk ke ruangan Tuan Erzal," jelas resepsionis yang tadi menelepon Erzal.
"Terima kasih banyak." Sabhira menunduk hormat lalu pergi dari hadapan mereka.
Barun Praya, President Executive Director. Seketika dirinya merasa resah sekaligus deg deg kan. Gadis itu berjalan lagi hingga tiba di pintu pojok di lantai ini.
Di depan pintunya tertulis Erzal Praya, Cheif Executive Officer. Sabhira mengetuk pintu ruang kerja Erzal.
*Tok, tok, tok*
"Ya, masuk!"
Sabhira meraih handle pintu lalu membukanya. Gadis itu melihat Erzal sedang duduk di kursi kebesarannya dengan sebuah laptop yang menyala di atas mejanya.
"Permisi Kak," ucap Sabhira sopan.
"Sini masuk. Aku kan menjelaskan tugas-tugasmu," ajak Erzal, kemudian Sabhira menutup kembali pintu dan berjalan ke arah pemilik ruangan itu.
Erzal pun berdiri lalu mempersilahkan Sabhira duduk di sofa berbentuk huruf L. "Silahkan."
__ADS_1
Keduanya pun duduk di sofa tersebut. Sabhira tampak berbeda di mata Erzal saat ini. Terlebih dengan tampilan berpakaian yang begitu formal, menunjukkan kalau gadis itu terlihat berkelas.
"Kau pasti dapat pakaian ini dari lemari Barun bukan?" tanya Erzal tiba-tiba menyinggung pakaian yang dikenakan oleh Sabhira saat ini.
Gadis itu rasanya ingin sekali berbohong. Tapi saat melihat tatapan Erzal, ia merasa kalau pria itu sudah tahu semua tentang pakaian kantor ini.
"Ya, aku juga tidak punya pakaian yang seperti ini," jawab Sabhira yang ala kadarnya.
"Aku tidak yakin kalau Barun akan tidak marah padamu ketika dia melihat kamu mengenakan pakaian itu." Ucapan Erzal mengundang tanda tanya besar untuk Sabhira.
"Maksudnya? aku benar-benar tidak paham Kak," tanya Sabhira dengan sorot matanya yang menuntut penjelasan.
"Hmm, kapan-kapan akan aku beritahu. Sekarang, aku akan menjabarkan tugas mu dulu selama berada dibawah kepemimpinanku," jawab Erzal yang menurutnya belum waktunya Sabhira mengetahui semuanya.
"Baiklah, apa saja tuh tugasku?" Sabhira tampak siap mendengarkan Erzal. Lalu Erzal pun mulai berbicara menjelaskan.
"Jadi itulah tugasmu. Kamu di sini hanya selama sekertarisku masuk pasca cuti menikahnya. Selama itu pula, di kantor kau harus memanggilku Tuan Erzal dan juga jaga sikapmu," pungkas Erzal di akhir penjelasannya.
"Baik Ka-- ... " Sabhira melonggarkan tenggorokannya. "Maksudku Tuan. Aku sudah paham sekarang," kata Sabhira dengan sangat yakin dan Erzal pun tersenyum senang.
"Oh iya, sebentar." Erzal berdiri lalu berjalan ke meja kerjanya. Pria itu mengambil setumpuk map lalu membawanya untuk diberikan pada Sabhira. "Ini ada beberapa dokumen yang sudah aku periksa. Setelah ini, silahkan ke meja kerjamu yang ada di depan ruangan ini. Input semua datanya ke dalam laptop ... " Erzal tertegun beberapa saat, lalu teringat sesuatu. "Seingatku semua nama file di laptop sudah sama dengan yang tertera di depan map-map ini," lanjut pria itu.
"Oh iya Tuan, nanti akan aku kerjakan." Sabhira kemudian berdiri sambil membawa tumpukan map lalu keluar dari ruang kerja Erzal. Gadis itu sangat bersemangat sekali.
...----------------...
Satu jam berlalu, Sabhira akhirnya mampu melakukan tugasnya dengan baik.
"Ah akhirnya ... " Jemari tangannya ditautkan lalu didorong ke depan bersamaan dengan lehernya yang digerakkan ke kanan dan kiri.
Barun yang baru saja keluar dari lift, hendak pergi ke ruang kerjanya. Tiba-tiba saja pandangannya terhenti pada sosok yang tak asing baginya berada di depan ruang kerja kakak sepupunya itu. Dengan langkah yang pasti, Barun menghampiri sosok itu.
Disaat Barun berhenti di depan meja yang kini tempat Sabhira bekerja, saat itu juga Sabhira menatap mata yang memberinya tatapan membunuh.
"Kau?"
__ADS_1
To be continue ...