
Setelah 'bermain' semalam suntuk, sepasang pengantin baru itu masih enggan membuka matanya. Padahal terik matahari telah memaksa masuk melalui celah gorden di kamar mereka.
Barun perlahan membuka matanya, ia menoleh ke samping lalu memiringkan tubuhnya dengan sebelah tangan yang digunakan sebagai bantalan. Raut wajah cantik yang miliki oleh Sabhira membuat kebanggaan tersendiri untuknya. Terlebih kalau Sabhira benar-benar belum terjamah oleh siapapun selain dirinya.
Tangannya kemudian membe lai lembut pipi mulus sang istri. Ketika sedang asik memandangi wanita yang tengah terpejam di sebelahnya itu, Barun tersentak kaget karena Sabhira tiba-tiba membuka matanya.
"Hah! sedang apa kau di sini?" Sabhira terlonjak duduk di atas tempat tidur. Mendadak hawa dingin menyapu bulu halus di tubuhnya. Sabhira lebih terkejut lagi saat melihat tubuhnya sama sekali tidak berpakaian. "Kemana pakaianku?" tanyanya sambil terbelalak dan menjauhkan wajahnya. Sedangkan Barun perlahan duduk dengan berte lanjang dada. "Aaaa. Kenapa kau juga tidak berpakaian juga?" pekik Sabhira menutup kedua mata dengan sebelah telapak tangannya, karena tangan yang satunya menahan selimut untuk menutupi bagian dadanya.
"Kau tidak ingat apa yang telah kita lakukan semalam suntuk Sabhira?" tanya Barun menelisik sambil memajukan wajahnya dan juga bersilang dada.
"Se-semalam ... ?" Sabhira mencoba mengingatnya lagi. Sesaat kemudian ia membuang muka lalu menutup rapat-rapat matanya. Mau, ia merasa sangat malu sekali. Kesadarannya pun sudah berangsur pulih.
Barun baru saja melihat petunjuk waktu yang terpasang di kamar, menoleh ke arah Sabhira yang wajahnya merah padam karena menahan malu. "Sudah pukul tujuh. Lebih baik kau segera mandi, lalu kita sarapan bersama. Aku libur hari ini. Atau kau ingin aku antar ke suatu tempat mungkin? aku siap mengantarmu," ucap Barun. Sedangkan gadis yang ada di depannya terperangah. Setelah mendengar tutur kata lembut yang keluar dari mulut Barun, dia merasa tidak percaya.
"Apa karena kegiatan semalam dia jadi berubah secepat ini?" batin Sabhira bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ya sudah kalau kau tidak mau mandi, biar aku saja yang mandi." Barun turun dari kasur kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat, Sabhira pun turun dari kasur. Ia terkejut ketika kemeja putih yang sempat dipakainya semalam tergeletak di atas lantai bersamaan dengan pakaian Barun. Kemudian ia memungut kemeja putih yang kebesaran itu dan memakainya.
Sabhira baru menyadari kalau pakaian yang kemarin Barun beli masih tersimpan rapih di dalam paper bag dengan tertera nama butik di depannya. Ia menghampiri beberapa paper bag yang berada di dekat lemari buffet.
"Ya ampun. Kalau tahu ada di sini semalam aku mending pakai salah satu dari sekian banyak pakaian yang kemarin di beli. Mungkin kejadian semalam tidak akan terjadi," keluh Sabhira yang masih merasakan nyeri di daerah sensitifnya.
Gadis itu membawa semua paper bag itu ke atas sofa panjang. Kemudian ia pun mulai memilahnya.
Beberapa menit kemudian. Sabhira baru saja selesai merapihkan pakaian miliknya itu ke dalam lemari Barun yang tempatnya masih kosong. Di saat yang bersamaan pula, Barun keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk putih dari pinggang sampai kutut.
Sabhira bersusah payah menelan ludahnya saat melihat bagian dada Barun yang terpampang nyata. Perasaan aneh itu seperti terulang kembali, ingatannya tentang semalam pun tak luput dari benaknya.
__ADS_1
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Ketagihan yang semalam?" tanya Barun antara meledek atau memang dirinya juga sama 'ketagihan'. Terlebih Sabhira memakai kemeja itu lagi, yang memang awalnya berhasil membuat 'adik kecilnya' terangsang.
"Ti-tidak. Terlalu percaya diri sekali kau Tuan. Tubuhku saja masih terasa remuk, mana mungkin ketagihan. Atau jangan-jangan kamu yang ketagihan, Tuan Barun." Skakmat. Sabhira berhasil membuat Barun tersipu malu. Ingin tersenyum tapi terlalu gengsi.
Selepas itu Sabhira tidak perduli. Ia segera pergi ke kamar mandi karena perutnya juga sudah sangat lapar sekali.
...----------------...
Di ruang makan, nenek dan Erzal baru saja selesai menikmati sarapan paginya.
"Nek, aku ke kantor dulu ya. Happy birthday, hadiah untuk nenek akan aku berikan nanti malam," kata Erzal berpamitan pada nenek.
"Hahaha kau ini, tidak usah repot-repot memberiku hadiah. Simpan saja uangmu untuk mencari wanita yang akan kau jadikan istri. Adikmu saja sudah menikah sekarang," sahut nenek seraya tertawa.
"Jadi nenek sudah merestui pernikahan mereka?" tanya Erzal yang mulai penasaran.
"Ya, benar juga sih. Nanti aku juga akan mencari calon istri sesuai yang nenek inginkan," jawab Erzal yang sebenarnya merasa iri dengan Barun. Pria itu mulai tidak nyaman, apalagi neneknya telah memberikan restu atas pernikahan Barun.
"Jangan seperti itu Zal, carilah wanita yang pas dan cocok menurutmu. Kan yang mau menikah itu kamu, bukan nenek!" seru nenek membuat Erzal salah tingkah.
"Aku berangkat ya," pamit Erzal lalu mencium kening nenek, setelah itu pergi berangkat ke kantor.
Nenek pun berdiri setelah Erzal telah tidak ada lagi di sana. Bersamaan dengan Barun dan Sabhira yang baru saja tiba di ruang makan.
"Pagi Nek," sapa Sabhira dengan seyum sumringahnya seperti biasa.
"Pagi," sahut nenek dengan raut wajahnya yang datar. "Oh iya Barun, setelah kau makan, aku tunggu kau di kamarku. Ada yang ingin aku sampaikan. Dan itu penting," ucapnya kemudian.
"Oke Nek," jawab Barun seraya mengangguk paham.
__ADS_1
"Tapi omong-omong, kenapa jam segini kau baru keluar dari kamar? Kau tidak pergi bekerja?" tanya nenek menelisik Barun dari ujung kepala hingga kaki yang kini hanya menggunakan pakaian santai.
"Dan kau Sabhira, kenapa pakaianmu terbuka sekali? Apa tidak ada pakaian lain?" tanya nenek lagi yang kali ini tertuju pada Sabhira, terdengar ketus. Karena cucu menantunya itu memakai dress dengan bagian dada yang cukup terbuka serta panjangnya hanya sampai lutut.
"Iya Nek, aku libur. Karena hari ini aku sedang tidak enak badan. Kalau untuk pakaian Sabhira, kemarin memang aku yang sengaja memilihkan model ini untuknya," jelas Barun dengan sikap santainya menghadapi sang nenek yang sensitif karena pikirannya yang masih kolot.
"Oh ya sudah," kata nenek mengangguk sambil menatap Barun dan Sabhira secara bergantian, lalu pergi meninggalkan keduanya untuk ke kamar.
Seusai nenek pergi, Sabhira langsung duduk di kursi. Rasa laparnya sudah tidak tertahankan lagi. Setelah semalam hampir kehabisan tenaga untuk melawan Barun menghentikan serangan yang bertubi-tubi, walau pada akhirnya Sabhira harus mengalah. Pikiran dan tubuhnya semakin lama saling bersinggungan.
Barun yang melihat Sabhira makan sangat lahap, hanya menggelengkan kepalanya. Tidak sampai sepuluh menit, Sabhira berhasil menghabiskan makanannya.
"Kau mau tambah lagi?" tanya Barun yang makanannya masih utuh. Pria itu memang tidak bisa makan banyak seperti Sabhira, meski perutnya kosong sekalipun. Makanya tidak heran kalau tubuhnya sangat perfect dengan otot-otot yang menonjol dibagian lengan dan juga perut.
"Mau. Aku sangat lapar sekali. Tenagaku sudah terkuras semalam, jadi jangan menghalangi aku untuk makan banyak," jawab Sabhira yang sedang mengambil makanannya lagi di piring yang kedua.
"Iya, iya, iya. Baiklah, terserah kau saja," sahut Barun yang sedang tidak ingin berdebat dengan istrinya itu.
Setengah jam berlalu, keduanya pun telah merasa kenyang. Terlebih Sabhira yang telah bersendawa sangat keras karena sangat kekenyangan. Dan kini dirinya enggan berdiri.
"Tuan Barun, bisakah kau menggendongku untuk ke kamar? Aku tidak kuat jalan, perutku terasa penuh sekali." Sabhira mengangkat kedua tangannya dengan wajah yang memelas.
Barun menghela napas panjang, tanpa menjawab apapun pria itu melakukan sesuai permintaan istrinya. "Berat badanmu sepertinya bertambah banyak setelah menghabiskan semua makanan yang di meja."
Mendengar perkataan sang suami, Sabhira terbelalak. Gadis itu tidak terima. "Masa iya? kau kalau ngomong jangan ngadi-ngadi Tuan!"
Barun hanya bersikap acuh sambil mengangkat kedua bahunya seolah berkata 'Memang kenyataannya seperti itu'.
To be continue ...
__ADS_1