Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
PERHATIAN


__ADS_3

Mobil yang Barun kendarai sengaja berhenti cukup jauh dari tempat keberadaan Erzal berada. Pria itu kemudian turun dan berjalan kaki ke sebuah gedung yang tampak sepi jika di lihat dari luar.


Barun sangat berhati-hati untuk sampai masuk ke dalam gedung tersebut. Saat ada kesempatan, ia melesat dengan cepat masuk ke dalam.


Ketika berhasil masuk ke dalam, Barun mencium aroma alkohol yang sangat menyengat. Ia pun beberapa kali sampai menahan napas.


"Tolong ... huhuhuhu."


Pendengaran Barun seketika tajam.


"Tolong aku, siapapun yang ada di luar!"


Suara teriakan wanita itu begitu jelas terdengar di telinga Barun. Langkahnya semakin dipercepat, namun ia tetap berhati-hati.


"Tolong!"


"Aku yakin itu suara Sabhira. Tunggu aku, Sabhira. Aku akan segera menyelamatkanmu!" tekad Barun dalam hatinya.


Akan tetapi saat Barun hendak melewati sebuah ruangan yang terlihat banyak sekali asap, ia mencari cara supaya tidak dicurigai siapapun yang ada di sana. Sampai suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, membuat pria itu segera mencari tempat persembunyian.


Gedung itu seperti tempat yang gagal huni. Lampu yang redup serta banyak ruangan kosong di sana.


Setelah cukup lama menjadi 'tikus' di sana, Barun akhirnya bisa masuk ke dalam ruangan yang ia yakini tempat Sabhira berada.


Dan benar saja, sorot matanya tampak sedih melihat kondisi Sabhira saat ini. Wajah gadis itu penuh memar dan pakaiannya pun hampir separuhnya sobek. Barun muncul dari sisi gelap yang ada di ruangan itu.


Seketika Sabhira terperangah, seakan tidak percaya dengan kedatangan Barun di sana.


"Kau suamiku? apa kau benar suamiku?" tanya Sabhira dengan pandangan kosong yang ia berikan pada Barun. Gadis itu pun kemudian berdiri.


Pria itu langsung memeluk istrinya tanpa ragu. "Maafkan aku, maafkan semua yang telah aku lakukan padamu. Kenapa kau bisa seperti ini Sabhira?" ucapnya yang tanpa sadar air matanya pun menetes.


"Dia jahat padaku, aku kotor sekarang. Maafin aku ... " Sabhira menangis pilu. Tubuhnya bergetar. Saat ini bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi juga hatinya.

__ADS_1


Barun melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata istrinya. "Lebih baik, sekarang kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat keberadaan kita," ucapnya, merasa iba.


"Tapi mereka sudah membuatku--"


Barun dengan cepat menyuruh Sabhira diam, menempelkan jari telunjuknya pada bibir sang istri. Karena ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan tempat ia dan Sabhira berada.


"Ada seseorang yang akan kemari, dalam hitungan ketiga pegang tanganku erat-erat dan kita lari bersama," titah Barun yang disanggupi oleh Sabhira. "Satu ... " langkah kaki itu semakin terdengar. "Dua ... " semakin jelas sekali. "Tiga ... " Pintu ruangan pun terbuka.


Barun menarik tangan Sabhira kuat-kuat supaya tidak terlepas darinya. Orang yang akan masuk ke ruangan itu pun sangat tersentak kaget.


"Woi! tawanan lari!" teriak orang itu. Suaranya terdengar seorang pria. Tapi suara itu bukanlah suara Erzal. Lantas dimana Erzal?


Barun dan Sabhira berlari sekencang mungkin. Hingga tiba di halaman gedung Barun langsung menuju ke arah mobilnya yang diparkir cukup jauh dari sana serta dalam suasana ramai.


"Tuan aku ... gak ... kuat ... lagihhhhhh." Napas Sabhira tersengal-sengal karena berlari cukup kencang dan bahkan sampai tidak menghiraukan tubuhnya yang masih lemah akibat orang yang tega menyandranya.


"Apa kau masih kuat? sedikit lagi kita akan sampai," tanya Barun yang sudah merasa tidak tega.


"Rasanya aku mau pingsan," jawab Sabhira. Luka lebam bagian dada akibat kejadian waktu itu saja belum sepenuhnya pulih. Dan kini seakan terasa kembali.


Ketika sudah berjarak kurang lebih 50 meter, Barun lebih mempercepat lagi langkahnya. Sedangkan kondisi Sabhira sudah semakin melemah.


Sesampainya di mobil, Barun segera memasukkan Sabhira ke dalam. Kemudian ia pun masuk ke dalam juga dan duduk di kursi kemudi.


Barun bergerak cepat, karena saat ini Sabhira sedang membutuhkan pertolongan pertama pihak medis. Gadis itu sudah pingsann karena terlalu kelelahan.


"Sabhira bertahanlah," gumam Barun dalam hatinya. Sesekali ia menoleh ke arah sang istri yang sudah tampak lemah dan pucat. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam pun, membuat rasa kantuknya sirna seketika. Tak hanya itu, Barun berniat untuk libur di esok hari.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Barun tiba di rumah sakit terbesar di kota tersebut. Barun segera turun dan memanggil perawat yang akan membantunya keluar dari mobilnya. Tidak hanya Sabhira yang lelah, tapi Barun juga.


...----------------...

__ADS_1


Setelah dilakukan berbagai macam pemeriksaan oleh beberapa dokter yang berbeda, dan sempat mengalami penurunan pada detak jantung. Akhirnya dokter pun memutuskan supaya Sabhira di masukkan ke dalam ruang rawat inap, sebab semua hasilnya sudah bagus dan stabil.


Namun mata Sabhira masih enggan terbuka. Rasa traumanya sungguh membuat gadis itu enggan untuk melihat siapapun, terlebih seorang pria.


Barun menyelimuti istrinya lalu mengecup kening dengan mesra. Perlakuan lembut darinya saat ini membuat kaum perempuan siapapun yang berada di posisi Sabhira pasti merasa terharu.


Pria itu mendekatkan kursi ke samping tempat tidur. Ia memegang tangan Sabhira dan menggenggamnya. Lalu tanpa sadar ia tertidur pulas dengan posis duduk.


...----------------...


Beberapa jam berlalu, seorang perawat masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan pada Sabhira. Barun pun terbangun dengan kedatangan perawat itu di sana.


"Mohon maaf mengganggu ya Tuan, saya mau izin untuk memeriksakan pasien," kata perawat itu, memegang papan yang terdapat selembar kertas dan juga bolpoin di atasnya.


"Silahkan Sus," jawab Barun kemudian berdiri. Rasa kantuk pun masih menguasai dirinya. Hingga tak sadar, Barun merebahkan tubuhnya di sofa lalu tertidur kembali. Perawat yang melihat itu hanya menghela napas panjang sambil fokus memeriksakan Sabhira.


...----------------...


Deringan telepon sejak tadi berbunyi dari dalam saku celana Barun. Sang empunya masih asik tertidur karena semalaman begadang. Pria itu terlalu pulas, bahkan sampai tidak terasa dan juga tidak terdengar.


Sedangkan Sabhira pelan-pelan membuka matanya. Bayang-bayang kejadian kemarin tiba-tiba terlintas di kepalanya. Perawat itu segera membantu Sabhira yang mulai berteriak tidak jelas.


Kali ini, Barun yang mendengarnya langsung Sabhira berteriak. Pria itu terperanjat duduk dengan kepala yang terasa berputar.


"Ada apa dengannya istri saya Sus?" tanya Barun yang tampak gelisah. Pria itu mondar mandir di depan tempat tidur khusus pasien.


"Aaaahhhh! jangan sentuh aku, tolong! jangan! pergi sana! PERGI!"


Barun langsung memeluk Sabhira yang sudah diluar kendali. "Hei, ini aku Sabhira. Suamimu!" sentak nya. Pria itu meraup wajah sang istri lalu memberinya kecupan di keningnya. Mendengar kata suami, Sabhira akhirnya terdiam.


"Aku yakin kau pasti bisa sembuh kembali seperti sebelumnya," ucap Brarun dalam hatinya yang penuh harap.


Perawat itu segera menyuntikkan obat penenang melalui selang infusnya. Perlahan Sabhira pun mulai tidur kembali.

__ADS_1


To be contiue ....


__ADS_2