Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
KOMPETISI DIMULAI


__ADS_3

Pagi tadi Sabhira berangkat ke perusahaan yang mengadakan kompetisi ajang pencarian model berbakat itu sendirian. Dia tidak ingin ditemani oleh Barun, sebab kali ini gadis itu ingin menjadi wanita mandiri seutuhnya.


Terlebih, Sabhira baru saja diberikan ponsel baru oleh suaminya. Meski selama ini dia tidak pernah memegang ponsel canggih keluaran masa kini, tapi otaknya cepat tanggap saat mengoperasikannya. Tentunya dibalik itu, ada Barun yang dengan sabar mengajari Sabhira.


Setelah satu jam menunggu di sebuah ruangan dengan beberapa orang peserta lainnya, akhirnya dua orang yang diyakini sebagai mentor dalam ajang tersebut tiba di hadapan mereka.


"Hallo, girls!" seru pria dengan sikap gemulai dan fashionable itu.


"Hai," jawab semua peserta serempak.


"Perkenalkan saya Jim dan partner saya, Von. Selama satu minggu ke depan, kalian semua akan kami arahkan bagaimana cara menjadi model yang sesuai minat para perusahaan fashion untuk menyewa jasa kalian tentunya di saat launching produk baru mereka. Untuk itu kami harapkan semuanya dapat mengikuti arahan dari kami dengan baik," kata Jim membuka perkenalan antara dirinya dan juga para peserta.


"Tuan Jim, kapan mulai kompetisi ini?" tanya Sabhira tiba-tiba, padahal Jim belum kelar menyelesaikan ucapannya.


Von pun membantu Jim untuk menjawabnya, "Pertanyaan Anda akan di jawab oleh Jim sebentar lagi. Jadi harap diam dulu!"


Sabhira seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Hal itu tentunya mengundang tatapan sinis dari peserta yang lain.


"Sejak kedatangan kami di hadapan kalian, itu tandanya kompetisi mulai berjalan. Jadi kami minta tolong supaya tetap jaga sikap dan ucapan diantara kita semua ... " Jim kemudian melihat ke arah Sabhira sambil menyeringai. "Dan untuk Anda, meskipun suami Anda pemegang sponsor terbanyak untuk acara ini. Tolong jangan bersikap layaknya Nyonya. Karena sekarang Anda dan yang lainnya itu sama-sama peserta. Satu lagi, kompetisi ini harus berjalan dengan adil. Maka dari itu kami pastikan kalau Anda jangan terlalu percaya diri untuk memenang, sebagai istri dari sponsor utama disini. Paham?" jelas Jim yang seakan tidak suka pada Sabhira. Namun nyatanya, pria itu hanya ingin bersikap tegas pada semua peserta dan menyamaratakannya.


Sesaat raut wajah Sabhira tertoreh kesedihan. "Kenapa semua orang disini melihatku seperti itu? Apa Tuan Barun diam-diam banyak penggemar fanatiknya? Aku jadi merasa terserang oleh mereka," katanya bermonolog dalam hati.


"Kau tenang saja Tuan Jim. Aku disini hanya ingin berkompetisi sama dengan yang lain. Jadi tolong jangan memberi pandangan buruk diawal pertemuan ini, sebelum semuanya tahu Sabhira Irani yang sebenarnya tanpa ada embel-embel Barun Praya di belakangku. Ini murni karena diriku sendiri ada di sini," papar Sabhira dengan suara lantang dan tegas.


Ah, tentunya semua peserta yang menatap sinis padanya tetap saja sinis. Mereka hanya takut tersaingi olehnya.


"Ya sudah, girls. Ayok kita mulai pelajaran di hari yang masih pagi ini. Karena setelah makan siang nanti, para juri akan datang untuk menilai. Bukan hanya itu perharinya pun pasti ada orang yang tereliminasi," ujar Jim. Hal itu membuat semua peserta terkejut dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Kemudian Jim mulai mengajarkan cara mereka berjalan, serta membuat mereka memantapkan kelebihan yang dimiliki mereka sendiri. Karena hal itu akan menjadi penilaian hari ini.

__ADS_1


...****************...


Tak terasa waktu makan siang pun tiba, semua peserta di arahkan menuju sebuah ruangan untuk melatih cara makan dengan sikap 'anggunly'. Sikap itu tentunya suatu saat dibutuhkan ketika mereka berada di acara-acara besar dengan berisi para petinggi semua.


"Oke girls. Seperti yang kalian lihat semua. Di depan kalian ada sekitar dua puluh meja dan kursi saling berpasangan. Nama kalian sudah ada di masing-masing kursi itu. Jadi harus duduk sesuai namanya sendiri. Lalu ... di atas mejanya ada tiga buah hidangan. Appetizer, main course, and than dessert. Nanti, masing-masing dari hidangan tersebut memiliki waktu kurang lebih sepuluh menit untuk menghabiskannya. Sampai disini paham?" jelas Jim, sebelum menyuruh mereka duduk.


"Paham," jawab mereka serempak.


Von pun kemudian mengambil alih. Karena dia membawa sebuah kertas yang berisi urutan nama peserta untuk duduk di masing-masing kursi tersebut.


"Baik, nanti setelah saya sebutkan namanya. Kalian langsung menempati kursi sesuai nomor urut yang saya ucapkan ya."


Lalu Von pun mulai menyebutkan nomor serta nama peserta. Selanjutnya para peserta pun langsung menempati kursi mereka.


Setelah semuanya duduk, Jim juga ikut duduk di kursinya yang berada di depan mereka.


"Sudah duduk semuanya?" tanya Jim sambil melihat mereka satu persatu.


"Baik, sekarang kita mulai cara duduk. Posisikan punggung kalian tegak, pandangan ke depan, tetap relaks. Lalu busungkan sedikit dadanya." Jim kemudian mengambil garpu di tangan kanan dan pisau di tangan kiri lalu mengangkatnya. "Lihat, garpu dan pisau harus tetap di tempat yang seharusnya. Kedua alat makan ini bisa digunakan jika hidangan yang tersedia seperti steak, maka harus pakai. Bisa juga memakai sendok, tapi letak garpu bergeser ke tangan kiri." Jim menurunkan tangannya dan beralih ke piring pertama yaitu appetizer.


Semua peserta masih memperhatikannya dengan seksama. Jim pun mulai melanjutkan penjelasanya lagi. Sedangkan Von pergi dari ruangan itu untuk mengambil pakaian yang akan mereka kenakan setelah ini


Hingga sampai semuanya menghabiskan dessert, Von pun kembali. Sedangkan Jim masih menerangkan hal-hal penting terkait makan dengan sikap 'anggunly'.


"Baik, semuanya harap berdiri dari kursi kalian masing-masing," titah Jim, lalu mereka pun patuh. "Setelah ini kalian akan melakukan ujian penilaian saat berjalan di atas catwalk, dan nanti Von akan memberikan kalian masing-masing gaun yang akan dikenakan untuk penilaian tersebut."


Kedua mata Sabhira membulat seketika, saat melihat sebagian besar gaun dengan bagian dada yang terbuka serta menunjukkan lekukan tubuh. Gadis itu bersusah payah menelan ludahnya.


"Kenapa gaunnya terbuka sekali. Bagaimana kalau Tuan Barun melihatnya? Apa dia akan marah padaku?" cicit Sabhira yang hatinya mulai gelisah. Pasalnya tadi pagi, Barun tidak berkata apapun terkait ajang kompetisi yang diikutinya selain kata-kata penyemangat.

__ADS_1


Von pun mulai membagikan gaun tersebut pada mereka.


"Sabhira ini punyamu," kata Von, terdengar ketus.


"Terima kasih, Von." Sabhira pun menerimanya.


"Sekarang, kalian ke ruang ganti untuk make up dan juga ganti pakaian kalian dengan gaun yang telah kalian terima. Kami beri waktu selama tiga puluh menit untuk kalian menyelesaikan itu semua. Oke?"


"Oke."


"Bagus, waktu kalian dimulai dari sekarang!" kata Von sambil menekan tombol pada stopwatch ditangannya. Waktu pun dimulai.


Saat baru saja masuk keruang ganti, tiba-tiba Sabhira merasakan sakit pada bagian perutnya. "Ada apa dengan perutku? apa karena tadi makan steak setengah matang? ah, bagaimana ini. Aku harus taruh dimana gaun ini? masa iya aku bawa ke toilet, kalau kecipratan air bisa-bisa aku kena omelan dari Jim dan Von," gumamnya mengeluh dan kebingungan.


Tiba-tiba salah seorang peserta menghampiri gadis itu karena hanya berdiri sambil menatap bingung ke depan. "Ada apa Sabhira?"


Gadis itu menoleh lalu tersenyum tipis. "Sepertinya aku ingin buang air, perutku sakit sekali," katanya.


Wanita itu pun memang melihat keringat yang mulai bercucuran dari kening Sabhira. "Sepertinya dia benar-benar mulas perut," batinnya bermonolog.


"Ada yang bisa aku bantu?" tawar wanita itu bersikap ramah.


Sabhira terdiam beberapa saat, dia berpikir sambil menatap wanita itu cukup lekat.


To be continue ...


...****************...


Santai dulu yuk ... aku punya rekomendasi novel nih untuk kalian. Seru dan juga menarik loh! yuk baca 😊

__ADS_1



__ADS_2