Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
MUNDUR LEBIH BAIK


__ADS_3

Selepas meeting, Barun bergegas untuk pergi melihat jalannya acara kompetisi model yang diikuti oleh Sabhira. Kebetulan tempat meeting nya, dekat dengan acara tersebut. Jadi, sekalian juga Barun menjemput istrinya di sana.


Ketika sampai di perusahaan penyelenggara, Barun berjalan dengan santainya masuk ke dalam. Namun saat pria itu hendak melewati ruang ganti khusus peserta kompetisi, dia mendengar suara keributan di dalamnya. Padahal acara penilaian sata ini setahunya sedang berlangsung.


Karena penasaran, Barun mendekat ke arah pintu. Semakin lama dia dengarkan, semakin tidak asing dengan suara yang ada di dalam. Pria itu membuka pintunya dengan hati-hati.


Matanya seketika membulat dengan sempurna setelah melihat orang yang dia kenali ada di depannya.


"Stop!" sela Barun, tegas.


Kedua wanita yang sedang berseteru itu menoleh bersamaan. Sabhira maupun Von merasa terkejut saat melihat keberadaan Barun di sana. Barun melangkah tanpa ragu mendekati mereka. Hingga tepat berdiri di depan keduanya, tatapan tajam pun tak urung pria itu berikan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berseteru seperti ini? Asal kalian tahu, suara kalian tuh terdengar sampai ke luar ruangan loh. Apa kalian tidak malu?" cecar Barun sambil menatap kedua orang wanita yang dihadapannya bergantian. Pria itu benar-benar sangat marah.


"Saya mohon maaf Tuan. Ini karena gaun yang Sabhira kenakan rusak. Katanya saat dia hendak turun dari panggung, talinya putus. Tadi setelah saya cek lagi, ternyata banyak goresan yang tampaknya ada oknum yang sengaja melakukan itu. Dan ... " Von melirik sinis ke arah Sabhira. Gadis itu sejak tadi memperhatikannya bicara dengan tatapan kesal. "Dia malah menuduhku melakukan itu," pungkas Von tersenyum menyeringai pada Sabhira.


Sontak gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah sang suami. Terlihat jelas pada raut wajah Barun yang masih kesal. Sabhira membuang napas pelan, menyingkirkan egonya sejenak.


"Aku tahu, aku salah telah menuduh dia tanpa bukti. Hanya saja, aku merasa semua orang disini menatapku seakan mereka tidak suka dengan keberadaan ku di acara ini," keluh Sabhira mengungkapkan segenap rasa yang mengganjal dihatinya.


"Von, I'm so sorry. Aku akan berbicara dengannya lebih dulu. Boleh tinggalkan kami berdua di sini?" pinta Barun dengan kerendahan hatinya. Amarahnya berangsur padam.


"Baik, Tuan. Saya permisi," pamit Von kemudian pergi dari ruangan tersebut.


Kini hanya ada Sabhira dan Barun di ruang ganti. Keduanya saling menatap.

__ADS_1


"Sabhira ... " Barun menghela napas berat. "Dari awal aku memang tidak yakin kau ikut acara ini. Menurutku, wajar sih kalau mereka tidak suka dengan keberadaan mu disini, itu karena mereka iri padamu ... " Sabhira mengerutkan keningnya namun masih terdiam, lalu Barun pun melanjutkan ucapannya lagi. "Kau ini istriku, yang aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu tentang posisiku di acara ini. Kalau kau mau berhenti lebih baik sekarang karena baru di awal, daripada nanti kalau sudah diakhir? sejujurnya aku sangat khawatir Sabhira. Dunia modelling itu tidak semulus kelihatannya, banyak sekali hal termasuk persaingan ketat kedepannya."


Sabhira pun tertegun sambil berpikir keras. Gadis itu dihadapkan pada dua pilihan, lanjut atau berhenti.


"Kalau kau lanjut, kau harus siap mental dengan para pesaing mu yang mungkin akan lebih licik daripada hal yang sekarang kau hadapi. Tetapi, kalau kau berhenti ... " Barun melangkah semakin mendekati Sabhira. "Kau bisa membantuku dalam menentukan juara dalam ajang kompetisi ini, sekaligus ... " Sabhira menatap suaminya lebih lekat lagi, hingga jarak keduanya hanya satu langkah. "Aku akan mencari tahu siapa yang berani melakukan hal yang baru saja kau alami tadi, serta menghukumnya," pungkas Barun. Kedua penawaran yang diajukan oleh pria itu semakin membuat Sabhira bimbang.


Gadis itu ingin sekali tetap maju. Akan tetapi sayangnya, mental yang memang belum sepenuhnya pulih atas kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.


Sabhira menghembuskan napas pelan, lantas Barun pun mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menduga Sabhira akan mengatakan sebuah keputusan padanya, dan pria itu yakin Sabhira akan memutuskan hal yang sangat diharapkannya.


"Baiklah, aku akan berhenti dari ajang kompetisi ini. Entah kenapa, aku belum siap untuk menghadapi dunia modelling yang sangat membuatku ketar-ketir," jawab Sabhira dengan segala kelapangan hatinya.


Menjadi seorang istri Barun Praya saja tidak mudah baginya. Terlebih jika memang dia harus menjadi orang terkenal juga. Bukan hanya banyak fans, tapi juga haters yang merajalela.


"Great! Terima kasih sudah membuatku merasa lega. Yuk sekarang kita ke tempat acara bersamaku," ucap Barun kemudian meraih tangan Sabhira dan menggenggamnya.


Mereka pun keluar dari ruang ganti tersebut. Keputusan yang telah di ambil oleh gadis itu lebih baik menurut Barun.


...----------------...


Setelah penilaian selesai, semua peserta kembali ke ruang ganti. Sedangkan Jim dan Von serta para juri masih berkumpul di tempat acara bersama Barun dan juga Sabhira.


"Ada apa Tuan Barun?" tanya Jim.


"Pertama saya akan memberitahukan perihal pengunduran istri saya dari ajang ini ... dan yang kedua, saya ingin kalian tidak memberitahukannya terlebih dahulu pada semua peserta. Alasannya, saya maupun Sabhira ingin mengetahui lebih lanjut pelaku yang merusak gaun istri saya ini. Sampai disini paham?" kata Barun lalu bertanya kembali pada mereka.

__ADS_1


"Tunggu Tuan, tadi sewaktu istri Anda sedang kami nilai tidak ada yang aneh ataupun terlihat rusak pada gaun yang dia pakai, ada apa sebenarnya?" tanya salah satu juri yang memang mereka tidak menyadari hal itu.


"Maaf para juri yang terhormat, memang sewaktu Sabhira di atas panggung tidak terlihat kejanggalan sama sekali. Akan tetapi tadi saya sempat menghampirinya di ruang ganti, dan juga saya lihat kondisi gaun tersebut memang benar adanya," kata Von lalu melihat ke arah Sabhira. Ada rasa lega tersendiri di hati gadis itu ketika Von mampu berkata jujur di hadapan mereka. "Gaun itu terdapat goresan-goresan halus seperti sayatan sebuah silet, mungkin. Karena Sabhira memakai kemben di dalamnya, jadi tidak begitu terlihat," lanjut Von mengatakan hal yang dia lihat sebenarnya.


"Oh jadi begitu, baiklah," jawab salah satu juri yang lainnya, mulai paham.


"Iya, hanya sampai menemukan pelakunya saja. Setelah ketemu, nanti biar aku sendiri yang mengumumkan pada mereka tentang pengunduran diri istri saya," ucap Barun tegas.


"Jadi intinya untuk sementara waktu, Anda menggunakan Sabhira sebagai pancingan terhadap pelaku itu?" tanya Jim menyimpulkan.


"Iya, benar," jawab Barun yakin.


"Kalau pelakunya sudah ketemu, apa langsung kita diskualifikasi?" tanya Jim lagi.


"Tidak, jangan dulu. Kita tanya dia apa motifnya. Kalau memang masih bisa dalam nalar dan kewajaran, biarkan kita kasih dia kompensasi. Tetapi, kalau tidak masuk diakal dan ada hal yang akan merugikan acara ini, jelas itu harus didiskualifikasi," papar Barun dengan bijaksana.


"Baiklah kalau begitu, saya rasa ada benarnya juga yang di maksud oleh Tuan Barun barusan," kata salah satu juri. Jim dan Von pun menganggukkan kepala tanda setuju.


"Saya rasa itu saja, terima kasih atas waktunya," ucap Barun menutup meeting mereka.


Jim, Von serta beberapa juri pun meninggalkan tempat acara. Lalu diikuti Barun dan Sabhira.


...****************...


Selamat pagi, kali ini aku punya rekomendasi novel yang seru loh. Dijamin gak bakal bosen deh bacanya. Yuk mampir baca ke karya satu ini.

__ADS_1



__ADS_2