Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
WANITA ITU


__ADS_3

Kedua orang tua Sabhira memang benar-benar tidak tahu tentang keadaan yang sebenarnya. Pikiran mereka hanya terfokus pada kata-kata yang terakhir Barun ucapkan padanya. Menusuk tajam dan membuat hati mereka terluka cukup dalam.


"Tidak tahu Bu, sudah tidak usah membahas tentang mereka. Nanti bisa-bisa selera makanku hilang," jawab ayahnya Sabhira seraya menghembuskan napas panjang.


"Baiklah, yuk kita makan!" ajak sang istri mengalihkan pembicaraannya, lalu menyiapkan makanan ke atas piring untuk suaminya.


Keduanya pun menikmati makan siang bersama.


...----------------...


Mobil yang Barun kendarai telah sampai di halaman mansion. Pria itu bergegas turun, untuk segera masuk ke dalam.


Setibanya di ruang keluarga, Barun terpana akan dekorasi yang baru saja selesai di pasang oleh para pelayan rumah. Tampak cantik dan mewah.


"Kau darimana saja? kenapa dari tadi aku cari tidak ada?"


Sabhira berhasil membuat Barun tersentak kaget karena tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Aish! kenapa kau pandai sekali mengagetkan ku?" Barun menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan.


Sabhira melebarkan senyumnya. "Aku tidak mengagetkan mu, Tuan," sergahnya lalu berpindah posisi menjadi di depan Barun.


"Lalu kalau tidak mengagetkanku namanya apa?" tanya Barun sebisa mungkin mengontrol emosinya. Berkali-kali ia pun sampai mengatur napasnya karena masih sedikit memburu.


"Tuan, aku hanya ber-ta-nya." Sabhira tetap tidak ingin disalahkan.


"Terserah kau saja." Barun kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain di sekeliling ruang keluarga. "Kau tidak melihat nenek ataupun Mosev?" tanya nya kemudian dan tatapannya kembali pada Sabhira.


"Oh nenek tadi sempat ke ruang makan saat kau pergi. Dia juga menanyakan mu," ucap Sabhira yang kemudian menggelayut manja pada lengan berotot suaminya itu.


"Lalu?" tanya Barun menoleh ke arah sang istri dengan mengangkat sebelah alis matanya.


"Aku bilang saja tidak tahu. Ya, karena aku memang tidak tahu. Lagi pula kamu kemana sih? Aku cari kamu ke sekeliling mansion seperti orang kebingungan, tetap saja tidak ketemu," kata Sabhira yang ujung-ujungnya menuai protes kepada suaminya.


"Aku habis dari rumah orang tuamu," jawab Barun membuat Sabhira terkejut bukan main.

__ADS_1


"Kau ... kau ke rumah orang tuaku?" tanya gadis itu memastikan dan mengulangi ucapan suaminya.


"Iya, memangnya kenapa? ada yang salah?" Barun bertanya balik dengan entengnya, bahkan terkesan acuh. Padahal pria itu masih berpikir keras bagaimana caranya supaya hati kedua orang tua Sabhira bisa luluh.


"Kok gitu?" Sabhira melepaskan tangannya dari lengan Barun. Ia pun berpindah posisi berhadapan kembali dengan pria itu. Raut wajahnya seketika menjadi sendu. "Padahal aku kan ingin ikut. Kau tahu? aku kangen sekali dengan mereka."


Barun terenyuh dan tidak tega melihat gadis itu bersedih. Kedua telapak tangannya diletakkan di pipi kanan dan kiri Sabhira.


"Aku minta maaf, nanti kalau aku ke sana lagi, kamu boleh ikut. Aku janji," kata Barun lalu mengangkat jari kelingking tangan kanannya. Perlakuannya pada Sabhira layaknya seorang kakak pada adiknya.


Sabhira pun langsung tersenyum lalu melakukan hal yang sama pada Barun. Tak di sangka, Barun pun mencubit hidungnya cukup kencang, sampai hampir kehabisan napas.


Sontak gadis itu berkali-kali memukul tangan Barun supaya segera terlepas dari hidungnya. Karena ulah Barun, hidung Sabhira pun jadi memerah.


"Kau!" gertak gadis itu lalu mencubit perut suaminya yang berbentuk enam kotak itu.


Barun meringis seraya tertawa. "Ampun, ampun. Sabhira. Oke, oke ... aku minta maaf."


"Ck!" Sabhira berdecak merasa kesal, lalu berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya.


Sabhira menghentikan langkahnya kemudian menoleh seraya berkata, "Ke kamar!" lalu berjalan lagi.


Barun yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya lalu menyusul Sabhira ke kamar mereka.


...----------------...


Sore pun tiba, suara ketukan pintu membuat pemilik kamar menoleh bersamaan lalu saling bertukar pandang.


"Siapa itu?" tanya Barun ketika dirinya baru saja selesai bersiap.


"Aku tidak tahu," jawab Sabhira. Gadis itu baru saja selesai memakai anting di depan cermin. Karena penasaran, ia berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


Di saat yang bersamaan, Barun mendapat panggilan telepon dari asistennya. Pria itu keluar kamar menuju teras yang berada di samping kolam renang untuk menerim panggilan telepon tersebut.


"Mohon maaf mengganggu waktunya Nyonya. Saya ditugaskan Nyonya besar untuk merias Anda," ucap seorang wanita berparas cantik, penuh kesederhanaan dan juga memiliki tinggi badan yang sama dengannya. Senyumnya pun tampak ramah kepada Sabhira. Wanita itu pun tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa sepasang pakaian pengantin di lengannya dan juga sebuah kotak berwarna hitam yang berisi make up.

__ADS_1


"Harus pakai riasan khusus memangnya? Bukankah hanya acara penyambutan keluarga saja?" tanya Sabhira. Gadis itu terlihat bimbang, kemudian matanya melirik ke arah Barun yang masih sibuk dengan teleponnya. Ia berharap Barun dapat melihatnya, tapi nyatanya pria itu justru membelakangi dirinya.


"Maaf Nyonya, saya juga tidak tahu. Karena saya kesini hanya sesuai perintah dari atasan saya saja," jawab wanita itu jujur. Akan tetapi, sorot matanya tersirat ada penyesalan serta rasa kecewa yang tertahan.


"Oh gitu, ya sudah silahkan masuk," ajak Sabhira yang akhirnya mengizinkan wanita itu masuk ke dalam kamar.


"Dimana biasanya Nyonya berias?" tanya wanita itu, manik matanya menatap ke sekeliling kamar. Ada sebuah rindu, tapi bukan ranahnya sekarang.


"Di sini." Sabhira menunjuk ke arah meja rias. Wanita itu mempersilahkan Sabhira duduk di kursi depan meja rias dengan gerakan tangannya.


Wanita itu mulai menggerakkan kedua tangannya dengan sangat lihai. Bahkan rambut Sabhira pun di rombak ulang supaya hasil riasan tampak sempurna.


"Kau sepertinya sudah ahli dalam hal seperti ini?" tanya Sabhira ketika wanita itu masih sibuk menata rambutnya.


"Iya memang pada awalnya saya senang sekali dengan dunia fashion dan make up. Karena keduanya saling memiliki keterkaitan," jawab wanita itu dengan penuh rasa bangga.


Sedangkan di pinggir kolam, Barun baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan asistennya. Pria itu kemudian berjalan ke arah kamar dengan matanya yang masih memandang ke arah ponsel.


Sementara Sabhira yang tadi sudah selesai di ubah sedikit riasannya berdiri.


"Sekarang kau ganti dengan gaun ini ya," titah wanita itu seraya memberikan gaun yang tadi dibawanya.


"Baiklah," jawab Sabhira sambil tersenyum dan menerima gaun tersebut. Kemudian gadis itu pun pergi ke kamar mandi.


Saat Barun baru saja masuk ke dalam kamar, hanya ada wanita itu yang sedang membereskan kembali peralatan make up ke dalam kotak berwarna hitam.


"Sabhira, siapa yang datang?" tanya Barun lalu menaruh ponselnya ke dalam saku celana. Wajahnya menatap ke depan, lalu seketika tercekat dengan wanita yang kini ada di depannya.


Begitu pun dengan wanita tersebut, detak jantung serta napasnya seketika memburu ketika Barun bersuara. Pandangan keduanya pun saling terkunci.


...****************...


Siapa ya kira-kira wanita itu? ... relaks. Kita mampir dulu yuk ke novel menarik satu ini. Dijamin gak kalah bikin baper, 👍🏻


__ADS_1


__ADS_2