Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
TERANGSANG


__ADS_3

Maaf ya di bab ini agak-agak panas gitu. Kalau gak kuat bisa pusing sampai ke ubun-ubun. hehehe 😂


...****************...


Malam hari di mansion megah kediaman keluarga Praya. Para pelayan yang bertugas di dapur tengah sibuk mempersiapkan makan malam untuk para Tuan dan Nyonya mereka. Hidangan menu malam ini pun akan beraneka ragam, sebab kehadiran Sabhira membuat mereka menyajikan makanan khas kesukaan satu keluarga yang tidak hanya satu macam.


Di dalam kamar, Sabhira yang baru saja selesai mandi sedang asik duduk di tepi kasur hanya dengan lilitan handuk berwarna putih dari dada hingga pangkal paha. Ia merasa kedinginan karena kebingungan harus pakai pakaian apa, tiba-tiba sebuah ide pun muncul dibenaknya.


Sabhira membuka lemari pakaian Barun, lalu mengambil salah satu kemeja putih milik suaminya itu kemudian memakainya. Bersamaan saat memasang kancing terakhir pada kemeja itu, Barun masuk ke dalam kamar. Langkahnya terhenti beriringan dengan pintu yang tertutup rapat.


Sabhira menoleh lalu tersenyum pada Barun yang baru saja pulang dari kantor. Sementara itu, Barun tercekat melihat pemandangan indah nan menggoda di hadapannya. Balutan kemeja putih yang sedikit transparan itu membangkitkan naluri kelelakiannya.


"Kenapa kau pakai kemejaku?" tanya Barun yang kemudian berjalan kembali. Pria itu menutup lemari yang masih terbuka karena ulah Sabhira. Kalau dilihat dari gelagatnya Barun salah tingkah.


Bagaimana tidak? Sabhira sama sekali tidak memakai pakaian dalam. Oleh karena itu samar-samar terlihat dari balik kemeja, lekukan tubuh aduhai yang dimiliki Sabhira.


Barun bersusah payah menelan ludahnya. Apalagi wangi harum dari tubuh Sabhira benar-benar membuatnya sekejap mabuk kepayang. Salahkah kalau Barun ingin membuktikan kejantanannya sebagai seorang pria? tentu tidak.


"Pakaianku kotor, aku kedinginan karena tidak punya pakaian ganti. Jadi, aku kepikiran untuk meminjam kemeja mu saja," jawab Sabhira yang dengan cepat mundur beberapa langkah ke belakang.


Barun tersenyum menyeringai, lalu melangkah ke depan mendekati Sabhira. "Kau bilang pinjam? tapi kenapa tidak izin terlebih dahulu pada yang punya, hem?" tanya pria itu kemudian.


Sabhira tidak bisa mundur lagi, sebab tubuhnya sudah bersandar di dinding. "Apa kau ingin aku mati kedinginan? maaf kalau aku lancang," ucapnya, terdengar gelisah.


Barun mengangkat sebelah tangannya dan mulai membe lai pipi Sabhira dengan lembut. Napas gadis itu pun seketika memburu, bela ian tangan Barun membuat jantungnya berdetak sangat kuat.


Sabhira berusaha menghindar dari tatapan Barun yang sudah ditutupi oleh kabut gai rah. Perlahan tapi pasti, Barun memajukan wajahnya dan sedikit memiringkannya. Targetnya kali ini pada bibir Sabhira.

__ADS_1


*Hap* Gadis itu langsung berjongkok saat kedua mata Barun tertutup.


"Cium saja dinding itu!"


Ledekan Sabhira membuat pria itu mendadak membuka matanya dan merasa kesal.


"Damn it!" Barun berbalik badan. Ternyata Sabhira sudah berada di belakang pintu dan hendak keluar dari kamar. "Apa kau yakin akan berpakaian seperti itu? pelayan di mansion ini sangat banyak loh. Apa kau mau mereka semua memberi tatapan nakal padamu?" cecarnya sembari tersenyum menyeringai.


"Benar juga sih apa yang di katakan dia. Ah aku harus gimana?" resah Sabhira yang bermonolog dalam hati.


Dengan cepat Sabhira pun berbalik badan dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu dengan posisi kedua tangan yang ia lipat ke belakang. "Apa kau punya pakaian ganti untukku?" tanya gadis menatap penuh harap.


Barun berjalan mendekati istrinya. Tak disangka ketika keduanya telah saling berhadapan, pria itu menarik tangan Sabhira sampai hampir saja terhempas dan pada akhirnya jatuh ke dalam dekapan Barun sendiri.


Reflek, Sabhira merangkul suaminya. Sedangkan Barun yang mendapat respon tersebut tidak tinggal diam, dia merengkuh Sabhira hingga membuat jarak diantara keduanya menjadi sangat dekat. Mata keduanya saling terkunci.


"Kalau sudah begini apa kau yakin masih bisa nekat untuk kabur dariku, Sabhira?" Barun menaikkan sebelah alis matanya sambil tersenyum menyeringai.


Namun Barun malah mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Sabhira. "Tidak akan aku lepaskan!" ujarnya.


Tanpa aba-aba, Barun langsung menci um bibir Sabhira dengan penuh gai rah.


"Emmmpphhh." Sabhira mencoba kembali mendorong Barun. Namun sayang, usahanya gagal lagi. Barun semakin memperdalam ci umannya.


Lama kelamaan, permainan yang tadinya tergesa-gesay. Perlahan mendayu dan temponya menjadi lambat, namun semakin menuntut lebih. Barun membawa Sabhira ke atas tempat tidur dengan posisi keduanya masih saling berpagutan.


Tangan Barun menelusup masuk ke dalam kemeja putih miliknya yang dipakai oleh Sabhira. Sentuhan lembutnya membuat sang empunya menggeliat.

__ADS_1


"Aaaaahhh." Des ahan lolos begitu saja dari mulut Sabhira.


Pria yang dicap sebagai penyuka sesama jenis itu, sekarang sedang menunjukkan pada istrinya kalau ia adalah seorang pria sejati. Kini Sabhira hampir kehilangan napasnya. Gadis itu sampai memukul dada Barun supaya pria itu melepaskan pagutan nya.


Barun pun melepaskan pagutan itu seraya menyeringai. Sabhira mendengus kesal karena Barun telah mencuri ciuman pertamanya.


"Apa ini yang pertama kali untukmu?" tanya Barun dengan suara paraunya. Sabhira hanya terdiam dan menundukkan wajahnya, merasa malu. Selama ini Sabhira memang tidak pernah di sentuh oleh seorang pria, selain kecupan hangat di kening dari sang ayah.


"Kenapa? takut? kamu harus membayar segala kesalahanmu Sabhira." Suara baritone Barun membuat ada hal aneh yang menjalar di seluruh tubuh Sabhira.


Barun kemudian turun dari tempat tidur dan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Pria itu hanya menyisakan segitiga bermuda yang terlihat sangat sesak karena ada sesuatu yang menyembul di dalamnya. Setelah itu ia pun naik kembali ke atas kasur sambil merangkak.


"Aku suamimu dan aku berhak atas dirimu seutuhnya!" ucap Barun yang penuh penekanan. Pria itu mulai memberinya sentuhan-sentuhan lembut yang membuainya dan begitu memabukkan.


"Tuuuuaann, ahhh." Suara lenguhan lolos kembali dari bibir Sabhira. Mata sayu Barun menatap lekat manik hitam sang gadis yang kini ada dihadapannya. "Tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku!"


Barun mengarahkan tangan Sabhira menyentuh pedang saktinya. Gadis itu begitu tersentak dan menarik tangannya kembali. Rasa takut kembali menguasai dirinya. Ingin rasanya ia kabur dari kamar, namun kini dirinya telah berada di bawah kukungan Barun.


"Kenapa?" tanya pria yang berada di atasnya itu. Wajahnya pun diselimuti kabut ga irah.


"Aku takut ... bahkan penikahan kita ..." belum sempat Sabhira meneruskan kata-katanya, Barun sudah lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ci uman yang sedikit lebih lembut dan manis. Sabhira merasa terlena dibuatnya.


Kecupan Barun turun ke leher jenjang Sabhira. Lagi-lagi suara lenguhan itu membuah Barun semakin merasa ingin lebih. Terlebih ia melihat kedua bukit kembar yang begitu sangat menantang dari balik kemeja yang telah terbuka kancingnya entah sejak kapan.


Pria itu bermain-main di sana. Tak cukup sampai disitu, Barun yang sudah tidak tahan. Ia pun mengarahkan pedang saktinya ke palung mariana yang belum pernah sama sekali terjamah.


Sabhira hanya menutup rapat matanya, ia sama sekali tidak menatap Barun. Lenguhan panjang keluar dari mulutnya itu, rasa sakit yang teramat dahsyat begitu sangat terasa menyiksanya. Barun berhasil menembus dinding penghalang hanya dengan satu kali hentakan.

__ADS_1


Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka. Karena sebelumnya ritual malam pengantin baru yang tertunda itu, bisa terlaksana jua. Namun, akankah rasa cinta akan hadir setelah ini?


To be continue ...


__ADS_2