
"Kita pulang sekarang!" Sikap Barun semakin dingin lalu melangkahkan kaki meninggalkan mereka. Pria itu bahkan tidak memperdulikan Sabhira dan Mosev yang masih tetap berdiri serta saling bertukar pandang.
"Sepertinya aku mencium aroma kecemburuan," gumam Mosev yang masih didengar oleh Sabhira.
"Mana mungkin seperti itu," sahut Sabhira acuh, lalu berjalan meninggalkan Mosev sendirian.
"Hei, ada apa dengan sepasang suami istri itu? kenapa disini seolah aku yang salah?" gerutu Mosev yang kemudian mengikuti mereka.
...----------------...
Saat tiba di mansion. Mosev memilih langsung pergi ke kamar yang telah disediakan untuknya. Karena sudah merasa kantuk mulai menyerangnya, iapun pergi mandi serta berganti pakaian.
Sementara Barun dan Sabhira yang baru saja tiba di kamar mereka, sedang melakukan ancang-ancang untuk siapa yang lebih cepat masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Akan tetapi, kali ini Sabhira kalah cepat dengan Barun yang sudah mengambil handuk dan menyerobotnya masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu hanya mendengus kesal lalu memilih duduk di sofa santai sambil menaikkan kedua kakinya ke atas. Karena terlalu kekenyangan, lama kelamaan tanpa sadar Sabhira tertidur di sofa tersebut.
Setelah beberapa menit berlalu, Barun terkejut saat melihat Sabhira sedang tertidur pulas sampai mendengkur di atas sofa. Ia berjalan menghampiri gadis itu lalu berusaha membangunkannya.
"Hei, Sabhira. Bangun ... Kau harus mandi terlebih dahulu sebelum tidur," kata Barun sambil menggoyang-goyangkan bahu istrinya.
Namun sang istri hanya menggeliat dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Barun menghembuskan napas panjang lalu menggelengkan kepalanya.
"Kau ini wanita loh, kenapa sulit sekali dibangunkan?" Barun menggerutu dan mulai berpikir untuk mencari cara supaya Sabhira bisa terbangun.
"Hah!" Pria itu tersenyum ketika sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.
Barun memposisikan tubuhnya dibelakang sandaran sofa. Lalu kedua tangannya sengaja memegang bahu Sabhira.
Perlahan kedua tangannya naik turun di area leher putih nan mulus sang istri. Dimulai dari tempo yang lembut hingga mengga irahkan.
"Aah." Lenguhan pun keluar dari mulut Sabhira. Terlebih napasnya sudah mulai memburu.
"****! aku jadi terpancing seperti ini. Astaga ... Jangan salahkan aku jika menginginkanmu, Sabhira!" gumam Barun yang mulai ikut terhanyut dalam permainannya sendiri. Sementara kedua mata Sabhira pun mulai terbuka.
Ketika kesadarannya sudah penuh, gadis itu melonjak kaget yang kemudian turun dari sofa, menjauhi suaminya.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya sambil menunjuk. Namun barun dengan santainya duduk di sofa lalu mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum meremehkan.
"Siapa suruh aku bangunin, kau tidak bangun-bangun. Terus kalau sudah seperti itu, aku salah membangunkan mu dengan cara yang lembut? Memangnya kau ini mau aku bangunkan pakai kekerasan? menyiramkan mu air, misalnya?" papar Barun yang kemudian berdiri dan menghampiri Sabhira.
__ADS_1
Langkah kakinya semakin mendorong Sabhira berjalan ke belakang. "Mau apa lagi kau?" tanya gadis itu, mulai gugup.
"Kau pasti paham bukan, aku ingin apa?" Barun malah bertanya balik. Sikapnya saat ini semakin membuat Sabhira ketar-ketir.
Brak. Lagi dan lagi Barun membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya karena terhalang oleh pintu. Sabhira pun memejamkan matanya ketika wajah Barun semakin mendekati wajahnya dengan sedikit dimiringkan.
"Sekarang kau harus ... "
"Harus apa?" tanya Sabhira dengan cepat.
"Man ... di."
Gadis itu terhenyak, napasnya pun seolah-olah tertahan beberapa saat. Lalu dihembuskan amat berat. Barun pun langsung menjauh darinya. Meskipun perasaannya sedikit lega, tapi wajahnya menjadi merah merona karena malu. Ia mengusap lehernya sendiri.
"Oh iya, aku belum mandi," ucapnya lalu dengan seribu langkah. Gadis itu pergi ke kamar mandi.
Barun menghembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Memiliki istri yang usianya terpaut cukup jauh darinya itu memang agak sulit mengimbangi. Terlebih seorang gadis yang petakilan dan keras kepala seperti Sabhira.
...----------------...
Pagi ini, Barun yang bangun lebih dulu. Ia bergegas mandi lalu bersiap untuk pergi ke kantor. Permasalahan yang sedang menimpa perusahaannya itu masih harus ditanganinya secara langsung.
"Hoaaaaah!" Sabhira duduk di atas kasur sambil menguap dengan kedua tangan di angkat ke atas. Rasanya otot yang terasa kaku terhempas seketika.
Barun yang masih ada di kamar memberi lirikan tidak suka pada istrinya. "Sana cepat mandi, setelah itu sarapan," titahnya lalu pergi keluar dari kamar.
"Haaaah!" Hembusan napas kasar pun dilakukan oleh Sabhira ketika pintu kamar sudah ditutup kembali oleh Barun. Gadis itu turun dari kasur kemudian pergi ke kamar mandi.
Di ruang makan, nenek dan Mosev sudah berada di sana. Keduanya menyambut kedatangan Barun dengan senyuman.
"Pagi semuanya," sapa Barun lalu duduk di kursi kosong di samping nenek.
"Pagi ... Sabhira kemana? masih di kamar?" tanya nenek lalu menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Iya Nek. Baru bangun, sepertinya sekarang sedang mandi," jawab Barun. Akan tetapi tiba-tiba ponselnya berdering. Pria itu melihat sekilas ke layar benda pipih berbentuk persegi panjang yang menyala.
Barun segera menjawabnya seraya berdiri lalu pergi dari ruang makan, supaya tidak mengganggu kenyamanan orang-orang yang sedang menikmati sarapannya.
Beberapa menit kemudian, Sabhira keluar dari kamar lalu turun ke lantai utama. Saat sedang berjalan menuju meja makan, Barun yang baru saja selesai melakukan panggilan telepon berpapasan dengan istrinya.
__ADS_1
"Kau dari mana?" tanya Sabhira, menghentikan langkahnya.
"Habis terima telepon dari asistenku," jawab Barun, memasukkan ponsel ke dalam saku celana lalu menatap sang istri.
"Oh, kau sudah sarapan belum?" tanya Sabhira lagi.
"Belum, ini baru mau sarapan."
"Oh ya sudah. Yuk!" ajak Sabhira kemudian berjalan lebih dahulu. Barun pun mengangguk patuh dan mengikutinya.
Seperti biasa Sabhira menyiapkan makanan ke atas piring suaminya. Tak lupa segelas air putih dan juga susu tanpa rasa pun ia tuangkan ke gelas masing-masing. Setelah selesai, barulah ia duduk di kursi kosong sebelah suaminya lalu sarapan.
Kebiasaan itu bukan tanpa alasan, melainkan semakin membuatnya merasa memiliki tanggung jawab tersendiri sebagai seorang istri pada suami. Memastikan kalau suaminya makan makanan sehat yang di ambil oleh tangannya sendiri.
Meski terkadang baginya Barun itu menyebalkan. Tetap saja, Sabhira paham akan sebuah pernikahan yang harus ia jaga sekali seumur hidup.
Akan tetapi jangan pernah bertanya tentang perasaan. Jelas Sabhira mulai menyukai suaminya lebih dulu, hanya saja hal itu sangat terasa aneh jika ia harus menyatakannya setiap harim Sedangkan Barun tipikal pria yang enggan mengumbar kata cinta.
Omong-omong selama menyantap sarapan, ruang makan itu sangat sepi. Hanya ada dentingan yang keluar dari alat makan yang mereka pakai.
Namun kini, semuanya telah menyelesaikan makanannya hingga habis tak tersisa.
"Sabhira, bagaimana setelah ini kita berjalan-jalan ke taman belakang. Bukankah bulan ini sedang musim buah berry? benar begitu Nek?" ucap Mosev dengan penuh semangat.
Nenek terkekeh, "Iya kau benar. Ingatanmu sungguh tajam rupanya."
"Pasti dong Nek." Mosev tersenyum lebar. "Bagaimana Sabhira?" tawarnya kemudian.
Ketika Sabhira hendak menjawab, ekor matanya tak sengaja melihat Barun memberinya tatapan tidak suka. Ya, kalau sudah seperti ini Sabhira mana takut dengan tatapan suaminya itu. Toh sebentar lagi pria itu akan berangkat ke kantor, tidak ada salahnya kan pergi ke taman belakang dengan sepupunya sendiri, pikirnya demikian.
"Baiklah, tapi setelah aku membantu pelayan merapihkan meja makan ya," jawab Sabhira yang tak kalah semangatnya dengan Mosev.
Seketika Barun berdiri. "Aku berangkat sekarang." Kemudian pergi tanpa melirik ke arah istrinya.
To be continue ...
...****************...
Selamat pagi. Seperti biasa dong pastinya. Aku mau kasih tau rekomendasi novel bagus dan juga menarik dari Thatya0316 yang berjudul Pernikahan Tanpa Hati. Jangan lewatkan setiap babnya ya, yuk baca💞
__ADS_1