
Tiga hari sudah Sabhira berada di rumah sakit. Nenek yang selalu datang akhirnya bisa bernapas lega ketika kondisi Sabhira sudah semakin membaik.
Pagi ini Barun kembali ke kantor pihak berwajib untuk menyerahkan bukti rekaman CCTV setelah mendapat kabar dari sang nenek kalau hari ini Sabhira sudah bisa pulang ke mansion. Ternyata kerjasama dengan Ucok membuahkan hasil.
Erzal tidak hanya sekali datang dan membuat mental Sabhira merasa tertekan akan kehadirannya. Pria itu sengaja datang ketika Sabhira sedang sendirian.
Barun bahkan menaruh curiga pada pegawai rumah sakit yang menurutnya ada kerjasama dengan Erzal. Namun sampai saat ini, ia belum bisa memastikannya.
Di dalam kamar rawat inap, nenek sedang membantu Sabhira berkemas.
"Nek, apa Tuan Barun akan memaafkan ku?" tanya Sabhira yang masih selalu merasa bersalah terhadap kejadian di hati itu.
"Kau tenang saja. Cucuku itu sebenarnya baik hatinya dan ... mana mungkin dia berusaha sekeras ini untuk mencari tahu siapa pelaku yang tega membuatmu seperti ini, kalau bukan karena dia juga mencintaimu," jelas nenek berusaha menenangkan hati Sabhira.
"Benar begitu Nek?" Gadis itu masih belum merasa puas atas penjelasan nenek.
"Benar, kalau tidak percaya nanti setelah tiba di mansion coba tanyakan lagi padanya. Yang terpenting sekarang, kau jangan terlalu berpikir keras. Supaya masa pemulihan mu segera berakhir dan kau dinyatakan sembuh," jelas nenek lagi yang dengan sabar terus memberikan Sabhira semangat.
"Baik, Nek."
Ketukan pintu kamar membuat keduanya bersamaan menoleh ke arah yang sama. Ternyata yang muncul dari balik pintu itu, seorang perawat yang membawa sebuah map putih berukuran A-empat.
"Permisi, Nyonya. Ini berkas hasil pemeriksaan selama Nyonya Sabhira di rawat, beserta berkas administrasi yang tadi telah di urus oleh Tuan Barun," ucap perawat itu seraya menyerahkannya pada Sabhira.
"Terima kasih banyak, Sus," kata nenek dan Sabhira bersamaan.
"Sama-sama. Semoga Nyonya Sabhira bisa lekas pulih dan sehat selalu."
"Aamiin."
"Sus, apa sudah diperbolehkan pulang sekarang?" tanya nenek yang telah siap dengan tas dan juga koper milik Sabhira.
"Sudah Nyonya, nanti akan ada security yang membawa kursi roda untuk Nyonya Sabhira."
Benar saja tidak lama berselang, seorang security pun masuk ke dalam kamar sambil mendorong kursi roda.
__ADS_1
"Nah, mari Nyonya saya bantu duduk di kursi roda," ucap perawat itu sambil memapah Sabhira yang masih merasa lemas.
"Nyonya, boleh saya bantu membawakan kopernya?" tanya perawat itu menawarkan diri. Sebab ia tidak tega melihat wanita berusia senja itu mendorong koper yang kelihatannya cukup berat.
"Boleh, Sus. Terima kasih banyak," kata nenek merasa senang karena ada yang membantunya.
Mereka pun keluar dari kamar tersebut bersamaan. Sementara nenek yang berjalan dibelakang Sabhira, mencoba menghubungi Barun untuk memberitahukan kalau mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju mansion.
...----------------...
Tak disangka, pihak berwajib langsung menaikkan laporan yang dibuat oleh Barun ke tahap penyelidikan. Beberapa orang yang telah ditunjuk akan diperintahkan untuk segera menyusun rencana ke olah tempat kejadian perkara sekaligus menjebak pelaku atas kejadian penculikan tersebut.
Tidak hanya itu, Barun pun meminta pada pihak terkait supaya dirinya bisa ikut serta dalam melakukan penjebakan tersebut. Mengingat, tujuannya bukan hanya tentang kasus yang ia ajukan saat ini, melainkan sebuah masa lalu yang belum tuntas kebenarannya.
Kepala pihak yang berwajib pun akhirnya menuruti permintaan Barun. Namun untuk lebih tepatnya kapan dilakukan penjebakan itu, menunggu kabar dari tim yang bertugas.
Setelah cukup lama berada di sana, Barun pun memutuskan untuk kembali ke mansion. Akan tetapi sebelum itu, ia mengecek ponselnya yang sedari tadi sengaja dalam mode hening, tanpa bunyi ataupun getar notifikasi.
Ia pun terkejut ketika banyak sekali panggilan masuk dari nenek. Barun akhirnya menelepon balik untuk mengetahui kabar apa yang akan disampaikan oleh neneknya itu.
"Maaf Nek. Tadi aku sedang meeting di kantor pihak berwajib. Soalnya ada beberapa hal penting yang harus kami bicarakan. Oh iya omong-omong, ada apa Nenek meneleponku?" jelas Barun yang kemudian bertanya pada nenek.
"Oh begitu. Kami sudah sampai di mansion. Sabhira baru saja aku antar ke kamarnya, sekarang sedang beristirahat," jawab nenek yang baru saja menutup pintu kamar cucunya.
"Oh iya, apa Nenek sudah melihat keberadaan kak Erzal di mansion?" tanya Barun lagi.
"Belum. Bukannya jam segini dia masih di kantor? tapi aku juga belum bertanya pada pelayan di mansion. Nanti akan ku kabari lagi," kata nenek membuat Barun mengerti.
"Baik Nek, aku akan segera pulang sekarang."
"Iya hati-hati."
Panggilan pun berakhir. Barun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu berjalan menuju mobil untuk pulang ke mansion menemui istrinya.
...----------------...
__ADS_1
Sebelum tiba di mansion, Barun menemui beberapa orang kepercayaannya terlebih dahulu di sebuah kafe untuk meminta bantuan.
"Asik, bos kita datang!" seru salah satu dari mereka. Lalu mereka yang jumlah ya ada sekitar enam orang itu saling berjabat tangan dengan Barun.
"Kalian sudah pada pesan makan atau minum?" tanya Barun seraya duduk di kursi kosong yang sengaja mereka persiapkan untuknya.
"Sudah Bos. Bos sendiri mau dipesankan apa?" jawab salah satu dari mereka yang kemudian bertanya balik pada Barun.
"Iya nanti aku akan pesan sendiri. Sekarang aku sedang ingin meminta bantuan pada kalian," jawab Barun yang kini raut wajahnya tampak serius.
"Bantuan apa itu Bos?" Salah satu dari mereka bertanya lagi dan yang lainnya menganggukkan kepala.
"Jadi begini ... " Barun mulai menjabarkan rencana yang sebelumnya memang telah ia susun sedemikian rapih. Rencananya itu memang sudah ada sejak lama, namun belum terealisasikan karena waktu itu bukti yang ia miliki belum kuat.
Sekarang sudah saatnya Barun bertindak. Bukan hanya melindungi aset keluarganya, namun juga keluarganya.
"Memang sejak lama, feeling ku tidak bagus pada pria itu. Lagi pula kenapa juga nyonya besar masih percaya dengannya? sekarang buktinya pun sudah jelas kalau dia memang pelakunya. Kalau begini caranya kita tidak bisa tinggal diam, Bos," sahut salah satu dari mereka yang mulai terpancing emosi setelah mendengar penjelasan dari Barun.
"Jadi kapan kita bergerak?" tanya yang lainnya.
"Kalau besok malam bagaimana?" tanya Barun yang ingin segera bertindak karena sudah merasa gerah dengan kondisi yang menurutnya tidak aman saat ini.
"Memangnya tidak apa kalau kita bertindak mendahului pihak berwajib Bos?" tanya yang lainnya lagi.
"Ya kenapa tidak. Kalau kalian sudah siap, aku yang akan memberitahukan pada mereka. Supaya kita bisa melakukannya bersama-sama," timpal Barun dengan sorot matanya yang melihat satu per satu ke arah mereka. "Bagaimana?" tanyanya kemudian.
Mereka berenam saling bertukar pandang. Lalu salah satu dari mereka pun angkat bicara. "Baik Bos, kami siap!"
"Oke, aku akan memberitahukan kepada mereka supaya bisa segera melakukan penyergapan." Barun kemudian berdiri lalu berjalan ke arah kasir.
Pria itu membeli makanan serta minuman untuk nenek dan juga Sabhira yang ada di mansion. Beberapa menit kemudian, pesanan pun telah berada di tangannya dan juga sudah di bayar.
Barun menghampiri mereka lagi. "Aku pamit pulang dulu. Nanti aku akan sebar informasinya di grup ya!" perintah ya dan mereka pun mengangguk paham.
To be continue ...
__ADS_1