
Di pagi hari yang cerah, sepasang suami istri masih nyaman dengan mimpi mereka masing-masing. Posisi yang awalnya saling berpelukan kini telah berubah kaki bertemu dengan kaki.
Bukan Barun pelakunya, melainkan Sabhira. Entah berapa kali semalam ia hampir terjatuh karena ulah istrinya. Namun pria itu tidak patah arang, dia tetap tidur di samping istrinya.
Sampai cahaya matahari yang kini menerobos masuk melalui celah gorden kamar, hingga suasana ruangan tersebut seakan menggunakan lampu tidur sebagai penerang. Tetap saja tidak membuat keduanya terbangun.
(Ponsel Barun berdering)
Sebelah tangan pria itu meraba ke atas meja kecil yang berada di sampingnya mengikuti suara yang terus berbunyi. Hingga suara itu nyaris saja berhenti, Barun menjawabnya.
"Hallo?" sapanya dengan suara yang masih terdengar parau sisa semalam.
"Maaf mengganggu waktunya, Tuan ..."
"Oh, kamu ... " Barun mengucek matanya lalu memberi pijatan di antara kedua alis sambil terduduk di atas tempat tidur. "Ada apa?" tanya pria itu kemudian.
"Saya ingin menyampaikan perihal bahan yang akan Tuan bawa ke pengadilan nanti, kalau berkas tersebut sudah lengkap di tangan saya."
"Oke, bagus. Lalu bagaimana dengan pengacara serta kuasa hukum? apa mereka sudah siap?" Kesadaran Barun seketika langsung pulih setelah mendengar kabar baik dari asistennya.
"Sudah, sekarang kita hanya menunggu sidang putusan beberapa hari lagi."
"Oke baiklah. Terima kasih banyak."
"Sama-sama Tuan."
"Oh iya, tunggu!" ucap Barun sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
"Iya Tuan?" tanya asistennya.
"Untuk produksi, apa sudah bisa berjalan seperti biasanya lagi?"
"Sudah Tuan. Semua sudah kembali berjalan dengan normal. Hanya saja kita harus membuat jadwal untuk perawatan mesin."
"Oh iya, kau buat saja jadwalnya. Lalu untuk pemesanan kain sutra dari perusahaan modeling itu apa sudah mulai dikerjakan?"
"Baik Tuan ... Um, sepertinya mulai hari ini dibuat. Karena pihak perusahaan terkait baru saja mengirimkan permintaan pesanannya kemarin sore."
__ADS_1
"Oh ya sudah, tetap di pantau ya. Kemungkinan saya tidak masuk hari ini. Jadi minta tolong, dokumen yang perlu saya cek dan tanda tangan ... nanti kau kirimkan saja melalui surel ya?"
"Baik Tuan."
Kemudian sambungan telepon di putus oleh Barun dan ponsel pun ditaruh kembali ke atas meja. Pria itu segera turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi.
Sementara di luar, para pelayan tengah sibuk membereskan mansion. Nenek baru saja mendapat kabar kalau sore ini akan kedatangan para saudara dari luar kota dan mereka akan menginap satu malam.
Untuk itu, nenek sengaja menyuruh pelayan untuk segera menyiapkan beberapa kamar yang akan ditempati oleh mereka. Namun saat ini yang tahu kabar tersebut selain nenek sendiri yaitu, Mosev.
...----------------...
Setengah jam kemudian, Barun sudah rapih dengan pakaian santainya. Pria itu berniat untuk pergi ke rumah kedua orang tua Sabhira, guna meminta restu.
Akan tetapi, saat ini Sabhira masih tetap tertidur sangat pulas. Barun duduk di pinggir kasur, jemarinya menyibakkan rambut yang hampir menutupi wajah gadis itu dan menyematkannya ke belakang telinga.
Barun memandang istrinya sangat lekat, tanpa sadar kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Senyuman untuk sebuah rasa kagum pun hadir. Semakin lama, wajahnya mendekat.
Tiba-tiba saja, Sabhira merasakan gatal di hidungnya. Sontak gadis itu reflek bersin cukup kencang. "Hasyuuuuuh!"
*Bletak!
"Kenapa kau mengagetkanku, Sabhira?" Pria itu merasa kesal dengan meninggikan suaranya.
Sabhira yang masih setengah sadar pun langsung terduduk di atas tempat tidur. Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang dilakukan suaminya itu barusan.
"Mana aku tahu kau ada di depanku? sekarang jelaskan padaku, kau mau apa? lihat tuh keningmu memar. Jadi jangan salahkan aku," cerocos Sabhira yang tidak ingin mau kalah.
"Ish! sakit sekali kepalaku," keluh Barun yang terus mengusap-usap keningnya.
"Jangan berlebihan deh, kan bisa diolesi obat merah. Tidak sampai dua jam juga memarnya akan hilang." Sabhira menyingkap selimutnya kemudian turun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah meja rias untuk mengambil kotak P3K dari dalam lacinya.
Setelah dapat, gadis itu langsung ikut duduk di pinggir tempat tidur dengan posisi duduk yang saling berhadapan dengan suaminya. Lalu Sabhira menatap luka lebam dengan seksama.
"Sepertinya keningmu lecet, Tuan. Ini sih bukan luka lebam lagi," gumam gadis itu.
"Kau yang benar Sabhira?" tanya Barun merasa tidak percaya.
__ADS_1
"Hmm ... " Sabhira mengangguk dan menatap mata suaminya dengan penuh keyakinan.
"Pantas saja rasanya sedikit perih," keluh Barun sambil mengusap lukanya lagi. "Lagipula kenapa sih kepalamu itu tajam sekali. Sampai-sampai keningku ini bisa lecet," protes pria itu meragukan apa kepala istrinya.
Namun tiba-tiba Sabhira teringat akan sesuatu hal. Tangannya meraba bagian atas kepala. Lalu setelah didapat yang ia firasatkan, seketika tersenyum lebar sambil melepaskan benda itu dari kepalanya.
Ternyata eh ternyata, ada sebuah pin menyemat rambut yang berada tidak pada tempatnya. Mungkin karena posisi tidurnya yang seperti baling-baling bambu, membuat pin tersebut hampir terlepas dan kini malah mengenai kening suaminya.
"Astaga!" pekik Barun sambil menghembuskan napas panjang. "Kau benar-benar keterlaluan. Kalau begini sih aku merasa beruntung hanya lecet dan tidak sampai membuat kepalaku bocor," pungkasnya, sedikit merasa lega.
"Maaf ... Tuan," ucap Sabhira merasa malu sambil mengigit bibir bagian bawahnya.
"Sudah, cepat obati lukaku. Hari ini aku jadi benar-benar tidak masuk kantor," gerutu Barun sambil duduk bersiap untuk segera di obati.
"Iya ,Tuan," ucap Sabhira yang merasa sangat bersalah. Kemudian luka pada kening Barun diobati dengan hati-hati serta penuh cinta.
Sesekali Barun meringis karena terasa sedikit perih saat Sabhira mengoleskan obat merah di sana. Namun pria itu masih bisa menahannya, karena jika tidak Sabhira akan balik menggerutu.
"Omong-omong kau memangnya sudah mandi?" tanya Sabhira setelah selesai mengobati luka pada kening Barun lalu merapihkan kembali peralatan medisnya ke dalam kotak P3K.
"Sudah dong, memangnya kau!" ledek pria itu sambil menjulurkan lidah layaknya kakak pada sang adik, hal itu membuat Sabhira mendelik tajam lalu berdecak.
"Siapa suruh semalam kau hampir saja membuatku pingsan. Kalau saja kau menghentikannya ketika aku bilang 'ampun', aku tidak akan tidur selama ini,' ujar Sabhira. Tidak dapat di pungkiri seluruh tubuhnya saat ini sangat terasa remuk.
"Um ... seperti itu ya?" Barun memicingkan matanya sambil mengelus dagu dengan kedua jari tangan kanannya. "Aku jadi makin penasaran jika kau sampai pingsan beneran. Apa kau akan tidur seharian penuh tanpa makan dan minum?"
Sontak ucapan Barun tersebut membuat mata serta mulut Sabhira membulat bersamaan.
"Kau!" Suara gadis itu tiba-tiba meninggi. "Jika sampai itu terjadi, aku tidak akan memberimu jatah lagi!" bentaknya memberi ancaman pada Barun.
Seketika Barun pun terbahak, terlebih ekspresi wajah sang istri yang sangat menggemaskan baginya.
"Kau yakin akan menolak jika aku sudah bertindak?
To be continue ...
...****************...
__ADS_1
Barun bisa aja nih kalau bikin Sabhira kesal. Btw aku punya rekomendasi novel bagus nih untuk kalian para pembaca setia novelku. Yaitu dari Siti Fatimah berjudul Istri Yang Tak Dianggap. Jangan lupa baca juga ya 😊