
"Tunggu, Sabhira ... Kalau Barun yang ke sini, tolong beri kami waktu bicara empat mata ya," pinta nenek lalu melepaskan tangannya yang sempat menahan tangan Sabhira.
"Baik, Nek," jawab gadis itu yang kemudian pergi dari hadapan sang nenek.
Ketika Sabhira membuka pintu, benar saja. Ternyata Barun yang kini berdiri di depannya.
"Sedang apa kau di kamar nenek?" tanya Barun dengan wajah datarnya. Dilihatnya Sabhira memberi kode lewat mata kepada dirinya. "Ada apa?"
"Nenek ingin bicara padamu," jawab Sabhira sedikit berbisik.
"Iya aku tahu. Kau sendiri sedang apa di sini?" Barun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Mengantarkan makan malam untuknya ... ya sudah, aku mulai mengantuk. Aku harus istirahat di kamar," kata Sabhira sambil sesekali menguap.
"Iya sudah sana." Barun kemudian minggir supaya memberi jalan untuk Sabhira.
"Nek, aku ke kamar dulu ya. Makannya jangan lupa di habiskan," pamit gadis itu pada sang nenek.
"Iya kau tenang saja, selamat istirahat," jawab nenek sambil menoleh ke arah Sabhira.
Barun pun masuk ke dalam setelah Sabhira keluar dari kamar neneknya. Tidak hanya itu, ia pun menutup pintunya kembali.
"Ada apa nenek mencariku?" tanya Barun dengan raut wajah serius.
"Kau sudah benar-benar memastikan kalau Erzal tidak kabur bersama orang-orang suruhannya itu?" Nenek bertanya balik, raut wajahnya pun tak kalah serius dengan cucunya.
"Sudah Nek. Besok, pagi-pagi sekali mereka akan segera di eksekusi. Itu informasi yang aku dapatkan dari orang dalam di sana," jawab Barun tanpa terdengar keragu-raguan.
"Syukurlah, setidaknya keluarga kita tidak ada musuh dalam selimut lagi. Oh iya omong-omong ... kau sendiri dengan Sabhira dan ibunya bagaimana?" Nenek terdengar mengkhawatirkan Barun. Sebab, pernikahannya dengan Sabhira diluar dugaan pria itu sendiri.
__ADS_1
"Mau tidak mau, aku harus tetap menerimanya, Nek. Tetapi akan aku pastikan semuanya baik-baik saja. Terlebih dengan ibunya Sabhira sendiri." Barun berusaha meredam kekhawatiran yang tersirat dari wajah neneknya tersebut.
"Ya sudah kalau begitu. Aku hanya takut, pernikahanmu dan Sabhira akan hancur. Gadis itu memang sangat baik, polos, tidak menuntut banyak darimu, dan selalu tampil apa adanya menjadi dirinya sendiri. Aku yakin, dia juga terkejut akan hal yang telah terjadi pada ayahnya itu."
"Nenek tenang saja, aku dan Sabhira akan tetap sama-sama. Sesuai dengan perjanjianku di awal pada pernikahan ini. Awalnya memang aku hanya sekadar menikahinya, siapa sangka Tuhan memberiku rasa padanya. Akan tetapi, untuk mengungkapkan padanya itu ... rasanya sulit," keluh Barun diiringi dengan hembusan napas panjang.
"Tidak apa, kamu dan dia kan belum tepat satu bulan menikah. Anggap saja ini perjodohan langsung dari Tuhan. Lagi pula, salahmu sendiri kalau berniat bermain-main dengan pernikahan yang seharusnya sangat sakral."
"Iya, Nek. Sekarang aku merasa berkah Tuhan itu nyata setelah aku menikahi Sabhira. Meski dibalik semua itu, diluar semua kendaliku. Besok pagi aku akan mengambil cuti dan mengajak Sabhira ke makam ayah dan ibu, kalau nenek mau ikut dengan kami tidak apa," ucap Barun dengan kelapangan hatinya.
"Ah, tidak. Aku dan Mosev sudah ke makam mendiang kakek dan juga kedua orang tuamu. Biar kalian saja, nikmati waktu kebersamaan disaat berdua. Sebab nanti jika sudah memiliki anak, akan sulit dan pasti fokus kalian pada anak-anak kalian sendiri," kata nenek menolak dengan halus.
"Ya sudah kalau gitu ... um, apa nenek sudah selesai makannya?" tanya Barun kemudian.
"Sudah," jawab nenek seraya merapihkan kembali ke atas nampan.
"Kalau gitu aku pergi ke kamar dulu ya Nek. Sini nampannya sekalian aku bawa keluar. Sekarang Nenek istirahatlah, malam sudah mulai larut juga," kata Barun. Pria itu mengambil nampan yang telah dibereskan dari atas meja.
Setelah menutup pintu, Barun pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengantarkan nampan. Barulah kemudian, ia pergi ke kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Barun melihat Sabhira tengah tertidur. Ia mendekat ke kasur lalu duduk di sebelah Sabhira yang sudah terdengar dengkuran halusnya. Gadis itu benar-benar sudah pulas.
Barun pun merebahkan tubuhnya dengan sebelah tangan yang ia gunakan sebagai bantalan. Tak lama kemudian, matanya pun ikut terpejam.
...----------------...
*Sreeettt
Sabhira membuka gorden kamar lebar-lebar, sehingga sorot matahari dengan leluasa masuk ke dalam tanpa penghalang lagi.
__ADS_1
Seketika Barun merasa terusik dengan sinar matahari tersebut. Dirasanya, baru juga memejamkan mata. Akan tetapi waktu yang berlalu cukup cepat membuat matanya enggan sekali untuk terbuka.
"Tuan, bangun ... apa kau tidak pergi ke kantor hari ini?" tanya Sabhira membangunkan suaminya selembut mungkin.
"Aku cuti. Biarkan aku tidur sebentar lagi. Rasanya masih kantuk sekali," jawab Barun dengan suaranya yang masih terdengar parau. Bahkan bukannya membuka mata, justru ia memeluk guling kembali dengan cukup erat.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau ke ruang makan. Rasa lapar di perutku sudah tidak bisa tertahankan lagi," kata Sabhira lalu turun dari kasur lalu pergi keluar dari kamar.
Sementara Barun masih tertidur, Sabhira memilih pergi ke ruang makan. Ternyata di sana sudah ada Mosev dan juga nenek.
"Pagi semua," sapa Sabhira dengan senyum sumringahnya. Layaknya sang surya menyambut pagi.
"Pagi ... dimana suamimu? apa dia masih tidur?" tanya nenek yang sedang menata makanannya ke atas piring.
"Iya Nek. Katanya hari ini dia cuti," jawab Sabhira sambil menarik kursi lalu duduk ikut bergabung dengan mereka.
"Dasar Barun. Apa dia tidak sadar matahari sudah tinggi, masih saja asik tidur," gerutu Mosev lalu menyantap makanannya.
"Kau juga sama! pagi ini saja kau tumben bangun pagi-pagi sekali. Mau kemana memangnya?" timpal nenek sambil mendelik ke arah Mosev.
Namun pria itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan. "Semalam aku tidur terlalu sore, jadi bisa bangun sepagi ini," jawab Mosev.
"Waah, ada manisan. Sudah lama sekali aku tidak menyantapnya. Biasanya ibu selalu membuatkan untukku," seloroh Sabhira tiba-tiba teringat ibunya yang saat ini belum ada di ruang makan. "Oh iya omong-omong manisan, nenek tahu keberadaan ibuku?" tanyanya kemudian pada sang nenek.
"Manisan ini memang ibumu yang buat tadi pagi-pagi sekali. Lihat, uap panasnya saja masih mengepul di udara. Dia baru selesai membuatnya, mungkin sekarang dia sedang mandi," jawab nenek yang sudah mulai biasa lagi. Tidak seperti kemarin, seperti dendam kesumat saat bertemu dengan ibunya Sabhira.
"Oh begitu Nek, baiklah. Yuk kita sarapan! aku sudah sangat lapar sekali," seru Sabhira mengajak kedua orang yang ada di hadapannya untuk segera menyantap sarapan di pagi ini.
Ditengah hangatnya suasana di meja makan, tiba-tiba suara bel berbunyi. Ketiga orang yang ada di meja makan tersebut langsung menghentikan makannya sejenak.
__ADS_1
"Nek, siapa yang bertamu masih pagi seperti ini?"
To be continue ...