Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
BALASAN UNTUKMU


__ADS_3

"Hallo, siapa ini?" sapa Barun.


Sesaat kemudian telepon pun berakhir. Barun seketika merasa aneh, ia melakukan panggilan kembali kepada nomor tersebut. Namun hasilnya nihil, nomor itu sudah tidak aktif.


Barun pun segera menginformasikan kepada asistennya dan juga pihak berwajib yang akan mengeksekusi Erzal dan para pionnya hari ini. Pria itu ingin memastikan kalau Erzal benar-benar akan dihukum mati.


Kedua ibu jarinya begitu lihai mengetik pesan yang akan dikirimkan pada asistennya melalui surel. Tidak hanya itu, nomor berikut informasi mengenai Tissa saat ini pun terlampir.


Barun harus lebih bergerak lebih cepat lagi. Mengingat otak licik Erzal yang bisa saja menjadi dasar munculnya Tissa ke hadapannya saat ini.


Setelah berhasil terkirim, ternyata semua orang di sana hening. Tidak ada yang bicara selama Barun tengah fokus pada ponselnya.


"Tissa, taruh saja kedua anakmu di sini. Kalau kau mau pergi silahkan. Tetapi, setelah kau melangkah keluar dari pintu mansion ini, jangan kau masuk kembali dan mengambil mereka lagi. Aku akan mengurus semua surat pengadopsian mereka untuk menjadi anakku seutuhnya. Dengan begitu, hakmu pada mereka hilang sudah, sekalipun kau memang ibu kandung mereka," kata Barun memberi ancaman pada Tissa yang masih menatapnya sinis dengan hatinya penuh dilalap api cemburu.


Wanita itu masih terdiam. Dia sedang berpikir keras. Namun Barun bukanlah pria yang mudah dibodohi oleh wanita saat ini. Pria itu telah berubah, tidak seperti dulu ketika masih bersamanya.


"Tidak bisa! mereka harus tetap kembali padaku," jawab Tissa dengan mata membulat tanpa ada ketakutan sedikitpun.


"Kalau begitu silahkan pergi dari rumahku dan bawa semua anak-anakmu. Ingat setelah itu jangan pernah bilang kalau kami tega, jelas aku bukan mereka yang mudah sekali kau bohongi. Aku sebenarnya merasa iba pada mereka yang tidak mengerti apapun, tapi karena kau yang membuat rasa iba ku sirna. Jadi, silahkan keluar dari mansion ku sekarang!" tegas Barun sekali lagi. Nada yang penuh ancaman dan penekanan itu pula mampu membuat Tissa berpikir buntu.


"Kau pilih saja Tissa. Kau bilang butuh uang ... kalau anakmu disini kau tidak perlu repot memikirkan semua kebutuhan mereka. Tinggal kau pikirkan saja dirimu sendiri dan kesenanganmu, mudah bukan?" kata Sabhira sambil bersilang dada. "Tapi kalau dipikir-pikir, mana mungkin sih seorang ibu tega memberikan anaknya sendiri pada orang lain, apalagi itu masa lalunya. Apalagi demi kesenangannya sendiri, mustahil. Meski diluar sana pasti ada saja yang sama, ku rasa tidak banyak yang seperti itu," lanjut gadis itu dengan pemikirannya.


"Iya benar," sahut nenek dan juga Mosev pun menganggukkan kepala.


"Sudah, waktuku tidak banyak. Masih ada urusan lain yang harus ku kerjakan hari ini. Aku beri kamu waktu lima menit dari sekarang untuk memikirkan matang-matang," timpal Barun sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Lima menit pun tak terasa berlalu begitu cepat. Barun dan semuanya tidak sabar menunggu Tissa membuat keputusan.


"Waktumu habis. Cepat katakan, apa pilihanmu?" tanya Barun, terdengar ketus.


"Baiklah aku akan putuskan untuk tinggal di sini bersama kedua anakku," jawabnya dengan sangat yakin.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana pun terperangah, terutama Sabhira. Gadis itu mencium bau-bau tak sedap pada Tissa dibalik keputusannya itu.


"Sepertinya wanita ini tetap bersikukuh untuk mendapatkan harta dari keluarga Praya. Aku harus lebih cerdik darinya," batin Sabhira.


"Kau yakin mau tinggal di mansion ini? tapi sayangnya tidak gratis. Kau tidak bisa tunggang langgang di sini. Sebab bagi kami kau adalah orang lain yang sedang bertamu," ucap Barun yang sengaja berkata 'pahit' pada Tissa.


"Tidak apa, aku akan bekerja selama tingga di sini," jawab Tissa dengan santainya.


Entah kenapa Sabhira menjadi meradang. Gadis itu melihat kalau tatapan Tissa pada suaminya 'lain'.


"Tidak bisa! aku tidak setuju!" sergah Sabhira yang tiba-tiba angkat suara. Barun pun langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa kau tidak menyewa saja baby sitter apa susahnya sih? atau kau bisa titipkan anakmu ke panti asuhan dan semacamnya?" cecar gadis itu menatap Tissa dengan sorot amarahnya. "Bukan karena aku tidak menerima keadaan kedua anaknya, melainkan kalau akhir keputusannya seperti ini dia seolah memanfaatkan semua orang yang ada di mansion ini!" lanjutnya dengan segenap emosi yang sempat tertahan, sambil menatap ke semua orang yang ada di sana.


"Aku pikir-pikir benar juga sih apa yang dikatakan Sabhira, Barun. Biarkan saja dia membawa anak-anaknya pergi dari sini," kata Mosev.


Respon Tissa seakan tidak terima, tersirat dari raut wajahnya. Wanita itu tetap pada pendiriannya. "Aku akan tetap disini," ucapnya.


Tissa tersenyum simpul lalu terkekeh pelan. Seketika rona bahagia terpancar dari wajahnya. "Tidak banyak ... hanya sepuluh milyar."


Lagi-lagi wanita itu membuat semua orang di sana terperangah sekaligus terkejut bukan main.


"Sepuluh milyar kau bilang tidak banyak? itu bisa membeli sepuluh unit apartemen mewah di kota ini. Apa akal sehatmu hanya dipenuhi oleh uang?" sahut Mosev yang mulai tersulut emosi. Baru kali ini pria itu sangat kesal dengan seorang wanita yang tidak tahu malu macam Tissa.


*Ting Tong* *Tok, tok, tok*


Suara bel yang kemudian diikuti ketukan pintu pun mampu membuat keadaan hening seketika.


"Biar aku yang membukakan pintu," kata Sabhira kemudian bergegas pergi dari hadapan mereka.


Setelah pintunya dibuka, tampak beberapa orang berseragam pihak berwajib berdiri di hadapan Sabhira.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya, kami sedang mencari wanita ini," sapa salah seorang dari mereka sambil menunjukkan selembar foto seorang wanita.


"Kenapa dengannya, Pak?" tanya Sabhira lalu mengambil foto itu.


"Siapa Sabhira?" tanya Barun menghampiri istrinya. Sabhira pun tidak langsung menjawabnya, dia justru memberikan selembar foto yang ada di tangannya pada Barun.


"Bukankah ini foto wanita yang sejak tadi kita interogasi?" tanya Sabhira.


"Silahkan masuk ke dalam Pak," kata Barun lalu memberi jalan pada para anggota pihak berwajib itu supaya bisa masuk ke dalam. "Apa dia orang yang Anda maksud?" tanya pria itu kemudian sambil menunjuk ke arah Tissa yang enggan memperlihatkan wajah dan malah melihat ke arah lain.


"Benar, tangkap dia!" perintah salah seorang dari mereka yang memiliki pangkat lebih tinggi dibanding yang lain (dilihat dari lencana yang ia pakai).


"Tunggu, ada apa sebenarnya Pak?" tanya Barun.


"Kami mendapat laporan kalau wanita itu membawa anak tanpa izin dari salah satu panti asuhan di ujung kota ini. Lalu ... " Pria itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam sakunya. Barun langsung mengepalkan kedua telapak tangannya. "Ini surat penangkapan resminya," lanjutnya sambil memberikan amplop tersebut pada Barun.


"Barun, kali ini kau selamat. Uang sepuluh milyar milikmu tidak melayang begitu saja ke tangannya!" seru Mosev dengan rasa bahagia.


"Bawa saja dia Pak. Nanti saya beserta istri akan menyusul ke kantor," ucap Barun dengan perasaan yang cukup lega. "Hukuman ini anggap saja sebagai balasan untukmu!" lanjutnya dengan penuh penekanan pada Tissa.


Para anggota pihak berwajib pun membawa paksa Tissa dari sana. Wanita itu tidak sendiri, kedua anak yang dibawanya dari panti asuhan pun turut dibawa oleh mereka sebagai tanda bukti.


"Sabhira, kita harus bersiap. Ikut aku menyelesaikan urusan ini," titah Barun.


"Barun, apa tidak sebaiknya kau sarapan terlebih dahulu? kau baru bangun tidur bukan?" saran nenek.


"Benar, lebih baik kita sarapan bersama. Setelah itu barulah kalian boleh menyelesaikan urusan kalian," sahut ibunya Sabhira.


"Ya sudah kalau begitu." Barun akhirnya setuju dan mereka pun sarapan bersama.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2