
"Barun, maaf aku menyela," kata Mosev yang baru saja bergabung dengan mereka. Lalu menoleh pada sang nenek. "Nek, benar kata Barun. Kalau memang ibunya Sabhira sudah mengatakan yang sebenarnya dan itu sebuah kejujuran, berusahalah untuk percaya. Lebih baik sekarang kita makan malam, sepertinya makan malam kali ini sangat spesial sekali." Mosev berkata lagi berusaha mencairkan suasana yang cukup tegang ini.
Rupanya sejak tadi diam-diam dia mendengarkan dari dalam kamar yang memang jaraknya cukup dekat dengan tempat mereka berada saat ini. Terlebih suara sang nenek yang cukup keras dan lantang, membuat fokusnya teralihkan.
"Ya sudahlah terserah kau saja. Selera makanku sudah hilang. Lebih baik aku kembali ke kamar dan beristirahat," ucap nenek lalu pergi dari hadapan mereka berempat.
Sabhira langsung menghambur ke pelukan ibunya. "Ibu, jangan diambil hati ucapan nenek tadi ya. Aku percaya Ibu telah berkata dengan jujur."
Belaian kasih sayang ibu pun didapatkan kembali oleh Sabhira. Gadis itu terhanyut sampai air matanya tak tertahankan.
Barun dan Mosev yang melihatnya pun ikut terenyuh. Keduanya bahkan seketika merindukan pelukan sosok ibu.
Setelah cukup lama Sabhira berpelukan dengan ibunya, akhirnya kini pun saling melepaskan. Terlebih Sabhira sendiri sudah merasa lapar.
"Yuk, kita makan malam bersama!" seru Mosev sambil menatap ketiga orang yang ada di depannya saling bergantian.
Sedangkan Barun hanya tersenyum tipis lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kemudian pergi ke ruang makan lebih dulu.
"Hei, Barun! apa kau sudah sangat lapar sampai tidak berbicara sepatah katapun?" seru Mosev lagi lalu menggelengkan kepala dan menyusul Barun.
Sabhira dan ibunya tertawa melihat tingkah kedua pria itu. Keduanya pun juga ikut menyusul Barun dan Mosev ke ruang makan.
...****************...
Setelah makan malam, Barun memilih langsung ke ruang kerja. Mosev kembali ke kamarnya, sedangkan ibunya Sabhira pergi ke kamar juga untuk beristirahat.
__ADS_1
Berbeda dengan Sabhira. Gadis itu kini telah berdiri di depan pintu kamar nenek sambil memegang nampan yang berisi makan malam serta segelas susu di atasnya. Dia tahu betul makanan apa saja yang dimakan oleh nenek setiap harinya.
Sabhira menarik napas dalam dari hidung lalu mengeluarkannya perlahan sambil membulatkan mulutnya. Setelah itu barulah mengetuk pintu.
Saat pintu terbuka, terlihat nenek dengan masih menunjukkan raut wajah marahnya. "Ada apa kau kemari?" tanyanya, terdengar ketus.
"Bolehkah aku masuk? aku sangat mengkhawatirkan Nenek. Aku tidak mau Nenek kelaparan tengah malam karena tidak ikut makan malam, makanya aku juga sekalian membawakan makan malam ke sini," ucap Sabhira lalu tersenyum lebar.
"Aku baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku. Lagipula, aku sudah memaafkan ibumu. Sudah lebih baik kau kembali ke kamarmu," jawab nenek, suaranya masih terdengar ketus. Wanita berusia senja itu bahkan hendak menutup pintunya kembali.
"Nek, bagaimana dengan makan malammu? tenang saja kau tidak akan aku racuni. Aku hanya ingin kau makan supaya tidak sakit. Selama ini kau sudah sangat baik padaku ... " ucap Sabhira dengan nada yang semakin menanjak dan cepat. Namun sayang, nenek tetap menutup pintunya. Sabhira menghela napas berat lalu berbalik badan.
Entah sebuah keajaiban atau bukan, ketika Sabhira hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, pintu kembali terbuka. Gadis itu tersentak lalu mematung sejenak.
"Masuklah, temani aku makan malam," titah nenek yang berhasil dalam sekejap membuat kedua sudut bibir Sabhira melengkung dengan sumringahnya. Gadis itupun berbalik badan lagi.
"Iya." Kemudian nenek masuk lebih dulu dengan pintu yang sengaja dibuka untuk Sabhira.
Setelah gadis itu menutup pintunya, dia berbalik badan. Seketika matanya berbinar dan merasa tidak menyangka dengan suasana kamar sang nenek bertema sage green yang begitu mengesankan baginya.
"Nek, kamar Nenek nyaman sekali," puji Sabhira sambil menaruh nampan yang dibawanya ke atas meja kecil di depan sofa santai yang bentuknya hampir sama dengan di kamarnya bersama Barun.
"Iya inilah kepribadianku yang sebenarnya. Aku paling tidak suka dengan pengkhianatan, apalagi musuh dalam selimut. Tetapi, aku sebenarnya paling rapuh ketika mendengar orang lain berbicara dengan suara bernada tinggi." Nenek kemudian terkekeh pelan sambil duduk di sofa tersebut. "Sampai aku tidak sadar, tadi melakukan hal yang tidak aku sukai pada ibumu," lanjutnya sambil menatap Sabhira yang mulai mempersiapkan makanan ke atas meja.
"Ibuku pasti paham. Dia pun mungkin kalau ada di posisi Nenek akan melakukan hal yang sama. Setiap wanita pasti ingin hidupnya baik. Tidak ada masalah, hidup bahagia dan tanpa beban. Tapi aku rasa, itu hanya ada di dalam mimpi," kata Sabhira dengan pandangannya.
__ADS_1
"Kau ini, ternyata meski awalnya Barun yang salah karena pernikahan paksa yang dia lakukan padamu. Tapi bisa jadi keberuntungan juga ya untuk hidupnya. Termasuk aku yang beruntung mendapatkan cucu sepertimu. Aku harap kau dan Barun bisa segera memberiku cicit yang lucu-lucu," timpal sang nenek sambil tergelak dengan tawanya.
"Sejujurnya rasa trauma akibat penculikan itu masih sering menghantuiku, Nek. Bagaimana ya menghilangkannya?" keluh Sabhira yang ikut duduk di sebelah nenek. Sedangkan nenek sendiri sedang menyantap makanannya.
Nenek menaruh sendoknya ke atas piring, lalu merubah posisi duduknya jadi berhadapan dengan Sabhira. "Kau tidak usah khawatir. Trauma itu perlahan akan hilang, semuanya tidak ada yang instan Sabhira. Mulailah cari aktifitas lain. Kau bisa melakukan hobimu, bebas. Yang terpenting, ingat waktu. Kau punya suami, saling menghargai, tetap hangat pada keluarga, dan jangan merubah apapun yang baik di dalam dirimu. Nenek yakin, setelah itu trauma yang masih kau alami saat ini akan hanya tinggal menjadi masa lalu."
Sabhira masih fokus mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang nenek.
"Usiamu ini masih muda. Masa depanmu masih panjang. Kau tahu? dulu waktu Nenek seusiamu, ayah Nenek memberikan tanggung jawab yang cukup berat."
"Oh ya? tanggung jawab apa itu Nek?" tanya Sabhira yang penasaran.
"Sama seperti Barun saat ini. Memegang perusahaan. Tidak mudah, karena Nenek anak sulung dan perempuan. Banyak sekali rintangan yang harus Nenek hadapi. Tapi dari situ Nenek belajar. Harta yang paling berharga bukan hanya hasil yang kita dapat, tapi juga proses. Sebab ada waktu, tenaga dan juga kemauan. Ketiga itulah yang tidak banyak orang mampu dan mau melewatinya, terutama di masa sulit."
Sang nenek berhasil membuat Sabhira terhipnotis dengan wejangan darinya.
"Nenek, aku tidak menyangka akan merasa sampai tiba-tiba ada kekuatan baru dalam diriku untuk bangkit!" seru Sabhira.
*Tok,tok,tok*
Kedua wanita berbeda usia itu menoleh bersamaan ke arah pintu.
"Siapa yang datang ke kamar Nenek?" gumam Sabhira lalu beranjak dari duduknya. Namun tiba-tiba tangan nenek menahan tangannya.
"Tunggu, Sabhira ... "
__ADS_1
To be continue ...