
"Benarkah kau mau membantuku?" tanya Sabhira yang mulai semakin resah. Perutnya semakin terasa mulas.
"Benar. Sana ke toilet, biar aku yang pegang dahulu gaunmu ini," jawab wanita itu terdengar meyakinkan ditelinga Sabhira.
"Terima kasih banyak sudah mau menolongku, aku titip gaun ini dulu ya," kata Sabhira merasa sangat bersyukur lalu memberikan gaun miliknya kepada wanita itu. Karena sudah sangat tidak tahan lagi, ia segera pergi ke toilet.
Wanita itu tersenyum menyeringai menatap kepergian Sabhira dari sana. Lalu di salah satu tangannya yang sejak tadi mengepal, dia buka. Ternyata dia membawa sebuah silet stainless. Dengan raut wajah penuh dendam, wanita itu membuka bungkus silet tersebut. Kemudian menggoreskannya ke gaun milik Sabhira.
"Setelah ini kau tidak akan bisa maju ke kompetisi selanjutnya, karena aku yakin gaun yang akan kau pakai akan terlepas di depan banyak orang," kata wanita itu seolah berbicara pada Sabhira langsung.
Tidak sampai sepuluh menit, Sabhira mulai tampak pada pandangan wanita itu. Dengan segera silet tersebut dimasukkan kembali ke dalam bungkusnya lalu di sembunyikan lagi olehnya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya wanita itu tersenyum ramah.
"Ya, tentu. Rasanya lega sekali. Terima kasih ya!" seru Sabhira yang sudah terbebas dari sakit perutnya.
"Sama-sama, ini gaunmu. Cepat kau make up dan ganti pakaianmu sebelum waktunya habis," kata wanita itu sambil memberikan gaun lalu berbalik badan dan pergi dari hadapan Sabhira.
"Baiklah," jawab Sabhira kemudian bergegas.
Tiga puluh menit tak terasa berlalu begitu cepat. Semua peserta telah selesai bersiap dan berkumpul di depan pintu ruangan penilaian. Hal itu karena Jim belum mengintruksikan mereka untuk masuk ke dalam. Mengingat kalau para juri belum hadir semuanya.
Jim terus berusaha menghubungi salah satu juri yang belum datang. Namun disaat sambungan telepon itu masih terus berdering, juri yang di tunggu pun datang juga. Jim langsung menyuruh semua peserta masuk ke dalam.
"Selamat datang para juri di ajang pencarian model berbakat ini. So, kita langsung saja ini dia, The Next Best Model di tahun ini adalah ... " ucap Jim membuka cara.
Semua peserta mulai berjalan di atas catwalk sambil berlenggak-lenggok dengan berbagai macam gaun yang mereka kenakan. Ditambah alunan musik beat, menambah suasana di dalam ruangan itu menjadi lebih energic.
__ADS_1
Selanjutnya, satu per satu peserta dipanggil lalu mulai menunjukkan bakat mereka. Semua bakat yang ditunjukkan sangat menarik dan juga inspiratif.
Hingga saatnya giliran Sabhira. Gadis itu menunjukkan bakatnya dalam hal menari. Tarian yang dia suguhkan sungguh indah dan membuat para juri serta Jim dan Von terpesona dibuatnya.
Akan tetapi ketika dirinya akan keluar dari panggung, tiba-tiba tali gaunnya terlepas. Sontak Sabhira pun reflek memegangi bagian dadanya. Sementara bagian punggungnya telah terekspose dari belakang. Beruntung posisinya menyamping dan lampu di acara tersebut samar-samar. Kemungkinan besar tidak ada yang menyadarinya, sebab Jim langsung memanggil peserta yang lain.
Sabhira mempercepat langkahnya menuju ruang ganti. Sedangkan wanita yang tadi menjadi tersangka atas putusnya tali gaun gadis itu merasa kesal karena Sabhira masih dinyatakan lolos ke tahap berikutnya.
"Ck! kenapa putusnya disaat waktu yang tidak tepat sih! kalau saja pas disaat dia sedang menari, aku yakin dia langsung di blacklist. Bukan hanya dari ajang ini tapi juga keluarga suaminya yang kaya raya itu!" sarkas wanita itu lalu menghembuskan napas kasar dan bersilang dada.
Sementara di ruang ganti, Sabhira yang telah mengganti pakaiannya duduk di depan cermin sambil menangis menatap dirinya sendiri.
"Siapa yang tega melakukan hal memalukan tadi padaku? Apa Von salah memberiku gaun?" Sabhira mengambil kapas dan juga botol pembersih make up. Ia menuangkan cairan pembersih make up itu secukupnya ke atas kapas. "Kalau saja nanti aku tahu siapa pelakunya. Akan ku maki habis-habisan dia!" ujar gadis itu yang merasa kesal. Lalu mengusap kapas yang terdapat cairan pembersih ke wajahnya. Tak lupa ia pun melepaskan bulu mata palsu dan juga softlens yang terpasang di kelopak serta bola matanya.
Sedangkan Jim yang tidak melihat keberadaan Sabhira setelah tampil langsung menyuruh Von mencarinya.
Von mencari ke belakang panggung, tidak ada. Wanita itu mencari kesana kemari dan berakhir ke ruang ganti pakaian serta make up.
Saat dibuka pintunya, benar saja. Sabhira yang baru saja selesai membersihkan wajah dari riasan make up pun menoleh. Von hendak menghampiri gadis itu, namun sebelumnya menutup pintunya kembali.
"Sedang apa kau disini, Sabhira?" tanya Von lalu duduk di kursi kosong sebelah gadis itu.
Sabhira tidak langsung menjawabnya. Hatinya masih merasa kesal karena gaun yang tadi dia pakai rusak dan hampir membuat tubuh bagian atasnya polos.
"Kenapa kau diam?" tanya Von lagi, mengerutkan keningnya.
Sabhira mendes ah kasar sambil menghentakkan kaki kemudian berdiri. Gadis itu melirik sesaat ke arah Von, lalu berjalan ke arah stand hanger yang terletak tak jauh dari tempatnya berada untuk mengambil gaun yang tadi rusak.
__ADS_1
"Ada apa sama gaunnya?" Von semakin penasaran. Wanita itu mengerutkan keningnya, tatapannya seolah menuntut Sabhira supaya cepat angkat suara.
"Kau tahu Von, tali gaun ini putus. Beruntung saat aku telah selesai maju, coba kalau ditengah jalan? apa kau tidak memeriksa gaun ini lebih dulu sebelum dipakai peserta?" cecar Sabhira sambil membulatkan pupil matanya. Gadis itu merasa kesal, marah dan malu.
Von menggelengkan kepala dan menatap Sabhira tidak percaya. "Kau jangan salah sangka! coba kulihat gaunmu," selanya sambil mengulurkan tangan.
Sabhira memberikannya dengan sedikit melempar. "Kau teliti saja dengan baik, apa gaun itu layak untuk dipakai atau tidak!" sergah gadis itu lalu bersilang dada.
Von melebarkan gaun tersebut. Sekilas memang tidak nampak ada yang cacat pada gaun itu, tapi wanita itu mendekatkan matanya sambil merenggangkan lagi serat kain itu. Matanya seketika membulat dengan sempurna lalu menatap Sabhira dengan sorot sedih.
Sabhira yang melihat itu mengangkat sebelah bibirnya, menyeringai. "Yakin sebelumnya telah kau periksa dengan teliti?" tanyanya seakan meledek.
"Aku yakin, aku telah meneliti semua gaun yang akan dipakai oleh peserta. Dan masalah seperti ini sungguh diluar dugaanku. Atau jangan-jangan kau sengaja menggores-goresnya?" ujar Sabhira sambil memicingkan matanya.
"Hei!" teriak Von tiba-tiba, tidak terima dituduh. Sabhira pun tersentak kaget. "Jangan asal bicara!" sentaknya lagi dengan napas naik turun, wajahnya merah padam. Von tersulut emosi.
"Kenapa kau marah? harusnya kalau kau tidak melakukanya, kau tidak perlu marah dong." Sabhira berkacak pinggang.
"Sabhira! sekali lagi kau menuduhku, akan ku robek mulutmu!" bentak Von yang semakin naik pitam.
"Stop!"
Kedua orang wanita yang sedang berseteru itu, menoleh ke arah pintu bersamaan.
...****************...
Siang semuanya, aku ada rekomendasi novel nih, mampir yuk! dijamin deh pasti bikin baper. 😊
__ADS_1