Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
KEDATANGAN TAMU


__ADS_3

Keesokan harinya tepat pukul tujuh pagi, Barun masih tertidur pulas di atas kasurnya. Tiba-tiba sinar matahari yang begitu menyorot dengan terangnya, membuat pria itu terusik lalu terbangun dari tidurnya. Reflek sebelah matanya di tutup, guna menahan sinar matahari yang bisa membuat pandangannya seketika menjadi gelap.


"Morning."


Barun memfokuskan pandangannya sambik setengah duduk dengan sebelah tangan yang ia lipat sebagai sanggahan badannya.


"Ah, kau rupanya," ucap Barun ketika orang yang ada di depannya itu berbalik badan dan menutupi sorotan cahaya. Sehingga ia dapat melihat siapa orang tersebut, yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Sabhira menyambut sang suami dengan senyuman termanisnya. Berharap Barun tidak sampai terkena diabetes karena senyuman istrinya itu.


Kemudian gadis itu berjalan menuju sebuah meja rias dengan berbagai macan aksesoris di atasnya. Namun Sabhira tidak akan memakai aksesoris itu, melainkan hendak menyisir rambut dan melihat kembali hasil riasannya yang ia poles sejak tadi pagi-pagi sekali.


"Tumben kau sudah bangun. Tampaknya kau sedang bahagia. Apa kau sudah sembuh?" kata Barun yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya.


"Iya, aku bahagia karena tubuhku sudah nyaman di ajak bergerak. Kau tahu? sejak tadi pagi aku menyiapkan sarapan untukmu dan juga nenek. Makanya sekarang aku sudah rapih." Sabhira kemudian berbalik badan. Barun masih terdiam dan terus memperhatikan istrinya itu. "Bagaimana? apa aku sudah cantik?" tanya nya kemudian.


Menyadari tingkah istrinya yang mulai kembali seperti sebelum kejadian, raut wajah Barun pun tersirat rasa bahagia yang penuh syukur.


"Hei! kenapa kau dia? duuuh. Pakai acara bengong juga lagi," gerutu Sabhira sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah pria itu.


Barun pun terkesiap karena terkejut, terlebih melihat Sabhira yang kini sudah ada di depannya. Tidak ingin ketinggalan kesempatan, Barun meraih pinggang gadis itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi dengan sigap, Sabhira mampu menahannya. Lagi-lagi gadis itu membuat Barun tersentak.


"Ada apa? aku hanya ingin memelukmu!" pekiknya polos. Meskipun demikian, tetap saja pikiran Barun saat ini tidak sepolos wajahnya.


"No, no, no!" tolak Sabhira dengan tegas. "Sekarang kau harus mandi, karena ... " Sabhira kemudian memposisikan tubuhnya duduk di pinggir kasur dan saling berhadapan dengan Barun. Ajaibnya, raut wajah gadis itu seketika berubah menjadi manja. "Aku ingin pergi menonton film, mau kan kau temani aku? Nanti setelah itu kita pergi ke festival makanan. Apa kau tega aku selalu menjatuhkan air liur ketika setiap kali melihat iklannya di televisi? Kalau saja aku tidak menabrak dan bertemu denganmu, aku pasti sudah memesan makanan banyak di sana hari itu."


Barun menarik napasnya, hendak berbicara. Namun sepertinya Sabhira masih belum puas berbicara kemudian melanjutkan ucapannya lagi.


"Tuan," Sabhira pun berdiri. Barun mendelik ke arahnya. Kemudian ikut turun dari kasur. Posisi mereka pun kini saling berhadapan. "Mau ya menjadi suamiku yang baik hati dan tidak sombong untuk satu hari ini saja?" pinta gadis itu memohon dan penuh harap.


Barun mengangkat sebelah alisnya. "Tapi ini tidak gratis," ucapnya cepat sebelum Sabhira berbicara lagi.

__ADS_1


"Hoah! Apa?" Gadis itu membulatkan mata serta mulutnya bersamaan.


"Iya, kau harus membayar. Karena waktuku begitu berharga." Barun sengaja berkata demikian. Ia tahu kalau Sabhira pasti akan berpikir ulang.


"Tapi aku tidak punya uang. Terus aku harus apa? tolong ya Tuan Barun jangan memberiku pekerjaan yang sulit aku lakukan. Jika sampai itu terjadi, aku akan jatuh pingsan lagi seperti kemarin." Gadis itu merajuk. Ia berbalik badan hendak berjalan ke sofa. Tiba-tiba tangannya ditahan oleh Barun dan ia pun menoleh lalu berhadapan lagi dengan pria itu.


"Aku akan mengajakmu gratis." Baru saja Barun berkata seperti itu. Kedua mata Sabhira langsung berseri. "Dengan syarat, kau harus benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter," pungkas pria itu yang kini membuat gadis yang ada dihadapannya menghembuskan napas panjang melalui mulut.


"Ya sudahlah. Sudah sana kau mandi, setelah itu sarapan," kata Sabhira seketika raut wajahnya lesu seperti kehilangan harapan.


"Iya," jawab Barun singkat.


Karena sudah merasa malas, gadis itu berbalik badan lalu berjalan keluar dari kamar. Sementara Barun menyunggingkan senyum tipis menatap kepergian istrinya, kemudian pergi ke kamar mandi.


...----------------...


Di ruang makan, Sabhira tengah sibuk mempersiapkan hidangan untuk sarapan.


"Masih di kamar, Nek," jawab Sabhira seraya tersenyum.


"Hari ini dia ke kantor?" tanya nenek lagi, melihat Sabhira yang masih sibuk.


"Sepertinya iya, Nek. Apalagi sekarang tidak ada kak Erzal. Mungkin pekerjaannya akan lebih sibuk," jawab Sabhira. Gadis itu seakan mengerti tentang pekerjaan suaminya.


Di saat keduanya tengah asik bersenda gurau di ruang makan, tiba-tiba saja suara bel yang berasal dari luar pun berbunyi.


"Ada tamu, Nek. Biar aku saja yang buka," usul Sabhira namun tangannya ditahan oleh nenek.


"Jangan, biar pelayan saja yang membukakan," cegah nenek. Wanita berusia senja itu tidak ingin Sabhira kelelahan lagi. Sedangkan gadis yang di cegahnya pun mengangguk patuh.


Kemudian seorang pelayan bergegas sedikit berlari untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka lebar, tampak seorang pria berdiri dengan style pakaian lebih mirip kepada gaya remaja zaman sekarang.

__ADS_1


"Permisi, apa pemilik mansion ini sedang ada di rumah?" tanya pria itu. Sedangkan pelayan yang ada di depannya mengerutkan alis, menatap heran dan juga aneh akan sikap pria itu.


"Siapa yang datang?" teriak nenek dari ruang makan.


"Ini aku, Nek!" Seorang pria yang baru saja masuk ke dalam mansion berteriak juga menyahuti nenek.


"Oh Tuhan, ternyata kau Mosev!" pekik nenek seraya berdiri menyambut kedatangan pria yang bernama Mosev tersebut.


Sementara itu, Sabhira hanya terdiam dengan tatapan bingung melihat nenek dan Mosev saling bergantian. Pria itu merentangkan tangannya lalu memeluk nenek dengan penuh suka cita.


"Oh iya, kenalkan ini Sabhira. Istri dari sepupumu, Barun," kata nenek sambil memberitahukan Sabhira pada Mosev.


"Benarkah?" tanya Mosev memastikan lagi sambil menatap nenek dan Sabhira bergantian.


Gadis yang ada di depannya itu tersenyum lalu menyatukan kedua telapak tangannya di dada. "Senang bertemu denganmu."


Mosev mengangguk sambil tersenyum. Kemudian pandangannya melihat ke sekeliling mansion yang berada di lantai utama. Sesaat kemudian, pandangan Mosev terhenti ketika melihat Barun yang baru sana keluar dari kamarnya.


"Barun!"


Pria yang dipanggil oleh Mosev pun mencari ke sumber suara. Ketika sudah menemukannya, Barun tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya, sebab tangan yang lainnya memegang jas yang akan ia kenakan.


Barun berjalan lebih cepat untuk menghampiri Mosev yang bersama dengan nenek dan juga Sabhira. Namun ketika baru saja tiba di lantai utama, ponselnya berdering. Ia pun mengeluarkan benda tersebut dari dalam saku celana, di layar ponselnya tertera nama sekertaris nya itu.


"Hallo?"


To be continue ...


...****************...


Malam semuanya, karena aku slow up. Mungkin kalian bisa mampir dulu ke karya temanku yang tidak kalah keren dan menariknya yaitu dari Teh Ijo dengan judul Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu. Selamat membaca 🤗

__ADS_1



__ADS_2