
Langit yang sudah gelap membuat Mosev semakin ketar-ketir. Ia bahkan sudah keluar masuk dan mencari keberadaan Sabhira berkali-kali. Namun hasilnya nihil.
Pria itu menyerah juga. Daripada sampai besok pagi tidak menemukan istri sepupunya, lebih baik sekarang dia menelepon Barun untuk meminta bantuan. Meski ujungnya dia pasti paham apa yang akan di lakukan Barun padanya.
"Halo? Barun." Mosev terdengar gugup.
"Ada apa? Kalian masih belum pulang? suaranya berisik sekali," tanya Barun yang sudah bisa menebak keberadaannya.
"Iya ... Barun ... begini ... ah, intinya saja deh! ... Sabhira hilang." Mosev menutup matanya serta menjauhkan ponsel dari telinganya. Gunanya untuk berjaga-jaga supaya ketika Barun berteriak, telinganya tidak terlalu sakit.
"Apa! bagaimana bisa? cepat cari!" perintah Barun yang sangat terkejut akan berita yang disampaikan Mosev barusan.
"Sudah, tetapi tetap tidak ketemu," jawab Mosev. Suara pria itu bergetar seperti ingin menangis.
"****! posisimu sekarang dimana?" tanya Barun lagi yang sudah mulai geram. Pekerjaan seharian ini sungguh menyita tenaga, pikiran serta waktunya. Ditambah ada kejadian sekarang ini, pikirannya pun semakin bercabang.
"Di halaman parkir festival," jawab Mosev kemudian sambungan telepon pun langsung di putus oleh Barun.
"Aku pasrahlah Tuhan. Semoga Barun masih memberiku kesempatan hidup," kata Mosev bermonolog lagi.
Tidak sampai lima belas menit, mobil yang Barun kendarai telah sampai di halaman parkir acara festival tersebut. Ia segera turun dari mobil sampai melupakan ponselnya yang tertinggal di dalam dashboard.
Dengan kejelian matanya, saat ditengah keramaian seperti ini. Tidak sulit untuk Barun menemukan Mosev yang sudah sangat tampak gelisah.
"Mosev!" panggil Barun sambil menepuk bahu pria itu membuat sang empunya terkejut bukan main.
"Barun, I am so sorry. Aku tidak ..."
"Sudah jangan banyak bicara, terakhir kau melihatnya sedang beli apa?" tanya Barun yang menyerobot ucapan Mosev barusan.
"Dia beli minuman di tenda yang ada di tengah itu dan aku membeli makanan yang ada di seberangnya. Setelah itu aku tidak melihat lagi keberadaannya," jelas Mosev yang merasa ketakutan, sebab raut wajah Barun sudah sangat kesal serta rahangnya mengeras.
__ADS_1
"Baiklah, ikut aku sekarang!" titah Barun yang kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu dan Mosev pun mengikuti.
Kedua pria itu berjalan menelusuri sepanjang tenda di acara festival tersebut. Ketika keduanya sampai di pertigaan jalan, Barun dan Mosev pun berpencar. Mereka saling berlawanan arah.
Meski belum ada rasa cinta yang seutuhnya terhadap Sabhira, tapi pria itu terus berjalan mengikuti kata hatinya. Barun masuk ke dalam pemukiman kumuh yang juga di sambangi Sabhira.
Pria itu berputar mengelilingi pemukiman tersebut. Namun hingga dia kembali di titik semula, pandanganya tidak sengaja menangkap sosok Sabhira yang tengah kebingungan.
Tanpa berpikir panjang, Barun menghampiri istrinya dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia, marah, sedih, semua jadi satu.
"Sabhira!" panggil Barun sambil mempercepat lagi langkahnya.
"Tuan," lirih Sabhira ketika menoleh ke sumber suara ternyata suaminya. Kedua matanya pun seketika berkaca-kaca.
"Kenapa kau bisa ada di sini? sudah ku bilang tunggu sembuh lebih dulu sebelum kau keluyuran. Alhasil kau kehilangan Mosev, 'kan? apa kau tau, mendengar kau hilang saja rasanya aku kesal sekali," gerutu Barun meluapkan segenap perasaan tidak nyaman yang kini menyelimuti dirinya.
Sabhira tak mampu berkata-kata. Gadis itu hanya terdiam dengan air mata yang sudah membendung dan hampir saja menetes.
Sabhira mengibaskan tangannya untuk menghapus air mata yang tadi akan menetes. "Puas kau menghinaku Tuan! Ku kira kau ke sini untuk menolongku. Tapi ternyata kau malah menghina di depan wajahku. Kalau memang aku kotor dan menjijikan, sudah ku bilang. Lepaskan aku! dan kau tidak pernah merasakan di posisiku saat ini, serta kau tidak sadar kalau yang aku alami kemarin karena DIRIMU!"
Kedua mata gadis itu memerah. Napasnya pun sudah kembang kempis. Perasaannya sudah sangat kesal bercampur kecewa. Sakit di kepalanya tiba-tiba menghampiri. Ia memang disarankan untuk tidak boleh sampai merasa stres ataupun semacamnya.
Barun yang terhenyak dengan perkataan istrinya, merasa seakan tertampar. Pria itu tidak bermaksud berkata demikian. Emosinya semakin melampaui. Ditambah keduanya menjadi pusat perhatian warga di pemukiman itu.
"Kalau begitu, aku harus pergi!" kata Sabhira lalu dengan cepat berbalik badan dan hendak melangkah meninggalkan Barun di sana.
Seketika lengannya ditahan oleh tangan Barun. "Maaf, aku salah."
Ucapan Barun berhasil membuat air matanya menetes sekali namun dengan segera dihapuskan olehnya. Gadis itu pun berbalik badan lagi. "Lepaskan aku. Jangan pernah berani menyentuh gadis kotor sepertiku lagi!"
Barun menghembuskan napasnya walau amat berat. Tangannya semakin menggenggam erat lengan Sabhira, bahkan berubah menjadi cekalan.
__ADS_1
"Tolong, Sabhira. Aku hanya ingin kamu paham. Bagaimana jika aku benar-benar kehilanganmu? aku sangat khawatir," kata Barun dengan suara yang sangat serendah serta selembut mungkin.
Sabhira kini tersentak. Namun hatinya masih belum percaya, sebab ia terlalu terbawa perasaan akan ucapan suaminya itu.
"Benar kau khawatir denganku?" tanya Sabhira menyelidik sambil memicingkan matanya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Iya, tentu. Kau harus percaya itu," jawab Barun dengan yakin.
"Ck!" Sabhira berdecih. "Baik, maafmu diterima. Jadinya kapan kita pulang? aku sudah sangat kekenyangan sekali," lanjutnya sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari jalan keluar. Sebab dirinya sudah berada terlalu jauh dari acara yang awalnya dikunjungi bersama Mosev.
"Iya, ayok sekarang!" ajak Barun sambil menghembuskan napas panjang. "Sinu tanganmu," perintah pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Sabhira.
Namun gadis itu tidak langsung menyambutnya, melainkan menatap tangan Barun dengan penuh kebingungan. "Untuk apa?" tanyanya lalu menatap wajah sang suami.
"Supaya kau tidak hilang lagi," jawab Barun dingin. Akan tetapi Sabhira hanya mendelik ke arahnya. Barun yang sudah tidak sabar langsung meraih salah satu tangan istrinya lalu menggenggamnya cukup erat.
"Hei, Tuan!" pekik Sabhira yang terkejut akan tarikan tangan suaminya itu. "Kenapa kau tidak bisa sedikit pun bersikap lembut padaku? Bagaimana jika jantungku benar-benar terlepas dari tempatnya. Apa kau memang ingin aku seperti itu?" ucap gadis itu yang terus berjalan mengimbangi langkah kaki suaminya.
Namun sayangnya, Barun tidak menghiraukan celotehan istrinya tersebut. Hingga akhirnya mereka pun bertemu kembali dengan Mosev di pertigaan jalan.
"Astaga Sabhira, aku sudah mencarimu setengah mati sejak tadi. Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Kau bayangkan saja, aku hampir menjadi korban amukan suamimu ini," kata Mosev yang sekarang sudah bisa bernapas lega.
"Maaf Mosev. Aku telah membuatmu khawatir," ucap Sabhira yang seketika mendapat tatapan tajam dari Barun. Bagaimana tidak? istrinya dengan mudah meminta maaf pada orang lain sedangkan pada dirinya tidak. Padahal yang jauh mengkhawatirkannya adalah Barun, suaminya sendiri.
"Ehem ... "
To be continue ...
...****************...
Untuk penyuka novel tentang Mafia. Boleh nih mampir ke novelnya Hilmiath dengan judul Mafia's Woman. Cuss baca yuk! 💃🏼
__ADS_1