Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
MELEPASKAN DAHAGA


__ADS_3

"Nek, siapa yang bertamu masih pagi seperti ini?" tanya Mosev.


"Aku juga tidak tahu ... " Nenek kemudian melihat salah seorang pelayan yang baru masuk dari arah kolam renang. "Pelayan, tolong bukakan pintu. Siapa tahu tamu penting!" perintahnya kemudian dijawab dengan anggukkan kepala oleh pelayan tersebut.


Lalu seorang wanita dengan dua anak laki-laki datang bersama pelayan itu ke ruang tamu. Sabhira seketika membulatkan matanya sambil menelan kasar makanan yang baru saja beberapa kali dikunyah oleh ya.


"Tissa ... " gumam gadis itu lalu menenggak segelas air yang ada di hadapannya sampai habis.


"Maaf Nyonya, Nona ini memaksa saya supaya bisa masuk ke dalam," kata pelayan itu, tersirat raut ketakutan pada wajahnya yang sedikit menunduk.


"Iya, kembalilah bekerja," titah nenek tegas.


Wanita berusia senja itupun berdiri kemudian menghampiri Tissa dan kedua anak laki-laki yang tidak jauh usianya.


"Ada perlu apa kau datang ke sini? bukankah kau bilang beberapa waktu lalu kalau kau datang ke sini hanya sebuah pekerjaan? kenapa sekarang membawa dua anak tidak berdosa masuk ke mansion ini? ada apa sebenarnya?" cecar nenek, memicingkan matanya sambil menelisik penampilan Tissa dari ujung kaki hingga kepala.


"Ma-maaf Nyonya. Saya ... " Tissa menjeda ucapannya lalu menghela napas. "Kedatangan saya ke sini, saya ingin menitipkan mereka pada kalian. Mereka ini adalah anak-anak dari Erzal. Setelah kelahiran si bungsu, Erzal memang tidak pernah menemui saya lagi. Dia malah mengirimkan surat cerai pada saya beberapa bulan yang lalu. Sekarang karena saya juga tidak punya orang tua dan sanak saudara, saya sudah tidak ingin mengurus mereka lagi. Bukan karena tidak sayang, tapi ada tuntutan karir yang harus saya jalani ke depannya. Saya bingung harus menitipkan mereka ke siapa," jelasnya. Ia berbicara tapi tatapannya melihat ke sekitar lantai dasar seperti mencari keberadaan seseorang di sana.


"Kenapa kau tidak menyewa baby sitter untuk mereka? apa kau tidak sanggup membayar orang lain untuk mengurus anakmu sendiri?" cecar nenek yang merasa jengkel dengan sikap Tissa yang menurutnya seenaknya sendiri.


"Tidak, bukan itu ... Karena kalian bagian dari keluarga mereka, makanya saya berani untuk menitipkan anak-anak ini kepada kalian," jawab Tissa dengan mata yang berkaca-kaca.


Walau demikian, Sabhira sangat tahu persis apa yang Tissa cari. Tiada lain dan tiada bukan adalah suaminya, Barun.


Di sisi lain sang nenek sebenarnya merasa tidak tega dengan raut wajah kedua bocah yang masih berusia balita itu. Wajah-wajah tidak berdosa, korban keegoisan dari kedua orang tuanya kini hanya terdiam menyaksikan para orang dewasa yang ada di hadapan mereka.


Begitupun dengan Sabhira. Gadis itu pada dasarnya sangat menyukai anak kecil. Hati kecilnya sangat ingin merawat mereka, meski Tissa bagian dari masa lalu suaminya. Namun rupanya hal itu tidak dihiraukan olehnya.


"Maaf Nek, aku harus ke kamar. Ada yang ingin aku bicarakan pada suamiku," kata Sabhira tiba-tiba angkat bicara, lalu berpamitan pada sang nenek lalu menatap semua yang ada di sana saling bergantian.

__ADS_1


...----------------...


Setibanya di kamar, Sabhira tidak menemukan keberadaan Barun di sana. Akan tetapi, gadis itu merasa aneh ketika semua gorden sudah tertutup rapat.


Tiba-tiba Sabhira tersentak dengan suara pintu yang terkunci. Ia segera berbalik badan. Ternyata Barun lah pelakunya.


"Ada apa Tuan?" tanya Sabhira mengernyit.


Barun kemudian memijat keningnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang lain ia taruh di pinggang. Ia pun mulai mondar-mandir di depan Sabhira.


"Tuan! bicaralah padaku. Kenapa kau seperti setrikaan yang membuatku pusing?" protes Sabhira, seketika Barun menghentikan langkahnya lalu memberi sang istri tatapan yang sulit di artikan.


Sabhira pun bersusah payah menelan saliva nya. "Apa?" Gadis itu mundur ke belakang saat melihat Barun mulai melangkah mendekat ke arahnya. "Mau apa kau, Tuan!" sentak nya mulai merasa ketakutan.


Barun tersenyum pongah. Pria itu justru tambah bahagia melihat Sabhira yang tampak gugup. "Apa kau sudah siap Sabhira?"


Napas Sabhira mulai tidak keruan. Barun memajukan wajahnya hingga berhenti tepat beberapa centi dari wajah gadis itu. Kedua mata Sabhira otomatis terpejam.


Barun tersenyum tipis, sebelah tangannya menyentuh pipi mulus Sabhira lalu membelainya dengan lembut.


"Siap untuk masuk ke dalam permainanku." Suara parau Barun yang terdengar seksi membuat Sabhira merinding seketika.


"Ta-tapi ini sudah siang, Tuan. Di-di luar juga sedang banyak orang. Ka-kalau mereka mencari kita bagaimana? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


"Seseorang? ... " Barun seolah berpikir sejenak. "Nanti saja aku pikirkan setelah permainan ini selesai."


KLIK. Barun menekan sebuah tombol yang letaknya tak jauh dari pintu lemari tersebut. Dalam waktu sekian detik, lampu kamar berubah menjadi warna ungu kebiruan. Sabhira pun melonjak kaget.


"Tuan Barun ini sangat kelewatan! Bagaimana kalau Mosev atau nenek yang menyusul kemari," batin Sabhira resah.

__ADS_1


Sabhira mendengus kesal. Sedangkan tangan Barun sejak tadi tidak tinggal diam. Pria itu mulai menanggalkan pakaian yang dikenakan istrinya.


"Tuan ... " Sabhira tercekat saat wajah Barun mulai menelusup ke leher jenjangnya. ******* pun lolos dari mulutnya yang sejak tadi menolak, tapi tubuhnya malah menyambut setiap sentuhan yang ditorehkan oleh Barun.


"Tu ... aaahhh!" Sabhira semakin dibawa ke awang-awang oleh suaminya itu.


Barun menyudahi permainannya lalu membalikkan tubuhnya sambil berjalan ke arah tempat tidur seraya melepas satu persatu pakaiannya. Hingga tersisa segitiga berkudanya.


"Come to me, Sabhira," ucap Barun yang telah duduk di tepi kasur. Matanya mulai sayu. Akan tetapi, gadis itu malah semakin gugup dan masih mematung di tempatnya.


Sabhira kemudian melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke Barun. Kedua tangannya meremas ujung pakaian yang ia kenakan.


"Apa tidak sebaiknya nanti saja setelah semua orang kembali ke aktifitas mereka masing-masing?" tanya Sabhira mencoba bernegosiasi.


"Tidak bisakah kali ini kau menurut Sabhira? Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu ... " jawab Barun dengan matanya yang semakin sayu bahkan suara parau nya itu sebenarnya sulit untuk ditolak oleh Sabhira.


"Tapi, jangan salahkan aku jika tiba-tiba pintu kamar kita sampai ada yang mengetuknya," timpal gadis itu lalu duduk di atas pangkuan Barun.


"Maka dari itu lakukanlah sekarang," jawab Barun lagi yang kemudian tanpa aba-aba langsung melu mat bibir sang istri dengan penuh gairah.


Sabhira semakin terbawa suasana. Naluri keduanya saling berjalan. Bersatu padu dalam erangan kenikmatan yang menggema ke seluruh kamar.


Pendingin ruangan yang sudah di atur sedemikian dinginnya, seakan tidak berfungsi. Peluh yang keluar dari keduanya kian menyatu membuat sprei terasa lembab.


Nyanyian merdu yang saling bersahutan, seakan mengobarkan untaian cinta diantara keduanya. Menari, melayang bersama dalam satu peraduan tercipta. Indahnya cinta di atas ikatan suci, menambah nikmatnya penyatuan diri untuk melepaskan dahaga di dalam jiwa.


Setelah selesai, mereka pun saling berpelukan lalu memberikan tanda sayang lewat kecupan singkat di kening keduanya.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2