Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
NIAT OLAHRAGA MALAM


__ADS_3

Setibanya di mansion, Sabhira dan Mosev turun dari mobil kemudian masuk ke dalam.


"Sabhira, apa kau yakin mau tidur siang?" tanya Mosev saat keduanya telah berada di dalam mansion.


"Iya, aku ngantuk sekali. Dua hari lagi aku akan mengikuti kontes, jadi tubuhku harus tetap fit," jawab Sabhira yang sudah mulai merasa kantuk.


"Kontes apa? Kapan kau daftarnya? Coba ceritakan padaku," cecar Mosev dengan berbagai pertanyaan lalu berhenti di depan Sabhira yang terkejut dan reflek melangkah mundur dibuatnya.


"Panjang sekali ceritanya, sudah ya ... aku kantuk sekali," jawab Sabhira. Gadis itu enggan untuk bercerita saat ini.


"Ya sudah deh kalau gitu, silahkan." Mosev akhirnya mengalah lalu memberi Sabhira jalan untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Hai, Nek," sapa Sabhira ketika melihat sang nenek sedang asik menonton televisi di ruang keluarga.


"Hai, kalian berdua sudah pulang?" tanya nenek, saat melihat keberadaan Mosev yang mengekori Sabhira.


"Iya, aku ke kamar dahulu ya, Nek," pamit Sabhira yang kemudian menguap. Rasa kantuknya sudah tidak bisa tertahankan lagi.


"Oh iya, selamat beristirahat ... " Lalu pandanga nenek melihat ke arah Mosev yang ikut duduk sambil menonton televisi. "Kau tidak tidur siang juga?"


"Tidak. Aku tidak mengantuk," jawab Mosev kemudian melirik sekilas ke arah nenek.


"Ya sudah lah."


"Astaga, Nek!" Suara Mosev yang tiba-tiba meninggi, mampu membuat sang nenek terkejut.


Sontak nenek pun merasa kesal lalu melempar bantal sofa ke arah Mosev yang dengan sigap menangkapnya. "Untung aku tidak jantungan, heuh!"


"Maaf Nek," ucap Mosev sambil tersenyum lebar dengan menunjukkan barisan giginya yang putih serta rapih. "Serius deh, ini serialnya seru. Makanya, aku sangat tertarik sekali!" seru pria itu yang kini memeluk bantal sofa yang tadi dilempar oleh nenek.


"Kau kalau mau nonton ya nonton saja. Ck! Mosev ... Mosev," ucap nenek sambil mengelus dadanya.


...----------------...


Tak terasa sore pun telah datang, Sabhira terbangun dari tidur siangnya baginya cukup panjang.


"Hah! Baru kali ini aku merasakan tidur siang yang sangat nyaman sekali. Tidak ada yang mengganggu," gumam gadis itu yang sudah terduduk di atas tempat tidur. Kedua tangannya sengaja diangkat ke atas, guna melemaskan otot-otot yang kaku.


Lalu matanya melihat petunjuk waktu yang ada di kamar tersebut. "Oh My God, sudah pukul lima sore! Sebentar lagi, Tuan Barun akan pulang!" seru gadis itu. Ia pun langsung turun dari tempat tidur dan bergegas pergi ke kamar mandi

__ADS_1


Dalam waktu beberapa menit, Sabhira telah menyelesaikan mandinya. "Segar sekali rasanya," gumamnya lalu berjalan menuju lemari.


Pilihan Sabhira jatuh pada sebuah setelan hoodie. Namun pakaian itu bukan miliknya, melainkan milik suaminya.


"Ternyata nyaman sekali pakai baju seperti ini. Kalau dilihat dari bahannya sih harganya mungkin mahal. Lembut," ucap Sabhira sambil berdiri di depan cermin.


Setelah puas melihat pantulan dirinya dari cermin tersebut, ia membereskan kasur yang masih tampak berantakan karena habis dipakainya untuk tidur siang tadi.


"Beres!" Gadis itu berkacak pinggang dan tersenyum pongah saat melihat kondisi kasur serta kamar tersebut sudah dalam keadaan rapih. Ia pun kemudian keluar dari kamar.


Benar saja, saat dirinya baru tiba di ruang keluarga. Barun pun pulang.


"Sore, Tuan," sapa Sabhira dengan sangat ramah dan juga tampak riang.


"Tunggu, ini kan ... " Barun menelisik Sabhira dari ujung kepala hingga kaki. "Darimana kau dapatkan pakaian ini?" tanyanya kemudian.


"Lemarimu," jawab Sabhira dengan percaya diri.


"Memang, milik siapa?" tanya Barun lagi.


"Milikmu," jawab gadis itu lagi masih tersenyum sumringah.


"Sudah tahu milikku, kenapa kau pakai?" Barun mulai geram. Ia menggertak istrinya sehingga wajah mereka pun saling berdekatan.


Barun menghembuskan napasnya, tidak ingin terpancing emosi. "Ya sudah lupakan! Aku mau ke kamar untuk mandi," ucapnya yang kemudian pergi meninggalkan Sabhira.


"Apa aku salah memakai pakaianmu, Tuan?" Gadis itu bermonolog dalam hati sambil menatap punggung suaminya.


Setelah Barun menghilang dari pandangannya, Sabhira memilih pergi ke ruang makan untuk bergabung dengan nenek dan juga Mosev yang sudah ada di sana terlebih dahulu.


"Malam semua," sapa Sabhira lalu melihat deretan hidangan yang telah tersaji di atas meja. Namun dari sekian banyak hidangan, tidak ada yang menurutnya makanan untuk diet.


"Malam," jawab kedua orang itu bersamaan.


"Sabhira, kau tampak berbeda memakai pakaian itu," ucap Mosev. Entah memuji atau mencela. Sebab ucapan pria itu sangat ambigu.


Seketika Sabhira mengerutkan alisnya. "Berbeda bagaimana?" tanyanya.


"Terlihat lebih cantik dan juga seperti wanita berkelas," jawab Mosev sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. "Apa jempolku sudah cukup? atau perlu aku tambahkan kedua jempol kakiku?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Ah, tidak usah Mosev. Kalau kau mengangkat kedua kakimu hanya karena ingin menunjukkan padaku, bisa-bisa semua hidangan ini jadi bau kakimu," ujar Sabhira terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya masih sibuk menata makanan di atas piring milik Barun. Sedangkan nenek hanya menggelengkan kepala mendengar lelucon yang dilontarkan oleh Mosev.


"Kau ini, ada-ada saja. Omong-omong kenapa Barun lama sekali?" Mosev menoleh ke sekitar ruangan karena tidak kunjung melihat keberadaan Barun.


"Paling juga lagi mandi, sudah yuk kita makan," ucap nenek lalu mengajak kedua orang cucu yang ada di hadapannya.


"Sudah Sabhira lebih baik kau duduk!" seru Mosev.


"Iya." Baru saja Sabhira hendak duduk, tak sengaja ekor matanya melihat Barun yang baru saja selesai menuruni anak tangga. Ia pun tidak jadi duduk.


"Malam semua," sapa Barun yang kemudian duduk. Sabhira pun mengikuti.


Empat orang yang berada di ruang makan, hanya Sabhira yang memakan dengan porsi sekepal. Sebab sepengetahuannya, seorang wanita yang menjadi model itu harus benar-benar menjaga lekuk tubuh.


Mengingat dirinya yang suka sekali jajan dan juga makan, mulai saat ini gadis itu bertekad untuk menghentikannya dan beralih dengan makan dalam porsi sedikit.


Barun yang menyadari hal itu, tidak merasa heran. Itu artinya, ia tidak perlu memberitahukan Sabhira untuk tetap menjaga berat badannya demi kontes tersebut.


...----------------...


Selepas makan malam, Sabhira memilih lebih dulu pergi ke kamar. Sementara Barun masih bersama nenek dan Mosev di ruang keluarga sedang asik berbincang.


"Barun, tadi Sabhira bilang dia mau ikut kontes model, apa benar?" tanya Mosev. Menurutnya Barun lebih tahu akan hal itu.


"Iya kau benar. Apa dia cerita padamu?" jawab Barun. Alih-alih tadinya ingin menyembunyikan, tapi ternyata Sabhira sudah lebih dulu bilang kepada sepupunya itu.


"Tidak ... dia hanya bilang begitu saja. Tadi sih dia sudah terlanjut mengantuk, makanya enggan cerita padaku," jelas Mosev.


"Ya ... ceritanya cukup panjang. Berawal dari kekonyolannya, eh ujungnya malah ditawari ikut kontes model. Aku juga tidak menyangka hal itu bisa membuat klien ku tertarik pada bakat Sabhira," papar Barun, menarik napas dalam sambil mengangkat bahunya lalu dihembuskan perlahan.


"Lalu apa kau menyetujuinya?" tanya nenek. Wanita berusia senja itu memiliki sedikit rasa khawatir.


"Ya, tentu. Sabhira yang mau sendiri. Aku pun tidak bisa melarangnya, Nek. Selama dia merasa nyaman, aku akan terus memberinya dukungan," jawab Barun setenang mungkin. Sebab pria itu yakin kalau istrinya pasti bisa.


"Ya sudah jika itu memang keputusannya dan kau pun setuju, kami juga akan turut mendukungnya," ujar nenek, melirik sekilas ke arah Mosev yang juga mengangguk tanda setuju akan pendapat nenek tersebut.


"Lalu, kapan kontes itu akan di mulai?"


...****************...

__ADS_1


Sambil nunggu berlangsungnya acara kontes yang diikuti Sabhira, yuk mampir dulu ke karya keren dan menarik yang satu ini. Dari Yanktie Ino judulnya Between Qatar And Jogja.



__ADS_2