Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
SABHIRA TEPAR


__ADS_3

Akhirnya pihak berwajib menetapkan Erzal sebagai tersangka. Pria itu kemudian diobati lukanya oleh tim medis yang masih dalam pantauan beberapa anggota yang berjaga supaya ia tidak kabur. Setelah itu, pakaian khas tahanan pun dikenakan olehnya.


"Tuan Barun, terima kasih sudah membantu anggota kami untuk menyelesaikan masalah. Untuk putusan hukuman tersangka, akan dilakukan pada pengadilan satu minggu lagi. Jadi kalau Anda masih memiliki bukti yang kuat, silahkan bawa ke dalam persidangan. Karena hakim akan menjatuhkan hukuman sesuai dengan bukti yang ada," kata kepala anggota pihak berwajib dengan segala hormat pada Barun.


"Saya harap semua orang-orang yang telah membantunya menjalankan rencana liciknya itu bisa segera di tangkap dan dimasukkan juga ke dalam penjara. Jika tidak, mereka tidak akan bisa di pastikan bisa jera walaupun Erzal masuk penjara." Barun mempertegas harapannya.


"Siap Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin sampai kasus ini tuntas dan pelaku bisa mendapat hukuman yang setimpal," sambung kepala anggota pihak berwajib tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, saya izin pamit undur diri," kata Barun kemudian menunduk hormat pada pria yang masih berdiri dihadapannya.


"Baik, Tuan. Hati-hati di jalan dan sampai bertemu di pengadilan."


Barun pun pergi lalu berniat untuk menghampiri Sabhira yang dikiranya masih berada di ruang tunggu. Tapi ternyata ketika ia sudah berada di sana, Sabhira tidak ada di ruangan tersebut.


Barun menghampiri salah seorang anggota yang sedang duduk di balik meja pendaftaran.


"Permisi, apa kau melihat istriku di sana?" tanya dirinya, namun yang di tanya tampak bingung. "Wajahnya putih, memiliki rambut panjang sebahu serta badannya tinggi," lanjutnya. Seketika pria yang berada di balik meja tersebut pun mengingatnya.


"Oh itu, tadi salah seorang anggota kami mengantarkan istri Tuan untuk pulang. Saya juga sempat lihat kalau wajahnya sangat pucat pasi. Sepertinya istri Anda sedang sakit ya?" kata pria itu.


Barun tercekat setelah mendengar keadaan istrinya. Perasaannya pun mulai tidak nyaman. Cemas, khawatir serta tidak keruan. Bahkan ia sendiri sulit mengartikan perasaan macam apa yang sedang di rasakannya sekarang.


"Terima kasih informasinya," ucap Barun lalu pergi dari hadapan pria itu menuju parkiran mobil yang ada di halaman kantor tersebut.


Setelah masuk ke dalam mobil, Barun bergegas melajukan nya menuju mansion. Tak lupa ia pun sambil menghubungi dokter yang merawat Sabhira kemarin selama di rumah sakit. Sebab, hanya dia yang paham sejak awal pada kondisi kesehatan istrinya saat ini.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai olehnya tiba di halaman mansion. Barun pun turun lalu mempercepat langkahnya supaya segera tiba di dalam kamar .


Tidak lama Barun sampai, dokter yang beberapa saat lalu dihubungi olehnya itu tiba juga di mansion. Karena untuk pertama kali, dokter tersebut baru mengetahui kalau pasien yang ditanganinya itu merupakan istri dari orang yang cukup terpandang di negeri ini.

__ADS_1


"Rumahnya luas sekali ya. Aku harus lewat mana ini untuk menemui Nyonya Sabhira?" gumam dokter tersebut sangat pelan. Bukan hanya itu, ia sampai menoleh ke kanan dan kiri mencari pintu masuknya.


Kebetulan saja, salah seorang pelayan mansion melewatinya.


"Permisi, saya dokter yang di panggil oleh Tuan Barun untuk memeriksakan kondisi Nyonya Sabhira dan saya baru pertama kali ke sini. Bisakah Anda mengantar saya menemui mereka?" tanya dokter tersebut. Raut wajahnya yang ramah membuat pelayan itu tidak ragu jika ia seorang dokter. Karena memang dokter dalam pemikirannya terkenal ramah dan juga santun.


"Bisa, Dok. Bisa. Mari akan saya antar. Barusan saja Tuan Barun sampai di mansion ini," jawab pelayan itu dengan keramahannya juga.


"Oh jadi rumah sebesar ini namanya mansion ya?" tanya dokter yang baru mengetahui hal itu.


"Iya Dok. Mansion petinggi perusahaan yang tajir melintir," jawab pelayan itu lagi, kali ini ia terkekeh.


"Oh iya, iya. Memang seingat saya kalau Tuan Barun itu bekerja di perusahaan."


Tidak lama berselang, keduanya masuk ke dalam dan bertemu nenek sedang bersantai di ruang keluarga.


"Maaf mengganggu waktunya Nyonya Besar," ucap pelayan itu seraya menunduk hormat. Nenek menoleh lalu mengangguk. "Ini ada dokter yang katanya dihubungi oleh Tuan Barun untuk memeriksakan kondisi Nyonya Sabhira," jelas pelayan itu dan di beri anggukkan kepala oleh dokter sambil tersenyum.


"Baik Nek. Kalau begitu, kami permisi," pamit pelayan itu beserta dokter seraya menunduk hormat bersamaan. Dan nenek pun mengangguk kan kepalanya.Mereka pun akhirnya pergi dari hadapan nenek.


Setibanya di kamar Barun, pelayan itu mengetuk pintunya. Tak lama pintu pun terbuka. Tampak seorang pria dengan garis wajah tegas dengan brewok yang rapih berdiri di hadapan mereka.


"Permisi Tuan. Ini dokter yang mencari Tuan Barun," kaya pelayan itu lalu Barun pun mengangguk paham.


"Iya, terima kasih," ucap Barun. Pelayan itu kemudian menunduk hormat lalu pergi. "Mari Dok, istri saya ada di dalam," ajak Barun pada dokter tersebut.


Keduanya masuk ke dalam kamar. Tidak lupa Barun menutup pintunya lagi. Setelah itu dokter pun mulai memeriksakan kondisi Sabhira.


Pemeriksaan yang dilakukan dokter tersebut, membuat Sabhira perlahan terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Loh Dok kok ada di sini?" tanya Sabhira, suaranya terdengar masih lemah.


"Iya, sebab suami Anda yang menghubungi saya," jawab dokter itu yang baru saja mengeluarkan alat pengukur suhu ke dalam tasnya. Kemudian alat itu dipasangkan pada ketiak Sabhira. Mengingat saat tadi dokter memeriksa manual suhu tubuh Sabhira terasa agak panas. Jadi pikirnya lebih baik di ukur dengan termometer.


...----------------...


Hampir setengah jam Sabhira di periksa, hasil pemeriksaan pun telah dokter dapatkan kesimpulannya.


"Nyonya, setelah ini Anda disarankan harus istirahat total ya. Mengingat kondisi tubuh Anda yang masih sangat lemah dan belum mampu melakukan banyak aktifitas. Karena obat yang dari rumah sakit masih ada, jadi saya tidak memberikan resep kembali. Oh iya, perbanyak makan sayur dan buah ya. Kandungan zat besi dalam tubuh Anda masih butuh asupan sangat banyak."


Sabhira mengangguk pelan. Kemudian dokter itu menoleh ke arah Barun.


"Tuan, nanti minta tolong saja pada yang memasak hidangan setiap hari di mansion ini. Khusus untuk Nyonya Sabhira, dibuatkan sayur dari berbagai macam sayuran hijau serta hindari dahulu dari rasa asam dan pedas yang berlebihan. Lalu minum juga harus dengan air hangat. Karena demam pada tubuhnya masih sewaktu-waktu naik."


"Baik, Dok. Pesan dokter akan saya sampaikan pada pelayan mansion yang saya tugaskan untuk menyiapkan keperluan makan istri saya." Barun bisa bernapas lega karena Sabhira hanya diperbolehkan dokter untuk beristirahat. Pria itu pun berharap semoga saja istrinya itu tidak kumat petakilannya.


"Sebelum saya pamit pulang, ada yang ingin ditanyakan lagi dari Tuan atau Nyonya?" tanya dokter menawarkan diri sambil bersiap, memasukkan alat medis ke dalam tasnya.


"Tidak, Dok," jawab Barun dan Sabhira bersamaan.


"Baik kalau begitu, saya pamit undur diri. Semoga Nyonya Sabhira lekas sembuh, permisi," kata dokter itu yang kemudian berdiri lalu menunduk hormat pada mereka.


"Terima kasih, Dok. Mari saya antar ke depan," ajak Barun sambil mempersilahkan dokter untuk jalan lebih dulu. Dokter yang merasa sungkan pun hanya mengangguk, mengiyakan.


Setelah kepergian suaminya beserta dokter dari kamar, Sabhira pun tertidur kembali. Gadis itu sedang tidak punya tenaga untuk banyak bergerak.


To be continue ...


...****************...

__ADS_1


Selamat pagi, kali ini aku punya rekomendasi novel dari Merpati_Manis dengan judul Harta Tahta Dan Perjaka yang pastinya juga seru dan sayang untuk dilewatkan. So, baca juga yuk! 🤗



__ADS_2