Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
TIDAK ADA DI KAMAR


__ADS_3

Barun berteriak cukup kencang. Beruntung kamarnya itu kedap suara, sehingga orang yang berada di luar pun tidak mendengar apapun yang terjadi di dalam.


Sementara Sabhira sedang cekikikan setelah mengunci pintu kamar mandi. "Rasakan kau Tuan Barun!"


Gadis itu segera mengeluarkan salah satu pakaian yang ada di dalam paper bag. Seketika mulutnya terbuka lebar saat mengangkat pakaian tersebut.


"Pakaian macam apa ini? Kenapa banyak sekali jaringnya? Seperti kekurangan bahan lagi. Awas kau ya!" Sabhira tidak terima, ia memasukkan kembali pakaian tersebut ke dalam paper bag, sedikit dilemparkan ke dalamnya. Lalu keluar dari kamar mandi.


Barun yang sedang duduk di tepi kasur masih asik membayangkan Sabhira memakai pakaian yang dibelinya.


Brak.


Pintu dibuka sangat kencang oleh Sabhira. Sangat jelas terlihat raut kemarahan pada wajah gadis itu. Barun pun terkejut bukan main.


"Ada apa denganmu Sabhira? Kenapa masih memakai pakaian yang sama?" tanya Barun seraya berdiri dan menaruh pakaian gantinya ke atas kasur.


"Ada apa kamu bilang? nih!" Sabhira melemparkan paper bag itu ke wajah Barun. "Ambil saja pakaian kurang bahan milikmu itu! Aku tidak mau memakainya. Bisa-bisa aku jadi masuk angin. Menyebalkan! apa kamu memang sengaja memberikan pakaian itu untukku Tuan Barun?" gerutunya lalu berdecak kesal.


"Apa kamu yakin mau pakai pakaian yang sedari kemarin belum ganti?" tanya Barun, matanya mendelik ke arah Sabhira yang sedang bersilang dada dan menatapnya acuh.


"Iya, ... tentu." Sabhira bersikukuh, walau sebenarnya tidak yakin akan hal itu.


"Coba sini mendekat padaku," pinta Barun menarik tangan Sabhira. Namun tubuh gadis itu mematung dan sukar untuk di geser. "Sabhira!" bentaknya. Seketika Sabhira menarik kembali tangannya.


"Sudah aku bilang jangan memaksa aku untuk pakai itu. Nanti kalau aku sakit kamu mau tanggung jawab?" jawab Sabhira. Lalu Barun tertawa cukup keras.


"Tidak masalah, apalagi kalau membuatmu kembung selama sembilan bulan. Aku akan bahagia sekali!" seru Barun lalu terbahak.


"Tidak lucu Tuan Barun!" sentak Sabhira tiba-tiba menginjak kaki pria itu, sampai meringis kesakitan.


"Kau ini wanita macam apa sih? Tega sekali kau menginjak kaki suamimu ini," kata Barun lalu mengambil pakaiannya di atas kasur dan pergi ke kamar mandi.


Sabhira tidak menghiraukan perkataan Barun barusan. Karena tubuhnya cukup lelah, ia memilih naik ke atas kasur lalu menarik selimut hingga bagian perut. Dalam sekejap, matanya pun terpejam.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan harinya, Sabhira bangun lalu duduk di atas kasur sambil mengangkat kedua tangan. Namun ketika akan menguap, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Barun di kamar.


"Kemana perginya pria itu?" gumam Sabhira lalu turun dari kasur, berjalan menghampiri gorden yang masih tertutup rapat dan membukanya lebar-lebar.


Matahari pun mulai menyorot dengan terangnya. Sabhira merasa silau lalu segera berbalik badan.


Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu kamar membuat Sabhira berniat untuk membukanya.


Ceklek. Saat pintu berhasil dibuka olehnya, tampak seorang pelayan membawakan pakaian untuknya di atas nampan.


"Selamat pagi Nyonya. Ini pakaian yang Tuan Barun perintahkan untuk diberikan pada Nyonya," ucap pelayan itu lalu menyodorkan nampan itu ke depan Sabhira.


"Terima kasih," kata Sabhira sambil mengambil pakaiannya saja, tidak dengan nampannya.


Pelayan itu mengangguk hormat, "Kalau begitu saya permisi, Nyonya."


Sabhira membuka lipatan pakaian tersebut setelah menutup pintu kamar kembali. Kali ini pakaian yang di berikan Barun normal seperti biasanya, tidak kekurangan bahan seperti semalam. Gadis itu segera pergi mandi.


Di ruang makan, anggota keluarga Praya sedang bersiap untuk sarapan. Tapi di sana juga tidak ada Barun. Hanya ada nenek dan juga Erzal.


Sementara di kamar, Sabhira yang baru saja selesai mandi, juga bersiap untuk sarapan. Karena perutnya sudah tidak sabar untuk segera diisi.


"Selamat pagi semuanya," sapa Sabhira tak lupa dengan senyuman yang begitu hangat pada kedua orang di ruang makan itu.


Nenek hanya melirik sekilas lalu melanjutkan sarapannya lagi, sedangkan Erzal menaruh alat makannya lalu tersenyum pada Sabhira.


"Istri adikku sudah bangun ternyata. Sini gabung, kita sarapan bersama!" seru Erzal mengajak Sabhira dengan memberikan kursi yang bersebelahan denganya.


"Terima kasih Kak. Aku akan makan di samping nenek saja," kata Sabhira karena ingin dekat dengan sang nenek. Dengan sedikit kecewa, Erzal mengembalikan kursi itu ketempat semula.


Pria itu sungguh sulit ditebak, kadang seperti malaikat dan kadang pula menjadi penipu yang ulung. Sifat itu masih belum bisa disadari oleh Sabhira, dan yang pahan hanya Barun.


Saat Sabhira hendak duduk, nenek seketika menghentikan makannya, lalu berdiri. "Aku sudah tidak berselera makan. Kepalaku pusing, lebih baik aku kembali ke kamar."


Sabhira yang baru saja duduk pun, matanya menengadah melihat nenek yang telah berdiri.

__ADS_1


"Nek maaf. Tapi makananmu belum habis," kata Sabhira mencoba mengingatkan.


"Ck! tidak usah sok perduli dan menjadi pahlawan untuk Barun di tengah bisnisnya yang sedang naik saat ini." Nenek mencebik sambil mendelik tajam kepada Sabhira.


"Bisnis yang sedang naik? apa rumor yang nyaris membuatnya bangkrut itu hanya berita angin?" Sabhira bertanya-tanya dalam hatinya.


Akhirnya di ruang makan itu hanya ada dirinya dan juga Erzal yang duduk saling berseberangan.


"Sabhira, apa kamu mencintai adikku?" tanya Erzal disela makannya. Padahal kalau ada neneknya, mana berani ia makan sambil bicara. Karena peraturan di keluarga ini sudah menjadi turun temurun.


"Apa disini boleh bicara ketika sedang makan?" Sabhira bertanya balik sebelum melahap makanannya.


"Ya, tidak sih. Tapi ... nenek sudah kembali ke kamarnya. Jadi peraturan itu tidak berlaku jika hanya ada aku," jawab Erzal dengan percaya dirinya. Pria itu sedang membuat Sabhira tersesat dengan ajarannya.


"Seperti itu ya?" Sabhira merasa tidak yakin. Sementara Erzal hanya mengangkat kedua bahunya.


Pintu utama yang tiba-tiba terbuka pun membuat Sabhira menoleh.


"Hei Tuan Barun. Kesinilah kita sarapan bersama!" teriak Sabhira dari ruang makan. Barun menoleh, pandangannya bukan tertuju pada istrinya melainkan pada kakak sepupunya itu.


Pria itu menghampiri istrinya. "Siapa yang menyuruhmu makan sambil bicara Sayang?" tanyanya lalu menge cup kening Sabhira.


"Tuh, pria yang ada di depanku," jawab Sabhira menunjuk Erzal dengan matanya.


"Masih lama tidak makannya? aku butuh kamu untuk menemaniku ke kamar."


Sabhira mengerutkan alisnya merasa aneh karena sikap lembut Barun yang ditunjukkan padanya. "Baiklah, aku akan segera menghabiskannya. Lalu apa kamu sudah sarapan pagi ini? saat aku bangun, kenapa kamu tidak ada di kamar? Sekarang malah sudah rapih dengan jas kantormu itu. Ap---"


Barun menyumpal mulut Sabhira dengan pisang yang baru saja dibukanya.


"Sudah jangan banyak bicara. Cepat temani aku ke kamar!"


Sabhira mendengkus kesal lalu mengunyah pisang itu dengan cepat. Setelah habis, dirinya langsung menenggak segelas air putih di depannya hingga habis.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2