Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
SUDAH BAHAGIA


__ADS_3

Wanita itu yang tadinya menunduk dan hanya sekadar menoleh, kini berdiri tegak di atas rasa sakit yang muncul tiba-tiba dalam hatinya, berhadapan dengan Barun. Meski jarak diantara mereka berjauhan, tapi memori seolah mendekatkan keduanya.


"Barun ... "


Hati pria itu seolah membuncah ketika mendengar suara wanita yang ada dihadapannya itu memanggilnya. Karena semakin tidak tahan terus menatap wanita itu, Barun akhirnya angkat suara.


"Kenapa kau ada di sini? kenapa kau berani menunjukkan wajahmu di depanku saat ini?" cecar Barun dengan nada yang penuh penekanan serta emosi. Matanya membulat dan mulai tampak memerah.


Namun wanita itu hanya terdiam, manik matanya pun mulai berkaca-kaca. Sebuah kerinduan yang selama ini dia jaga, akhirnya terlepaskan dengan pertemuan kali ini.


"Kau tahu, hadirmu saat ini membuatku mengundang tanda tanya besar. Apa kau sengaja muncul di hadapanku saat aku sudah mulai bahagia?" ujar Barun. Pria itu terus mencecar dengan berbagai pertanyaan yang membuat wanita yang ada di depannya itu menoreh kegelisahan.


Setelah cukup lama terdiam, wanita itu menggeleng tegas. "Aku disini untuk bekerja, mencari uang untukku dan juga anak-anakku. Aku bahkan tidak tahu kalau ternyata customer-ku hari ini adalah keluarga Praya. Dan kau tahu, aku pun sudah berusaha mungkin untuk menghindar dan pergi jauh dari kehidupanmu ... " Air mata menetes begitu saja membasahi pipinya tanpa permisi.


Wanita itu terlalu tenggelam pada memori indah diantara mereka di masa lalu, terlebih ketika mendengar suara Barun serta melihatnya. Helaan napas panjang pun terdengar putus asa.


"Sejak lama, aku ingin sekali bertemu denganmu untuk menjelaskan semuanya. Sebab, aku tahu kalau kejadian malam itu membuatmu sakit dan kecewa. Sekarang, aku ingin minta maaf padamu. Atas kesalahanku di masa lalu," lanjut wanita itu dengan isakan tangis yang tak tertahankan.


Napas yang dihembuskan Barun amat berat. Pria itu sejujurnya tidak ingin membahas masa lalu yang begitu sangat menyakitkan baginya.


Tanpa mereka sadari, Sabhira telah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun yang tadi diberikan oleh wanita itu. Percakapan mereka yang tampak serius, membuat Sabhira mematung.


"Sudahlah, Tissa ... " Barun menghela napas. Seketika Sabhira yang mendengarnya terkejut hingga membulatkan matanya. "Jangan pernah bahas masa lalu kita yang jelas-jelas sudah ku kubur dalam-dalam. Lebih baik jika sekarang tugasmu sudah selesai, segera keluar dari kamarku," lanjutnya, mengusir wanita dari masa lalunya itu secara halus.


"Baik, jika itu mau mu. Pakaianmu ada di atas kasur. Segera ganti. Karena sebentar lagi acara akan dimulai," jawab Tissa. Wanita itu berusaha untuk tetap bersikap profesional, meskipun hatinya terasa sakit karena Barun yang ia kenalnya dulu, kini terlah berbeda.

__ADS_1


Tissa mempercepat gerakannya supaya semua peralatan make up nya masuk ke dalam kotak tersebut. Setelah selesai, wanita itu menunduk hormat lalu keluar dari kamar.


Barun memejamkan matanya ketika pintu sudah berhasil di tutup. Sementara Sabhira perlahan melangkahkan kaki mendekat ke arahnya. Barun yang mendengar suara langkah kaki dari heels yang gadis itu pakai pun menoleh.


"Ka-kau, sejak tadi di sana?" tanya Barun. terdengar gugup.


Sabhira tersenyum menyeringai. "Iya, tentu. Aku sudah mendengar semuanya ... " Kini dirinya telah berada satu langkah tepat di depan Barun. "Aku merasa sedih kau mengusirnya tanpa memperkenalkan dia padaku lebih dulu. Ya, walaupun bagiku dia sangat ramah dan baik. Mungkin itu bagian dari profesionalitas kerja dan ... menurutku itu bagus."


Gadis itu lebih mendekat ke tubuh suaminya, mengalungkan kedua tangannya di leher serta mengelus tengkuk pria itu dengan lembut. Lalu kedua matanya menatap lekat sepasang mata yang berjarak hanya beberapa centi. Barun tidak bisa bergerak barang sedikitpun. Pria itu terpaku.


"Aku berharap, semoga apa yang kau ucapkan padanya kalau kau sudah bahagia itu, benar adanya," ucap Sabhira lalu tersenyum. Setelah itu kedua tangan dan tubuhnya menjauh dari tubuh Barun.


Akan tetapi, tangan pria itu dengan cepat merangkul pinggang sang istri. Alhasil Sabhira terkejut dengan membulatkan matanya. Ketika wajah Barun hendak maju, jari telunjuk Sabhira dengan cepat menahan tepat di bibirnya.


Barun terperangah dengan menaikkan sebelah alisnya sambil melihat Sabhira dari pantulan cermin. "Oke, baiklah," ucap pria itu, pasrah.


Perlahan tangannya membuka kancing jas dengan memberi tatapan penuh arti pada Sabhira, lalu ia pun melemparkan sembarang ke atas kasur. Sabhira mengernyit dan masih menahan untuk terus menatap balik suaminya. Setelah itu Barun membuka kancing kemejanya dengan tatapan yang semakin menggoda.


Sabhira semakin tak kuasa, akhirnya ia berbalik badan dengan napas yang mulai memburu. "Kenapa kau ganti pakaian di sini sih?" gerutu gadis itu.


Barun terbahak melihat tingkah Sabhira yang seperti sudah kalang kabut lebih dulu sebelum siap diterkam olehnya. "Kau kan istriku. Lagi pula hanya ada kau dan aku di kamar ini. Jadi aku bebas dong," ucapnya dengan santai.


Dalam waktu sekejap, Barun telah selesai mengganti pakaian. Tentunya Sabhira tidak tahu karena dia tidak sedang berada di depan cermin.


Hal itu membuat ide jahil Barun pun muncul. Perlahan pria itu mendekat, lalu kedua tangannya melingkar di pinggang Sabhira, memeluk dari belakang.

__ADS_1


"I ... love ... you," ucap Barun dengan suara parau yang terdengar seksi di telinga Sabhira. Tentunya kelakuan pria itu mengundang rang sangan pada tubuh istrinya. Kendati demikian, Sabhira tersenyum bahagia mendengar sebuah kata cinta yang baru saja terucap.


Di saat sedang asik menuai kemesraan, suara ketukan pintu dari luar membuat mereka mengakhirinya sementara waktu.


"Kau tunggu di sini, biar aku saja yang membukanya," titah Barun, lalu Sabhira pun mengangguk paham.


Setelah pintu berhasil di buka, tampak seorang pelayan yang berdiri di depan Barin saat ini.


"Ada apa?" tanya Barun, datar.


"Tuan dan Nyonya harap segera ke tempat acara sekarang, karena para keluarga besar sudah menunggu," jawab pelayan itu.


"Baik, kami akan segera ke sana sekarang," kata Barun lalu masuk ke dalam dengan keadaan pintu kamar yang dibiarkan terbuka. Sedangkan pelayan tadi langsung pergi dari sana.


"Sabhira, kita keluar sekarang," ajak Barun dengan tangannya yang dilipat, guna memberi kode pada Sabhira untuk mengalungkan tangan di sana.


"Okey," sahut gadis itu yang langsung paham akan kode yang diberikan suaminya.


Keduanya berjalan menuju tempat pesta yang terletak di lantai dasar. Mereka pun belum tahu siapa saja keluarga besar yang hadir dalam pesta tersebut. Yang jelas, dari depan kamar sudah terdengar suara obrolan bergremengan.


...****************...


Sambil nunggu kelanjutan pestanya. Yuk mampir dulu ke karya yang gak kalah menariknya. 💃🏼


__ADS_1


__ADS_2