
Barun dan Sabhira sudah berada di dalam kamar, tak lupa pintu yang juga sudah ditutup rapat.
"Ada apa kau mengajakku ke kamar, Tuan Barun?" tanya Sabhira yang berdiri tepat dibelakang Barun.
"Aku hanya ingin memperingatkan mu, jangan coba-coba untuk dekat dengan kakak sepupuku itu," jawab Barun dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Kenapa? lagi pula aku tidak mendekatinya juga kok. Apa kamu cemburu?" cecar Sabhira. Gadis itu bersilang dada lalu merubah posisinya menjadi berdiri tepat di depan Barun. "Hayo, mengaku saja kau!" lanjutnya dengan raut wajah meledek.
Barun men des ah pelan. "Jangan terlalu percaya diri. Kamu itu hanya seorang istri yang ku anggap di depan mereka. Tapi kalau kita sedang berdua, kau dan aku hanyalah orang asing," paparnya kemudian berbalik badan berjalan mendekat ke jendela besar yang ada di kamarnya.
Pemandangan di depan jendela kamar itu adalah kolam renang berukuran tiga kali empat meter dengan kedalaman dari delapan puluh hingga seratus lima puluh centi meter. Air yang ada di dalam kolam renang itu begitu tenang, ditambah terik matahari yang sedang menyorot sehingga membuat pantulan cahaya di atas air tersebut.
"Jadi sekarang ini kita hanya orang asing? benar begitu Tuan?" tanya Sabhira seraya berjalan menghampiri Barun.
"Cer-das." Barun mengangkat jari telunjuk tangan kanannya. "Satu lagi, jangan hadirkan cinta diantara kita."
"Baiklah jika itu mau mu. Aku juga akan merasa lega, dengan begitu aku yakin kau tidak akan macam-macam padaku." Sabhira bersilang dada kemudian berbalik badan dan hendak berjalan menuju pintu. Namun saat itu juga diurungkan.
"Besok adalah ulang tahun nenek. Akan ada perayaan pesta di rumah ini. Ku harap kau bisa menjaga sikap supaya tidak ceroboh lagi," ucap Barun memberi peringatan pada istrinya lalu berbalik badan. Begitu pun dengan Sabhira, keduanya pun saling menatap. Barun memberi tatapan bak mata panah yang melesat cepat menusuk manik mata Sabhira. "Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan untuk meminta hak ku sebagai seorang suami."
Sabhira bersusah payah menelan ludahnya. Napasnya pun terasa sesak. Matanya seketika membola. "Baiklah." Gadis itu menyanggupi ancaman dari suaminya.
Barun kemudian membuang muka. "Sekarang ikut aku ke pusat perbelanjaan, kau harus membeli barang-barang yang akan dibutuhkan untuk besok."
__ADS_1
"Iya Tuan Barun," ucap Sabhira yang begitu malas sebenarnya, tapi apa boleh buat. Daripada tinggal di jalanan, lebih baik menikmati hidup Barun yang bergelimangan harta dan tahta.
Ketika mereka berada di ruang keluarga, kondisi rumah saat ini tengah sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang. Mereka pun tidak menemukan keberadaan Erzal ada di sana.
...----------------...
Mobil yang dikendarai oleh Barun telah tiba di halaman parkir pusat perbelanjaan. Keduanya turun dari mobil, lalu masuk ke dalam. Pertama Barun mengajak Sabhira pergi ke salah satu butik yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Selamat pagi Tuan Barun. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang wanita berparas cantik, berkulit putih, berambut lurus dan tergerai indah, serta postur tubuh yang tinggi semampai. Tak lupa balutan riasan pada wajahnya pun begitu mempesona.
Namun Sabhira tidak tertarik pada wanita itu, melainkan pada suaminya yang hanya bersikap acuh pada wanita yang secantik menyapanya barusan.
"Apa benar ya dia gak homo? Aku kok merasa gak yakin kalau dia doyan wanita. Lihat saja, tatapannya datar, bahkan melirik wanita itu pun tidak. Padahal kalau dilihat dari keseksian tubuhnya, mungkin lebih seksi wanita itu dibanding tubuhku ini. Ada apa dengannya ya?" Sabhira mencoba menerka-nerka dalam hatinya. Ini bukanlah terkaan yang pertama, melainkan sudah berkali-kali ia mencoba menepis kabar buruk itu dari pikirannya sendiri.
"Tidak, Tuan. Bukan apa-apa," kilah Sabhira yang tidak ingin terlihat kalau ia sebenarnya sedang berpikir keras tentang kelelakian yang dimiliki oleh suaminya itu.
"Ini ada beberapa pakaian yang harus kau coba. Sana segera ke ruang ganti. Aku tunggu di sofa," titah Barun seraya memberikan satu tumpuk pakaian kepada Sabhira. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Sabhira membawa pakaian-pakaian itu masuk ke dalam salah satu ruang ganti di butik tersebut.
Sabhira mencobanya satu per satu. Tapi semua itu sebagian besar tidak ada yang membuat gadis itu nyaman memakainya.
"Apa pestanya harus dengan pakaian terbuka seperti ini? Aku tidak biasa memakainya. Bahkan lihat ini, mungkin hanya dalam satu tarikan bisa langsung putus," ucap Sabhira berbicara pada dirinya sendiri lewat pantulan dirinya yang terlihat di cermin besar dihadapannya sambil mengangkat salah satu gaun dengan kedua tali yang mungkin memiliki diameter sebesar satu centi meter.
Sabhira akhirnya mencoba salah satu yang beberapa pakaian itu yang menurutnya nyaman dan tidak terlalu terbuka.
__ADS_1
Sreeeet! Tirai pun dibuka oleh Sabhira. Barun yang sedang melihat ke arah layar ponselnya, seketika teralihkan. Balutan gaun berwarna merah muda dengan manik berwarna abu-abu, bagian pinggang hanya tertutupi jaring transparan, serta bagian dada yang tertutup. Walau begitu, lekukan tubuh indah yang dimiliki oleh Sabhira tidak kalah seksi dengan wanita tadi.
"Bagaimana Tuan?" tanya Sabhira sambil berputar. Sikap itu tentunya yang ia lihat dari film-film di televisi.
Barun mulai menelisik dari ujung kepala hingga kaki Sabhira. Lalu ketika tepat di bagian kaki, mata pria itu terhenti karena Sabhira tidak memakai alas kakinya.
"Pelayan, berikan dia heels." Barun menyuruh salah satu pelayan. Setelah itu, salah satu pelayan bergegas pergi ke daerah khusus rak sepatu . Lalu mengambil beberapa pasang yang sekiranya cocok di pakai untuk Sabhira.
Dengan dibantu oleh pelayan lain. Sepatu itu dibariskan satu shaf supaya Sabhira dengan mudah memakainya.
"Pilih salah satu heels yang kamu sukai Sabhira," titah Barun yang masih duduk manis di sofa yang berhadapan langsung dengan ruang ganti tempat Sabhira berada.
Gadis itu tampak menimbang-nimbang. Semua sepatu heels yang ada di depannya sangat cantik-cantik dan juga menarik. Lalu ia pun menjatuhkan pilihannya pada sebuah heels dengan manik sederhana berwarna silver.
"Sekarang bagaimana?" tanya Sabhira kembali. Namun raut wajah Barun tidak meyakinkan. Pria itu beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Sabhira dan mengelilinginya.
"Bagus, tapi kok rasanya tidak cocok. Seperti ada yang kurang." Barun menghentikan langkahnya tepat di samping Sabhira. Matanya menelisik dari ujung kaki hingga kepala.
Pria itu merasa kurang pas, kemudian masuk ke dalam ruang ganti lalu mengambil semua pakaian yang tidak dipilih oleh istrinya itu.
"Bungkus semua gaun ini, saya tunggu di kasir," perintah Barun pada salah satu pelayan butik yang sedang bersama mereka. Saat itu juga Sabhira langsung menoleh dan membulatkan matanya seakan berkata 'Jangan!' .
To be continue ...
__ADS_1