Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
PERNYATAAN CINTA


__ADS_3

"Sabhira? sedang apa kau disini?" tanya Barun seketika merasa canggung dan resah. Sebab, ia merasa kedua kliennya pasti sedang memperhatikan mereka di depan.


"Aku ... ingin mengatakan sesuatu," jawab Sabhira sedikit gelagapan.


"Sabhira kita bi--"


Gadis itu memotong ucapan suaminya, sesaat kemudian tersenyum sumringah. Barun mengerutkan alis, merasa heran.


Ketika Barun hendak berbicara lagi, jari telunjuk Sabhira dengan cepat ditempelkan pada bibirnya. Barun semakin tidak mengerti dengan sikap istrinya.


"Dengarkan aku," pinta Sabhira lalu melonggarkan tenggorokannya.


Barun menggeleng tidak percaya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"I love youuuu ... Tuan Barun. I love youuuuu ... Tuan Barun. I love youuuu forever." Gadis itu malah bernyanyi dengan nada tanpa arah, alias semaunya.


Barun menutup sebelah matanya karena merasa malu dan ingin marah saat ini juga.


"Sabhira, bisakah kau--" Barun berusaha kuat menahan amarahnya yang hampir saja meledak.


Gadis itu berjalan mundur sambil mengerlingkan matanya, lalu kembali ke sisi bagian yang gelap. Barun hendak menaik tangan istrinya, tapi yang ia tarik adalah gaun yang dikenakan Sabhira, namun seketika gaun itu terlepas begitu saja.


Pria itu melongo. Lalu Sabhira muncul kembali dari sisi gelap ruangan tersebut dengan memakai pakaian yang berbeda. Kali ini memakai kebaya lengkap dengan sanggulnya.


"Astaga, dia punya magic darimana? kenapa bisa mengganti pakaian serta merias make up secepat kilat?" Barun bertanya-tanya dalam hatinya.


"Tolonglah terima cintaku, tolonglah perhatikan diriku, jangan kau sia-siakan aku. Karena aku jatuh cinta padamu." Sabhira melantunkan lagu lagi versi dirinya yang juga tanpa ada nada yang pasti.


Barun menggelengkan kepala dibuat olehnya. Rasa malu yang kini mendera membuat pria itu menahannya setengah mati.


Selanjutnya Sabhira melangkah mundur lagi, dan lagi-lagi yang Barun tarik bukan tangan istrinya melainkan kebaya yang tadi sempat dipakai oleh istrinya tersebut. Pria itu semakin tidak habis pikir sekaligus merasa tidak percaya.


Sesaat kemudian Sabhira muncul mengenakan pakaian khas koboi lengkap dengan topi, kemeja merah, jaket kulit berwarna hitam, celana jeans, sepatu boots serta pistol mainan.

__ADS_1


"Hei, Tuan Barun. Cepat bilang padaku kalau kau juga mencintaiku," ucap Sabhira sambil menodongkan pistol ke samping mata Barun. Sontak membuat suaminya memejamkan mata dengan cepat saat dirinya hendak menekan tuas pistol tersebut.


Cetrek. Tidak terjadi apa-apa. Barun dengan cepat membuka matanya. Gejolak amarah yang semakin tak tertahan, membuat pria itu langsung menyalakan lampu ruangan dan berniat untuk mengusir Sabhira dari ruang meeting tersebut.


Dikira Barun kliennya aka kecewa dengan sikap Sabhira, akan tetapi ... suara tepuk tangan bergemuruh pada seisi ruangan. Kedua pria itu berdiri lalu menghampiri sepasang suami istri itu.


"Tuan maaf. Ini istri saya," kata Barun yang merasa tidak enak hati pada kedua tamunya tersebut.


"Tuan Barun, sepertinya istri Anda ini berbakat untuk menjadi model. Di lihat dari wajahnya dia sangat cantik dan berkelas. Bagaimana kalau istri Anda diikutsertakan masuk ke dalam perhelatan pencarian bakat model terbaik di tahun ini?" ujar pimpinan perusahaan modeling seraya memberi penawaran pada Barun terhadap istrinya.


"Apa kau yakin Tuan?" tanya Barun terperangah.


"Ya, tentu. Kalau memang istri Anda mau. Lusa bisa datang dengan membawa persyaratan ke perusahaan kami, dan ... " pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam jasnya. "Ini kartu nama saya, berikut dengan alamat perusahaan," lanjut pria itu sambil memberikan kartu nama pada Barun.


Disisi lain, Sabhira begitu bahagia. Sebentar lagi ia akan menjadi artis terkenal, itulah anggapannya.


"Baik kalau begitu, untuk pemesanan kain sutra nanti saya kirimkan via surel. Mengingat kami harus menghitung kembali berapa banyak kain yang dibutuhkan," ucap designer tersebut.


"Kalau begitu kami pamit undur diri Tuan, Nyonya."


"Iya, terima kasih," kata Sabhira sambil menyatukan kedua telapak tangan lalu di tempelkan di dada.


Setelah kedua tamu Barun pergi. Sabhira langsung di ajak ke ruang kerjanya. Rasanya ia tetap ingin meluapkan emosi pada istrinya itu saat ini juga.


Asisten Barun yang tengah fokus di depan komputer, tidak sengaja melihat mereka lewat dan masuk ke dalam.


"Apa yang telah terjadi?" gumam pria itu, sesaat kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.


Sedangkan di dalam, Sabhira langsung melepaskan jaket, topi dan juga pistol dari tubuhnya.


"Siapa yang mengantarmu ke sini, Sabhira?" tanya Barun yang penuh dengan penekanan.


"Mosev," jawab Sabhira singkat dan bersikap santai, seolah tidak menghiraukan raut wajah Barun yang sudah menggelap.

__ADS_1


"Pria itu!" gumamnya. "Bagaimana kalau tadi aku kehilangan klien besar seperti mereka? kau mau tanggung jawab?" cecar Barun. Tubuhnya semakin mendekat ke Sabhira.


"Sayangnya itu tidak terjadi ... Oh iya, sebagai gantinya, aku punya beberapa lembar uang untuk mengganti waktumu tadi," jawab Sabhira sambil mengeluarkan lipatan uang dari dalam saku celana. Padahal uang itu juga uang sisa membeli jajanan di acara festival kemarin. "Ini ambillah!" lanjutnya lalu meraih tangan Barun dan meletakkan uang tersebut ke atasnya.


"Kau dengarkan baik-baik Sabhira. Sekali lagi kau berbuat seperti itu, aku tidak akan segan mengusir mu saat itu juga dan ... " Barun semakin mendekatkan tubuhnya lagi pada sang istri. "Jangan pernah berharap kata maaf dariku, apalagi cinta. Kau paham?" lanjutnya membuat Sabhira terperangah.


"Tapi ... " Gadis itu mengejapkan matanya berkali-kali. "Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Sabhira dengan pandangan keduanya yang saling terkunci.


"Apa?" Barun bertanya balik, terdengar ketus.


"Apa kau mencintaiku?" Sabhira langsung melontarkan pertanyaan itu lagi.


"Apa tidak ada stok pertanyaan lain yang kamu miliki, Sabhira? Kau kira jika aku tidak mencintaimu, untuk apa aku menyelamatkan mu dari Erzal, lalu mencarimu ke festival kemarin. Apa itu belum cukup buat buktiin ke kamu, Sabhira?" papar Barun yang sedikit emosi dan meninggikan suaranya.


"Aku ... aku kadang tidak mengerti apa kau mencintaiku atau tidak. Soalnya, aku baru merasakan hal itu. Rasa takut akan kehilanganmu, dan juga ... ah, sulit sekali untuk diungkapkan kata-kata," jawab Sabhira. Gadis itu belum sepenuhnya paham akan perasaannya sendiri. Ia masih terlalu mengandalkan otak untuk bisa mencari arti apa yang kini dirasakannya.


"Sabhira ... aku tahu kita sama-sama merasakan hal yang sama. Tapi asal kamu tahu, aku tidak menyatakan cinta bukan berarti tidak mencintaimu. Dan kamu harus tahu, aku bukan pria yang sering mengumbar kata cinta pada setiap wanita," kata Barun jujur.


"Lantas ... bagaimana bisa waktu itu kamu sampai mau cium dan ..." Sabhira menghentikan ucapannya.


"Sudah aku bilang, dia hanya temanku dan sedang merayuku untuk hal lain. Tapi aku sangat berterima kasih sebenarnya waktu itu kamu datang. Jadi aku bisa dengan mudah membalasnya supaya dia bisa jera," jawab Barun lagi. Pria itu masih mengimbangi emosi yang sedang merasuk jiwa istrinya saat ini.


"Kalau Tissa, siapa dia? sepertinya dia sangat berarti untukmu," tanya Sabhira lagi sambil mendelik tajam kepada Barun.


"Dia ... "


To be continue ....


...****************...


Lagi tegang, yuk kita santai dulu. Aku punya rekomendasi novel yang wajib teman-teman baca juga. Kali ini dari Nita.P dengan judul Daddy Is My Husband.


__ADS_1


__ADS_2