
Sejak tadi Jim menunggu kedatangan Von di tempat acara. Karena tidak kunjung kembali, Jim pun menyusul Von ke ruang ganti.
Pintu ruangan yang sedikit terbuka, membuat Jim bisa mendengar suara Barun yang sedang berbicara memberi ancaman pada seorang wanita. Jim pun penasaran dan langsung membuka pintunya.
"Ada apa ini?"
"Jim, tolong jangan biarkan dia keluar," perintah Barun seraya menunjuk ke arah Odet. "Kalau sampai dia lolos, saya pastikan hidupnya tidak akan tenang setelah ini!" pungkas pria itu dengan mengeraskan rahangnya.
Jim langsung menghalangi jalan Odet. "Odet, jelaskan padaku. Apa yang telah kau perbuat? kau ini kontestan baru disini. Kenapa bisa Tuan Barun memberi ancaman seperti itu padamu?" cecar Jim yang semakin penasaran. Sayangnya Odet hanya bungkam seribu bahasa. Matanya menatap tajam ke depan.
"Minggir! atau aku akan mencakar mu juga, Jim!" teriak Odet dengan mata semakin memerah.
"Coba saja kalau bisa!" teriak Jim juga tidak mau kalah.
Odet mulai melakukan ancang-ancang. Sedangkan Jim masih berdiri santai. Pria itu sama sekali tidak takut dengan Odet. Jim sangat tahu betul perilaku seseorang yang seperti ini hanya menutupi rasa malunya karena sudah terlanjur salah.
"Tuan, sebaiknya di kita bawa ke pihak berwajib. Karena dia masih memiliki dendam pada istri Anda. Kalau saja dia dibebaskan, nyawa istri Anda bisa saja terancam," usul Von setelah mengobati luka di tangan Sabhira.
"Baiklah, Jim jaga dia!" perintah Barun. Pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu menghubungi pihak berwajib.
Beberapa menit kemudian, sambungan telepon itu berakhir dan Jim berhasil mengikat Odet di kursi supaya tidak bisa kemana-mana.
Tidak lama berselang, beberapa anggota pihak berwajib datang lalu membawa Odet dari sana.
"Mengerikan juga ya punya fans fanatik seperti dia," gumam Jim yang hampir saja tadi terkena cakar olehnya.
"Ya, seperti itulah. Pintar-pintar kita saja dalam mawas diri," sahut Von sambil menghembuskan napas, merasa lega.
"Jim, Von, kami ada urusan lagi. Untuk acara, kami serahkan pada kalian ... dan tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada pemilik perusahan modelling ini, kalau saya belum sempat menemuinya lagi. Tetapi saya janji setelah beberapa urusan saya selesai dan waktunya senggang, saya akan menemuinya," kata Barun yang berpamitan pada mereka.
"Baik, Tuan. Pesan Anda akan kami sampaikan. Kalau begitu kami juga harus kembali ke tempat acara, karena sebentar lagi tahap eliminasi akan segera dimulai," jawab Jim. Pria itu mempersilahkan Barun dan Sabhira supaya jalan lebih dulu. Barulah disusul olehnya dan juga Von.
__ADS_1
...****************...
Cukup lama berkendara, keduanya telah sampai di depan gerbang rumah kedua orang tua Sabhira.
"Sepi sekali ... Apa ibumu ada di dalam Sabhira?" tanya Barun setelah meneliti sekeliling rumah.
"Rumahku memang selalu sepi, biasanya jam segini ibu ada di kamar untuk beristirahat. Tetapi, kalau kondisinya seperti sekarang ini aku juga belum tahu," jawab Sabhira. Gadis itu kemudian berjalan lebih dulu untuk membuka gerbang. "Ayok masuk!" ajaknya ketika ia sudah berhasil membuka gerbangnya.
Di sekitar pekarangan rumah, tidak ada yang berubah sama sekali. Semua tanaman yang berada di dalam pot masih bertengger rapih pada tempatnya.
Ketika keduanya telah sampai di depan pintu, Sabhira mengetuk pintunya. Namun setelah tiga kali ketukan, tidak ada sahutan ataupun membukakan pintu. Sabhira semakin resah.
"Kita masuk saja ke dalam ... Ya, mungkin saja pintunya tidak dikunci," usul Barun. Sabhira yang sedang sulit untuk berpikir lebih lama lagi, akhirnya menuruti usul dari suaminya tersebut. Gadis itupun membuka pintu.
Benar saja, pintu tersebut tidak terkunci. Sabhira masuk ke dalam dan langsung mencari keberadaan ibunya. Sementara Barun menunggunya di ruang tamu.
Gadis itu mencari ke sekeliling ruangan. Mulai dari kamar, dapur, kamar mandi dan juga ruang makan. Namun hasilnya nihil. Dia tidak menemukan ibunya di rumah tersebut.
Saat tempo mondar mandirnya semakin cepat karena rasa gelisah yang tak tertahankan, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya. Sabhira terkejut bukan main. "Hah!" Kemudian menoleh.
"Ibu ... kau dari mana saja? aku sangat mengkhawatirkan Ibu," ucap gadis itu langsung memeluk wanita paruh baya yang sejak tadi ia cari keberadaannya.
"Ibu dari halaman belakang rumah, ada apa kau kemari?" jawab ibunya Sabhira. Wanita itu tampak santai dan tidak ada raut kesedihan sama sekali pada wajahnya.
"Soal ayah ... " Sabhira menjeda ucapannya. Sejujurnya gadis itu bingung harus memulai darimana untuk menanyakan perihal sang ayah.
"Kau tidak perlu merasa sedih ataupun marah pada ayahmu. Bukan maksud ibu menyembunyikannya darimu. Tapi ... " Wanita itu menatap ke arah lain, seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya. "Kau tahu bukan kerasnya ayahmu seperti apa? Ibu pernah mengorek informasi tentang hal itu, tapi sayangnya dia tetap tidak ingin cerita sampai saat ini. Dan ketika dia tahu, kau sudah menjadi istri pria itu. Rasa penyesalan yang selama ini menghantuinya dilampiaskan dengan rasa kesal dan amarah." Wanita itu terkekeh pelan. "Benar saja, serapih apapun dia menyimpan bangkai, hanya menunggu waktu untuk bangkai itu bisa tercium ... dan sekaranglah waktunya." Wanita itu menatap putrinya dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
"Ibu ... " lirih Sabhira lalu memeluk ibunya cukup erat. Sesaat kemudian, tangis ibunya pun pecah. Air mata wanita mengalir deras sampai membasahi bahu yang ditutupi oleh pakaiannya.
Tanpa mereka sadari, Barun telah berada di gawang pintu entah sejak kapan. Yang jelas pria itu telah mendengar semua yang terucap dari mertuanya.
__ADS_1
"Ibu tidak ingin berpisah darimu Sabhira," ucap wanita itu dengan suara bergetar di sela tangisannya. Betapa sakit hatinya setelah Sabhira menikah, ia harus berpisah dengan anak semata wayangnya itu.
"Ibu, andai aku bisa--"
"Kau bisa mengajak ibumu tinggal di mansion kita, Sabhira," kata Barun yang tiba-tiba bersuara dengan tegas.
Seketika sang ibu melepaskan pelukannya. Lalu mereka berdua menatap Barun bersamaan. Sabhira pun mengerutkan keningnya dengan sorot mata yang seolah menuntut sebuah keyakinan dari suaminya itu.
Barun berjalan mendekati mereka. "Aku serius, kau bisa mengajak ibumu tinggal di mansion bersama kita," katanya mengulanginya lagi dan kali ini terdengar sangat meyakinkan.
Ibu dan anak itu masih terdiam. Keduanya pun malah saling bertukar pandang.
"Tunggu apa lagi? ayo bantu ibumu mengemasi barang-barangnya, Sabhira!" seru Barun yang tampak antusias.
"Terima kasih banyak," ucap Sabhira. Gadis itu entah harus berkata apa selain tiga kata itu yang mampu dia ucapkan saat ini.
"Terima kasih banyak nak Barun. Maaf atas sikap dan ucapan Ibu waktu itu," lirih ibunya Sabhira dengan kerendahan hatinya.
"Iya sama-sama. Lebih baik sebelum matahari terbenam, segera berkemas. Lagipula perjalanan dari sini ke pusat kota kan cukup jauh," usul Barun seraya tersenyum simpul.
"Baiklah, beri kami waktu ya. Kau tunggu saja di sini," kata Sabhira yang seketika merasa bahagia atas kebaikan Barun.
"Oke."
To be continue ...
...****************...
Ikut seneng gak? aku juga loh, apalagi ada karya keren satu ini. yuk lah mampir 🤗
__ADS_1